Bab 45: Perihal Asmara
Saat keduanya kembali ke kantor, kabar itu menyebar dengan sangat cepat. Banyak rekan kerja yang sudah mengetahui apa yang diumumkan oleh Ye Chen, dan tatapan yang mereka arahkan kepada Ye Chen pun dipenuhi dengan sedikit rasa hormat dan antusiasme.
Bahkan di sepanjang koridor, tidak sedikit orang yang menyapa Ye Chen.
Ye Chen membalasnya satu persatu dengan senyuman sambil menanyakan nama mereka.
Begitu masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup, Wang Fei'er menarik napas panjang.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Orang lain menyapamu, tapi kamu malah mengingat nama mereka dan membalasnya dengan begitu sopan. Mana ada bos sepertimu?"
Ye Chen menoleh untuk menatap Wang Fei'er.
"Kamu ini benar-benar tidak paham, atau pura-pura tidak paham?"
"Hah? Paham apa maksudnya?" Wang Fei'er memasang ekspresi bingung.
Ye Chen menghela napas sambil menepuk kepala Wang Fei'er pelan.
"Ingatlah, kita semua ini sama-sama manusia, berkepala satu, bertubuh satu. Aku tidak lebih mulia dari mereka, dan mereka bukanlah keberadaan rendahan yang harus bersikap super hormat setiap kali bertemu denganku."
"Tapi... tapi kan kamu yang menggaji mereka!"
"Satu kontrak kerja mereka bisa menghasilkan satu atau dua juta untukku, sementara aku memberi mereka gaji lima puluh atau enam puluh ribu sebulan. Menurutmu, siapa yang seharusnya berterima kasih? Aku pada mereka, atau mereka pada-ku?"
Pertanyaan itu seketika membuat Wang Fei'er tertegun.
Rasanya memang seperti itu kenyataannya. Keuntungan yang diciptakan oleh setiap karyawan biasanya sepuluh hingga seratus kali lipat lebih besar daripada gaji mereka sendiri.
Jika dihitung dengan cara ini, memang benar Ye Chen yang seharusnya berterima kasih kepada mereka.
"Tidak perlu ada yang saling berterima kasih. Kita semua adalah manusia yang sama, hanya berkumpul demi mencari penghidupan. Jadi, jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting!"
*Ting...*
Pintu lift terbuka, dan Ye Chen melangkah keluar.
Entah karena cahaya matahari di luar terlalu menyilaukan atau bukan, Wang Fei'er tiba-tiba merasa seolah-olah ada aura bagaikan dewa yang menyelimuti tubuh Ye Chen.
Melihat punggung Ye Chen, Wang Fei'er sempat melamun sejenak.
Sampai akhirnya Ye Chen berbalik dan menatapnya.
"Kakak, kamu mau keluar atau tidak sebenarnya?"
Tubuhnya terkesiap seketika, Wang Fei'er buru-buru keluar dari lift.
"Iya, iya, datang nih! Jangan mendesak terus!"
Begitu tiba di dekat Ye Chen, pria itu langsung merangkul pinggangnya.
Kali ini Wang Fei'er tidak melawan. Dia tidak menendang Ye Chen atau memutar tangan pria itu seperti biasanya.
Melihatnya begitu menurut, tangan Ye Chen pun mulai berulah dengan nakal.
Samar-samar, Wang Fei'er merasakan tangan Ye Chen mulai meraba dan mengelus perlahan.
*Plak!*
Dengan mata melotot dan suara tamparan yang nyaring, sebuah bekas telapak tangan kemerahan kembali mendarat di wajah Ye Chen.
"Sudah kubiarkan merangkul tapi kamu malah tidak bisa diam ya? Kepala batukmu itu benar-benar diberi hati minta jantung, ya?"
Sambil buru-buru mundur ke samping, Ye Chen tidak berani mendekat lagi.
Di tempat lain.
Lin Qingxue kembali ke kantor usai makan siang, namun kepalanya penuh dengan bayangan wajah Ye Chen.
Entah mengapa, setiap kali teringat pada Ye Chen, ia tidak bisa menahan rasa bahagianya.
Keceriaan itu bahkan terpancar di wajahnya, membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
"Apakah Nona Lin sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan?" tanya sekretarisnya di samping dengan rasa penasaran.
Lin Qingxue buru-buru menggelengkan kepala, lalu kembali memasang ekspresi datar seperti air yang tenang.
Ekspresi memang bisa disembunyikan, tetapi isi hati tidak bisa dibohongi.
Setelah merenung sejenak, Lin Qingxue menatap sang sekretaris.
"Xiao Wei, kurasa kamu biasanya cukup suka berganti pacar. Bisakah kamu menceritakan beberapa hal kepadaku?"
Sekilas pertanyaan itu terdengar aneh, membuat Xiao Wei merasa gugup.
"Nona Lin, i-ini sepertinya tidak mengganggu pekerjaan, kan?"
Lin Qingxue menggelengkan kepala. "Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Aku hanya ingin bertanya, jika seseorang sangat mudah merasa iba, tetapi mulutnya sangat tajam dan ketus, apakah orang seperti itu adalah orang baik?"
