Bab 21: Panggilan Ayah yang Dinanti Selama Sepuluh Ribu Tahun
Sembari berbicara, Lu Ping mengeluarkan dua lembar surat utang dan sebuah sertifikat rumah dari balik bajunya, lalu menyerahkannya ke tangan Han Chuning.
"Sayang, ini sertifikat rumah kita dan surat utang yang aku buat. Aku sudah menebus semuanya. Dulu aku memang berengsek, aku sudah menyakiti kalian. Mulai sekarang, aku pasti akan bertobat dan menjamin tidak akan membiarkan kalian terluka sedikit pun."
"Menurutmu aku masih akan percaya pada kata-katamu?"
Han Chuning tidak menunjukkan ekspresi apa pun, nadanya sedingin es. Namun, saat melihat barang-barang yang dibawa Lu Ping, hatinya mau tidak mau tergerak. Terutama sertifikat rumah itu, yang membuat batinnya bergetar hebat. Itu adalah fondasi kehidupan keluarga mereka berempat di kota ini.
Dulu, untuk membeli rumah tersebut, dia dan Lu Ping menguras seluruh tabungan, bahkan menggunakan setengah dari mas kawin miliknya. Orang tua serta kakak perempuan Lu Ping juga menyerahkan tabungan seumur hidup mereka demi rumah ini. Bisa dibilang, rumah itu diperoleh dengan perjuangan yang sangat sulit. Kini, setelah Lu Ping berhasil mendapatkannya kembali, bagaimana mungkin dia tidak merasa tersentuh?
Lu Ping sadar bahwa perbuatannya di masa lalu telah menghancurkan hati Han Chuning. Daripada terus mengumbar janji manis di sini, lebih baik ia membuktikannya lewat tindakan nyata.
"Ayah, tadi ada orang yang datang menagih uang kepada Ibu. Mereka juga mengancam aku dan Kakak, kami sangat ketakutan," ucap Anan yang sedang makan. "Ayah, Ayah harus membela aku dan Kakak. Kalau saja kakek tua itu tidak datang tepat waktu, Ibu pasti sudah mereka sakiti."
"Tadi ada orang yang datang menemui kalian?" Senyum di wajah Lu Ping seketika membeku. Dengan suara dingin, ia bertanya, "Apakah itu orang-orang Chen Ergou?"
Ia tahu Chen Ergou datang menagih utang hari ini dan bahkan menyiram cat di pintu rumah mereka. Saat berada di ruang bawah tanah sebelumnya, ia sempat mendengar anak buah Huang Mao mencari keberadaan keluarganya, jadi kemungkinan ada beberapa yang lolos.
Han Chuning tidak menjawab, ia hanya menyantap nasi di mangkuknya dengan wajah pucat.
Lu Ping mengusap kepala kecil Anan dan berkata, "Nak, orang-orang itu tidak tahu kalau Ayah sudah melunasi utangnya. Begitu mereka tahu, mereka tidak akan datang mengganggu kalian dan Ibu lagi, mengerti?"
"Iya, Anan percaya pada Ayah!"
"Aku juga percaya pada Ayah!" sahut Lu Zihan yang sejak tadi diam, sambil mengunyah makanannya dengan suara samar.
Hal itu membuat Lu Ping sangat bahagia. Anak kecil adalah makhluk yang paling tidak pendendam di dunia, terutama di hadapan orang tuanya. Tidak peduli seberapa sering mereka dimarahi, seiring berjalannya waktu, mereka akan melupakannya. Terkadang, hanya dengan sebuah mainan atau camilan, mereka akan kembali akrab.
Namun, bagi Lu Ping, ceritanya berbeda. Di kehidupan sebelumnya, ia belum sempat mendapatkan pengampunan dari istri dan anaknya sebelum maut memisahkan mereka. Hal itu membuatnya hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah yang tak berujung selama sepuluh ribu tahun di Benua Xuantian.
Kini, mendengar putrinya memanggil "Ayah" dan begitu memercayainya, ia merasa semua yang ia lakukan selama sepuluh ribu tahun ini tidak sia-sia. Hidung Lu Ping terasa perih, matanya berkaca-kaca, dan air mata jatuh tak terkendali. Namun, ia tetap mempertahankan senyumnya dan berkata dengan lembut, "Putriku, dulu Ayah yang salah. Ayah minta maaf. Bisakah kau memanggilku Ayah sekali lagi?"
Hanhan tidak menjawab, ia hanya mengerjapkan matanya yang jernih dan menatap Lu Ping dengan terpaku. Setelah cukup lama, barulah ia bersuara, "Ayah, Ayah!"
"Ya!" Lu Ping segera memeluk putrinya erat-erat. Meski ia adalah seorang Kaisar Abadi dengan keteguhan hati yang luar biasa, saat ini ia menangis tersedu-sedu. Panggilan "Ayah" ini telah ia tunggu selama sepuluh ribu tahun.
Anan tidak mengerti mengapa ayahnya memeluk kakaknya sambil menangis, tetapi ia juga ingin ikut memeluk ayahnya. "Ayah, aku juga mau peluk!"
"Iya, iya! Ayah peluk. Kalian adalah jantung hati Ayah." Lu Ping memeluk Anan dengan satu tangan dan Hanhan dengan tangan lainnya, tertawa sekaligus menangis.
