Bab 128: Perlengkapan Hadiah
Bab 128: Perlengkapan Hadiah
Darah Mewarnai Separuh Langit tidak banyak bicara. Ia bukan orang yang pandai berkata-kata. Melihat semua orang tidak meninggalkannya hanya karena perlengkapannya buruk, ia merasa sangat lega.
Sekali lagi mereka tiba di depan tanah tandus itu. Setelah menunggu kesempatan yang tepat, Darah Mewarnai Separuh Langit melesat secepat kilat, mengerahkan seluruh tenaganya dan berlari menuju Fang Xiaoru serta yang lainnya.
“Semangat, Darah!” seru Fang Xiaoru dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangan kecilnya dan mengayunkannya ke udara.
Darah Mewarnai Separuh Langit ternyata cukup tenang dan cerdas. Setelah mendapat pelajaran dari percobaan pertama, perjalanan menyeberangi tanah tandus kali ini menjadi jauh lebih mudah.
“Yeay!”
Melihat Darah Mewarnai Separuh Langit berdiri di hadapan mereka sambil terengah-engah, Fang Xiaoru bersorak seolah-olah ia sendiri baru saja memenangkan perlombaan.
Mata Zhang Muyang dan yang lainnya juga memancarkan sedikit penghargaan. Sambil berbalik untuk melanjutkan perjalanan, Zhang Muyang berkata pelan, “Lumayan.”
Darah Mewarnai Separuh Langit tersenyum tipis setelah mendengarnya. Ia tidak menjadi besar kepala dan tetap melanjutkan perjalanan dalam ruang bawah tanah dengan tenang.
Di depan mereka adalah monster kedua, Raja Kodok Giok.
Raja Kodok Giok merupakan seekor katak hijau besar yang telah bermutasi. Ia berdiri dengan tiga kaki, sementara pada tubuhnya tumbuh dua cakar yang dilengkapi senjata menyerupai meriam otomatis.
“Kalian semua sudah pernah melawan monster ini. Perhatikan posisi masing-masing...” Karena Darah Mewarnai Separuh Langit baru pertama kali datang, Zhang Muyang mengulangi penjelasannya sekali lagi.
“Mulai serang!”
Zhang Muyang melesat paling depan. “Provokasi!”
Begitu maju, Zhang Muyang langsung bertarung sengit melawan Raja Kodok Giok. Yang lainnya mulai menyerang dari belakang.
Raungan Hujan Roh juga muncul seperti hantu di belakang Raja Kodok Giok dan melancarkan serangan. Ia dan Zhang Muyang sudah lama bekerja sama dengan baik. Sementara itu, Darah Mewarnai Separuh Langit mematuhi perintah kelompok dan maju menebas monster tersebut, tetapi tidak berani menggunakan keterampilan apa pun.
Maklum saja, dengan pertahanan Darah Mewarnai Separuh Langit yang begitu tipis, satu serangan saja sudah cukup untuk membuatnya gugur dengan gagah berani.
Kayu Hutan berdiri di atas diagram bagua. Tangan kanannya memegang pedang dan melancarkan serangan sihir, sementara tangan kirinya menggambar jimat di udara. Dengan teriakan nyaring, ia memanggil segerombolan kupu-kupu warna-warni.
Itulah keterampilan baru yang baru saja dipelajarinya, sekaligus jenis makhluk panggilan yang baru. Namun, kupu-kupu warna-warni itu bukan hewan peliharaan dengan kemampuan menyerang utama, melainkan hewan peliharaan yang memiliki keterampilan memulihkan darah.
Hua Xiaoshuang mengangkat tangan dan mengambil Busur Bulan Angin, Bunga, Salju, dan Embun yang selalu disandangnya di punggung. Ia diam-diam mengerahkan kekuatan unsur dalam tubuhnya.
Tiba-tiba, di antara Hua Xiaoshuang dan Raja Kodok Giok, muncul untaian garis energi unsur berwarna hijau yang menembus tubuh sang monster.
Sementara itu, Fang Xiaoru sibuk menyembuhkan semua orang dengan penuh semangat.
Tentu saja, yang paling ia perhatikan adalah si pemula yang bahkan lebih buruk daripada dirinya sendiri—Darah Mewarnai Separuh Langit.
