Bab Tiga Puluh Delapan: Jalan yang Lebih Menguntungkan daripada Perdagangan Narkoba
“Kecuali...” Seolah-olah teringat sesuatu yang menakutkan, Lu Yanran tiba-tiba begitu gugup hingga tak berani bicara.
Lan Zhixu juga ikut tegang bertanya, “Yanran, kecuali apa? Apa yang terlintas di benakmu?”
“Ehm, di film-film, para bandar narkoba itu dapat uang dengan cepat dan sangat royal memberi bonus ke karyawannya. Tapi... tapi itu kan kejahatan berat yang bisa dihukum mati!”
Setelah ragu-ragu cukup lama, Lu Yanran akhirnya mengungkapkan kecurigaannya. Saat menyebut tentang bandar narkoba, ia sendiri sampai ketakutan, langsung balik badan dan duduk berlutut di kursinya, kedua tangannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memucat karena terlalu kuat.
Di bawah tatapan cemas kedua perempuan itu, Lin Feng jadi kikuk, wajahnya memerah saat ia menjelaskan,
“Kalian ini, anak-anak, kalau nggak ngerti jangan asal bicara. Ada banyak cara cari uang yang lebih cepat dari jual narkoba, dan bosku jelas bukan bandar narkoba!”
Mendengar penjelasan Lin Feng, Lan Zhixu malah makin curiga. Dengan cemas ia berkata, “Lin Feng, selama beberapa bulan ini perilakumu aneh, sering tiba-tiba menghilang lalu muncul lagi, bahkan bisa mengeluarkan hampir sejuta untuk membantu kami beli mobil.
Selain jual narkoba, mana ada pekerjaan yang bisa dapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Hal berbahaya seperti ini sebaiknya jangan kau lakukan lagi.”
Dengan panik, ia mengambil kartu dari dalam tas dan menyodorkannya pada Lin Feng, “Di kartu ini ada sepuluh juta. Sekarang juga, kembalikan uang itu ke bosmu, kita berhenti saja.”
Astaga! Hidupku benar-benar berat!
Lin Feng hanya bisa mengeluh dalam hati, menatap langit. Imajinasi kedua perempuan ini sungguh luar biasa.
Namun sekaligus Lin Feng juga merasa terharu, tak menyangka Lan Zhixu bisa tanpa ragu menyerahkan sepuluh juta padanya.
Melihat ekspresi Lin Feng yang menatap langit penuh rasa sakit, Lan Zhixu pun menarik kembali kartu banknya dan berkata, “Benar juga, orang-orang seperti itu kejam dan tak segan membunuh untuk menutupi jejak. Kau sudah berkecimpung di bisnis narkoba selama beberapa bulan, pasti tahu banyak rahasia mereka. Sekarang, ingin keluar pun pasti tak bisa.”
Mendengar analisis Lan Zhixu tentang perilaku bandar narkoba yang begitu tepat, Lu Yanran pun mengangguk setuju, memandang Lin Feng dengan iba dan diam-diam meneteskan air mata.
Lan Zhixu menelan ludahnya, dengan berat berkata, “Jangan takut, nanti aku akan jual pabrik obat, kita pergi jauh, menghilang ke tempat yang mereka takkan bisa temukan, dan hidup bersama di sana.”
Lu Yanran mengusap air matanya dan mengangguk kuat, “Aku ikut juga. Kita bisa sembunyi identitas dan tetap membuka pabrik obat.”
Suasana dalam mobil dibuat sangat tegang oleh mereka, hingga Lin Feng pun terharu sampai matanya basah karena dukungan tanpa syarat dari kedua wanita itu. Ia mengangguk dalam-dalam, “Zhixu, Yanran, terima kasih kalian!”
Lan Zhixu juga mengangguk serius, “Yanran, terima kasih! Kondisi ibumu tidak terlalu baik, kau harus tetap menjaganya, jadi jangan ikut kami pergi.”
Lu Yanran kembali mengusap air matanya lalu menggeleng keras, “Tidak, aku harus ikut. Bersama kalian aku bahagia, dan ibuku pasti akan mengerti.”
Di balik sandaran kursi, dua pasang tangan mungil dan putih itu saling menggenggam erat.
“Adikku!”
“Kakak!”
“Berhenti!”
“Duk!”
Lin Feng pun tersadar dari suasana haru itu, hendak berdiri untuk menghentikan mereka, tapi kepalanya malah terbentur keras ke atap mobil.
Sambil meringis dan mengusap kepalanya, Lin Feng tertawa getir, “Kalian ini benar-benar membuatku bingung. Aku kan tidak berbuat kriminal, apalagi jual narkoba, kenapa harus kabur?”
“Penjelasan hanya menutupi, tak perlu berbohong pada kami. Keputusanku sudah bulat, kau ikut kami pulang, jual pabrik, lalu kabur.” Lan Zhixu tegas melambaikan tangannya, “Yanran, kau yang nyetir, kita langsung ke rumah cari Hu Yifei untuk jual pabrik.”
