Bab 40: Miri Sakit

Grup Paruh Waktu Istana Langit Hari kelima, waktu menjelang senja 2813kata 2026-02-08 07:13:19

Kamar 402, Hotel Junlin.

Pagi-pagi sekali, Long Fei sedang mengemas barang-barangnya ketika ponselnya berdering.

"Long Ge, Pemimpin Redaksi sudah memberi ultimatum terakhir. Katanya kalau kamu tidak segera kembali bekerja, kamu akan dipecat."

"Kamu bilang sama Pemred, aku tinggal sedikit lagi. Aku sudah mengumpulkan banyak petunjuk, sebentar lagi aku pasti pulang."

"Aku lihat trending topic, tokoh utama yang diomongin itu pasti orang yang sedang kamu ikuti, kan?"

"Benar, besok ada konferensi pers. Aku curiga dia sedang berbohong. Benda-benda itu sama sekali bukan warisan keluarga. Aku berani berspekulasi, orang dalam video di Pulau Zhoushan itu dia, dan benda-benda itu juga dia yang ambil dari laut."

"Hah? Long Ge, kamu punya bukti buat spekulasi ini?"

"Itulah makanya dua hari ini aku harus membuktikan dugaanku. Kamu tidak merasa kalau dugaanku benar, ini bakal jadi berita besar? Nasib situs kita tergantung berita ini. Jadi, Wang Hui, sampaikan pendapatku ke Pemred."

"Kok aku merasa tidak meyakinkan, ya. Aku sudah berkali-kali dimarahi Pemred demi menahan kamu. Sekarang dia bilang, kalau kamu tidak pulang, aku juga bakal dipecat bareng kamu."

"Hmph, dipecat ya sudah. Nanti kalau aku dapat buktinya, kita kerja sendiri saja. Begitu berita ini keluar, kita pasti populer. Sudah ya, aku mau berangkat. Kalau terlambat, aku bakal kehilangan jejak Lin Yuan."

Setelah menutup telepon, Long Fei bersiap-siap lalu keluar. Ia naik taksi ke depan kompleks tempat tinggal Lin Yuan, menunggu dengan sabar.

...

Lin Yuan keluar dari kantor dan langsung mengemudi menuju lokasi studionya.

Sesampainya di studio, Zhou Ming dan tukang interior sedang merakit meja kursi kantor, para pekerja renovasi juga sibuk bekerja.

Melihat Lin Yuan datang, Zhou Ming terkejut, "Waduh, Bro, kok kamu ke sini? Hari ini nggak masuk kantor?"

"Aku sudah pecat Si Hidung Bengkok."

"Serius? Keren banget, memang harusnya dipecat dari dulu."

"Sudah sampai mana prosesnya?"

Zhou Ming melapor, "Kemungkinan besok selesai. Setelah dibereskan, lusa sudah bisa dipakai."

"Bagus, lusa aku akan urus izinnya. Sudah kasih tahu Duan Kai dan yang lain?"

"Sudah, lusa mereka mulai kerja di sini. Oh ya, aku rekrut asisten baru, teman aku. Aku infokan dulu ke kamu."

"Cewek, ya?"

"Tentu, siapa juga yang mau rekrut asisten cowok."

"Pacar kamu?"

"Bukan, mana ada. Kamu lihat sendiri, aku mana pernah punya pacar?"

"Jangan aneh-aneh, ya. Kalau aku lihat ada yang nggak beres, kamu juga bisa aku pecat."

"Bro, kamu ngomong gitu bikin sedih. Aku ini kerja rajin, nggak pernah protes."

"Udah, lanjut kerja. Besok ada konferensi pers, aku harus datang. Besok aku nggak ke sini, kamu tolong awasi renovasinya."

"Konferensi pers? Itu yang diadakan Dinas Cagar Budaya?"

"Kamu tahu dari mana?"

"Beritanya sudah tersebar, semua orang juga tahu!"

"Kamu sekarang rajin baca berita, ya. Bagus, aku pulang dulu."

Keluar dari studio, Lin Yuan pulang, masuk kamar, melirik ke akuarium, melihat Meili masih di sana. Ia heran, kenapa hari ini Meili tidak ikut keluar.

Ia memanggil, "Meili, Meili, kamu tidur, ya?"

Meili mendengar panggilan Lin Yuan, melompat keluar dari akuarium. Begitu berubah wujud jadi manusia, tubuhnya lemas dan langsung terhuyung ke belakang.

Lin Yuan sigap menahan dan memeluknya agar tidak jatuh. Ia bertanya khawatir, "Kamu kenapa?"

Meili menggeleng, "Entahlah, aku merasa tidak enak badan."

Lin Yuan melihat wajah Meili memerah seperti orang demam. Ia menyentuh dahi Meili, panasnya luar biasa, sampai ia merasa seperti menyentuh teko air mendidih.

"Aduh, panas banget." Ia buru-buru membaringkan Meili di tempat tidur.

"Kamu merasa apa?" tanya Lin Yuan.

