Bab 38 Ayah Lin dan Ibu Lin
“Kak Zhao? Kak Zhao dari Malam Tak Tidur? Dia mencariku untuk apa?” tanya Lin Yuan penasaran.
“Aku juga tidak tahu, dia tidak bilang apa-apa padaku,” jawab Zhou Ming.
Lin Yuan menghela napas. “Kau telepon Kak Zhao saja, biar aku tanya langsung.”
Zhou Ming segera menekan nomor Zhao Xiaomin dan menyerahkan ponselnya pada Lin Yuan. Setelah dua dering, telepon pun tersambung.
“Halo, Kak Zhao? Kata Zhou Ming, kau mencariku?”
“Lin Yuan, aku sudah lihat beritanya. Benda-benda antik itu sebenarnya apa?”
“Kak Zhao, terus terang saja, aku sendiri juga kurang paham soal barang-barang antik itu, makanya langsung aku sumbangkan.”
“Eh, soal barang antik yang kau sumbangkan itu tidak usah dibahas lagi, toh sudah diserahkan ke negara mana bisa diambil kembali. Maksudku, kau punya jalur khusus tidak, bisa dapat barang antik lagi?”
“Ini… sejujurnya, aku benar-benar tidak punya, memangnya kenapa?”
“Aku punya banyak teman yang suka koleksi barang antik, kau masih punya barang lain tidak?”
“Kak Zhao, nanti saja ya kita bicarakan, sekarang aku benar-benar pusing, teleponku saja nyaris tidak berhenti.”
“Aku mengerti, baiklah. Kalau butuh bantuan, bilang saja sama kakak.”
“Siap, Kak Zhao, sampai jumpa!”
Setelah menutup telepon, Zhou Ming bertanya, “Kak Zhao ada urusan apa?”
“Tidak ada, cuma menanyakan kabar saja,” jawab Lin Yuan sambil menghabiskan tehnya.
Zhou Ming menatapnya, “Bro, sebenarnya ada apa sih? Barang antik itu benar-benar warisan keluargamu?”
“Bisakah kau jangan membahasnya lagi? Aku sudah sangat stres. Kalau tidak ada urusan, cepat pulang dan tidur saja. Akhir-akhir ini urusan studio mungkin aku tidak sempat urus, tolong kau yang lebih memperhatikan. Nanti aku transfer dua ratus ribu lagi buatmu.” Lin Yuan berkata kesal.
“Baiklah, kalau ada apa-apa, telepon aku saja.”
Zhou Ming pun pergi, begitu juga Zhang Xin yang pulang ke rumah.
Luo Shuyan menepuk pundak Lin Yuan. “Kak, jangan terlalu dipikirkan, tidur saja. Aku mau mandi dulu.”
Lin Yuan kembali ke kamar. Meili berubah wujud menjadi manusia, lalu berlutut di samping ranjang. “Tuan Lin, kau kenapa?”
“Haih, kau pun tak akan mengerti kalau aku ceritakan. Meili, tak usah kau pikirkan aku.” Setelah berkata begitu, ia rebah di ranjang, alarm pun terdengar kacau.
Meili kembali berubah menjadi ikan mas dan melompat masuk ke bak mandi. Lin Yuan mematikan lampu. Cahaya bulan menyelinap dari luar jendela, menambah suasana sendu. Hati Lin Yuan benar-benar gelisah.
Banyak hal terlintas di benaknya. Semua yang terjadi beberapa hari belakangan sungguh di luar dugaan. Dalam semalam saja, ia tiba-tiba jadi sosok terkenal di jagat maya. Perubahan mendadak ini benar-benar membuatnya kelabakan, bahkan tak sempat memikirkan masa depan.
Mengingat ke depan ia akan menghadapi begitu banyak masalah yang tak henti-henti, ia pun sulit memejamkan mata.
Berusaha menenangkan diri, ia duduk bersila di atas ranjang, berusaha menghalau berbagai pikiran kacau, tidak memikirkan apa pun dan tidak melakukan apa pun agar batinnya tenang.
