Bab Kesembilan Belas: Kotak Pensil
Kondisi keluarganya sebenarnya cukup baik, tapi jika dia membantu “Siti Zamrud”, nanti akan muncul “Ratna Zamrud” dan “Dewi Zamrud” berikutnya. Saat miskin, seseorang menjaga diri sendiri, dan saat sudah berhasil, baru berpikir membantu sesama. Namun dia sendiri belum sampai pada tahap itu.
Ayah dan ibunya telah berusaha keras agar dia dan kakaknya bisa menjalani hidup biasa saja, jauh dari gemerlapnya pertarungan dan kehidupan para profesional, tentu saja, mungkin terutama demi dirinya. Mereka tidak pernah mengungkapkan identitas dan kemampuan mereka, membiarkan dia dan kakaknya berkembang bebas, tapi tak disangka akhirnya dia tetap memilih jalan menjadi seorang profesional.
Seperti kakaknya, seorang jenius kecil di masanya, yang sepenuhnya mengandalkan usahanya sendiri untuk meraih kesuksesan. Tentu saja, kabarnya karena terlalu menonjol, akhirnya langsung diterima secara diam-diam oleh sekolah profesi di Kota Magis.
Sementara itu, Jiang Xiaotian sendiri tak ingin orang tahu bahwa seluruh keluarganya adalah profesional. Kalau tidak, setiap kali dia menghadapi preman yang menuntut uang keamanan atau lelaki jelek yang menyatakan cinta pada gadis polos, dia tak bisa lagi melakukan hal-hal berani. Begitu orang tahu latar belakang keluarganya, mungkin mereka langsung kabur ketakutan.
“Huh, rakyat rendahan memang tak perlu mendapat pencerahan, sudah ditakdirkan punya darah paling rendah,” ujar suara yang terdengar sombong dan berlebihan dari arah pintu.
Kelas pun hening sejenak. Jiang Xiaotian menolehkan pandangannya ke sana.
Itu ketua kelas mereka, Yang Long. Pria ini berwajah tampan dan bertubuh tinggi besar, rambutnya jelas sudah ditata, mirip model keriting foil, dan meski baru kelas dua SMA sudah memakai jam tangan mewah. Seragam sekolah pun tak mampu menyembunyikan aura keangkuhannya. Sayang, ekspresi congkak dan angkuhnya, dengan hidung nyaris menengadah ke langit, justru merusak kesan tampan dan postur tubuhnya.
“Apa-apaan omonganmu itu!” rekan sebangku Siti Zamrud membentak sambil berdiri.
“Betul, Ketua Kelas, mana boleh bicara seperti itu!” sahut Zhang Chu dengan nada tak puas.
Kelas kembali sunyi. Jelas terlihat bahwa Siti Zamrud dan kelompoknya sudah sering berseteru dengan Yang Long.
Wajah Siti Zamrud semakin muram dan rendah diri. Tie Dazhu juga menunjukkan wajah tak senang, lalu bertukar pandang dengan Jiang Xiaotian.
Jiang Xiaotian mengernyitkan dahi. Sejak kehidupan sebelumnya, dia memang tak suka dengan Yang Long yang suka bertindak seenaknya dan sering berselisih dengan kelompok Jiang Xiaotian. Tak disangka, di kehidupan ini sifatnya malah makin menjadi-jadi.
Lagi pula, drama semacam ini sungguh membosankan. Dia sudah tak tertarik mengambil risiko hanya demi membalas dendam kecil-kecilan, sudah tak ada tantangannya lagi.
“Kenapa, memangnya salah?” Yang Long menyilangkan tangan di dada. “Kalian rakyat rendahan, sebaiknya jalani hidup biasa saja, buat apa tes darah? Hanya buang-buang waktu para profesional!”
Sikapnya benar-benar arogan.
“Betul! Buang-buang sumber daya!”
“Negeri Hua ini memang ada saja yang menghambat kemajuan!”
Beberapa orang mendukung Yang Long.
Yang mengejutkan Jiang Xiaotian, ternyata pendukung Yang Long cukup banyak.
“Apa yang dikatakan Ketua Kelas benar, kalau leluhurmu tak punya darah istimewa, tak usah buang-buang sumber daya negara.”
“Benar, benar sekali.”
“Kalau tiga generasi leluhurmu tak punya darah istimewa, tak perlu ikut pencerahan.”
Beberapa orang berdiri mengerubungi Yang Long.
“Si Yang Long ini, karena pamannya seorang profesional, jadi bertindak semena-mena,” gerutu Tie Dazhu dengan tak puas.
Jiang Xiaotian menyadari sesuatu, lalu menghela napas.
Adanya golongan profesional yang dipandang lebih tinggi dan orang biasa yang dipandang rendah secara tidak langsung memperbesar jurang sosial. Di kehidupan sebelumnya, Yang Long tidak seperti ini, atau setidaknya tak berani bersikap seperti itu di depan umum. Namun di dunia ini, dia berani melakukannya.
Kelahiran para profesional jelas telah melahirkan kelas istimewa yang lebih kuat dan lebih keras kepala.
Jiang Xiaotian pun mendapat pemahaman baru tentang kondisi sosial saat ini.
“Kamu! Kalian!” pipi rekan sebangku Siti Zamrud memerah karena marah. Meski dikenal sebagai gadis tangguh, tetap saja dia perempuan. Siti Zamrud pun menarik tangannya, sehingga tak terjadi pertengkaran.
Namun ekspresi Yang Long malah makin congkak, seolah sedang merayakan kemenangan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, mengangguk penuh percaya diri, lalu matanya tertuju pada Tie Dazhu.
“Dazhu, aku ingat ayahmu penjual buah, ya?”
