Bab 44 Mertua Putih Palsuku
Begitu mendengar suara Lei Xiaozhe, Nyonya tua langsung bermanja-manja dan menitikkan air mata.
"A-Zhe, mereka semua menggertakku. Aku tidak mau makan masakan wanita itu, aku takut ada racunnya di sana."
"Ibu!" Xiao Xuening menatap sang mertua dengan perasaan dirugikan, lalu memandang suaminya dengan tanpa berdaya.
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Bukankah Xuening sudah memperlakukan Ibu dengan baik?"
Pria paruh baya itu mendongak dan menatap Lei Xiaozhe, ada secercah ketidaksabaran di dalam tatapannya.
Wajah Lei Xiaozhe mirip dengannya. Jika aku tidak salah duga, pria itu pastilah ayahnya, sementara wanita berwajah cantik tersebut kemungkinan besar adalah ibu tiri Lei Xiaozhe.
Dari ekspresi wajah Tuan Lei, sama sekali tidak terlihat kehangatan seorang ayah kepada anaknya.
Aku melirik ke arah Lei Xiaozhe. Penampilannya tampak begitu tangguh dan tak terkalahkan, aku bahkan merasa tidak ada hal di dunia ini yang dapat menghancurkan pria tersebut.
Ternyata ia harus menanggung begitu banyak tekanan—tekanan dari keluarga, tekanan dari karier. Pria yang berdiri kokoh bagaikan gunung ini ternyata juga tidak mudah menjalani hidupnya.
Tatapan wanita tua itu beralih kepadaku.
"Xiao Lu, kau juga datang. Aku ingin makan pangsit buatanmu."
Jarang sekali nenek memanggil namaku dengan benar, dan itu membuatku merasa sedikit tersentuh.
Pandangan semua orang tertuju padaku. Dalam situasi seperti ini, aku sangat berharap bisa berubah menjadi sosok yang tak kasat mata. Semakin tidak mencolok, semakin baik.
"Nenek, jadilah anak yang penurut, nanti aku akan membuatkan pangsit untukmu," kataku sambil tersenyum kepadanya.
"Bagus, bagus, aku yang paling penurut." Kali ini nenek tidak membuat keributan lagi. Xiao Xuening meletakkan bubur daging babi dan telur pitan di atas meja nakas.
"Hah!" Wanita itu menghela napas pelan, dan awan mendung kesedihan membayangi wajahnya.
"Kami sudah datang, Ayah tidak perlu berada di sini lagi."
Suara Lei Xiaozhe terdengar sangat dingin. Cara ia berbicara kepada ayahnya bagaikan berbicara kepada orang asing. Rasanya ia bahkan tidak bersikap sedingin itu saat berbicara kepadaku.
"Bagaimana cara anak ini berbicara kepada ayahnya?" Benar saja, Tuan Lei terpancing amarahnya. Matanya menyala penuh murka, suaranya menggelegar bagai petir.
Nenek sampai tersentak kaget karena ulah mereka.
"Nenek jangan takut, aku ada di sini!" Suaraku tidak terlalu pelan dan tidak terlalu kencang, cukup jelas didengar oleh orang-orang di dalam ruangan, sekaligus sebagai isyarat bagi mereka.
"Zhenghai, lupakan saja, sebaiknya kita pulang dulu. Biarkan Ibu dirawat oleh A-Zhe dan istrinya."
Ekspresi Xiao Xuening saat mengucapkan kalimat itu masih tetap sama—tampak tertindas dan dirugikan dengan sudut mata yang memerah. Hal itu sedikit... mengingatkanku pada Xu Jiayin, hanya saja wanita ini jauh lebih berkelas daripada Xu Jiayin.
Ia tampak lebih mirip seperti bunga teratai putih yang suci.
"Setelah urusan kalian selesai, datanglah ke halaman depan."
Usai melontarkan kalimat itu, Lei Zhenghai pergi dengan perasaan geram.
Xiao Xuening menatap Lei Xiaozhe sekilas lalu beralih kepadaku, tanpa mengatakan apa pun ia lantas melangkah pergi.
Aku membujuk nenek untuk makan sedikit, lalu menidurkannya untuk tidur siang.
Begitu aku keluar kamar, kulihat Lei Xiaozhe sedang menahan Bibi Wu untuk menanyakan kondisi terbaru sang nenek. Bibi Wu melaporkan semuanya secara detail tanpa ada yang terlewat.