Ia memejamkan mata, telinganya berdengung.
Saat itu, terlintas cahaya-cahaya bergerak cepat dalam benaknya, seakan sedang membantunya menghapus kegelisahan sedikit demi sedikit. Perlahan, hatinya mulai tenang.
Ia mempertahankan keadaan itu entah berapa lama, lalu mendapati dirinya berada dalam kegelapan. Di telinganya terdengar suara melantunkan doa-doa, meski ia tak paham artinya, suara itu membuat batinnya semakin damai, hampir mencapai ketenangan hakiki.
Dalam kegelapan itu, tak ada apa-apa yang tampak, seolah dirinya sendiri adalah sumber cahaya, sendirian bersinar di tengah gelap. Ia menunduk, dapat melihat kakinya sendiri, mendongak pun bisa melihat rambutnya. Namun sekelilingnya tetap sunyi gelap.
Tiba-tiba, terdengar desiran angin di telinga, semilir angin sejuk menghampiri, membawa kesegaran dan wangi samar, semacam aroma ringan mirip cendana namun berbeda.
Ia menoleh, melihat asap tipis membumbung di kejauhan. Asap itu perlahan melayang ke arahnya, melewati kepalanya, mengelilingi telinga, membelit seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan, ia merasa tubuhnya ringan seperti burung walet, seakan-akan hendak terbang.
Dalam keadaan itu, ia merasa sangat nyaman dan bahagia, sampai-sampai semua masalah terlupakan.
Ketika ia membuka mata, cahaya bulan di luar jendela telah berubah menjadi sinar matahari pagi, dan tanpa diduga terdengar kicau burung.
Ia mendapati dirinya terbaring di ranjang, menatap langit-langit, lalu teringat pada kegelapan tadi, ia pun tersenyum, mengira barangkali itu hanya mimpi.
Ia bangkit, meregangkan tubuh, lalu melihat jam, sudah pukul lima pagi. Ia teringat orang tuanya sebentar lagi tiba di stasiun kereta, buru-buru bersiap dan keluar untuk menjemput.
Sesampainya di stasiun, ia melihat kedua orang tuanya muncul di pintu keluar sambil menarik koper.
Lin Yuan menyambut mereka, “Ayah, Ibu, kalian capek naik kereta semalaman?”
Ayah Lin tersenyum, “Lumayan, naik kereta tidur tidak terlalu lelah.”
Ibu Lin bertanya, “Nak, sebenarnya ada apa sih? Semalam semua keluarga yang telepon ayah bertanya soal harta warisan keluarga.”
Lin Yuan menjawab, “Bu, kita pulang dulu saja ya. Nanti aku jelaskan pelan-pelan.”
Namun, di antara kerumunan orang di pintu keluar, ada yang mengenali Lin Yuan dan berteriak, “Bukankah itu orang yang lagi trending di internet?”
“Mana? Itu dia?”
“Iya, aku baru lihat mukanya, benar dia!”
Mendengar itu, Lin Yuan buru-buru menarik koper dan mengajak orang tuanya bergegas ke parkiran. Setelah masuk mobil, barulah ia merasa lega.
Di dalam mobil, ayahnya kembali bertanya, “Sebenarnya ada apa sih?”
Lin Yuan menghela napas. “Begini, Yah. Sebenarnya tidak ada harta warisan keluarga. Waktu aku jalan-jalan, aku tak sengaja menemukan sebuah kotak di dalam gua. Setelah dibuka, ternyata isinya benda-benda antik. Setelah kupikir-pikir, itu barang berharga, tidak ada gunanya di tanganku, jadi aku sumbangkan saja. Tapi aku tidak jujur pada pihak museum, aku bilang itu warisan keluarga. Aku tidak menyangka jadi trending. Sepertinya keluarga besar lihat berita itu, makanya pada telepon ayah tanya soal warisan.”