Lin Feng benar-benar putus asa.
“Aduh, kalian ini... Baiklah, aku akan bicara jujur!”
Di bawah tatapan serius Lan Zhixu dan Lu Yanran, Lin Feng bertanya, “Kalian pernah dengar tentang tabib sakti di Rumah Sakit Ruixin?”
Lan Zhixu terkejut, “Jangan-jangan bosmu itu tabib misterius yang selalu pakai masker itu?”
Ya, menebak begitu juga tak salah!
Lin Feng pun melihat ke kiri dan kanan dengan hati-hati, lalu berbisik, “Tolong bicara pelan, aku sudah tanda tangan perjanjian rahasia, jangan pernah ceritakan ke orang luar. Kalau bukan karena kalian berdua menebak macam-macam, aku benar-benar tak ingin bilang.”
Meski masih banyak pertanyaan di hatinya, karena ini menyangkut perjanjian rahasia, Lan Zhixu pun tak ingin mempersulit Lin Feng.
Namun Lu Yanran tak berpikir sejauh itu, ia tiba-tiba berkomentar, “Andai saja kau tabib sakti, pasti sekali bicara Rumah Sakit Ruixin langsung mau memasok obat untuk kita.”
Memang, perempuan itu punya jalan pikiran yang unik. Barusan masih menangis seperti dunia mau kiamat, kini sudah memikirkan soal pasokan obat.
Lin Feng pun memakai masker, lalu dengan suara serak berkata, “Sekarang aku menjadi tabib bermasker, urusan pemasokan obat biar aku yang atur.”
Melihat Lin Feng bisa bercanda, Lan Zhixu mulai yakin bahwa bosnya bukan bandar narkoba.
Suasana di dalam mobil pun jadi lebih santai. Lan Zhixu tertawa sambil mengetuk dahi Lin Feng, “Dasar kamu! Jadi asisten tabib saja sudah untung. Soal pasokan obat, kita cari cara lain, jangan sampai gara-gara ini pekerjaanmu yang susah didapat malah hilang.”
Lin Feng melepas masker, menepuk dada, “Bosku sangat baik, besok aku telepon, urusan ini selesai dalam sekejap.”
Seluruh Rumah Sakit Ruixin milik keluarga Ye, tinggal bicara dengan Ye Junyu, urusan masuk tiga jenis obat itu akan sangat mudah.
Melihat Lin Feng sangat percaya diri, Lan Zhixu dan Lu Yanran pun ikut senang. Tugas mereka ke Kota Rong kali ini ternyata bisa selesai dengan begitu mudah.
Melihat jam, Lin Feng melambaikan tangan, “Ayo, kita ke Hotel Royal Ruixin.”
Hotel Royal Ruixin adalah hotel bintang lima terbaik di Kota Rong, letaknya dekat Rumah Sakit Ruixin, dan juga milik keluarga Ye.
Demi kemudahan kerja, Lin Feng memang biasanya tinggal di sana.
Lan Zhixu mendengar Lin Feng mengajak mereka menginap di hotel Royal Ruixin. Di depan Lu Yanran, ia tak bisa menolak terang-terangan, jadi hanya berkata samar, “Dasar bodoh, meski kerja dengan tabib sakti bisa dapat uang, tak perlu boros begini kan? Bukankah kau bilang mau nabung beli rumah?”
“Tenang saja, aku punya kartu menginap gratis dari tabib sakti.”
Status sebagai karyawan tabib sakti memang memudahkan segala urusan, semua bisa dialihkan ke sosok tabib yang belum pernah dikenali orang.
Di suite bisnis Hotel Royal Ruixin, saat Lan Zhixu membawa baju tidur menuju kamar mandi, senyumnya yang menawan membuat Lin Feng melayang ke angan-angan.
Dengan suara air mengalir dari kamar mandi, bayangan tubuh indah yang samar terlihat dari balik kaca buram, ditambah kantong mungil berkilau di meja samping tempat tidur, Lin Feng merasa udara dalam kamar menjadi panas dan jantungnya berdebar. Ia melepas jaket, menelan ludah, sambil mengingatkan diri sendiri, “Aku sudah menikah, kami sudah punya surat nikah.”
“Ding.”
“Ding.”
Pintu kamar mandi terbuka pelan, layar ponsel juga menyala.
Dilihatnya, ada pesan dari Xiao Qingxuan: “Aku kedinginan!”
“Aduh! Hari ini aku janji bantu Xiao Qingxuan menghilangkan racun dinginnya.”
Lin Feng mengusap dahi, lalu bangkit dengan lesu mengambil jaketnya.
Lan Zhixu yang hanya mengenakan baju tidur sederhana, dengan handuk besar di pundaknya, melihat Lin Feng sudah melepas jaket, ia malu-malu bertanya, “Kau... kau mau apa?”