Meili mengerutkan kening, matanya terpejam, napasnya lemah, dadanya naik turun hebat, sampai lama baru bisa bicara, "Tubuhku panas sekali, seperti dibakar api."

Lin Yuan segera mengambil termometer. Begitu diletakkan di ketiak Meili, termometernya langsung pecah.

"Bagaimana ini? Dia kan siluman, pengobatan manusia pasti tidak mempan."

Tiba-tiba ia teringat pada Dewa Tanah, lalu menginjak lantai tiga kali untuk memanggilnya.

Dewa Tanah muncul, "Lin Yuan, ada apa memanggilku?"

Lin Yuan cepat-cepat berkata, "Dewa Tanah, tolong lihat, Meili sepertinya sakit."

Dewa Tanah menghampiri, menatap Meili yang terbaring dengan tubuh mengeluarkan uap panas, lalu mengelus janggutnya, "Lin Yuan, ikan mas ini terbakar oleh energi dunia manusia."

"Hah? Kok bisa?"

Dewa Tanah menjelaskan, "Begini, energi siluman di tubuhnya bersifat yin, sedangkan energi dunia manusia bersifat yang. Kalau yin lebih banyak daripada yang, itu baik untuk siluman. Tapi kalau energi yang berlebihan, tubuhnya seperti terbakar."

"Lalu harus bagaimana?"

"Solusi terbaik, kamu serap kelebihan energi yang dari tubuhnya."

"Diserap bagaimana?"

"Dari mulut, hisap keluar."

"La...eh, Dewa Tanah, begini saja. Di sini banyak obat penyejuk, aku beli saja, bisa nggak?"

"Obat manusia tak mempan untuk siluman."

"Obat tradisional Tiongkok?"

Dewa Tanah menggeleng, "Tidak bisa, khasiatnya terlalu lemah. Untuk manusia cukup, tapi bagi siluman tidak berguna."

"Jadi cuma bisa hisap langsung?"

Dewa Tanah mengangguk, "Benar. Dari gejalanya, ini sudah cukup lama terjadi. Lin Yuan, kalau kamu tidak segera melakukannya, dia bisa mati terbakar."

Lin Yuan sangat bimbang, tapi demi menyelamatkan nyawa, ia tak pikir panjang lagi. Ia langsung mendekat, menempelkan mulutnya ke mulut Meili, lalu menjepit hidungnya, meniru teknik pernapasan buatan agar mulut Meili terbuka.

Lin Yuan menghirup napas dalam, menutup rapat mulut Meili, lalu mengisap kuat-kuat.

Setelah satu napas habis, ia melepaskan mulut Meili. Melihat wajah Meili mulai berkurang merahnya, ia menoleh pada Dewa Tanah.

Dewa Tanah berkata, "Sudah ada hasilnya, lanjutkan sampai suhu tubuhnya normal."

Lin Yuan tanpa ragu melanjutkan, mengisap sebanyak lima kali hingga warna merah di wajah Meili hampir hilang, baru ia berhenti.

Saat itu Meili perlahan sadar, dengan ekspresi linglung seperti lupa ingatan. Melihat Lin Yuan yang berkeringat di sisi ranjang, ia bertanya, "Lin Yuan, apa yang terjadi padamu?"

Dengan napas terengah, Lin Yuan mengelap keringat di dahinya, "Kamu sakit, bikin aku panik, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."

"Lin Yuan, kamu yang menyelamatkanku?"

Lin Yuan mengibaskan tangan, "Biasa saja, yang penting kamu sehat."

Dewa Tanah melihat wajah Lin Yuan yang agak menghitam, mengerutkan kening, "Lin Yuan, meski kamu sudah menyerap semua kelebihan energi yang, kamu juga ikut menyerap sedikit energi siluman."

"Tidak apa-apa, kan?"

"Sedikit saja tidak masalah, tapi sebaiknya segera keluarkan. Kalau menumpuk terlalu lama, tubuh manusia bisa bermasalah."

"Bagaimana cara mengeluarkannya?"

Dewa Tanah menggeleng, "Aku juga tidak tahu."

"Katamu tidak bahaya, ya sudah biarkan hilang sendiri."

Dewa Tanah tampak ingin bicara, tapi urung, lalu melupakan niatnya.

Dewa Tanah berkata, "Ikan mas ini ilmunya masih dangkal, belum tahu cara menyeimbangkan energi yin dan yang dalam tubuh. Jadi sebaiknya jangan terlalu sering jauh dari air, dan secara berkala bantu serap energi yang berlebihan."

"Aku mengerti."

Meili berkata, "Lin Yuan, kamu lagi-lagi menyelamatkan nyawaku."

"Sudahlah, kita kan teman, jangan dipikirkan. Istirahat saja yang baik."

Setelah Dewa Tanah pergi, Lin Yuan bertanya apa yang ingin dimakan Meili. Meili menjawab, "Sudah lama aku tidak makan ikan, ingin makan ikan mentah."

"Baik, kamu istirahat dulu, aku akan beli ikan."