Ibu Lin berkata, “Kamu ini, gara-gara ulahmu, sampai-sampai kami harus buru-buru datang ke sini. Kau takut mereka malah datang ke rumah, ya?”
“Iya, Bu. Aku takut mereka malah repot-repot ke rumah dan merepotkan kalian, jadi lebih baik kalian di sini dulu sampai keadaan tenang, nanti baru pulang.”
Ayah Lin berkata, “Pantas saja. Dulu kakekmu juga tak pernah meninggalkan harta warisan, tiba-tiba saja kamu punya.”
“Itu cuma salah paham saja, tenang saja, situasi akan segera reda. Soal keluarga, nanti juga mereka bosan. Untuk sekarang, lebih baik kita hindari dulu.”
Ayah Lin berkata, “Menurutku sebaiknya dijelaskan saja pada mereka.”
“Jangan, Yah! Kalau sampai banyak yang tahu aku bohongi pihak museum, nanti gosipnya menyebar, bisa-bisa aku dipanggil dan dimintai keterangan. Lagi pula, gua itu sudah runtuh, walaupun aku bilang nemu di sana, mereka pasti tidak percaya, malah dikira aku tukang gali makam. Sekarang menggali makam itu kejahatan berat, lho.”
Ayah Lin mengangguk, “Benar juga. Tapi tak mungkin selamanya disembunyikan, kau tahu sendiri paman-paman dan bibi-bibimu itu susah dihadapi.”
Lin Yuan berpikir sejenak, “Bagaimana kalau aku beri mereka uang satu per satu, anggap saja buat tutup mulut, biar mereka tidak mengganggu kalian. Bagaimana?”
Ibu Lin buru-buru berkata, “Mana bisa begitu. Uang dari mana? Kau masih punya cicilan rumah dan mobil, tak ada uang lebih untuk mereka. Kalau mau ribut, biar saja!”
“Bu, soal uang tidak usah khawatir. Dua tahun belakangan aku juga dapat penghasilan tambahan, ada tabungan, tenang saja, aku bisa atasi.”
Lin Yuan mengantar orang tuanya pulang. Begitu masuk rumah, Luo Shuyan sudah bangun dan begitu melihat Ibu Lin, ia langsung menyambut hangat, “Bibi, aku kangen sekali padamu!”
Ibu Lin melihat Luo Shuyan, wajahnya berseri-seri, “Anak manis, sudah lama tak jumpa masih ingat sama bibi, ya? Tidak pernah ke sini jenguk bibi.”
“Aku kan masih kuliah, bibi. Jangan marah dong!”
“Baik, baik, bibi tidak bisa apa-apa sama kamu. Kamu betah tinggal di rumah kakakmu?”
“Bibi, kakakku sering jahilin aku.”
Ibu Lin pura-pura memukul punggung Lin Yuan sambil tertawa, “Dasar anak nakal, kenapa jahili adikmu?”
Lin Yuan pura-pura cemberut, “Apa aku yang jahili dia? Justru dia yang suka jahili aku, Bu.”
Luo Shuyan nyengir dan menjulurkan lidah, “Bibi, kalian datang pas sekali, bisa temani aku. Kakakku tidak pernah mau temani aku.”
“Jangan membalikkan fakta, yang jahat justru mengadu duluan. Aku sudah cuti seminggu, tidak cukup menemanimu?”
Ibu Lin tertawa, “Sudahlah, waktu kecil kalian akur, kenapa sekarang malah sering bertengkar?”
Luo Shuyan tersenyum, “Cuma bercanda kok.”
Lin Yuan berkata, “Bu, Ayah, istirahat dulu. Aku mau beli sarapan.”
Setelah berkata begitu, Lin Yuan keluar.
Luo Shuyan tiba-tiba punya ide, lalu berkata pada Ibu Lin dan Ayah Lin, “Bibi, paman, kalian istirahat dulu ya. Aku mau ajak seseorang datang, ada kejutan buat kalian!” Setelah berkata begitu, ia pun berlari keluar.