Bab 159: Memilih Teknik Kultivasi
Anak perempuan juga tidak cocok menempuh jalur yang terlalu keras! Karena itu, Jurus Logam Tajam dan Jurus Tanah Tebal langsung dicoret dari pilihan!
Jurus Api Merah bukan hal asing baginya. Saat Zhang Muyang pertama kali bergabung, ia memilih jurus itu. Namun, Fang Xiaoru sendiri tidak tertarik.
Jurus Kayu Hijau dan Jurus Air Lembut sama-sama bagus. Yang satu merupakan jurus elemen kayu, sementara yang lain jurus elemen air. Setelah menimbang-nimbang, Fang Xiaoru tetap merasa Jurus Kayu Hijau memiliki efek yang mirip dengan Ilmu Penyeberangan Universal miliknya. Mungkin ia juga bisa berlatih lebih cepat dengan jurus itu.
“Kakak seperguruan, saya memilih Jurus Kayu Hijau!” kata Fang Xiaoru sambil memegang buku cetak berisi Jurus Kayu Hijau.
“Hmm, jurus ini bagus. Daya serangnya memang tak sekuat Jurus Logam Tajam, tetapi keunggulannya terletak pada daya tahannya. Sangat cocok untuk perempuan. Pilihanmu bagus.” Pemuda yang bertugas itu memberikan penilaian.
“Terima kasih, Kakak Seperguruan! Kalau boleh tahu, siapa nama Kakak? Ke depannya, saya berharap Kakak berkenan membimbing dan membantu saya.” Fang Xiaoru bertanya dengan lembut. Senyumnya yang hangat ternyata memiliki keselarasan tersendiri dengan jurus kayu itu.
“Namaku Zhang Yunbiao!” jawab Zhang Yunbiao sambil tersenyum.
“Kakak Yunbiao! Terima kasih atas bantuannya!” Fang Xiaoru pergi sambil memeluk Jurus Kayu Hijau.
Saat kembali dan pergi makan ke kantin bersama Shan Muxiao dan Feng Jin, barulah ia tahu bahwa Shan Muxiao, sesuai dugaan, memilih Jurus Logam Tajam. Sementara itu, karena memiliki akar spiritual angin mutasi, Feng Jin secara khusus dianugerahi Jurus Angin Surgawi oleh seorang tetua sekte dalam. Jurus itu konon merupakan jurus tingkat Mendalam, jauh lebih baik daripada jurus pemula tingkat Manusia milik Fang Xiaoru dan yang lain. Barang murah memang jarang bagus, apalagi kalau gratis!
Fang Xiaoru kembali ke tempat tinggalnya. Kali ini ia tidak masuk ke kapsul permainan seperti biasanya, melainkan mengambil Jurus Kayu Hijau dan mulai mempelajarinya.
Yang disebut kultivasi sebenarnya adalah mengolah diri menuju keabadian. Caranya dengan berkomunikasi dengan energi spiritual di antara langit dan bumi, menyerapnya ke dalam tubuh, lalu terus menempa raga sendiri dan menyimpan energi tersebut di dalam meridian serta dantian. Energi spiritual merupakan landasan bagi evolusi segala sesuatu di alam semesta dan ruang-waktu, suatu materi dasar. Mutu energi spiritual berbeda jauh pada setiap tahap kultivasi. Itulah yang melahirkan berbagai tingkatan dalam dunia kultivasi.
Jurus Kayu Hijau di tangan Fang Xiaoru hanya merupakan jurus tingkat Manusia lapis enam. Tingkat Manusia juga disebut ranah pascalahir. Pada tahap ini, orang terutama menempa tubuh demi meletakkan dasar yang kokoh bagi kultivasi selanjutnya. Setelah berusia tiga puluh tahun, otot, tulang, dan tubuh manusia perlahan mengeras sehingga sulit mengalami peningkatan besar. Karena itulah usia menjadi salah satu pertimbangan penting saat memilih murid sekte luar. Jika seseorang berhasil menembus ranah pralahir sebelum berusia tiga puluh tahun, peluangnya untuk naik ke tahap Pemusatan Roh akan sangat besar.
Oleh sebab itu, sebagian besar isi Jurus Kayu Hijau berkaitan dengan latihan bela diri ranah pascalahir. Misalnya, berlatih kuda-kuda, menempa tulang, dan melenturkan urat. Fang Xiaoru membacanya dengan penuh minat sampai lupa waktu. Banyak pengetahuan di dalamnya yang belum pernah ia pelajari dari Ilmu Penyeberangan Universal.
Ia terus membaca hingga tengah malam. Barulah Fang Xiaoru meletakkan tumpukan jurus cetak itu di atas ranjang, lalu berbaring di dalam kapsul permainan untuk beristirahat.
Di dalam kapsul permainan, tubuh bisa beristirahat dengan sangat baik, sementara pikiran diproyeksikan ke dunia lain untuk membantu kultivasi. Fang Xiaoru mau tidak mau mengagumi gagasan cemerlang para teknisi Empat Keluarga Besar. Dengan tempat latihan pendukung seperti ini, waktu yang dibutuhkan murid sekte luar untuk berkultivasi dapat dipersingkat secara drastis.
