Bab Dua: Sang Pengembara yang Tersesat
Suasana di ruang perawatan Jiang He dipenuhi tawa.
“Kau dan Manman sejak kecil selalu aku yang mengganti popok. Dari kepala sampai kaki, aku melihat kalian tumbuh besar, apa yang tidak boleh kulihat?” Pak Dong menyeringai sambil melirik Jiang He.
“Aku ingat waktu itu Manman diare…” Kata-kata Jiang He terputus, ia ragu apakah ingatan itu benar miliknya.
“Kau maksud saat kita baru saja memasak sepanci besar daging sapi anggur merah, dan Manman menyemprotkannya ke seluruh meja?” suara Pak Dong melengking, semangatnya membumbung tinggi.
Kondisi Jiang He tampak semakin membaik.
“Benar.” Jiang He menghela napas lega, lalu tersenyum.
“Aku tidak pernah tahu! Kalian pasti mengarang cerita!” Manman membantah.
“Kau waktu kecil sangat merepotkan, tiap kali makanan terhidang, kau pasti mau buang air. Miao-miao juga meniru, tiap kali kita makan, dia pasti jongkok di samping dan buang air.” Pak Dong menunjuk seekor kucing belang yang duduk di atas nakas.
Kucing itu menggaruk-garuk dengan kaki depannya, tampak setengah tidur.
“Jiang He, kenapa kau cuma ingat hal-hal seperti itu?” Manman menepuk Jiang He.
“Sekarang aku mau tanya hal penting,” Pak Dong mengulurkan seutas tali perak tipis ke depan Jiang He, “Masih ingat ini apa?”
“Itu cambuk perak lenturku.” Jiang He meraih cambuk itu.
Pak Dong membuka gulungan cambuk dan menyerahkannya pada Jiang He, lalu melihat Jiang He dengan cekatan melilitkannya ke pergelangan tangannya. Pak Dong melepaskan napas dengan ekspresi berlebihan, “Wah, benar-benar sudah sembuh, hampir saja aku mati ketakutan.”
“Jadi, kapan kita bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Manman.
Ia memang tidak suka tempat ini maupun orang-orang di sini.
“Besok akan ada pemeriksaan otak, kalau hasilnya baik kita langsung keluar. Rumah sakit ini mahal sekali!” wajah Pak Dong menunjukkan rasa berat hati. “Jiang He, istirahatlah, tidur saja, Manman juga. Aku akan berjaga.”
“Baiklah, nanti aku jaga di paruh malam.” Manman tidur di sofa di samping.
Malam itu Jiang He tidur nyenyak, mimpinya tetap sama dari awal hingga akhir, namun kini rasanya benar-benar seperti mimpi, tidak seperti sebelumnya yang terasa seolah menjalani kehidupan nyata.
Saat terbangun, sinar matahari menembus cerah ke ruang perawatan. Di kursi yang kemarin diduduki Pak Dong, kini duduk seorang pria paruh baya. Pria itu mengenakan jaket abu-abu keperakan dan kemeja putih, rambutnya beruban, kedua matanya sangat sipit.
Mata seperti itu adalah ciri khas orang Qingzhang.
Kapan ia pernah bertemu orang Qingzhang?
Pria itu menatap Jiang He, tersenyum dan bertanya, “Bagaimana perasaanmu?”
Jiang He tidak sempat mengingat-ingat siapa dirinya yang pernah bertemu orang Qingzhang, namun mata seperti itu langsung membuat alarm dalam hatinya berdentang, tubuhnya menegang karena gugup.
“Sudah jauh lebih baik, Bapak siapa?” Jiang He berusaha terlihat tidak tahu apa-apa, melirik ke seluruh ruangan—Manman tidak ada.
Jantung Jiang He seketika berdegup kencang, keringat dingin membasahi punggungnya.
Pria paruh baya itu menatap gerak-gerik Jiang He tanpa ekspresi.
Begitu melihatnya, si pengembara tersesat ini memancarkan aura membunuh. Ia lebih tajam dan waspada daripada semua pengembara yang pernah ia temui, membuatnya merasakan bahaya nyata.
Manman juga tampak tak mudah tunduk.
Mereka sama-sama sangat tajam, sangat luar biasa.
Apakah karena mereka tumbuh besar di Tanah Bintang Gelap yang kacau itu?
Berapa banyak lagi anak seperti mereka di sana?
Sepulang nanti harus membuat laporan agar biro mengirim orang untuk menyelidiki Tanah Bintang Gelap.
“Namaku Fu, panggil saja Tuan Fu. Aku adalah anggota eksekutif Asosiasi Perlindungan Anak Qingzhang. Tugasku mencari dan menyelamatkan anak-anak yang hilang di Federasi Qingzhang.” Nada dan ekspresi Tuan Fu sangat ramah.