Setelah cukup lama, ia berhasil menenangkan emosinya. Ia menoleh ke arah Han Chuning yang masih terpaku menatap sertifikat rumah dan surat utang tersebut, lalu bertanya dengan senyum lebar, "Sayang, bagaimana kalau kita pelukan juga?"
Sembari berbicara, ia terus mengedipkan mata ke arah kedua anaknya. Hanhan dan Anan yang cerdik segera mengerti maksud ayahnya. Mereka saling berpandangan dan berkata serempak, "Ibu, ayo peluk!"
Sebelum Han Chuning sempat menjawab, Lu Ping sudah mengambil kesempatan untuk mendudukkan Anan ke pelukan istrinya, lalu ia segera merangkul Han Chuning dan Anan ke dalam dekapannya. Menghirup aroma tubuh istrinya dan merasakan tawa bahagia dari kedua anaknya, Lu Ping merasa hidupnya telah mencapai puncak.
Hidup seperti ini, apa lagi yang perlu dicari? Gelar Kaisar Abadi atau hidup abadi sekalipun, mana mungkin senyaman memeluk istri dan anak?
Han Chuning sudah membaca pikiran Lu Ping. Agar tidak mengecewakan kedua anaknya, ia tidak menolak niat baik suaminya. Namun, ini adalah bangsal rumah sakit. Di sebelah ada Ibu Shen dan seorang wanita cantik yang dingin. Ia merasa malu jika harus bermesraan di depan orang lain. Maka, ia memasang wajah kaku dan menegur, "Apa kau mau membiarkan kami makan atau tidak? Kalau tidak mau, pulang saja sana, jangan membuat malu di sini."
"Sayang, biar aku saja yang menjaga Anan dan Hanhan malam ini. Kamu pulanglah untuk beristirahat."
"Tidak perlu, aku bisa menjaga mereka sendiri," jawab Han Chuning sambil menatap tajam ke arah Lu Ping.
Bukan karena ia tidak ingin Lu Ping menjaga anak-anak, tetapi setelah tahu Lu Ping melunasi seluruh utang rentenirnya, hatinya justru semakin gelisah. Dari mana Lu Ping mendapatkan uang sebanyak itu? Jika bukan dari berjudi, pasti ia telah menjual anak istri mereka. Bahkan, Han Chuning curiga bahwa sikap manis Lu Ping saat ini hanyalah siasat untuk mengusirnya agar ia bisa membawa pergi kedua anak mereka.
"Bagaimanapun caranya, aku tidak akan membiarkan anak-anak bersamanya sendirian," batin Han Chuning berjanji.
Lu Ping tidak menyadari pikiran istrinya. Setelah menurunkan anak-anak, ia masih berusaha membujuk Han Chuning. "Sayang, lihatlah matamu sudah menghitam karena lelah. Pulanglah istirahat malam ini, besok pagi baru kamu ganti menjaga."
Alih-alih menurut, Han Chuning justru meledak seperti kucing yang ekornya terinjak. Ia meletakkan mangkuk dan sumpitnya di atas meja dengan kasar lalu membentak, "Apa kau benar-benar punya niat baik? Anak-anakku akan kujaga sendiri, tidak perlu kau ikut campur!"
"Memangnya kenapa kalau mataku hitam? Aku rela, apa urusannya denganmu? Aku tidak peduli dengan cara apa kau melunasi utang-utang itu, dan aku juga tidak peduli bagaimana kau berhenti dari kecanduan narkoba. Tapi dengar, penyakit Hanhan tidak bisa ditunda lagi. Dokter bilang tiga hari lagi harus dioperasi. Jika kau masih punya sedikit nurani, jangan lagi bawa masalah bagi kami janda dan anak yatim ini, bisa? Aku mohon padamu."
"Sayang, aku, aku..."
"Apa lagi? Cepat keluar! Di sini tidak membutuhkanmu."
Han Chuning tidak memberi kesempatan bagi Lu Ping untuk menjelaskan, ia langsung mengusirnya keluar dari bangsal. Ibu Shen dan wanita cantik itu tidak tega melihatnya, lalu mereka mendekat untuk menghibur Han Chuning.
"Nak Han, bukankah suamimu sudah berubah baik? Mengapa kau marah sekali padanya?"
"Ibu Shen, Anda tidak tahu kondisi keluarga kami," ujar Han Chuning dengan derai air mata. "Suamiku dulu memang sangat baik dan hebat. Tapi dua tahun terakhir, dia tidak hanya menggunakan narkoba, tapi juga berjudi. Dia membuat rumah tangga kami hancur berantakan dan meninggalkan tumpukan utang rentenir."
"Hari ini dia bilang semua utangnya sudah lunas dan dia sudah berhenti menggunakan narkoba, tapi semalam dan hari ini masih ada orang yang datang menagih utang. Bagaimana mungkin aku percaya padanya?"
"Aku sangat curiga dia menjual kami ibu dan anak ini, kalau tidak, dari mana dia punya uang untuk membayar utang?"
Han Chuning mencurahkan segala kecurigaan dan rasa sakit hatinya seolah menemukan tempat untuk mengadu. Mendengar itu, Ibu Shen terdiam, wanita cantik itu terdiam, dan Lu Ping yang berada di luar pintu pun ikut terdiam. Setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing, siapa yang bisa menjelaskan kebenarannya?