Bab 31 Pulang ke Rumah
Lin Yuan dan Meili tiba di tepi laut. Lin Yuan mengeluh, “Tanpa awan milik Penguasa Angin, bagaimana kita bisa menyeberangi laut ini?”
Meili menjawab, “Tuan Lin, bukankah kita punya pakaian bersisik air?”
“Jangan bercanda, ini bukan danau, ini lautan luas! Kau mau aku berenang menyeberanginya?” Lin Yuan begitu terkejut hingga mulutnya terbuka lebar.
Meili berkata, “Kalau Tuan Lin tak ingin berenang, maka biar aku saja yang membawamu menyeberang.”
“Bagaimana caranya?”
Dalam sekejap, Meili berubah menjadi ikan mas raksasa. “Tuan Lin, naiklah ke punggungku, aku akan membawamu ke seberang.”
“Kau yakin bisa sampai ke sana? Itu butuh waktu puluhan tahun!”
Meili tersenyum, “Tuan Lin tenang saja, aku akan berenang sangat cepat.”
Lin Yuan menghela napas, “Yah, memang tak ada cara lain, baiklah.”
Lin Yuan pun naik ke punggung Meili, memegang erat sirip punggungnya. Meili meluncur ke dalam laut, menyelam ke bawah permukaan, tubuhnya meliuk bagai torpedo air, membuat Lin Yuan berteriak ketakutan.
...
Di saat lain, tiga orang yang sebelumnya dibuat pingsan oleh Meili, salah satu dari mereka perlahan siuman. Ia bangkit dan melihat rekan-rekannya masih tergeletak di tanah. Ia berjalan ke batang pohon, meraba-raba, dan mendapati orang yang tadinya di atas pohon sudah lenyap.
Ia membangunkan teman-temannya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku dan menekan sebuah nomor.
Ponsel berdering beberapa kali, lalu tersambung.
Ia berkata, “Maaf, orangnya kabur.”
“Tak berguna, menangkap satu orang saja tidak bisa, buat apa kalian dipelihara!” Suara di seberang langsung memutus sambungan.
Orang itu menengadah ke langit. Di sela dedaunan, cahaya biru berkilat, dan tiba-tiba lima kilat petir menyambar turun, menghantam langsung kelima orang itu.
Kelima orang itu tersambar petir langit, seketika tubuh mereka hangus hitam seperti arang. Angin sepoi-sepoi yang bertiup di sela semak membawa debu arang itu berterbangan hingga lenyap tak berbekas.
Sementara itu, orang yang masih berada di menara pengawas melihat kilat petir tersebut, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan, lututnya lemas hingga jatuh berlutut. Saat itu, ponsel di sakunya pun berdering.
Dengan gemetar ia menjawab panggilan itu.
“Biar kau tidak mati, hancurkan kamp dan kembali. Ada tugas lain menantimu.”
Ia menutup telepon, menghela napas lega. Baru saja hendak berdiri, kakinya terpeleset, ia jatuh dari menara pengawas, terhempas ke tanah, entah hidup atau mati.
...
Lin Yuan sangat terkejut, tak menyangka Meili berenang lebih cepat dari kapal motor. Dalam waktu singkat, mereka sudah tiba di tepi seberang, menghindari keramaian, lalu naik ke darat.
Lin Yuan masih terengah-engah, “Luar biasa, Meili, kau hebat sekali! Bahkan lebih cepat dari saat aku pergi.”
Meili menjawab, “Bisa membantumu mengatasi kesulitan, aku sangat bahagia.”
“Terima kasih banyak, Meili. Semua ini berkat bantuanmu. Aku sungguh tak tahu bagaimana membalasmu. Apa rencanamu selanjutnya?”
Meili berkata, “Aku bisa keluar dari gua yang telah kutinggali ribuan tahun juga berkat Tuan Lin. Jika Tuan Lin tak keberatan, aku rela mengikuti Tuan Lin seumur hidup.”
Lin Yuan menatap Meili, matanya penuh ketulusan dan kehangatan.
“Meili, sejujurnya, aku ini bekerja untuk para dewa di Istana Langit. Kau adalah makhluk roh, tidakkah kau takut pada mereka?”
Meili menggeleng, “Selama bersama Tuan Lin, aku tak takut apa pun. Aku tak meminta apa-apa, hanya ingin Tuan Lin mengizinkanku tetap di sisimu.”
“Tapi kenapa begitu? Kau susah payah keluar dari gua itu, lalu mengikutiku yang hanyalah manusia biasa, apa untungnya bagimu?”
Wajah Meili tampak sendu, “Tuan Lin mungkin tidak tahu, sebelum mulai bertapa, aku hanyalah seekor ikan mas. Dulu, di dalam gua itu tinggal seorang pertapa sakti. Dialah yang menyelamatkanku dari mulut seekor ikan besar, lalu membawaku ke gua itu dan meletakkanku di danau. Setelah pertapa itu pergi entah ke mana, hanya aku seorang yang tersisa di gua itu. Aku bertahan hidup dengan menghirup hawa abadi yang ditinggalkannya, hingga akhirnya berhasil berubah menjadi roh ikan mas dan bisa menjelma menjadi manusia. Selama ribuan tahun itu, aku sangat kesepian, tak tahu kenapa tak bisa keluar dari gua. Setiap ke pintu keluar, tak peduli bagaimana caranya, aku tetap tak bisa pergi.”
Lin Yuan menghela napas, “Kasihan sekali!”
“Untung setelah ribuan tahun kesepian, aku bertemu Tuan Lin. Sejak pertama kali melihatmu, aku langsung menyukaimu. Sejak saat itu, aku bertekad mengikuti Tuan Lin seumur hidup.”