Mendengar itu, Xiao Wei menggigit bibirnya.
"Omong-omong, dulu aku juga pernah bertemu dengan orang seperti itu. Mulutnya sangat pedas, suka mengomel, tetapi apapun makanan yang ingin ku makan, dia akan mengomeliku karena hanya tahu makan, namun di saat yang sama dia tetap memasak makanan yang kuinginkan lalu membawakannya untukku!"
"Setiap kali aku bilang ingin membeli sesuatu, dia selalu merasa sangat sayang pada uangnya dan berkata gajinya tidak banyak, tapi pada akhirnya dia tetap membelikan barang yang kuinginkan itu."
"Kami sering bertengkar, tetapi setiap kali selesai bertengkar, dialah yang selalu meminta maaf lebih dulu."
...
Xiao Wei bercerita selama setengah jam penuh.
Jika di masa lalu, Lin Qingxue pasti sudah merasa bosan dan menyuruhnya diam, tetapi hari ini Lin Qingxue mendengarkannya dengan sangat seksama, menyangga dagunya dengan tangan, bahkan di wajahnya tersenyum manis.
Di akhir cerita, Xiao Wei menghela napas panjang.
"Sayang sekali, setelah berpacaran dengan begitu banyak pria, aku tidak pernah bisa menemukan orang seperti dia lagi."
Lin Qingxue ikut menghela napas. "Benar ya, sayang sekali... Jika menikah dengannya, hidup di masa depan pasti akan sangat bahagia, kan?"
Mata Xiao Wei sedikit memerah.
"Dia sudah menikah tahun lalu, sepertinya tahun ini akan menjadi seorang ayah. Aku tidak berani mencari tahu terlalu banyak, hanya mendengar beberapa kabar samar. Biarlah masa lalu berlalu begitu saja!"
Dari ekspresi Xiao Wei, Lin Qingxue bisa melihat rasa enggan merelakan sekaligus ketidakberdayaan.
Rasanya seperti ada sekerat daging di dalam hati yang telah dirobek paksa.
Walau mulut berkata sudah berlalu, belum tentu hal itu benar-benar bisa dilupakan.
Setelah terdiam sejenak, Lin Qingxue menemukan jawabannya sendiri di dalam lubuk hatinya.
Ia tidak ingin bernasib sama seperti Xiao Wei.
Tiba-tiba, suara petir menggelegar di luar jendela, membuat Lin Qingxue terperanjat kaget.
Seketika kemudian, hujan deras turun mengguyur, bahkan menghantam kaca gedung hingga menimbulkan suara bergemuruh.
"Musim panas akan segera tiba, hujan ini pun turun semakin lebat saja!"
Berdiri dan berjalan menuju jendela untuk mengamati hujan di luar, Lin Qingxue meregangkan tubuhnya dengan malas.
"Nona Lin, Anda biasanya jarang mengenakan pakaian dan celana longgar. Dua hari ini Anda terus mengenakannya, apakah Anda berencana mengubah gaya berpakaian?"
Xiao Wei adalah wanita yang cerdik. Perubahan gaya pakaian Lin Qingxue selama dua hari ini, ditambah rasa penasarannya yang besar tentang topik percintaan barusan, sudah sangat jelas menunjukkan bahwa atasannya itu sedang menyukai seorang pria, dan bahkan sepertinya dikendalikan oleh pria tersebut.
Sebagai seseorang yang lebih berpengalaman, Xiao Wei merasa perlu memberikan sedikit nasihat.
"Biasanya dalam situasi seperti ini, pria yang aku maksud itu pasti akan menungguku di bawah gedung kantor."
Alis Lin Qingxue mengernyit sembari menatap hujan lebat di luar.
"Dengan hujan sebesar ini, sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat, ya?"
Tampaknya ia masih menaruh sedikit harapan agar Ye Chen datang menjemputnya di lantai bawah.
Memikirkan hal itu, Lin Qingxue buru-buru meraih ponselnya.
Namun tepat pada saat itu, Xiao Wei buru-buru memperingatkannya.
"Nona Lin, Anda sama sekali tidak boleh mengirim pesan lebih dulu. Mengirim pesan inisiatif tidak akan membuktikan apa-apa."
"Lagipula, setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Jikalau nanti dia ternyata tidak datang, Anda justru akan merasa sangat kecewa!"
"Eh, begitu ya... Kalau begitu, apa yang harus kulakukan?" Lin Qingxue benar-benar awam soal percintaan, sehingga ia hanya bisa meminta saran dari sang penasihat percintaan amatir.
Setelah berpikir sejenak, Xiao Wei mengangkat alisnya.
"Nona Lin, unggah saja status media sosial yang bernada melankolis, ambil foto hujan deras di luar, lalu tulis bahwa mobil Anda sedang masuk bengkel!"
"Jangan, jangan! Jika aku mengunggah hal seperti itu, nanti akan ada banyak sekali orang yang datang menjemputku!" Lin Qingxue sangat tahu bahwa para pria yang mengejarnya jumlahnya tidak sedikit.