Jiang He tertegun, tanpa sadar bertanya, “Siapa yang hilang?”
“Kau.” Tuan Fu menatap Jiang He dengan belas kasih.
“Bagaimana dengan Manman?”
“Manman juga.” jawab Tuan Fu.
“Di mana Manman?” Jiang He bertanya lagi.
Yang terpenting baginya adalah memastikan keselamatan Manman. Soal anak hilang, itu urusan nanti setelah ia melihat Manman.
“Di luar, asistanku Nona Wu sedang berbicara dengannya, jangan khawatir.” Tuan Fu tersenyum.
“Bisakah Manman masuk ke sini?” Jiang He menatap Tuan Fu.
“Tenang saja.” Tuan Fu tetap tersenyum ramah.
“Aku mau keluar melihatnya.” Jiang He berusaha bangkit.
Tuan Fu hanya menatap dingin melihat Jiang He yang gemetar, tangan dan kakinya lemas, punggungnya sudah basah oleh keringat.
Begitu kaki Jiang He menyentuh lantai dan hendak berdiri, ia malah tersungkur ke lantai. Alarm rumah sakit berbunyi, lengan perawat otomatis merentang dari sisi tempat tidur mengangkat Jiang He.
Tuan Fu bersandar ke sandaran kursi, bersuara, “Nona Wu, bawa Manman masuk dan bicara di sini.”
Pintu terbuka keras, Manman bergegas masuk, “Mereka tidak mengizinkanku masuk, kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, kau sendiri?” Jiang He menggenggam tangan Manman, menekannya pelan.
“Mereka bilang aku anak hilang, dan kau juga.” Manman menangkap kode, duduk rapat di samping Jiang He, siap bergerak kapan saja.
“Kau bilang aku dan Manman anak hilang, apa ada buktinya?” Jiang He setengah duduk, menatap Tuan Fu.
“Tentu saja.” Tuan Fu mengeluarkan sebuah tombol informasi kecil, menyalakannya dan meletakkannya di depan Jiang He.
Nona Wu menyerahkan satu lagi tombol informasi kepada Manman.
Manman bahkan tidak melirik tombol itu. Baginya, apapun yang terjadi, ia akan mengikuti Jiang He—apa pun yang Jiang He lakukan, ia akan meniru.
Jiang He memperhatikan serangkaian rekaman:
Seorang bayi baru dipotong tali pusarnya, menangis keras;
Sepasang suami istri muda menangis bersama melapor ke polisi;
Tiga berkas data biologis rinci, sang ibu muda itu sangat mirip dengannya.
“Itu orang tuamu sekarang, sudah dua puluh tahun berlalu.” Tuan Fu menggeser gambar lain.
Jiang He menatap pasangan paruh baya itu, mereka menatap kamera, menatap dirinya.
“Kau tidak ingin melihat?” Nona Wu menunjuk tombol informasi di depan Manman.
Manman melirik sekilas ke arah Nona Wu, lalu mengabaikannya.
“Siapa yang menculik kami? Mengapa kami diculik?” tanya Jiang He.
“Kami juga tidak tahu. Mungkin kau bisa membantu kami mencari tahu siapa yang menculik kalian. Setelah ketemu, kalian, bersama orang tuamu, bisa bertanya langsung—kenapa melakukan perbuatan sekeji itu. Orang tuamu selalu ingin bertanya langsung pada mereka.” kata Tuan Fu.
“Manman itu adikku?” tanya Jiang He.
“Secara emosional iya, secara biologis tidak.” Tuan Fu terdiam sejenak, menghela napas pelan, “Ibumu tidak pernah bisa lepas dari rasa sedih dan bersalah, setelah kehilanganmu ia tak pernah punya anak lagi. Ibu Manman, setelah Manman hilang, jatuh sakit dan sudah meninggal.”
Jiang He menunduk, tak berkata apa-apa.
Bukti yang diberikan Tuan Fu memang data kunci yang tidak bisa dipalsukan. Entah dari sisi bukti maupun firasat, pasangan itu memang orang tuanya. Namun mata sipit Tuan Fu membuatnya merasa seperti tengah berhadapan dengan monster bintang.
“Boleh aku berbicara berdua saja dengan Manman?” Jiang He menatap Tuan Fu.
“Tentu, kami menunggu di luar.” Tuan Fu berdiri dan keluar.
Jiang He menunggu pintu tertutup, lalu berbisik di telinga Manman, “Di mana Pak Dong?”
“Keluar beli sarapan pagi, tapi tak kembali-kembali.” Manman juga berbisik di telinga Jiang He.
Jiang He melirik waktu.
Sarapan sudah lama berlalu. Pak Dong kemungkinan besar sudah mengalami sesuatu.