Bab 32: Menghadapi Mertua dan Adik Ipar dengan Tangan Kosong
Halaman (1/3)
Setelah urusan di bank selesai, aku kembali pergi ke rumah sakit, barulah kemudian menuju kediaman keluarga He.
Aku tidak buru-buru pergi ke Halaman Barat. Terlebih dahulu aku mengunjungi Nyonya Tua di Halaman Utama. Setelah ibu mertuaku, Yin Lina, mengutus orang untuk memanggilku, barulah aku berjalan santai ke sana.
Beberapa pelayan yang sebelumnya kupilih dari pasar tenaga kerja telah dipecatnya dengan berbagai alasan dalam beberapa hari terakhir.
Yin Lina bahkan kembali mendatangi pasar tenaga kerja secara langsung. Sayangnya, para pekerja baru yang dipilih secara terburu-buru memiliki kualitas biasa saja dan tidak terlalu bisa diandalkan.
Karena tidak puas dengan semuanya, Nyonya Besar dan Nyonya Ketiga keluarga He berinisiatif mengirimkan beberapa orang cakap kepadanya. Namun, ia tetap tidak merasa tenang. Ia mengira keluarga cabang pertama dan cabang ketiga sedang bersekongkol untuk mencelakainya.
Pada akhirnya, ia datang ke Halaman Utama dan memilih beberapa pelayan baru yang cerdas dan cekatan, termasuk Yuhong.
Ia mengira Yuhong dan yang lainnya baru saja datang ke Halaman Utama, sehingga belum memiliki ikatan apa pun dengan tempat itu. Menurutnya, inilah waktu terbaik untuk mengintimidasi dan membujuk mereka agar bekerja untuknya.
Namun, ia tidak tahu bahwa Yuhong yang keras kepala hanya mengakui aku sebagai majikannya di seluruh keluarga He yang begitu besar.
“Beberapa hari ini kau pergi ke mana saja? Apa kau sama sekali tidak tahu kewajiban sebagai menantu? Sungguh, aku benar-benar sial tujuh turunan karena menikahkan benda sepertimu ke dalam keluarga ini!”
Begitu melihatku, Yin Lina langsung memaki dengan kasar.
Aku tidak punya kesabaran untuk menunggunya selesai. Sambil tersenyum, aku menyela, “Kalau Ibu Mertua punya keluhan, silakan sampaikan kepada Nyonya Tua.”
Aku adalah menantu keluarga He yang dinikahkan atas keputusan Nyonya Tua. Menghinaku di depan umum sama saja dengan menyindir bahwa Nyonya Tua telah melakukan dosa.
Jelas-jelas ia merasa penderitaan Halaman Barat belakangan ini masih belum cukup!
“Lagipula, aku pergi ke rumah sakit untuk mengganti perban. Dengan hati Ibu Mertua yang penuh kasih seperti Bodhisatwa, tentu Ibu bisa memakluminya.” Aku membalas dengan sindiran tajam.
Yin Lina benar-benar naik pitam sampai tekanan darahnya melonjak!
Ia menunjukku dengan jarinya. “Mengganti perban? Kau masih berani membicarakannya? Aku sudah mendengar dari Yan Ling. Kau pasti keluyuran di luar sampai akhirnya dibalas oleh sekelompok berandalan.”
Cih, si Teh Hijau Ji hanya punya kemampuan menggosip seperti ini?
Aku menjawab dengan tenang, “Bagaimana dia bisa begitu tahu? Jangan-jangan dia ikut keluyuran bersamaku?”
Yin Lina tercekat. Sesaat kemudian, ia kembali memaki.
“Perempuan murahan yang tidak tahu malu! Kau pikir kau pantas menyeret Yan Ling ke dalam masalah ini? Kau tahu siapa dirinya dan kau ini apa?”
“Benar, aku memang perempuan murahan yang dinikahkan tanpa mas kawin. Tentu saja aku tidak akan seberguna putri palsu keluarga kaya yang mengaku tidak mau menikah tanpa mahar seratus juta.” Aku memutar mata. “Mulai sekarang, mohon Ibu Mertua lebih banyak bersabar menghadapiku.”
Dada Yin Lina naik turun dengan keras karena marah. Ia langsung mengayunkan tangan hendak menamparku.
Aku tertawa dingin lalu menghindar. Dengan nada pura-pura cemas, aku berkata, “Kulitku kasar dan tubuhku kuat. Kalau tangan Ibu Mertua sampai terluka karena memukulku, bagaimana?”