Namanya memang terdengar sangat gagah, tetapi kemampuan bermainnya agak menyedihkan.
Fang Xiaoru tidak berani sedikit pun mengendurkan kewaspadaannya.
...
Dengan susah payah, mereka akhirnya menyelesaikan satu ruang bawah tanah itu setelah hampir dua jam.
Fang Xiaoru berhasil memperoleh pelindung tangan yang sangat diidamkannya. Adapun Darah Mewarnai Separuh Langit, ia telah mengganti perlengkapannya dengan dua benda perlengkapan ungu yang jauh lebih baik.
Pada akhirnya, Fang Xiaoru tidak tahan melihat perlengkapannya yang buruk. Ia mencari-cari dua perlengkapan biru dengan atribut lumayan dari Paviliun Harta Langka.
“Pakailah dulu dua perlengkapan ini,” katanya.
Darah Mewarnai Separuh Langit melirik Fang Xiaoru, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia menerima perlengkapan itu dalam diam dan segera mengenakannya.
Manusia membutuhkan pakaian, kuda membutuhkan pelana. Setelah mengganti beberapa perlengkapannya dengan benda yang lebih baik, semangat Darah Mewarnai Separuh Langit pun tampak meningkat.
Zhang Muyang, yang sejak tadi memperhatikannya dari samping, tiba-tiba berkata, “Kawan, kau juga masih kekurangan senjata yang cocok, bukan? Aku bisa membuatkan satu untukmu. Kebetulan aku bisa sekalian berlatih.”
Mata Darah Mewarnai Separuh Langit menunjukkan sedikit keraguan.
“Baik,” jawabnya.
“Kak Darah, kau belum bergabung dengan serikat mana pun, kan? Bagaimana kalau bergabung dengan kami? Kita bisa sering bermain bersama. Yang penting bersenang-senang,” tanya Fang Xiaoru polos. Dengan bangga ia menambahkan, “Aku ini ketua Serikat Surya Cemerlang, lho.”
Melihat wajah Fang Xiaoru yang menggemaskan, hati Darah Mewarnai Separuh Langit tergerak. Ia tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, terimalah aku.”
“Ketua Serikat Surya Cemerlang, Zi Susu, mengundang pemain Darah Mewarnai Separuh Langit untuk bergabung dengan serikat. Apakah Anda menyetujui?”
“Setuju.”
Darah Mewarnai Separuh Langit mengangguk.
“Yeay! Serikat Surya Cemerlang kita semakin besar!”
Fang Xiaoru sangat gembira. Ia menggandeng lengan Zhang Muyang dan bermanja-manja.
“Cepat, buatkan senjata pusaka untuk Kak Darah!”
Zhang Muyang mencolek hidung kecil Fang Xiaoru dengan penuh kasih sayang.
“Gadis kecil, sejak awal kau memang sudah berniat mengajak Darah Mewarnai Separuh Langit bergabung dengan serikat, bukan? Karena itulah kau mengajaknya masuk kelompok?”
Mendengar pertanyaan Zhang Muyang, semua orang memasang telinga lebar-lebar. Bahkan Darah Mewarnai Separuh Langit pun menunggu jawabannya dengan saksama.
“Jangan begitu! Mana ada? Aku hanya tidak berhasil menemukan anggota lain. Ketika melihatnya di rumah lelang, aku langsung bertanya kepadanya,” jawab Fang Xiaoru dengan wajah tak bersalah.
Semua orang tertawa terbahak-bahak.
Darah Mewarnai Separuh Langit mendapatkan sebuah Pedang Tunggal Api Neraka.
Pedang Tunggal Api Neraka: “Sembilan Neraka Bawah Tanah, Api Suram Membakar Langit.” Serangan fisik 324–539, serangan sihir 204–322, kecepatan serangan 24, ketepatan +46, serangan kritis +44, tambahan 18 poin kerusakan api. Perlengkapan tingkat 72, perlengkapan ungu. Pembuat: Pedang Besar Dongdong Qi.
“Terima kasih.”
Setelah menerima Pedang Tunggal Api Neraka, Darah Mewarnai Separuh Langit membelai senjata itu berulang kali dari atas ke bawah. Itulah pertama kalinya ia mendapatkan senjata sebagus itu.
