Bab 40: Tiga Batu Giok Hetian Ini Akan Kubeli
Halaman (1/3)
Ucapan Gu Qingqing, “Aku bisa membantumu,” membuat Pan Likun langsung bersemangat. Matanya berbinar.
“Qingqing, kau sungguh mengatakan itu?”
“Tenang saja. Aku punya cara agar kau bisa mencicipi rasa Han Chuning.”
Suara Gu Qingqing merdu seperti kicauan burung, membuat hati siapa pun yang mendengarnya terasa gatal ingin menyentuh. Terlebih lagi, hembusan napas lembut dari bibir mungilnya yang merah muda menerpa telinga Pan Likun, menimbulkan rasa geli yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia bahkan ingin segera menaklukkan perempuan penggoda itu di tempat.
Tangan yang melingkari pinggang ramping Gu Qingqing tanpa sadar mengerat, seolah-olah perempuan di hadapannya adalah Han Chuning.
Dengan tatapan menggoda, Gu Qingqing mendadak merasa tubuhnya panas. Ia pun mulai menggeliat tanpa kendali, suaranya terdengar amat menggoda.
“Suamiku, tunjukkan keperkasaanmu dan beri pelajaran kepada pecundang miskin itu. Malam ini aku akan mengenakan pakaian pelayan untukmu.”
“Baik, baik, baik! Aku paling suka yang seperti itu!”
Pan Likun menepuk bokong Gu Qingqing yang montok, lalu menyanggupi dengan penuh semangat.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa wajah Lu Ping telah berubah sedingin es. Setiap kata dalam percakapan mereka juga terdengar jelas olehnya.
Sepasang bajingan itu ternyata berani mengincar Han Chuning. Di dalam hati Lu Ping, mereka sudah dijatuhi hukuman mati.
“Tuan Pan, Nona Gu, maaf telah membuat kalian menunggu. Batu-batu giok ini adalah yang terbaik di toko kami.”
Tepat ketika Lu Ping hendak bertindak, seorang pelayan datang membawa nampan besar berisi perhiasan giok.
Di antaranya terdapat tiga potong bahan giok Hetian alami, masing-masing sebesar telapak tangan. Seketika, perhatian Lu Ping tertuju pada benda-benda itu.
Pelayan tersebut mengangkat sebuah gelang giok dan menjelaskan,
“Tuan Pan, Nona Gu, lihatlah. Pori-pori dan warna kulit pada gelang ini merupakan ciri khas giok Hetian kelas atas yang langka. Bagian paling sempurnanya masih terjaga.”
“Suamiku, gelang ini cantik sekali. Belikan untukku, ya?”
“Tidak masalah!”
Pikiran Pan Likun dipenuhi bayangan pakaian pelayan malam ini dan Han Chuning di masa mendatang. Apa pun yang dikatakan Gu Qingqing, akan ia turuti tanpa sedikit pun keraguan.
Pelayan itu sedikit mengangkat kelopak matanya dan diam-diam bertukar pandang dengan Pan Likun, lalu berkata,
“Nona Gu memang memiliki selera yang luar biasa. Gelang giok ini adalah harta terbaik kedua di toko kami setelah pusaka utama. Mari, biar saya pakaikan.”
Sambil berbicara, gelang giok itu sudah terpasang di tangan Gu Qingqing.
Pelayan tersebut kembali melontarkan pujian manis khas seorang penjual.
“Ada pepatah mengatakan, manusia merawat giok selama tiga tahun, sedangkan giok melindungi manusia seumur hidup. Gelang ini benar-benar pasangan sempurna bagi Nona Gu, seolah-olah dibuat khusus untuk Anda!”
“Wah, cantik sekali.”
“Berapa harga gelang ini? Aku mau membelinya.”
Gu Qingqing sudah dibuat terlena oleh pujian sang pelayan. Ia semakin enggan melepaskan gelang giok yang terpasang di tangannya.
Pelayan itu tersenyum tipis.
“Satu juta. Namun, Nona Gu adalah pelanggan lama kami, jadi saya beri potongan dua belas persen. Cukup bayar delapan ratus delapan puluh ribu.”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Suamiku…”
Gu Qingqing mengedipkan bulu mata palsunya yang panjang sambil memandang Pan Likun dengan tatapan memelas. Semua niat perempuan bermuka duanya terpampang jelas di wajah, lengkap dengan rengekan dan kemanjaan.
Pan Likun seolah-olah telah dicengkeram pada titik lemahnya. Tanpa ragu, ia mengeluarkan sebuah kartu bank dan menyerahkannya kepada pelayan.
“Gesek saja!”
Pelayan itu menerima kartu tersebut dan menggeseknya.
Saldo tidak mencukupi!
Ia mencoba lagi.
Hasilnya tetap sama!
“Aduh, aku lupa. Kemarin baru saja kugunakan lima juta untuk membeli saham.”
Pan Likun menepuk dahinya, lalu bertanya dengan nada penuh rasa bersalah,
“Bisakah kau memeriksa berapa sisa uang di kartu ini?”
Pelayan itu mengoperasikan mesin pembayaran, kemudian berkata,
“Tuan Pan, saldo di kartu Anda tersisa empat ratus delapan puluh ribu. Jika ingin membawa gelang ini, Anda masih perlu menambah empat ratus ribu.”
“Qingqing, bagaimana kalau kubelikan setelah uang dari sahamku bisa dicairkan?”
Pan Likun memandang Gu Qingqing dengan malu-malu, matanya dipenuhi rasa bersalah.
“Tapi aku benar-benar menyukai gelang ini.”
Gu Qingqing sangat menyukai gelang tersebut. Seumur hidupnya, ia belum pernah mengenakan gelang seharga delapan ratus delapan puluh ribu.