Begitu masuk ke dalam permainan, Fang Xiaoru langsung menerima banyak pesan.
“Xiaoru, kudengar kau masuk ke Empat Keluarga Besar?” tanya Feng Yuzhe, ketua perkumpulan Keluarga Mo, dengan nada iri.
“Benar. Ada kerabatku yang bekerja di Empat Keluarga Besar, jadi aku minta bantuan orang dalam. Paman juga ingin masuk?” Fang Xiaoru bertanya dengan nada bercanda.
“Aduh! Entah masih punya keberuntungan atau tidak. Kau saja memanggilku paman. Umurku sudah tiga puluh dua tahun, jauh melampaui batas usia seleksi!” Feng Yuzhe menghela napas penuh sesal.
“Paman juga sudah membangkitkan potensimu?” tanya Fang Xiaoru.
“Sudah. Hasil tes menunjukkan akar spiritual ganda, logam dan kayu. Sayangnya, umurku sudah terlalu tua, jadi mereka tak mau menerimaku. Aduh, aku juga sedang berpikir untuk bergabung dengan sekte kecil. Setidaknya, aku bisa belajar sesuatu.” Feng Yuzhe berkata.
“Oh? Kalau Paman tidak keberatan, aku bisa menanyakan apakah mereka mau menerimamu.” Fang Xiaoru terdiam sejenak sebelum menjawab. Feng Yuzhe adalah salah satu dari sedikit orang yang ditemuinya di dalam permainan yang menjunjung kesetiaan dan menghargai persahabatan. Fang Xiaoru cukup senang bekerja sama dan bergaul dengannya.
“Kalau begitu, aku benar-benar merepotkanmu. Kau sampai harus menggunakan koneksi dan meminta bantuan orang dalam. Aku pun tak tahu harus membalasmu dengan apa. Tapi kalau Keluarga Mo bisa membantu, Su Su, jangan sungkan untuk bilang!” kata Feng Yuzhe.
“Paman sedang menyimpan sesuatu, ya? Kalau tidak keberatan, ceritakan saja,” kata Fang Xiaoru. Dari nada bicara Feng Yuzhe, ia menangkap sesuatu yang janggal.
“Aduh, sebenarnya bukan apa-apa. Hanya saja, sekarang jabatan ketuaku terasa tidak pantas lagi. Sejak beberapa anggota perkumpulan membangkitkan potensi mereka—terutama orang-orang hebat yang masuk ke Kelompok Naga dan Empat Keluarga Besar—mereka jadi merasa diri paling hebat dan hidup mereka semakin gemilang. Aku ini ketua cuma nama saja. Sungguh menyedihkan, perkumpulan yang kubangun dengan tanganku sendiri sekarang jadi kehilangan kekompakan.” Nada suara Feng Yuzhe berangsur-angsur terdengar muram.
“Paman yang kukenal biasanya penuh semangat dan disegani ke mana-mana. Kok sekarang jadi begini? Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” Seketika Fang Xiaoru mendapat sebuah ide. Mengapa ia tidak bekerja sama dengan Feng Yuzhe dan menyatukan kekuatan-kekuatan di dalam permainan untuk memulai rencana mencari keuntungan?
Orang tua Keluarga Zhang sudah memberinya tugas!
“Oh? Kesepakatan macam apa?” Feng Yuzhe juga penasaran. Kekuatan Perkumpulan Yaori kini sudah melampaui Keluarga Mo. Apa lagi yang bisa mereka butuhkan dari Keluarga Mo? Lagi pula, pengaruhnya di Keluarga Mo pun tak sebesar dahulu.
“Kita bicarakan langsung. Restoran Tangchao Yipin, ruangan lama. Jangan sampai tidak datang!” Fang Xiaoru tersenyum riang sambil menetapkan tempat pertemuan.
Di sebuah ruangan Restoran Tangchao Yipin, keduanya membicarakan rencana secara diam-diam selama satu jam. Ketika keluar, Feng Yuzhe yang tadinya tampak lesu dan murung kini bersemangat dengan wajah berseri-seri. Fang Xiaoru pun tampak percaya diri dan puas. Sepertinya mereka telah mencapai semacam kesepakatan.
Fang Xiaoru melakukan hal yang sama dan menghubungi hampir belasan perkumpulan besar maupun kecil di dalam permainan, lalu membicarakan beberapa persyaratan dengan masing-masing pihak. Akibatnya, di sekte luar Keluarga Zhang muncul belasan orang berusia sekitar tiga puluh tahun. Bakat mereka lumayan, tetapi usia mereka sudah agak lanjut. Para murid sekte dalam yang bertugas mengawasi latihan pun merasa tugas tahun ini sangat berat.
