Bab 031 Terperangkap oleh Shen Mingchen, dia berniat melakukan hal yang tidak senonoh
Halaman (1/3)
Aku memang agak khawatir, tetapi kemudian kupikir-pikir lagi, dia juga tidak hanya mengundangku seorang. Ada Lei Xiaozhe yang menemaniku.
Dengan semua orang hadir di sana, apa yang bisa dia lakukan?
Karena itu, aku menjadi jauh lebih tenang dan tidak lagi setegang sebelumnya. Apa pun yang datang, akan kuhadapi.
Aku menunggu hingga malam, ketika Lei Xiaozhe pulang dari kantor, lalu kami berdua pergi menuju vila di Gunung Bulan.
Di dalam mobil aku sangat pendiam. Sepatah kata pun tidak terucap. Aku juga merasa tegang, seolah ada batu besar menindih dadaku hingga membuatku sulit bernapas.
Tanganku terus memainkan bros anggrek ekor phoenix. Seakan-akan hanya dengan memegang benda itu aku bisa merasa sedikit lebih tenang.
Ketika mobil tiba di vila lereng gunung itu, tempat ini terasa akrab sekaligus asing bagiku.
“Kau tampak gelisah sepanjang hari. Ada apa?”
Lei Xiaozhe baru saja menutup telepon ketika mengatakan itu. Kukira sejak tadi dia sibuk menelepon dan tidak memperhatikanku.
“Hah? Benarkah?” Aku tersenyum dengan agak canggung. “Mungkin aku hanya terlalu lapar.”
Aku menepuk-nepuk perutku.
Begitu mobil kami berhenti, kami melihat Shen Mingchen berada di sana. Dia pun berjalan menghampiri mobil kami.
Sebelum turun, kusematkan bros anggrek ekor phoenix itu di dadaku.
Setelah turun dari mobil, angin malam yang sejuk berembus. Pakaianku tipis dan udara malam di pegunungan terasa dingin, sehingga tanpa sadar kusilangkan kedua tangan untuk memeluk tubuhku.
“Udara malam di pegunungan cukup dingin. Nyonya Tang akan kedinginan karena pakaian Anda terlalu tipis.”
Sambil berkata demikian, Shen Mingchen mengangkat tangan dan hendak membuka kancing mantelnya.
Aku mengenakan gaun putih berlengan pendek dan lupa membawa pakaian luar. Saat aku merasa agak canggung, Lei Xiaozhe tanpa banyak bicara langsung melepas mantelnya dan menyampirkannya di tubuhku.
Melihat hal itu, ekspresi Shen Mingchen tampak sedikit membeku. Tangannya pun berhenti bergerak dan tubuhnya terlihat agak kaku.
Lei Xiaozhe sepertinya sama sekali tidak memedulikannya. Dia merangkul bahuku dan membawaku masuk ke vila.
“Kenapa Tuan Xu tidak terlihat?” tanyaku heran. Saat ini, aku tidak menyangka Shen Mingchen tidak mengundang Xu Jiayin hadir.
“Ada urusan keluarga. Dia sudah pulang.”
Shen Mingchen berjalan di depan kami untuk menunjukkan jalan. Kami mengikutinya melewati ruang depan, lalu menyusuri koridor di samping menuju halaman belakang.
“Kalian bisa makan barbeku?”
“Bisa!”
“Kalau Tuan Shen yang mentraktir, aku tidak pilih-pilih,” ujarku sambil bercanda dengan wajah tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah melewati bagian itu, kami tiba di halaman belakang.
Begitu sampai, kami melihat lampu-lampu warna-warni menerangi seluruh halaman. Di tengah malam, cahaya itu berkelap-kelip seperti bintang-bintang cemerlang dari galaksi yang jatuh ke bumi.
Banyak pelayan sibuk bekerja di sana. Asap dari panggangan mengepul perlahan, berpadu dengan suasana bak negeri dongeng dan menciptakan pemandangan yang begitu serasi.
Pemandangan halaman kecil itu masih sama seperti dahulu, lengkap dengan jembatan kecil dan aliran air yang dipenuhi keindahan klasik.
Semuanya masih persis seperti saat Lin Lu berada di sini. Setiap pohon di tempat ini kutanam dengan tanganku sendiri, dan kini semuanya telah tumbuh tinggi serta kokoh.
Namun, orang yang dulu menanamnya dengan tangannya sendiri itu telah menjadi debu yang diterbangkan angin.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Halaman ini sungguh unik,” ujar Lei Xiaozhe dengan tenang setelah melihat sekeliling.
“Terima kasih atas pujian Tuan Lei. Dahulu, semua ini dirancang oleh adik perempuan saya. Dia sangat menyukai nuansa klasik seperti ini.”
Mendengar perkataannya, hatiku seketika terasa tercabik.
Shen Mingchen mengajak kami duduk di kursi bambu. Kami makan sambil mengobrol. Suasananya begitu santai, tetapi aku tidak mampu menenangkan diri dan menikmati saat itu bersama mereka.
Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari kerja sama berikutnya hingga rencana bermain golf bersama. Aku tidak terlalu menyimak percakapan mereka.
“Pertama-tama, mari kita rayakan keberhasilan kerja sama kita. Selain itu, mari kita doakan agar Nyonya Tang segera pulih dan keluar dari rumah sakit.”
Shen Mingchen mengangkat gelasnya sebagai tanda selamat. Aku ikut mengangkat gelas, sekadar berpura-pura ikut bersulang tanpa benar-benar memusatkan perhatian. Saat itu, Lei Xiaozhe menahan gelas anggur merahku.
“Lulu, dokter sudah bilang kau tidak boleh minum alkohol.”