Tie Dazhu mendorong kacamatanya, tak berkata apa-apa, hanya menunduk membaca, tapi tangan yang mengepal memperlihatkan kemarahannya.
Tapi Jiang Xiaotian melihatnya.
Sejak dulu dia sudah sangat tidak suka dengan Yang Long!
“Hm?”
Mata Jiang Xiaotian menyipit, lalu mendadak berdiri.
Awalnya dia malas ikut campur, tapi karena sudah menyangkut sahabatnya…
Kau cari mati?
Kelas mendadak sunyi, semua penasaran apa yang akan dilakukan Jiang Xiaotian. Selama ini Jiang Xiaotian seperti orang tak terlihat, hampir tak ada yang memperhatikan.
Namun badan Jiang Xiaotian yang setinggi satu meter delapan cukup mencolok.
“Hah? Bukankah ini Jiang Xiaotian? Kudengar ayahmu baru beli sepeda? Heh, masih sanggup ikut pencerahan? Mau aku kasih uang saku?” Yang Long duduk santai di meja sebelah, teman-temannya di sekeliling menertawakan Jiang Xiaotian.
Mereka semua tahu, keluarga Yang Long punya mobil sendiri.
“Hehe.” Jiang Xiaotian tersenyum tipis, seolah menyapa teman lama, “Tebak, keluargamu pasti usaha kotak pensil, ya?”
“Hah? Enggak, keluargaku itu…” Yang Long tertegun, refleks menjawab, tapi belum selesai sudah dipotong oleh Jiang Xiaotian.
“Kalau bukan, kenapa pensilmu banyak sekali yang bisa dimasukkan ke kotak?”
[Energi +8]
“Ini…”
Yang Long terdiam, belum juga mencerna maksud ucapan Jiang Xiaotian.
Siapa tak kenal Jiang Xiaotian? Siapa pun yang pernah menjelajah Lembah Besar Zuan pasti terlatih kemampuan adu mulut tingkat dewa. Siapa pun yang kurang tebal muka tak akan bisa keluar dari sana dengan selamat.
Tapi di masa ini, lembah legendaris itu belum lahir!
Kekuatan Jiang Xiaotian, luar biasa.
Tanpa tante-tante, siapa yang bisa menyaingi?
Jiang Xiaotian tersenyum meremehkan, “Otak itu barang bagus, sayangnya kau sepertinya nggak punya?”
[Energi +2]
Kalimat tadi mungkin belum banyak yang paham, tapi kali ini semua mengerti.
“Wah—” Semua murid terkejut, mulai ramai bergosip.
Sejak kapan Jiang Xiaotian berani melawan seperti itu? Itu kan Yang Long, dia punya keluarga profesional!
Bukankah Jiang Xiaotian cuma anak keluarga biasa?
Walau biasanya mereka selalu saling bermusuhan, jarang sekali Jiang Xiaotian dan kelompoknya benar-benar frontal seperti ini.
“Kau… Berani-beraninya menghina aku!” Wajah Yang Long seketika berubah gelap, tubuhnya berdiri dengan geram.
“Dasar, berani-beraninya kau memaki Ketua Kelas?”
“Iya, pamannya Ketua Kelas itu profesional, tahu!”
“Kau itu siapa?”
Para pengikutnya mulai ribut, namun tak satu pun berani maju, hanya berani mendukung dari jauh.
Karena Zhang Chu adalah yang paling kekar di kelas, bahkan lebih tinggi dari Yang Long. Zhang Chu berdiri di sebelah Lu Xiaojang, jadi mereka makin tak berani maju.
“Kenapa aku berani?” Jiang Xiaotian tersenyum, “Biar kuberitahu satu hal, ini petuah Kong Hu Cu!”
“Pendidikan untuk semua!”
Walau sejarah sudah berubah total, namun kata-kata bijak tokoh besar tetap tak banyak berubah.
“Tak peduli dia rakyat biasa atau bukan, semua berhak memilih untuk sekolah profesi!”
“Kau dapat keberanian dari Bu Liang? Berani-beraninya menghalangi pencerahan orang lain? Di Negeri Hua, itu kejahatan besar!”
Jiang Xiaotian berkata sambil perlahan berjalan mendekati Wang Long.
Tingginya melebihi Yang Long, sehingga bisa memandang dari atas.
“Mau apa? Mau duel sama aku? Atau mau suruh pamanmu yang profesional itu mengajariku?”
Mata Jiang Xiaotian menyipit.
Paman profesional?
Ayah dan ibu di rumah juga bukan orang sembarangan, kakak pun demikian.
Kakaknya paling suka makan daging, terutama kelinci pedas khas Sichuan.
“Hmph!”
Yang Long mendengus, tak membalas atau menyerang Jiang Xiaotian.
Pertama, baik Jiang Xiaotian maupun Zhang Chu bertubuh tinggi besar, dia jadi agak gentar, apalagi saat menghadapi Jiang Xiaotian terasa seperti berhadapan dengan atasan pamannya.
Itu aura yang hanya dimiliki orang yang pernah berkuasa.
Kedua, dia merasa tak perlu merendahkan diri berdebat dengan rakyat rendah.
Bagaimanapun, calon profesional masa depan seperti dirinya, tak pantas jatuh hanya karena rakyat biasa.
“Tak mau bertarung? Maka enyahlah!”
Jiang Xiaotian tanpa basa-basi, “Ini sekolah, lembaga pendidikan umum yang mewarisi ajaran Kong Hu Cu, bukan pabrik kotak pensil milik keluargamu.”
“Betul!” Rekan sebangku Siti Zamrud seolah menemukan sandaran, segera mendukung Jiang Xiaotian.