Lin Feng menjawab kaku, “Tabib sakti memanggilku ke rumah sakit sekarang juga, ada pasien gawat darurat!”
Lan Zhixu sedikit kecewa, merapatkan handuk di badannya, “Kalau begitu, pergilah. Kerja itu penting.”
“Aku tidak tahu kapan bisa pulang, kamu sendirian...”
“Tak apa, nanti aku ajak Yanran menemani.”
Agar Lin Feng bisa pergi dengan tenang, Lan Zhixu langsung menelpon Lu Yanran.
Karena khawatir pada kondisi Xiao Qingxuan, Lin Feng pun buru-buru naik lift dan menuju kamar Xiao Qingxuan.
Pagi harinya, Lin Feng yang kelelahan memberi kabar pada Lan Zhixu bahwa direktur rumah sakit sudah setuju memasok obat, tinggal minta perusahaan farmasi Hongtu mengantar obat.
Namun Lan Zhixu masih belum tenang, bersikeras ingin bertemu dengan direktur. Lin Feng tahu, ia sebenarnya ingin memastikan apakah dirinya benar-benar karyawan tabib sakti.
Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga baru saja masuk lobi rumah sakit, tiba-tiba seorang wanita paruh baya berlutut di kaki Lin Feng, memohon, “Tabib, tolong selamatkan anak saya! Tolong, selamatkanlah anak saya!”
Lan Zhixu dan Lu Yanran memandang Lin Feng dengan bingung.
Jantung Lin Feng berdegup kencang: di rumah sakit ini, tak seorang pun tahu identitas aslinya, bagaimana mungkin wanita itu tahu? Apa identitasnya terbongkar? Masalah ini bisa jadi runyam.
Melihat Lin Feng yang bermasker mengernyit, petugas keamanan di samping mereka menjelaskan, “Anaknya sakit, katanya tabib bermasker di Rumah Sakit Ruixin sangat hebat, jadi dia ingin tabib itu mengobati anaknya.
Tapi dia tak tahu siapa tabib itu, juga tak punya uang untuk mendaftar, jadi menunggu di sini dan berlutut setiap kali melihat orang bermasker.
Setiap kali kami usir, dia pura-pura pingsan di lantai. Wanita ini memang agak bermasalah, kami benar-benar tak tahu harus berbuat apa, mohon maklum!”
Lin Feng menatap wanita itu sejenak, lalu berkata pada petugas keamanan, “Kudengar tabib sakti hari ini praktik di poliklinik. Sepuluh menit lagi, suruh dia bawa anaknya ke ruang periksa, kasihan juga mereka.”
Petugas keamanan itu menatap punggung Lin Feng dengan bingung, lalu dengan semangat mendorong wanita itu, “Ayo cepat, bawa anakmu ke sana. Melihat perawakannya, dia kemungkinan besar memang tabib sakti. Orang lain bawa uang sepuluh juta pun tidak kebagian nomor antrian, tak disangka kamu benar-benar berhasil.”
Mengikuti Lin Feng ke kantor tabib sakti, Lan Zhixu dan Lu Yanran bukannya buru-buru menemui Direktur Sun, malah seperti anak kecil yang penasaran, berkeliling melihat-lihat.
Kantor tabib sakti itu berupa apartemen tiga setengah ruangan: satu ruang konsultasi, satu ruang perawatan, dan satu ruang istirahat lengkap dengan kamar mandi. Ada juga lift khusus dari lorong bawah tanah langsung ke ruang istirahat.
Demi menjaga rahasia identitas, biasanya Lin Feng masuk ruang konsultasi lewat lift khusus. Hari ini ia masuk dari pintu depan karena membawa Lan Zhixu dan Lu Yanran.
“Tabib sakti kapan datang? Apa kita tidak mengganggu beliau?” Setelah puas berkeliling, Lan Zhixu baru ingat bertanya. Mereka sangat ingin secara kebetulan bertemu tabib sakti.
Lin Feng terpaksa berbohong lagi, “Hanya pasien yang punya kartu reservasi khusus yang boleh membuat janji, baru bosku akan datang. Karena hari ini tak ada pasien reservasi, makanya aku berani membawamu ke sini. Bosku tak suka diganggu saat bekerja.”
Lu Yanran sedikit kecewa, “Kalau tabibnya tak ada, kenapa kau suruh ibu itu bawa anaknya ke sini?”
“Aku cuma iba pada mereka, ingin membantu diagnosa anaknya. Kalau bisa diobati, ya akan kubantu, kalau tidak, ya sudah.”
Saat itu, wanita tadi membawa anak laki-laki berusia enam atau tujuh tahun, didampingi petugas keamanan, masuk ke ruang periksa.
Lu Yanran berseru kaget, “Sim salabim! Eh, bukan, Ali Baba, orang terkaya! Anak ini mirip sekali dengan mantan orang terkaya di negeri kita!”