Ia kembali hendak menghukumku untuk berlutut di aula leluhur keluarga, dengan alasan aku tidak menghormati mertua.
Aku tetap menjawab sambil tersenyum, “Lututku juga terluka, jadi aku tidak bisa berlutut. Lagipula, namaku belum tercatat dalam silsilah keluarga He. Aku tidak berhak berlutut di sana.”
Halaman (1/3)
Dulu, dialah yang bersikeras menolak mencatat namaku dalam silsilah keluarga. Ia mengatakan bahwa aku baru boleh dicatat setelah melahirkan anak, agar bisa memperoleh kehormatan melalui anakku.
Sekarang, aku bisa menggunakan masalah itu untuk membungkamnya.
Yin Lina gemetar karena marah. Ia bahkan tidak lagi memedulikan wibawanya sebagai nyonya rumah, dan berteriak menyuruhku bekerja.
Aku mengusap kening dengan lemah lembut, menunjukkan bahwa tubuhku sedang tidak sehat dan aku tidak sanggup melakukan pekerjaan kasar.
Ia masih hendak bertindak keras, tetapi Bibi Fu, yang mengantarku langsung ke Halaman Barat, segera melangkah maju. Dengan senyum yang tidak mencapai matanya, ia berkata,
“Nyonya Kedua, Nyonya Tua memerintahkan saya datang untuk mengajari Nyonya Muda Keempat mengurus rumah. Jika Nyonya tidak memiliki perintah lain, saya akan mulai sekarang.”
Yin Lina tidak menyangka bahwa meskipun aku sudah berada di Halaman Barat, ia tetap tidak mampu menyuruh-nyuruhku.
Ia langsung murka. Dengan sembarangan, ia melemparkan cangkir porselen tipis ke arah kami.
“Pergi! Cepat pergi, jangan menghalangi pandanganku.”
Bibi Fu menatap cangkir yang pecah menjadi beberapa bagian di lantai. Wajahnya menggelap.
“Perangkat minum ini adalah hadiah peringatan pernikahan yang diberikan Nyonya Tua kepada Nyonya Kedua dan Tuan Kedua. Karena benda ini begitu mengganggu pandangan Nyonya, biar saya mengambilnya kembali atas nama Nyonya Tua.”
Aku tidak begitu memahami barang-barang porselen, tetapi karena benda itu diberikan oleh Nyonya Tua, sudah pasti langka dan sangat mahal.
Bibi Fu sama sekali tidak sungkan. Ia menyuruh orang mengangkatnya saat itu juga dan mengembalikannya ke Halaman Utama. Yin Lina merasa sakit hati sekaligus tidak rela.
Namun, harga dirinya sebagai nyonya rumah Halaman Barat tidak mengizinkannya merendahkan diri di hadapan seorang pelayan dari Halaman Utama. Ia hanya bisa menekan emosinya dan menelan kemarahan itu.
Bibi Fu bahkan tidak meliriknya lagi. Ia langsung membawaku berkeliling untuk mengenal berbagai urusan rumah tangga di Halaman Barat.
Tempat itu agak mirip sebuah perusahaan kecil: seorang pengurus mengawasi semua urusan besar dan kecil, sementara di bawahnya ada beberapa kepala bagian dan mandor yang masing-masing mengatur pengawal, sopir, pengasuh, koki, serta pekerja kasar.
Bagaimanapun, di kehidupan sebelumnya aku telah tinggal di keluarga He selama sepuluh tahun. Walaupun hanya melihat, aku sudah mempelajari cukup banyak hal.
Bibi Fu sangat puas dengan kecepatan belajarku. Sambil tersenyum lebar, ia berkata, “Nyonya Tua memang paling jeli dalam menilai orang.”
“Andalah yang mengajariku dengan baik.” Aku mengaitkan lenganku pada lengan Bibi Fu dan hendak menuruni tangga di lorong menuju taman ketika tiba-tiba seember air kotor tumpah dari atas.
“Hati-hati!”
Aku segera menarik Bibi Fu mundur. Kami nyaris saja berhasil menghindar, tetapi entah bagaimana anak tangga yang diinjaknya mendadak goyah.
“Aah!”
Keseimbangannya oleng dan ia menjerit kaget. Tubuhnya yang agak gemuk pun jatuh ke satu sisi.
Aku berusaha sekuat tenaga menariknya, tetapi karena perbedaan berat badan, aku ikut terseret jatuh bersamanya.