Sehari-hari ia sibuk mengurus bisnis. Bermain gim hanyalah hobinya untuk bersantai, sehingga ia tidak pernah mencurahkan terlalu banyak waktu dan tenaga. Ia hanya bermain pada malam-malam sunyi, ketika merasa kesepian dan membutuhkan sedikit penghiburan.
Begitulah, sambil terhuyung-huyung dan tanpa benar-benar memahami apa yang dilakukannya, ia berhasil mencapai tingkat tujuh puluh.
Setiap kali mencari kelompok, ia dianggap menyebalkan. Saat hendak naik tingkat, tidak ada yang mau menerimanya. Bahkan ketika berjalan di jalanan, tidak pernah ada gadis pengagum yang mengikutinya.
Namun, Darah Mewarnai Separuh Langit justru menikmati kesepian yang tidak biasa itu.
Sampai hari ini, ketika ia tertarik oleh iklan rumah lelang nomor satu.
Ia berpikir bahwa setelah mencapai tingkat tujuh puluh, sudah waktunya menyiapkan satu set perlengkapan yang layak. Karena itu, ia pergi ke rumah lelang untuk melihat-lihat. Tak disangka, ia malah dibawa ke ruang bawah tanah ini seolah-olah direkrut paksa.
Pemain elite!
Bahkan Darah Mewarnai Separuh Langit, yang biasanya cukup percaya diri, merasa terkejut ketika melihat pemain terkuat dalam gim memimpin kelompok secara langsung. Ia juga melihat para pemain dengan tingkat rata-rata di atas tujuh puluh dua, mengenakan perlengkapan indah dan mewah, lalu menghabiskan lebih dari dua jam bersama mereka.
Ternyata, di dalam gim ini benar-benar ada orang-orang yang tidak memandang rendah pemain dengan tingkat rendah dan perlengkapan buruk.
Bahkan ada gadis yang begitu baik dan menggemaskan, yang bersedia membantu pemain lain naik tingkat.
Dalam sekejap, hati Darah Mewarnai Separuh Langit tersentuh.
Mungkin sudah waktunya ia mulai memainkan gim ini dengan sungguh-sungguh.
Darah Mewarnai Separuh Langit menatap Pedang Tunggal Api Neraka di tangannya tanpa berkata-kata untuk waktu yang lama.
Setelah berpisah dengan yang lainnya, Fang Xiaoru berjalan-jalan santai di dalam kota milik Serikat Surya Cemerlang.
Pembangunan dan tata kota Surya Cemerlang ditangani oleh para murid keluarga Raungan Hujan Roh, sehingga Fang Xiaoru tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Sebagian besar waktu, Zhang Muyang dan Fang Xiaoru hanya menyandang nama sebagai pemilik kota.
Sejak Kota Surya Cemerlang selesai dibangun, berbagai kebijakan keuntungan bagi pedagang telah diumumkan untuk menarik lebih banyak pemain datang dan berbisnis di sana. Mereka juga merekrut para pengungsi.
Di wilayah-wilayah yang pernah diserang kekuatan kegelapan, banyak petani kehilangan rumah karena tanah mereka direbut. Mereka meninggalkan kampung halaman dan hidup terlunta-lunta sebelum akhirnya tiba di kota baru yang sedang berkembang ini.
Para pengungsi yang merupakan tokoh nonpemain itu kemudian dipekerjakan oleh berbagai toko dan pedagang besar. Alhasil, Kota Surya Cemerlang tampak makmur dan ramai, dengan lalu lintas manusia yang tidak pernah berhenti.
Inilah jalan perdagangan paling ramai di Kota Surya Cemerlang.
Fang Xiaoru memang paling menyukai jalan perdagangan. Sekalipun tidak membeli apa pun, ia tetap bisa berjalan-jalan seharian dengan gembira.
Tentu saja, setiap kali Fang Xiaoru berbelanja, Zhang Muyang adalah orang yang paling pusing. Fang Xiaoru selalu suka menyeretnya untuk ikut berjalan-jalan.
Kali ini, Zhang Muyang beralasan bahwa ia harus membuat perlengkapan untuk para anggota serikat. Ia pun pergi menempa, menghasilkan bunyi dentang-dentang yang terdengar dari kejauhan.
Sendirian ternyata juga cukup tenang.
