Bab 31 Penyelamatan yang Terlambat dari Shaotian
Setelah hujan lebat tadi malam, kondisi kesehatan Chi Zhou memburuk.
Sejak pagi ia mengalami hidung tersumbat. Sore harinya, ia harus mengenakan kostum boneka yang tebal dan pengap untuk membagikan selebaran. Keringat dingin bercucuran, lalu saat terkena embusan angin, demam tingginya kembali naik.
Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya ia tidak sanggup untuk bekerja di kedai makan pada malam hari. Namun, mengingat uang sewa yang baru saja dibayarkan dan biaya pengobatan ibunya, tabungannya sudah hampir habis. Chi Zhou tetap mengertakkan gigi dan memutuskan untuk bertahan. Jika bisa melewati minggu ini, ia akan memiliki sedikit kelebihan uang dan bisa bernapas lega sejenak.
Ia pergi ke apotek untuk membeli obat penurun panas yang paling murah. Harganya memang terjangkau, tetapi efek sampingnya cukup besar; obat itu membuatnya merasa sangat mengantuk dan pusing.
Saat masih kecil, Chi Zhou pernah terpikir untuk mengakhiri hidupnya, terutama ketika ia tidak punya uang sepeser pun dan tidak tahu harus ke mana. Dibandingkan melangkah ke apotek, ia lebih memilih untuk melangkah ke wilayah maut. Namun, kini ia memiliki harapan. Ia ingin hidup lebih lama lagi untuk mencari tahu siapa yang telah membantunya.
Uang untuk membeli obat itu diambil dari jatah uang makannya. Saat Chi Zhou tiba di kedai kecil itu, perutnya terasa kosong melompong. Rasa pahit obat bercampur dengan asam lambung, membuat perutnya terasa sangat perih.
"Sudah datang?"
"Ya."
Setelah menyapa pemilik kedai, Chi Zhou mengenakan celemeknya, lalu menghampiri meja yang baru ditinggalkan pelanggan untuk membereskan piring dan mangkuk. Pemilik kedai menatap punggung remaja yang kurus dan tinggi itu. Ia teringat pada gadis yang datang tadi pagi, dan kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan.
Remaja itu tumbuh dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. Saat pertama kali melihatnya, tubuhnya tidak setinggi sekarang. Pemilik kedai masih ingat betul penampilan Chi Zhou saat melamar pekerjaan. Itu terjadi tiga tahun lalu di musim semi saat cuaca masih dingin. Remaja itu mengenakan jaket kapas tipis yang jelas tidak pas di tubuhnya, dan salju di bahunya meleleh bercampur dengan darah. Remaja itu tampak baru saja melewati pertarungan sengit; kapas tua yang menguning keluar dari balik jaketnya yang tipis saat