"Mulai sekarang, makanan yang dibawa oleh Xiao Xuening tidak perlu diberikan kepada Nenek."
"Baik!" jawab Bibi Wu, lalu ia masuk ke dalam untuk menemani wanita tua tersebut.
Bisa terlihat jelas bahwa Lei Xiaozhe menyimpan prasangka terhadap Xiao Xuening. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga mereka, dan bagaimana ibu kandung Lei Xiaozhe meninggal dunia.
Namun, terlihat jelas bahwa ayah mertuaku sama sekali tidak mengenang masa lalu, tidak peduli dengan kisah masa kecil mereka yang tumbuh bersama.
Yang tua telah menua, kecantikan telah pudar, dan pada akhirnya pesona itu tetap tak mampu menandingi senyuman wanita yang lebih muda.
Pria memang selalu sama saja.
Lei Xiaozhe membawaku ke halaman depan. Xiao Xuening baru saja melangkah keluar dari ruang kerja.
"Ayahmu masih marah sekarang, tekanan darahnya sedang tinggi, jangan sampai kau membuatnya semakin kesal."
Lei Xiaozhe mengabaikannya begitu saja dan melangkah masuk. Aku tertinggal di luar, sementara Xiao Xuening meraih tanganku.
"Aduh, waktu pernikahanmu dan A-Zhe kemarin, Bibi Xiao belum sempat mengamatimu dengan baik. Sekarang setelah kulihat, wajahmu benar-benar cantik. Bentuk tubuh dan kulitmu juga sangat luar biasa."
Ia bersikap sangat akrab sambil memegang tanganku, seolah-olah ia sedang menggandeng anak kandungnya sendiri.
Aku merasa sedikit risih. Aku tidak terbiasa melakukan kontak sedekat itu dengan orang yang baru beberapa kali kutemui. Aku adalah tipe orang yang butuh waktu lama untuk akrab dengan orang lain, bahkan dengan anggota keluarga sendiri pun aku kurang menyukai keintiman fisik seperti ini, tetapi aku tidak menepis tangannya.
"Bibi Xiao, Anda terlalu memuji."
"Tidak, lihatlah, kau sudah menikah ke keluarga ini, tetapi aku sebagai ibu mertuamu belum sempat memberimu hadiah pernikahan. Ini adalah kelalaianku."
Tatapan matanya tampak begitu emosional, berbinar-binar penuh kelembutan.
"Haish, A-Zhe adalah anak yang malang. Ia sudah kehilangan ibunya sejak kecil. Aku selalu memperlakukannya seperti anak kandungku sendiri, tetapi..."
Ketika mengucapkan kalimat itu, air mata menggantung di bulu matanya, tampak begitu rapuh sekaligus memancing rasa iba. Hal itu pasti akan membangkitkan jiwa pelindung seorang pria. Sayangnya aku bukan seorang pria, aku sama sekali tidak tergerak oleh sandiwara seperti itu.
Ia menunduk untuk melihat gelang giok merah darah di pergelangan tangannya, lalu melepaskan gelang tersebut.
"Gelang ini dibelikan oleh ayah mertuamu untukku. Aku sangat menyukainya, dan hari ini kuberikan gelang giok ini kepadamu, sebagai tanda bahwa kau tidak sia-sia memanggilku Bibi."
Ia tersenyum lembut dan tenang, benar-benar menyerupai sekuntum bunga teratai putih.
"Mana bisa begitu, benda ini terlalu berharga bagi Anda, aku tidak boleh menerimanya."
"Terimalah." Ucapannya dibarengi dengan gerakan hendak menyematkan gelang itu ke pergelangan tanganku, membuatku sedikit mengerutkan kening.
"Bibi Xiao simpan saja gelang itu untuk diri sendiri. Ibuku sudah meninggalkan sesuatu khusus untuk calon menantunya."
Selesai berkata demikian, Lei Xiaozhe memberi isyarat kepada sang kepala pelayan, yang langsung pergi ke ruangan lain. Tidak lama kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah kotak berlapis beludru merah di tangannya.
Pria itu membuka kotak tersebut, memperlihatkan sehelai kalung berlian yang terletak di dalamnya.
"Aku akan memakaikannya untukmu."
Sebelum aku sempat memikirkan apa yang harus dikatakan, ia sudah mengambil kalung itu atas kemauannya sendiri dan memasangkannya di leherku.
Seketika itu juga, aku merasa menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Perasaan ini sama sekali tidak menyenangkan, rasanya bagaikan dipanggang di atas api.
