Bab 1: Biarlah Berakhir Hari Ini
Halaman (1/3)
Malam ini, lampu-lampu gedung pencakar langit di Kota Pelabuhan Bulan seakan hampir tenggelam oleh derasnya hujan badai.
Namun di griya tawang hotel paling mewah di pusat kota, pakaian pria dan wanita berserakan begitu saja di lantai. Bahkan ada stoking hitam yang robek tersampir di kursi. Kamar suite seluas lebih dari seratus meter persegi itu dipenuhi oleh kehangatan yang intim dan menggoda.
Shen Yuecheng tampaknya sangat puas dengan permainan Li Yin malam ini. Biasanya, setelah mandi mereka hanya saling mengucapkan selamat tidur, tetapi malam ini, setelah mengeringkan tetesan air di tubuhnya, Shen Yuecheng justru ingin merengkuhnya ke dalam pelukan untuk bermanja-manja sejenak.
Baru saja pria itu hendak mendaratkan ciuman di bibirnya, Li Yin sudah meloloskan diri dari pelukannya. Dengan jas wol yang tersampir di pundaknya, ia berdiri di depan jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, lalu menyalakan sebatang rokok tanpa memedulikannya.
Seketika, seluruh kota yang ramai itu seolah hanya menjadi latar belakang bagi siluet tubuhnya yang luar biasa indah.
Aroma asap rokok di udara membuat Shen Yuecheng, yang biasanya tidak pernah menyentuh rokok maupun alkohol, mengerutkan kening tidak suka.
"Aku ingat pernah memberitahumu untuk tidak membawa rokok saat bertemu denganku, kau..."
"Tuan, ada yang ingin kukatakan padamu."
Li Yin seolah tidak mendengar ucapannya, langsung memotong perkataan Shen Yuecheng begitu saja.
"Sayang, kenapa tiba-tiba seserius ini?"
Sisa tetesan air di sela-sela rambut Shen Yuecheng menetes dari poni di dahinya, mengalir menyusuri rahangnya yang tegas hingga ke dagu, jatuh ke tulang selangka, lalu meluncur turun ke otot perutnya, sebelum akhirnya menghilang mengikuti lekuk otot pinggulnya yang menawan.
Li Yin tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludah. Pria ini benar-benar terlampau rupawan, hingga membuat suaranya sendiri sedikit bergetar saat berbicara.
"Aku hanya ingin mengatakan, Tuan, mari kita akhiri hubungan kita hari ini."
Shen Yuecheng sedikit mengernyit, jakunnya naik-turun tanpa sadar, seolah tidak memahami perkataannya.
"Aku butuh alasan."
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
"Tidak ada alasan khusus, Tuan. Bukankah ini yang sudah kita sepakati? Jika salah satu dari kita merasa bosan, kita bisa pergi kapan saja, bukan?"
Suara Li Yin sedikit bergetar, lalu ia mengisap rokoknya dalam-dalam sambil memandang ke luar jendela.
"Hari ini aku melihat sebuah cincin di dalam tasmu. Apakah itu alasan yang sebenarnya?"
Memang benar.
"Kau yakin akan benar-benar bahagia jika menikah dengannya?"
Selera Li Yin berbeda dari orang kebanyakan; di permukaan ia tampak mendongak memuja pasangannya, namun sebenarnya dialah yang memegang kendali.
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada tiga pria lainnya, ia sengaja menyisakan Shen Yuecheng—satu-satunya pria yang pernah menjalin hubungan intim dengannya—sebagai yang terakhir.
Mereka berjanji untuk bertemu setiap tanggal tiga belas setiap bulannya, dan hari ini tepat satu tahun berlalu.
Keduanya tidak mengetahui nama masing-masing, apalagi hubungan sosial lainnya. Namun, karena kecocokan mereka yang sangat tinggi, mereka selalu bisa tenggelam bersama dalam gairah.
Li Yin selalu berkata bahwa meskipun segalanya hanya fatamorgana, kesenangan di saat seperti ini pastilah nyata.
Karena itu, mereka memiliki kesepakatan tersirat untuk tidak saling mencampuri atau penasaran dengan kehidupan pribadi masing-masing.
Namun kini, setelah berjuang selama beberapa tahun, Li Yin akhirnya berhasil membuat Nyonya Shen menyetujui pernikahannya dengan Shen Qingyun. Ini berarti ia harus mengucapkan selamat tinggal kepada tuan yang disukainya ini.
Shen Yuecheng menarik Li Yin yang baru saja menghabiskan rokoknya ke dalam pelukan. Gigitan-gigitan kecil yang rapat mulai mendarat satu demi satu di tulang selangkangnya. Li Yin meronta pelan karena kesakitan, namun sepasang tangan yang kokoh itu justru mengurungnya dengan erat.
"Sayang, hari ini kau sudah meloloskan diri dari pelukanku sekali. Ini hukuman untukmu."
"Tuan..."
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Suara berat Shen Yuecheng yang berkarisma berpadu dengan napas hangatnya yang berembus di telinga Li Yin, membuat seluruh tubuh wanita itu meremang bagai tersengat aliran listrik. Ia pun kehilangan seluruh kekuatannya dan bersandar pasrah di dada Shen Yuecheng.
"Setidaknya untuk saat ini, kau masih milikku."
Ketika Li Yin terbangun kembali di ranjang besar itu, ia merasa tubuhnya seperti remuk redam. Hampir di sekujur tubuhnya dipenuhi oleh bekas gigitan yang ditinggalkan oleh Shen Yuecheng.
Pria itu telah pergi lebih awal seperti biasanya. Ia merapikan semua barang milik Li Yin dan meninggalkan sebuah hadiah pertemuan di samping tempat tidur.
Saat Li Yin membukanya, ternyata itu adalah syal beludru merah yang dipadukan dengan kalung emas tipis. Perpaduan itu sangat serasi dengan gaun yang akan ia kenakan di pesta pertunangan hari ini, sekaligus bisa menyembunyikan bekas kemerahan yang memenuhi lehernya.
"Tuan memang selalu perhatian."
Li Yin mengeluarkan ponselnya, memblokir dan menghapus semua kontak Shen Yuecheng, lalu baru membaca pesan dari Shen Qingyun.
"Pesta pertunangan hari ini jam tujuh malam. Jangan terlambat, dan ingat, kau cukup datang sendiri saja."
Shen Qingyun adalah tunangannya hari ini. Tidak berlebihan jika menyebut keluarga Shen sebagai orang terkaya di Pelabuhan Bulan. Di usianya yang baru dua puluh enam tahun, Shen Qingyun sudah menjabat sebagai CEO Gantang, salah satu anak perusahaan dari Grup Xinghai milik keluarganya sendiri.
Li Yin menghela napas. Meski wajahnya datar tanpa ekspresi, ia tetap menyisipkan emotikon lucu saat membalas pesan Shen Qingyun, karena pria itu menyukai dirinya yang penurut seperti ini.
Saat Li Yin melangkah keluar dari hotel, waktu baru menunjukkan pukul sepuluh lewat. Ia naik taksi menuju Sanatorium Lintian, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam tasnya kini bertambah sebuah kartu nama—Shen Yuecheng, Direktur Grup Barang Mewah Xinghai. Di balik kartu nama itu, tertulis sebaris kalimat dengan tulisan tangan yang rapi.
"Jika kita bertemu sekali lagi, aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Halaman (3/3)