Bab 11: Keangkuhan
Di dalam ruangan.
Verifikasi petarung resmi dimulai!
Saat ini, pria berjanggut yang pertama kali berdiri di depan mesin penguji menatap angka pada layar dengan tak percaya.
"Tidak mungkin, jelas-jelas saat di sasana bela diri hasil tesku lebih dari seribu, kenapa di sini baru sembilan ratusan!"
"Kamu punya tiga kali kesempatan, nilai tertinggi yang akan diambil. Kamu masih punya dua kesempatan lagi!" penguji mengingatkan.
Namun, setelah mencoba dua kali lagi, hasilnya tetap sembilan ratusan. Pria berjanggut itu pun pergi dengan tertunduk lesu.
Melihat kejadian itu, Jiang Ping membatin, "Dengan begitu, aku bisa mencoba mengetahui kekuatan tempur asliku!"
Akurasi tes di Aliansi Petarung pastilah yang tertinggi. Jika ia bisa menghitung selisihnya dengan mesin penguji biasa, evaluasi kekuatan tempurnya di masa depan akan jauh lebih akurat.
Tes selanjutnya berlangsung dengan berbagai reaksi, ada yang senang, ada pula yang sedih. Tak lama kemudian, giliran orang tepat sebelum Jiang Ping tiba.
Begitu orang tersebut selesai, Jiang Ping bersiap untuk bangkit, namun tiba-tiba terdengar sebuah suara dari luar.
"Semua orang menunggu untuk melihat hasil tes Ouyang Feng. Kalau satu per satu seperti ini, sampai kapan antreannya selesai!"
"Nomor 18, tukar saja dengan Ouyang Feng, biarkan Ouyang Feng tes lebih dulu!"
Begitu kata-kata itu terucap, ruangan seketika hening. Banyak mata tertuju ke arah Jiang Ping; ada yang acuh tak acuh, ada yang dingin, namun lebih banyak yang memasang ekspresi ingin menonton pertunjukan.
Jiang Ping mengernyitkan dahi. Ia menatap penguji di depan, namun mendapati pandangan si penguji menghindar dan tidak berniat melanjutkan tes.
"Saya ingin bertanya, jika saya bertukar dengannya, setelah dia selesai, apakah giliran selanjutnya saya atau nomor 19?" tanya Jiang Ping tenang.
Waktu operasional verifikasi petarung di Aliansi Petarung Kota Jiang berakhir pukul empat sore. Setelah susah payah mengantre, Jiang Ping tentu harus memastikannya. Ia bisa saja mengizinkan orang lain tes lebih dulu, tetapi jika itu merugikannya, Jiang tentu tidak akan setuju.
"Aduh, kamu ini punya kepekaan tidak sih!"
"Karena kamu sudah bertukar dengan Kak Ouyang Feng, berarti kamu jadi nomor 38. Yang berikutnya jelas nomor 19!" gadis yang tadi mengobrol dengan Jiang Ping mengalihkan pandangan memujanya dari Ouyang Feng, lalu melirik Jiang Ping dengan jijik.
Jiang Ping terdiam. Jika begini, gilirannya bisa jadi baru sampai besok!
"Kalau begitu saya tidak mau tukar! Cari orang lain saja kalau mau tukar!"
Setiap detik baginya sangat berharga, tentu ia tidak akan membiarkan orang-orang ini membuang waktunya.
"Memangnya kenapa kalau membiarkan Kak Ouyang Feng tes lebih dulu?"
"Kamu yang mau gratisan pakai mesin tes ini, apa tidak merasa salah sedikit pun?"
"Benar-benar payah!" gadis itu menatap Jiang Ping dengan pandangan menghina.
Memakai mesin tes secara gratis? Jiang Ping justru tertawa geli. Ia menoleh ke arah Ouyang Feng. Masalah ini harus dilihat dari bagaimana si pelaku utama bersikap.
Saat ini, Ouyang Feng yang tadinya memejamkan mata untuk beristirahat membuka matanya dan menatap Jiang Ping dengan nada mengejek. Ia tidak bicara, namun ekspresi wajahnya sudah cukup menjelaskan segalanya.
"Berikutnya, Ouyang Feng!" tiba-tiba penguji di atas panggung bersuara.
Ouyang Feng di sampingnya meregangkan leher, melirik Jiang Ping dengan cibiran, lalu bersiap bangkit ke atas panggung.
"Tunggu sebentar, memangnya Aliansi Petarung ini milik Tim Palu Raksasa?"
"Semua orang mengantre sesuai urutan, kenapa dia Ouyang Feng bisa mengabaikan aturan!"
Di luar, terdengar suara tawa dingin. Semua orang menoleh ke sana. Sosok Ouyang Feng yang baru bangkit pun terhenti. Wajahnya tampak masam, namun akhirnya ia duduk kembali.
"Itu dia!" Jiang Ping tertegun. Ia tak menyangka wanita ini akan buka suara untuk membelanya.
Di luar, wanita bergaul merah dengan sosok yang memikat itu tak lain adalah Zhang Ya. Saat ini, ia menatap penguji di atas panggung dengan tatapan sinis. Begitu menyadari tatapan Jiang Ping, ia bahkan mengedipkan mata dengan jenaka.
