Bab 32: Apakah Suamimu Hebat?
Halaman (1/3)
Luo Han tidak turun tangan. Ia hanya berdiri diam menyaksikan semuanya, layaknya penonton.
“Tunggu saja. Kami tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja.”
Keempat pria itu tak berani berlama-lama. Setelah melontarkan ancaman, mereka segera kabur.
“Hmph, untung kalian larinya cepat,” dengus Lan Ruoling.
Luo Han berjalan menghampiri Lan Ruoling, lalu berkata sambil terkekeh, “Kau sudah mencari masalah.”
“Aku adalah penegak hukum Jiang Hai. Memangnya mereka berani menyerangku?”
Luo Han berkata, “Jangan menganggap mereka terlalu lemah.”
“Kalau begitu, biarkan saja mereka datang. Aku tidak takut.”
Luo Han tidak berkata apa-apa lagi. Baginya, ini adalah kesempatan yang sangat bagus.
Ia harus membuat Lan Ruoling menyadari bahwa dirinya lemah. Dengan begitu, ia bisa memanfaatkan keadaan untuk menjadi “gurunya”!
Sambil membawa makanan ringan, Luo Han berjalan-jalan bersama Lan Ruoling sembari menyantapnya.
“Pekerjaan sebagai penegak hukum sangat berbahaya. Pernahkah kau berpikir untuk berganti profesi?”
“Kalau kau mau, aku bisa membuka sebuah perusahaan untukmu. Dengan kemampuanmu, mungkin kau bisa menjadi wanita tangguh di dunia bisnis.”
Sambil menikmati makanan lezat, Luo Han dan Lan Ruoling berjalan santai serta mengobrol.
“Menjadi penegak hukum adalah impianku. Lagi pula, aku tidak menginginkan uangmu.”
Luo Han melirik ke depan. Ia berhenti melangkah dan berkata, “Masalahmu sudah datang. Mau kubantu?”
“Minggir!”
“Dasar perempuan jalang! Kalau berani, jangan lari!”
“Kepung dia!”
Di tengah makian dan teriakan, lebih dari dua puluh pria datang sambil membawa tongkat.
Lan Ruoling tidak menyangka lawan-lawannya benar-benar berani datang untuk membalas dendam, bahkan dengan jumlah sebanyak itu.
Kemampuan bertarungnya memang lumayan, tetapi ia jelas bukan tandingan orang-orang tersebut.
“Dari nada bicaramu, sepertinya kau punya syarat,” kata Lan Ruoling dengan gugup.
Luo Han menyeringai jahil. “Permintaanku tidak banyak. Aku hanya ingin satu ciuman.”
“Kau…”
Lan Ruoling sebenarnya ingin melarikan diri, tetapi ia tidak menyangka jalan di belakang juga sudah diblokade.
Ia sudah berutang dua ciuman kepada Luo Han. Jika bertambah satu lagi, jumlahnya akan menjadi tiga.
Begitu jumlahnya mencapai tiga, Luo Han pasti akan menukarkannya dengan ciuman Prancis.
Ia tidak mau Luo Han mengambil keuntungan sebesar itu darinya.
Namun, dalam keadaan seperti ini, ia sama sekali tidak mungkin menerobos keluar seorang diri.
“Tidak ada waktu lagi. Mau menerima syaratku?” Wajah Luo Han dihiasi seringai puas dan jahil.
Lan Ruoling menggertakkan gigi. “Aku tidak percaya kau tega membiarkanku mati.”
“Sial, kau benar-benar memanfaatkan celah!” Luo Han merasa sangat kesal. Ia tidak menyangka Lan Ruoling akan menemukan kelemahannya.
“Tangkap mereka! Bawa kembali dan biarkan bos yang mengurusnya!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Begitu pemimpin kelompok itu memberi perintah, lebih dari dua puluh pemuda langsung menyerbu Luo Han dan Lan Ruoling.
Lan Ruoling mengepalkan tangannya dengan gugup. Ini pertama kalinya ia menghadapi kerumunan sebesar itu.
“Berdirilah di dekatku dan jadilah anak magang pengumpul pengalaman. Biar aku yang menangani mereka!”
Begitu selesai berkata, Luo Han tiba-tiba melesat maju seperti banteng liar.
Brak! Brak!
Para bawahan di hadapannya bahkan belum sempat bereaksi ketika Luo Han menerjang masuk dengan ganas.
Sekelompok pria itu tampak garang, tetapi di hadapan Luo Han mereka tak ubahnya pin-pin bowling yang berdiri berjejer.
Bruk! Brak!
Lebih dari dua puluh orang itu langsung ditabrak hingga sebagian besar terjungkal!
Para bawahan yang tersisa menatap Luo Han dengan ngeri. Benarkah manusia bisa memiliki tenaga seperti itu?
Luo Han melambaikan jarinya kepada beberapa orang yang masih tersisa. “Ayo!”
“Bunuh!”
Salah seorang anak buah meraung dan menyerbu maju. Namun, pada detik berikutnya, ia terlempar ke belakang seperti layang-layang yang talinya putus.
“Mundur… cepat mundur!”
Pemimpin kelompok itu ketakutan setengah mati. Ia buru-buru berteriak memerintahkan anak buahnya untuk mundur.
“Sial, siapa sebenarnya orang ini?”
“Gila kuat! Daya tabrakannya hampir setara truk besar!”