Ujian bulanan bukan hanya menjadi motivasi bagi setiap murid sekte luar untuk berkembang, tetapi juga menjadi ujian bagi para murid sekte dalam yang mengajarkan ilmu bela diri. Nilai para murid sekte luar secara langsung memengaruhi hasil ujian para murid sekte dalam. Zhang Han, misalnya, kebetulan mendapat tugas melindungi Fang Xiaoru. Selama masa perlindungan, Fang Xiaoru memang menghadapi bahaya, tetapi tidak sampai terluka. Itu merupakan jasa Zhang Han. Berkat kontribusi tersebut, Zhang Han mampu mengungguli para pesaingnya dan mendapatkan posisi penting yang menguntungkan. Begitulah persaingan; persaingan di dalam keluarga sendiri bahkan lebih sengit.
Dengan bantuan topeng Seribu Ilusi, Fang Xiaoru sudah menyamarkan kekuatannya hingga tampak seolah baru saja membangkitkan potensi dan belum mulai berlatih. Tetap rendah hati dan diam-diam mengumpulkan kekayaan! Itulah semboyan Fang Xiaoru. Kalau bukan karena bertemu Zhang Muyang, mungkin ia masih akan menjalani kehidupan kecilnya di dalam permainan seperti biasa.
Keesokan harinya adalah hari pertama murid sekte luar belajar. Fang Xiaoru datang lebih awal dan menunggu di lapangan latihan. Karena sudah memiliki sedikit kekuatan spiritual, ia tidak begitu merasa kedinginan di tengah musim dingin bersalju itu. Sebagian besar murid lainnya datang mengenakan jaket tebal. Mereka semua terbungkus pakaian sampai tampak seperti bola-bola bundar.
Kebetulan, Zhang Han-lah yang bertugas mengajar. Pemuda itu biasanya agak kaku dan pemalu. Namun, Fang Xiaoru selalu merasa Zhang Han sebenarnya punya sisi genit yang tersembunyi. Kesimpulan itu ia tarik dari caranya diam-diam melirik Zhang Ying setiap ada kesempatan!
Kini si pemalu itu berdiri dengan wajah serius di tengah angin dingin, hanya mengenakan pakaian tipis. Tubuhnya ternyata sangat tahan terhadap hawa dingin!
“Semua sudah berkumpul?” tanya Zhang Han dengan wajah serius.
Murid sekte luar dibagi secara acak ke dalam kelas-kelas yang masing-masing beranggotakan tiga puluh orang. Fang Xiaoru ditempatkan di kelas tiga. Kebetulan sekali, Shan Muxiao dan Feng Jin juga berada di kelas yang sama.
“Xueran, kelas tiga!” seru Zhang Han.
Ketika Zhang Han menyebut nama murid sekte luar terakhir, ternyata orang itu adalah Xueran! Murid berwajah penuh aura jahat dan berambut panjang terurai itu pun menarik perhatian semua orang.
Perpaduan sifat jahat dan lurus dalam dirinya membuat hati para murid perempuan sekte luar berdebar kencang sejak kemunculannya. Mereka langsung bersemangat. Dari mana datangnya pria tampan ini? Wajahnya benar-benar tak kalah dari bintang film. Raut rupawan dan pesonanya yang memikat hati, terutama sepasang mata dalam yang bagaikan telaga—ah! Ia begitu mirip pangeran murung! Entah siapa di antara mereka yang akan menjadi sang putri. Entah berapa banyak gadis pemuja pria tampan yang terpikat olehnya.
Murid-murid perempuan di bawah sana berbisik-bisik dengan heboh. Sementara itu, para perempuan di kelas tiga bersorak riang. Fang Xiaoru tertegun, merasa terkejut. Shan Muxiao meliriknya dengan pandangan meremehkan dan tidak ambil pusing. Berbeda dengan Feng Jin, yang seolah melihat idolanya. Ia terus menarik lengan Fang Xiaoru dan berbisik di telinganya, “Wah! Kakak tampan! Air liurku sampai menetes!”
Matanya yang berbinar penuh kegembiraan, bahkan seolah-olah air liur sudah menetes dari sudut bibirnya!
“Tolong, jangan bersikap seperti pengagum fanatik, bisa? Nanti citramu rusak!” Fang Xiaoru segera melepaskan lengan Feng Jin dan menjaga jarak darinya, supaya orang-orang tidak mengira mereka satu kubu.
Mendengar komentar Fang Xiaoru, Feng Jin sangat terpukul. Ia menatap Fang Xiaoru dengan mata indah yang bening, lalu membela diri dengan suara lirih, “Tapi dia memang tampan sekali!”
Feng Jin merasa jantungnya hampir melompat keluar dari dada. Dugu, dug, dug!
Sepertinya Xueran mendengar bisik-bisik para murid perempuan di bawah. Pandangannya menyapu seluruh murid, dingin tanpa kehangatan. Seketika Fang Xiaoru merasakan hawa dingin menerpanya. Xueran ini benar-benar berwatak dingin!
“Sekarang kita mulai latihan pertama: menempa otot dan tulang,” kata Zhang Han dengan suara dingin.
“Menempa otot dan tulang! Namanya keren sekali, terdengar ajaib! Ayo, biarkan badai datang lebih kencang!” seru seorang murid sekte luar yang tak kenal takut, tampak tak sabar.
Mendengar itu, sudut bibir Zhang Han terangkat sedikit. Badai, ya? Ungkapan itu memang cocok sekali!