Kini gelang itu sudah terpasang di tangannya, tentu saja ia tidak rela melepaskannya begitu saja.
Pan Likun dan sang pelayan saling berpandangan. Keduanya dapat melihat secercah kegembiraan tersembunyi di mata masing-masing.
Pan Likun tersenyum dan berkata,
“Qingqing, begini saja. Untuk sementara, gunakan uangmu untuk menutupi kekurangan empat ratus ribu ini. Nanti akan kukembalikan satu juta kepadamu. Bagaimana?”
Gu Qingqing berpikir sejenak. Gelang giok itu bernilai delapan ratus delapan puluh ribu, sedangkan Pan Likun akan memberinya satu juta. Itu berarti ia akan memperoleh satu juta delapan ratus delapan puluh ribu. Bahkan setelah dikurangi empat ratus ribu yang harus ia keluarkan, ia masih mendapat keuntungan bersih satu juta empat ratus delapan puluh ribu. Bagaimanapun cara menghitungnya, transaksi itu tetap menguntungkan.
Karena itu, ia segera mengeluarkan sebuah kartu bank dari tas tangannya dan berpura-pura enggan.
“Suamiku, empat ratus ribu ini adalah seluruh tabunganku. Kau harus mengembalikan satu juta itu kepadaku, ya.”
“Tenang saja. Milikku adalah milikmu juga. Berapa pun yang kauinginkan, akan kuberikan.”
Barulah Gu Qingqing dengan berani menyerahkan kartu bank itu kepada Pan Likun agar digunakan untuk membayar.
“Orang bodoh tetap saja orang bodoh. Sudah dijual, masih membantu orang lain menghitung uangnya.”
Lu Ping menggeleng sambil tertawa getir. Sekilas saja ia sudah tahu bahwa gelang giok itu telah diberi lapisan warna buatan. Nilai sebenarnya bahkan tidak sampai seratus yuan.
Jelas sekali bahwa semua yang terjadi di hadapannya merupakan penipuan yang sengaja dirancang Pan Likun dan sang pelayan untuk menjebak Gu Qingqing.
Ia tidak menyangka perempuan bermuka dua itu juga akan mengalami hari ketika dirinya ditipu orang lain.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Bip!
Pembayaran berhasil.
Pan Likun dan sang pelayan kembali saling bertukar pandang, dengan seringai penuh kegembiraan yang nyaris tak terlihat di sudut bibir mereka.
“Tuan Pan, Nona Gu, kalau begitu saya akan menyimpan kembali perhiasan giok lainnya. Gelang ini boleh langsung dibawa oleh Nona Gu.”
“Simpan saja. Barang-barang lainnya tidak menarik bagiku.”
Gu Qingqing tersenyum puas, merasa telah mendapatkan keuntungan besar.
Ia mengeluarkan ponselnya dan memotret gelang itu berkali-kali, lalu mengunggahnya ke media sosial untuk memamerkannya dengan bangga.
“Tunggu!”
Saat pelayan hendak membawa sisa perhiasan giok itu kembali ke gudang, Lu Ping menunjuk tiga potong bahan giok Hetian alami di atas nampan.
“Berapa harga tiga potong giok Hetian ini? Aku mau membelinya.”
Begitu mendengar ucapan itu, pelayan, Gu Qingqing, dan Pan Likun sama-sama tertegun.
Ketiganya serentak menoleh ke arah Lu Ping.
“Lu Ping, jangan bercanda. Tiga batu mentah ini bukan hanya tidak sanggup kaubeli, bahkan suamiku pun akan kesulitan membayarnya.”
Gu Qingqing menatapnya dengan jijik. Sebagai teman sekamar sekaligus sahabat Han Chuning semasa kuliah, ia sangat memahami kondisi keuangan Lu Ping.
Ingin membeli tiga batu mentah itu benar-benar sama saja dengan bermimpi di siang bolong.
Pan Likun menyilangkan kedua tangan di dada, lalu berkata dengan angkuh,
“Ketiga batu mentah ini adalah giok Hetian murni kelas atas. Satu potong harganya satu juta. Apa kau punya uang sebanyak itu?”
“Tuan Pan, tepatnya satu juta lima ratus ribu per potong. Jadi, tiga potong harganya empat juta lima ratus ribu. Kalau diberi potongan, menjadi tiga juta.”
Pelayan itu membetulkan dengan nada penuh ejekan.
Sekalipun ia bersedia memberi potongan, apakah Lu Ping sanggup membelinya?
Gu Qingqing menatap Lu Ping dengan semakin meremehkan, lalu berkata dengan congkak,
“Jangankan tiga juta, tiga ratus ribu saja dia tidak mampu. Aku beri tahu kalian, dua hari lalu istrinya bahkan meneleponku tengah malam. Tahukah kalian berapa uang yang ingin dipinjamnya?”
“Tiga ribu yuan! Uang sekecil itu bahkan tidak cukup untuk membayar satu kali makan hotpot-ku. Menurut kalian, apakah orang miskin seperti dia mampu mengeluarkan tiga ratus ribu untuk membeli giok berkualitas seperti ini?”
“Siapa bilang harganya tiga ratus ribu? Memangnya kau bisa mengambil keputusan atas nama Paviliun Jodoh Giok?”
Lu Ping sama sekali tidak marah mendengar ucapan Gu Qingqing. Sebaliknya, ia menatap wajah buruk perempuan itu dengan senyum penuh arti, matanya dipenuhi geli dan sindiran.
Ia sudah bersiap untuk memberi perempuan bermuka dua itu pelajaran yang tak akan terlupakan.