Saat melewati sebuah toko kelontong secara kebetulan, Fang Xiaoru melihat papan nama bertuliskan Toko Kelontong Keluarga Su.
Hmm, toko kecil ini benar-benar sederhana.
Entah mengapa, Fang Xiaoru melangkahkan kaki masuk ke dalam toko.
“Pemilik toko ada?” tanya Fang Xiaoru begitu memasuki toko. Ia melihat seorang lelaki tua tertidur pulas di atas meja kasir, bahkan gelembung ingus tampak mengembang-kempis di hidungnya.
Suara Fang Xiaoru membangunkan lelaki tua itu. Pemilik toko mengusap matanya yang masih mengantuk. Begitu melihat seorang pelanggan datang, wajahnya yang semula tanpa ekspresi langsung berubah ramah.
“Nona pendekar, adakah yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan penuh perhatian.
“Aku hanya melihat-lihat,” jawab Fang Xiaoru dengan tenang.
Toko kelontong ini kecil, tetapi segala macam barang tersedia di dalamnya. Ada ramuan obat, senjata, perlengkapan, berbagai jimat, dan banyak benda lainnya.
Bahkan di bagian dalam meja kasir, terdapat berbagai benda aneh yang tidak diketahui kegunaannya. Misalnya gunting yang dibuat dari emas hitam dan rantai pengunci dari emas.
Sebuah gagasan melintas di benak Fang Xiaoru seperti kilat.
Mungkinkah barang-barang yang dijual di sini memiliki kegunaan khusus?
Pikiran itu hanya muncul sekejap. Melihat pemilik toko yang tersenyum lebar, Fang Xiaoru tiba-tiba merasa merinding. Setelah lama bimbang, ia menunjuk beberapa benda tak dikenal di atas meja kasir.
“Yang ini, yang itu, dan yang itu juga. Bungkus semuanya. Aku beli.”
Seketika, senyum pemilik toko mengembang seperti bunga yang sedang mekar.
“Baik, segera saya siapkan. Terima kasih atas kunjungannya. Semuanya berjumlah sepuluh ribu delapan puluh sembilan keping emas.”
Pemilik toko mengeluarkan sempoa kecil dan menghitung dengan sangat cepat, tegas, serta tanpa sedikit pun keraguan.
Mahal sekali!
Fang Xiaoru mengertakkan gigi, lalu mengeluarkan keping-keping emasnya dengan sikap seperti sedang berjudi. Ia memasukkan semua benda tak dikenal itu ke dalam cincinnya.
Namun, ketika keluar dari toko, Fang Xiaoru tiba-tiba menyadari sesuatu.
Apa ia baru saja kerasukan?
Ia benar-benar menghabiskan lebih dari sepuluh ribu keping emas untuk membeli setumpuk barang rongsokan!
Jangan-jangan pemilik toko telah melakukan sesuatu terhadapnya?
Dengan sedikit penyesalan, Fang Xiaoru berbalik hendak mencari toko tadi. Namun, posisi toko itu kini telah berubah menjadi sebuah dinding.
Cat putih yang masih baru memancarkan bau bahan kimia yang menyengat. Jelas sekali dinding itu baru saja dicat.
“Hah? Toko itu ke mana?”
Fang Xiaoru menatap dinding putih tersebut dengan terkejut.
Jangan-jangan ia bertemu hantu?
Mungkinkah kejadian gaib juga bisa terjadi di dalam gim?
Fang Xiaoru mengernyitkan dahi. Ia masih belum yakin apa yang sebenarnya terjadi. Namun, jika demikian, benda-benda tak dikenal itu pasti memiliki kegunaan tersendiri.
Fang Xiaoru menyimpan benda-benda yang tidak dapat dikenakan ke dalam cincinnya dengan rapi. Adapun benda-benda yang bisa dipakai, ia mengenakannya satu per satu.
Selain kalung yang memberikan atribut perlengkapan, kini tergantung pula di lehernya sebuah kalung mutiara dekoratif yang tidak diketahui kegunaannya.
Di dadanya, ia menyematkan sebuah bros.
Penampilannya kini menyerupai burung merak yang sedang mengembangkan ekor. Dengan penuh gaya, ia berjalan mondar-mandir di jalan perdagangan.
<div>
ID_BLOK_IKLAN="519311";
</div>