Kedatanganku ke tempat ini sama sekali tidak berniat menyinggung siapapun. Kenyataannya, aku hanyalah orang kecil yang tidak memiliki kuasa untuk menyinggung siapa pun.
Namun, saat ini aku terpaksa menerima peran sebagai perisai bagi Lei Xiaozhe, dengan harapan keluarga ini tidak benar-benar mengarahkanku sebagai sasaran tembak mereka.
Xiao Xuening tidak mengatakan sepatah kata pun. Dengan tenang dan tanpa suara, ia mengenakan kembali gelang giok itu ke pergelangan tangannya.
Lei Xiaozhe menarik tanganku dan berjalan ke luar.
Saat kami hendak mencapai pintu keluar, sesosok tubuh menghalangi jalan kami.
"Kakak, baru juga datang sudah mau pergi saja."
Pria itu berbau sangat menyengat aroma alkohol. Siang bolong sudah minum sebanyak ini, benar-benar mabuk berat.
Wajahnya mirip sedikit dengan Lei Xiaozhe, tetapi sama sekali tidak memancarkan ketegasan seperti Lei Xiaozhe. Jika ia memanggil Lei Xiaozhe sebagai Kakak, berarti pria ini adalah adiknya yang gemar berfoya-foya itu? Apakah dia putra kandung Xiao Xuening, Lei Shaofeng?
"Ini pasti kakak ipar yang belum pernah kulihat sebelumnya, ya."
Tatapan matanya beralih dari Lei Xiaozhe kepadaku, dan kedua matanya langsung berbinar tajam, bagaikan serigala liar yang baru menemukan mangsanya.
"Enyah!" Suara Lei Xiaozhe diselimuti oleh hawa dingin yang pekat, memancarkan wibawa yang menekan orang di hadapannya.
Lei Shaofeng sedikit tersentak, tetapi dalam waktu kurang dari sedetik, ia langsung menyingkir dari jalan. Terlihat jelas bahwa ia sangat takut kepada Lei Xiaozhe, bagaikan tikus yang melihat kucing.
Lei Xiaozhe menarikku meninggalkan kediaman keluarga Lei, keluar dari tempat yang bagaikan gua harimau itu.
Aku menarik napas dalam-dalam. Udara di luar tetap terasa jauh lebih bebas.
Hari ini, aku praktis sudah mengenali seluruh anggota keluarga Lei.
Namun, tampaknya Lei Xiaozhe sama sekali tidak disukai di dalam keluarga Lei, itulah sebabnya ia memilih untuk pindah dan hidup mandiri sejak usia muda.
Sepanjang perjalanan pulang, Lei Xiaozhe tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana hatinya bahkan jauh lebih buruk daripada saat kami datang tadi.
Aku sibuk berusaha melepas kalung di leherku, tetapi pengait kalung itu cukup sulit dibuka. Aku sudah mencoba beberapa lama namun tetap tidak berhasil.
"Apa yang sedang kaulakukan?"
"Kalung ini untukmu saja. Benda ini adalah barang peninggalan almarhumah ibumu, pastinya memiliki makna yang sangat istimewa bagimu. Simpanlah baik-baik."
Ngomong-ngomong soal itu, aku jadi teringat pada "Bintang Jatuh Cinta" peninggalan ibuku. Benda itu kini berada di tangan Lei Xiaozhe, dan aku masih belum bisa mendapatkannya kembali.
"Pakailah dulu."
Apakah aku tidak salah dengar? Ia menyuruhku untuk tetap memakainya? Apa maksud dari semua ini?
"Benda yang kaudambakan, 'Bintang Jatuh Cinta', juga ada padaku."
Seketika itu pula aku mengerti. Maksudnya adalah ia ingin menukarnya denganku nanti. Aku tidak berkata apa-apa lagi.
"Ikan mandarin asam manis, apa kau bisa memasaknya?"
"Eh?" Ia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang tidak nyambung itu, membuatku tertegun sejenak.
"Aku ingin memakannya."
"Bisa!"
Pria itu memutar balik arah mobil dan langsung menuju ke pasar. Aku langsung mengerti maksudnya.
"Kau tunggu di sini, aku yang akan membeli ikannya."
Baru saja aku turun dari mobil dan melangkah menuju pasar, aku mendengar seseorang berteriak memanggil namaku:
"Lin Lu, wanita jalang, aku tidak akan membiarkanmu mati dengan tenang!"