Aku segera menyesuaikan posisi tubuh, sehingga tidak menambah luka baru. Namun, karena momentum jatuh, Bibi Fu terhempas terduduk lalu bagian belakang kepalanya terbentur keras!
“Cepat, panggil orang! Bantu kami!”
Salah satu lenganku terluka. Aku tidak mungkin menarik Bibi Fu sendirian dengan satu tangan. Namun, para pelayan yang sedang bekerja di sekitar kami tidak ada satu pun yang mengindahkan perintahku.
“Apa? Sekarang kalian sudah berani mengabaikanku?”
Aku membentak marah.
Halaman (2/3)
Yuhong, yang berada paling jauh dariku, hendak datang membantu. Aku segera menghentikannya dengan tatapan.
Sebab aku mencium aroma parfum menyengat yang melekat pada tubuh He Xiaoluo. Mulai dari air yang ditumpahkan, anak tangga yang dilonggarkan, hingga jatuhnya aku dan Bibi Fu—semuanya sudah diperhitungkan.
Mungkin He Xiaoluo hanya ingin membuatku dan Bibi Fu menderita, sekaligus melampiaskan kemarahan demi ibu kandungnya.
Namun, niat licik Yin Lina jelas tidak berhenti sampai di situ. Ia mungkin juga ingin melihat bagaimana sikap para pelayan di Halaman Barat terhadapku.
Siapa pun yang berpihak kepadaku tidak akan memiliki hari-hari yang mudah di Halaman Barat.
“Kau! Dan kau!”
Aku menunjuk sembarang dua pelayan perempuan yang paling dekat dan menyuruh mereka datang membantu.
Keduanya bergerak dengan malas dan enggan. Aku segera menyebut nama mereka.
“Kalau kalian tidak datang sekarang juga, aku akan langsung menyuruh kepala pelayan memecat kalian.”
Barulah mereka berjalan kemari dengan enggan untuk membantu menopang Bibi Fu.
Begitu Bibi Fu berhasil dibantu berdiri, He Xiaoluo muncul.
Ia memarahi kedua pelayan itu, “Apa pekerjaan kalian sudah selesai? Berani ikut campur urusan orang lain di sini?”
Kedua pelayan itu meninggalkan Bibi Fu begitu saja lalu berlari pergi. Padahal kondisi Bibi Fu sangat buruk. Tanpa bantuan seseorang, ia sama sekali tidak bisa bergerak.
He Xiaoluo menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan karena melihat kemalangan orang lain.
“Sudah kubilang, Halaman Barat tidak cocok denganmu. Aku sudah menyuruhmu jarang datang, tetapi kau tidak mau percaya. Lihat, sekarang kau kena sial, kan?”
Selagi ia berbicara, aku sudah menelepon kepala pelayan.
Bibi Fu bersandar dengan satu tangan pada tiang lorong. Ia sama sekali tidak mampu berjalan dan terus mengisap napas karena menahan sakit.
Namun, He Xiaoluo masih merasa itu belum cukup.
“Wah, kau terluka di bagian mana? Mau kubantu memeriksanya?”
Sambil berkata demikian, ia mengulurkan tangan. Ia bahkan tampak ingin meremas dan mencubit tubuh Bibi Fu, seolah hendak memperparah luka yang sudah cukup serius itu.
Aku segera mendorongnya menjauh. Sambil menunjuk hidungnya, aku memerintah dengan suara tegas, “Sebaiknya kau minta maaf kepada Bibi Fu.”
“Shi Yang, kau ingin mati, ya? Buka matamu yang buta itu dan lihat baik-baik. Ini Halaman Barat! Jangan harap tangan kotor siapa pun bisa menjulur kemari.”
He Xiaoluo tampaknya sudah melupakan hukuman berlutut semalam di aula leluhur. Ia menjentikkan jarinya dengan keras, lalu memanggil para pelayan Halaman Barat untuk mengepung aku dan Bibi Fu.
Dengan nada memerintah, ia berteriak lantang, “Pukul dia sekeras-kerasnya!”
Kemudian ia mengeluarkan setumpuk uang.
“Pukul dia sekali, hadiahnya seribu. Kalau sampai membuatnya setengah mati, hadiahnya sepuluh ribu. Di sini tidak ada kamera pengawas. Aku ingin lihat bagaimana dia mengadu kepada Nyonya Tua!”
Halaman (3/3)