Lin Yuan tahu, perasaan suka yang diucapkan Meili bukanlah cinta antara pria dan wanita. Ia hanya merasa kesepian, dan menjadikan dirinya sebagai teman untuk mengusir sepi. Meski ia punya banyak pertimbangan, namun ia sadar kalau bukan karena Meili, mungkin saja ia sudah mati di pulau itu. Jasa ini tak mungkin ia lupakan.
Setelah berpikir cukup lama, Lin Yuan memutuskan, “Meili, kita sudah melewati suka dan duka bersama, kau pun sudah banyak membantuku. Kita sudah seperti saudara seperjuangan. Aku ini hanya manusia biasa, jika kau tak keberatan, mulai sekarang kita adalah sahabat.”
Meili tampak bingung, “Sahabat?”
“Benar, sahabat. Mungkin kau belum paham artinya, tak apa, nanti kau akan mengerti. Sekarang ikutlah aku pulang.”
Meski tidak mengerti benar arti sahabat, Meili tahu keinginannya telah tercapai. Lin Yuan mengizinkannya untuk selalu di sisi, dan itu sudah cukup membahagiakan bagi dirinya yang telah menanggung sepi ribuan tahun.
Lin Yuan meminta Meili berubah menjadi ikan mas, lalu menaruhnya dalam akuarium, dan membawa pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah, Luo Shuyan tidak keluar menyambut. Ia meletakkan akuarium di atas meja tamu dan mencari ke seluruh rumah, namun tak menemukan Luo Shuyan.
Ia menelpon Luo Shuyan. Ternyata Luo Shuyan sedang di rumah Zhang Xin dan akan segera pulang, barulah Lin Yuan merasa tenang.
Ia duduk di sofa, berkata pada Meili di akuarium, “Meili, inilah rumahku. Di rumah ini ada satu orang lagi, sepupuku, namanya Luo Shuyan. Jangan berubah jadi manusia dan menakutinya, tanpa izin dariku, jangan berubah menjadi apa pun, mengerti?”
Meili di dalam akuarium hanya mengangguk pelan tanpa bicara.
Lin Yuan kembali ke kamar, mengganti pakaian dengan tubuh letih, lalu mandi.
Ketika selesai mandi dan keluar, kebetulan Luo Shuyan pulang.
Begitu masuk, Luo Shuyan tampak kesal, mengomel, “Kak, seharian ini kau ke mana saja? Tak bilang apa-apa, ponsel juga tak bisa dihubungi.”
Lin Yuan mengeringkan rambutnya yang basah, “Ada urusan. Kau sendiri hari ini ngapain saja?”
Luo Shuyan menjawab, “Aku main ke rumah Kak Zhang Xin. Kau kan tak di rumah, aku sendiri bosan.”
“Bukankah sudah kubilang, jangan ganggu Kak Zhang Xin?”
“Dia kan sedang tidak sibuk. Kata Kak Zhang Xin, desainnya sudah dikirim ke akademi di Paris, sekarang sedang menunggu kabar.”
“Oh, tapi jangan terlalu sering mengganggu dia.”
“Kak, aku sudah bantu mencari tahu. Kau tahu pria bermobil mewah yang waktu itu kita lihat di gerbang komplek?”
“Siapa?”
Luo Shuyan tertawa geli, “Coba tebak!”
“Sudahlah, kalau mau bilang, bilang saja.”
“Kak, kau ini bosenin banget, pantesan Kak Zhang Xin selalu kesal kalau denger nama kau. Harusnya kau introspeksi, kalau terus begini kau bisa bahaya!”
“Urus saja dirimu sendiri, dasar suka khawatir, hati-hati nanti hormonmu kacau!”
“Huh, aku nggak bakal begitu, justru kau yang bakal kacau!” Pandangan Luo Shuyan tertuju pada akuarium di meja, penasaran, “Kak, ikan ini kau beli? Cantik sekali!”
“Iya, aku beli.”
“Sejak kapan kau suka memelihara ikan?”
“Iseng saja. Aku capek, mau tidur dulu, besok masih kerja. Kau sendiri ada rencana apa? Aku tak bisa temani kau lagi.”
“Tak usah urus aku, aku sudah punya rencana.”
Lin Yuan membawa akuarium ke kamar, menutup pintu.
Akuarium itu ia letakkan di samping ranjang. Meili melompat keluar dari akuarium, berubah menjadi manusia.
“Kau keluar buat apa?”
Meili menjawab, “Di sini tak ada siapa-siapa, aku ingin melayani Tuan Lin beristirahat.”
Spontan Lin Yuan menarik selimut, “Meili, ada sesuatu yang perlu aku katakan.”
“Tuan Lin, silakan bicara.”
“Kau mungkin belum tahu dunia manusia. Meski kau makhluk roh dan aku manusia biasa, tetap saja aku lelaki sejati. Kalau kau, gadis secantik ini, menawarkan diri merawatku tidur, aku khawatir tak bisa menahan diri. Sebaiknya kau kembali ke akuarium, ya?”
Meili menutup mulutnya sambil tertawa, “Tuan Lin, meski aku belum pernah keluar dari gua, aku tahu sedikit tentang hubungan pria dan wanita di dunia manusia. Kau tak perlu malu.”
“Sudahlah, jangan bercanda. Aku masih ada urusan penting. Kembalilah ke akuarium, ya?”
“Baiklah, kalau itu perintah Tuan Lin, aku akan patuhi.” Meili pun kembali ke akuarium.
Lin Yuan menghela napas lega. Memang, ia masih punya urusan penting yang harus diselesaikan: menagih balas jasa pada Raja Naga Laut Timur.