“Lima belas atau enam belas orang bisa dijatuhkannya seorang diri!”
“Pria seperti ini benar-benar membuat orang merasa aman. Dia juga tampan sekali!”
Para penonton terperangah melihat kekuatan Luo Han. Adegan itu seolah-olah berasal dari sebuah film.
Luo Han tersenyum lalu kembali menghampiri Lan Ruoling. “Suamimu hebat, bukan?”
“Hebat!” Lan Ruoling mengangkat ibu jarinya dengan kagum. Ia sama sekali mengabaikan kata “suami” yang diucapkan Luo Han.
Luo Han berkata, “Mau menjadi sehebat aku? Asalkan kau bersedia, aku bisa melatihmu menjadi ahli bela diri terkuat di dunia.”
“Benarkah?”
Mata Lan Ruoling langsung berbinar.
Sebagai penegak hukum, ia sering menghadapi situasi berbahaya. Jika memiliki kekuatan seperti Luo Han, bukankah ia akan mampu mengalahkan semua lawan?
“Tentu saja,” jawab Luo Han sambil mengangguk.
Lan Ruoling tiba-tiba menatap Luo Han dengan waspada. “Apa syaratnya?”
“Tidak ada syarat. Selama kau mau belajar, aku akan mengajarimu.”
Mendengar jawaban itu, Lan Ruoling hampir tidak percaya.
Kesempatan sebagus ini, tetapi Luo Han sama sekali tidak mengajukan syarat.
Benarkah Luo Han bisa sebaik itu?
“Benarkah?” tanya Lan Ruoling dengan curiga.
“Ayo. Kita makan dulu, lalu pulang. Setelah itu, aku akan memberimu pelajaran pertama.”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mendengar perkataan Luo Han, Lan Ruoling segera mengikutinya.
…
“Dasar sampah!”
“Begitu banyak orang ternyata tidak mampu menghadapi satu orang saja?”
“Kalau kabar ini tersebar, bagaimana aku, Gou Er, bisa tetap dihormati?”
Di dalam kantor sebuah diskotek, Gou Er menampar salah seorang anak buahnya.
Sebagai pemimpin dunia hitam, harga diri adalah hal yang sangat penting.
Lebih dari dua puluh anak buahnya ternyata telah dikalahkan oleh satu orang. Ini benar-benar penghinaan besar.
Jika ia tidak membalas dan memulihkan kehormatannya, para pemimpin lain pasti akan menjadikan kejadian ini bahan olok-olokan.
“Bos Gou, pemuda itu benar-benar mengerikan.”
“Kami yang berjumlah lima belas atau enam belas orang langsung ditabraknya sampai berjatuhan.”
“Seumur hidup, aku belum pernah melihat orang yang sehebat itu dalam bertarung.”
Pemimpin kelompok itu juga merasa sangat tertekan. Dengan pemandangan semengerikan itu, siapa yang tidak akan ketakutan?
“Temukan mereka! Kita harus membalas penghinaan ini,” bentak Gou Er.
Pemimpin kelompok itu berkata dengan takut-takut, “Bos Gou, perempuan itu sepertinya benar-benar anggota tim kriminal. Menyerangnya sangat berisiko.”
“Kalau begitu, buat dia tidak bisa lagi menjadi penegak hukum. Begitu dia dipecat, bukankah dia akan menjadi domba tanpa daya?”
“Bos Gou memang cerdas.”
Gou Er mendengus. “Perempuan itu seorang penegak hukum, jadi jangan menyentuhnya. Namun, pria satunya tidak boleh dilepaskan. Temukan dia untukku.”
Pukul sembilan malam, Luo Han pulang bersama Lan Ruoling sambil membawa perlengkapan mandi yang baru dibeli.
“Kau harus mengingat kesepakatan kita tadi. Kalau berani berbuat macam-macam kepadaku, aku akan bunuh diri.”
Sikap Luo Han memang terlalu aneh. Lan Ruoling selalu merasa seolah-olah dirinya adalah anak domba yang masuk ke sarang serigala.
“Tenang saja. Kalau aku benar-benar ingin berbuat macam-macam, aku pasti sudah melakukannya sejak tadi. Mana mungkin aku membiarkanmu tetap aman sampai sekarang?”
Sambil berbicara, Luo Han memasukkan perlengkapan mandinya ke kamar mandi.
Lan Ruoling berkata, “Bukankah kau bilang akan mengajariku bela diri?”
“Kau tidak perlu beristirahat sebentar?”
“Tidak perlu. Mari mulai.” Lan Ruoling sangat ingin menjadi ahli bela diri.
Luo Han duduk di sofa. “Tapi aku agak haus.”
“Aku akan mengambilkan air.”
Lan Ruoling buru-buru menuangkan segelas air lalu menyerahkannya kepada Luo Han.
Luo Han menerima gelas itu sambil tersenyum. “Sikapmu cukup baik. Pertahankan terus mulai sekarang.”
“Jangan mentang-mentang kuberi muka lalu kau bertindak semaunya,” dengus Lan Ruoling.
“Pakaianmu kurang nyaman untuk berlatih bela diri. Kau pasti punya celana yoga, bukan? Gantilah dengan celana yoga agar lebih leluasa.”
Lan Ruoling mengangkat alis indahnya. “Menurutmu aku ini gadis polos? Memangnya aku tidak bisa berlatih bela diri dengan celana olahraga? Kenapa harus celana yoga?”