Aku tersenyum canggung.
“Maaf, aku terlalu senang hari ini sampai melupakannya.” Aku tersenyum hangat kepada Lei Xiaozhe.
Shen Mingchen segera memanggil seorang pelayan dan memintanya mengganti minumanku dengan jus buah segar.
Tidak lama kemudian, segelas jus delima berwarna merah disajikan.
“Jus apa ini?”
“Tuan Muda, ini jus delima.”
“Delima? Apa kau tidak tahu Lulu alergi terhadap jus seperti ini?”
Nada bicara Shen Mingchen terdengar keras ketika memarahi pelayan itu.
“Aku tidak alergi terhadap jus delima. Apa Tuan Shen salah ingat?” tanyaku penasaran sambil mengedipkan mata.
“Ah, aku... benar, benar.” Shen Mingchen tampak canggung.
“Nona Lin Lu yang dahulu alergi terhadap delima,” ujar pelayan itu.
Lei Xiaozhe meliriknya. Tatapannya berubah sedingin gletser di kutub. Pelayan itu segera menciutkan leher seperti burung puyuh.
“Dia adalah istriku, Tang Lu, bukan nona besar kalian.”
Pelayan itu langsung pergi dengan langkah tergesa-gesa. Saat itulah aku merasakan sisi dominan Lei Xiaozhe.
“Tuan Shen, Nona Lin sudah lama meninggalkan kita. Apa Anda masih belum bisa keluar dari kesedihan? Aku mengenal seorang psikolog yang mungkin dapat membantu Anda. Apakah Anda membutuhkannya?”
“Haha, tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri.”
Aku merasa suasana di tempat itu mulai berubah menjadi canggung. Kedua pria itu sedang bersaing secara terselubung.
Setelah itu, Shen Mingchen mulai terdiam. Dia hanya terus menuangkan minuman ke gelasnya sendiri dan menenggaknya.
Setelah beberapa gelas, dia mulai mabuk.
Saat itulah aku berdiri.
“Aku ingin pergi ke kamar kecil.”
Seorang pelayan mengantarku masuk ke dalam vila. Sebelum memasuki kamar kecil, aku berkata kepadanya,
“Mungkin aku akan berada di dalam cukup lama. Aku ingat jalan untuk kembali.”
“Baik, Nyonya.”
Pelayan itu pergi. Aku memperhatikannya hingga dia menjauh, lalu menunggu saat yang tepat sebelum naik ke lantai atas. Aku sangat mengenal tempat ini, sehingga dengan mudah menemukan kamar tidur Shen Mingchen.
Seperti sebelumnya, kali ini pun aku berhasil masuk ke kamar itu dengan mudah. Semuanya berjalan lancar.
Aku cepat-cepat menuju lemari pakaian dan membukanya, tetapi benda yang kucari tidak ada di dalam.
Wadah abu jenazah itu tidak ada. Aku ingat hari itu Shen Mingchen mengambilnya dari sini. Bagaimana mungkin sekarang benda itu tidak ada?
Brak!
Aku terkejut mendengar suara pintu ditutup. Sesaat kemudian, terdengar suara kunci diputar.
Aku buru-buru bersembunyi di dalam lemari dan menahan napas.
Siapa yang datang ke sini saat seperti ini?
“Keluar. Aku tahu kau ada di kamar ini.”
Shen Mingchen?!
Otakku mendadak kosong. Jika saat ini aku masih tidak menyadari bahwa semua ini adalah siasatnya, berarti dua kehidupan yang kujalani benar-benar sia-sia.
Aku membuka pintu lemari. Bagaimanapun juga, kali ini aku tidak akan bisa pergi dengan mudah. Lebih baik kami berhadapan secara langsung.
“Nyonya Tang, kali ini jangan bilang kau salah masuk kamar lagi. Pelayan membawamu ke kamar kecil di lantai bawah, bukan yang ada di dalam kamar tidurku, bukan?”
Aku terdiam.
Shen Mingchen melepas mantelnya, lalu duduk santai di atas ranjang. Ternyata tadi dia tidak mabuk. Dia hanya sengaja mengelabuiku.
“Kau datang ke sini untuk apa? Jangan-jangan ingin melihat-lihat kamar tidurku?”
“Aku bisa saja bilang bahwa aku terpikat oleh gaya dekorasi rumah Tuan Shen, lalu tanpa sadar berjalan ke sini.”
Dia tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Aku pergi dulu. A-Zhe pasti sudah menunggu dan mulai cemas.”
Aku sengaja mengatakannya agar dia sedikit merasa waspada.
Shen Mingchen tetap duduk di atas ranjang dan tidak mengejarku. Ketika aku sampai di pintu dan hendak membukanya, gagang pintu itu tidak bergerak sedikit pun.
“Kuncinya ada padaku!”
Sambil berkata demikian, Shen Mingchen menggoyangkan kunci di tangannya hingga terdengar bunyi denting logam yang nyaring.
“Apa yang ingin Tuan Shen lakukan?”
“Karena kau sudah datang ke kamar tidurku, kalau kau keluar begitu saja, bukankah Tuan Lei akan salah paham?”
Dia berjalan mendekatiku. Aku mundur hingga punggungku menyentuh dinding dan tidak bisa mundur lagi.
“Aku akan menjelaskannya kepadanya. Tuan Shen tidak perlu mengkhawatirkannya.”
Shen Mingchen memanfaatkan kesempatan itu untuk menekanku ke dinding.
Wajahnya mendekat. Aku segera memalingkan kepala untuk menghindarinya.
“Katakan, sebenarnya apa yang sedang kau cari? Aku bisa membantumu.”
Halaman (3/3)