"Apakah Asosiasi Petarung sudah pasrah dengan keadaan?"
"Sampai-sampai menyinggung Ouyang Feng demi bocah yang ingin memakai mesin tes secara gratis itu!" ujar seseorang dari Tim Palu Raksasa dengan bingung.
"Kurasa si jalang itu naksir bocah tersebut. Sama-sama murahan, sama-sama suka cari keuntungan, cocok sekali!"
"Tapi bagaimana mungkin aku membiarkan keinginannya tercapai! Aku akan membuat dia dan bocah itu tidak bisa turun dari panggung!" Wu Mei mencibir, lalu berdiri dan berjalan keluar dari sudut ruangan.
"Kapten Zhang Ya, coba tanya berapa banyak orang di sini yang datang untuk melihat Ouyang Feng!"
"Sumber daya harus digunakan pada tempatnya. Sudah sewajarnya petarung kuat memiliki hak istimewa!"
"Apa kau pikir ini ruang latihan Asosiasi Petarung milikmu?" nada bicara Wu Mei penuh sindiran dan sangat mahir memutarbalikkan logika.
"Setidaknya Asosiasi Petarung punya aturan yang dipatuhi!" Zhang Ya tidak marah, ia justru tersenyum santai.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita biarkan bocah ini tes bersamaan dengan Ouyang Feng? Coba tanya dia, apakah dia punya keberanian?" Wu Mei melirik Jiang Ping dengan meremehkan.
Mendengar itu, Zhang Ya tertegun. Ia tadinya ingin membela Jiang Ping, namun tak menyangka malah membuat Jiang Ping berada dalam posisi sulit.
Ouyang Feng sudah menjadi pusat perhatian banyak pihak. Jika keduanya tes bersamaan, ia tahu betul Jiang Ping hanya memiliki kekuatan petarung tingkat menengah, sementara rumor mengatakan Ouyang Feng jauh lebih hebat daripada sekadar petarung yang baru naik tingkat! Jiang Ping mungkin akan langsung menjadi bahan tertawaan di Basis Kota Jiang.
Melihat Zhang Ya terdiam, Wu Mei mencibir dan terus mendesak, "Tentu saja, jika kau dan bocah ini meminta maaf kepada Ouyang Feng, maka masalah ini bisa dianggap selesai!"
Di dalam ruangan, mendengar ucapan Wu Mei yang keterlaluan, Jiang Ping hampir tertawa karena marah. Ia hanya memperjuangkan haknya yang wajar, namun justru mendapat kesulitan sedemikian rupa! Bahkan Zhang Ya yang membelanya pun ikut terseret.
"Bocah, aku tidak akan menahan diri. Masih ada waktu bagimu untuk membatalkan verifikasi petarung sekarang!" saat ini, Ouyang Feng melirik Jiang Ping dengan nada mengejek. Suara itu penuh dengan penghinaan dan kesombongan.
"Ternyata meskipun seorang master bela diri, wataknya bisa sebegitu buruk!"
Mengandalkan bakat, tidak hanya meremehkan aturan, tetapi juga bersikap angkuh. Semua kesan baik tentang orang itu yang ada di ingatan Jiang Ping kini hancur berkeping-keping.
Jiang Ping menggelengkan kepala, lalu berdiri.
"Kalau begitu, ayo kita mulai!"
Jiang Ping benar-benar marah dengan sikap mereka, suaranya pun mendingin. Seseorang bisa saja kuat secara fisik, namun itu tidak berarti wataknya juga baik. Melakukan hal seperti ini tanpa rasa bersalah sedikit pun, bahkan menikmatinya.
Jika itu Jiang Ping di masa lalu, mungkin ia hanya bisa bersabar. Namun kini, ia tidak perlu lagi menahan diri! Ia berlatih mati-matian bukan untuk terus-menerus mengalah!
Melihat Jiang Ping berdiri dan langsung menuju meja tes, gadis tadi mencibir, "Hanya mencari penghinaan diri sendiri. Ada orang yang mati-matian menjaga harga diri, tapi tidak tahu seberapa kuat orang yang dihadapinya!"
Zhang Ya menatap punggung Jiang Ping dengan jantung yang berdegup kencang dan wajah yang terasa panas. Jika sebelumnya ia tertarik pada ketampanan dan postur pria itu, kini tanggung jawab dan keberanian yang ditunjukkan Jiang Ping terasa mematikan bagi seorang wanita yang sudah lama melajang.
Wu Mei juga terkejut, ia tidak menyangka bocah ini benar-benar berani naik ke panggung. Teringat kondisi Ouyang Feng, ia pun tertawa sinis, "Benar-benar tidak tahu diri!"
Sebagai kapten, ia tahu sedikit tentang kondisi Ouyang Feng. Sejak setengah tahun lalu, Ouyang Feng sudah mulai mempelajari teknik bela diri tingkat tinggi. Jangankan Jiang Ping yang terlihat seperti orang bodoh, anggota Tim Palu Raksasa pun belum tentu berani menjamin bisa menang melawan Ouyang Feng sekarang!