Bab Tujuh: Cheng Long
Menjelang tengah hari, Zhang Jun pulang ke rumah. Saat itu, ayahnya, Zhang Zhenghao, juga sedang menunggu kabar di rumah.
Melihat wajah ayahnya yang penuh ketegangan, mirip orang yang sedang sembelit, Zhang Jun langsung merasa geli.
“Bagaimana? Ada surat kabar mana yang mau menandatangani kontrak denganmu?” tanya Zhang Zhenghao.
“Aku sudah sepakat dengan Harian Pulau Bintang, bahkan kontraknya sudah kutandatangani!” ucap Zhang Jun, sambil mengeluarkan buku tabungan dan menyerahkannya pada ayahnya. “Selain itu, mereka juga sudah membayar sebagian honor menulis di muka.”
Begitu menerima buku tabungan dan melihat isinya tertera dua belas ribu dolar Hong Kong, Zhang Zhenghao terkejut bukan main.
“Kok bisa sebanyak ini uangnya?!” serunya kaget.
“Ayah, tenang saja, jangan panik. Baru dua belas ribu kok, belum seberapa!” Zhang Jun tertawa ringan, lalu menjelaskan, “Isi kontrakku dengan Harian Pulau Bintang adalah dua ratus dolar Hong Kong untuk setiap seribu kata, dan mereka harus membayar setengah honor menulis di muka. Novel ‘Pembantai Abadi’ ini rencananya akan kutulis sebanyak satu juta dua ratus ribu kata, jadi total honornya dua puluh empat ribu dolar. Setengahnya berarti dua belas ribu.”
“Dengan dua belas ribu dolar Hong Kong ini, kita bisa mendirikan Perusahaan Film Keluarga Zhang dan resmi memulai syuting ‘Tangan Ular Memabukkan’! Ayah juga bisa langsung menghubungi Jiahua untuk membicarakan penayangan film kita di jaringan bioskop mereka!”
Setelah Zhang Jun selesai bicara, Zhang Zhenghao masih diliputi keterkejutan, dan tiba-tiba ia merasa sangat terharu—anaknya kini sudah jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri.
“Kapan ‘Pembantai Abadi’ mulai dimuat di Harian Pulau Bintang?” Setelah beberapa saat, Zhang Zhenghao bertanya.
“Mulai tanggal satu Agustus,” jawab Zhang Jun.
“Bagus juga tanggal itu. Nanti belikan Ayah satu eksemplar surat kabarnya, ya!” kata Zhang Zhenghao sambil mengangguk.
“Baik,” jawab Zhang Jun.
Sore harinya, Zhang Zhenghao masih harus pergi ke Studio Shao untuk syuting film murahan. Sementara Zhang Jun mengurus pendaftaran perusahaan dan segala administrasinya.
Setelah perusahaan film berdiri, urusan lanjutan juga pasti akan banyak. Namun Zhang Jun tak punya waktu untuk mengurus semuanya sendiri. Selama ayahnya yang mengawasi, mestinya tak akan ada masalah besar.
Zhang Jun sendiri memilih memusatkan perhatian pada bagian artis. Ia ingin segera mengontrak Cheng Long, sebab jika membiarkan ia terkenal setelah ‘Tangan Ular Memabukkan’ rilis, lalu harganya melonjak dan malah dikontrak perusahaan lain, bukankah itu sama saja seperti membuat baju pengantin untuk orang lain?
Tentu saja Zhang Jun tidak sebodoh itu.
Kontrak sepuluh tahun lebih dulu, dengan denda pelanggaran miliaran dolar. Sepuluh tahun ke depan, Zhang Jun sangat yakin, orang terkaya nomor satu di Hong Kong pasti dirinya. Pada saat itu, Cheng Long, pohon uang itu, sudah tidak begitu penting lagi. Mengambil untung juga tak perlu terus-menerus dari satu orang saja, hidup tak boleh terlalu serakah.
Dua hari kemudian.
Di lokasi syuting film ‘Pria Baja Berhati Lembut’, Zhang Jun mendapat kabar bahwa Cheng Long saat ini bertugas sebagai koreografer aksi di film tersebut.
Saat ini, Cheng Long masih sangat muda dan polos, baru sembilan belas tahun, sehingga harus memanggil Zhang Jun sebagai kakak. Sampai sekarang, ia hanya pernah bermain di beberapa film, itu pun hanya sebagai figuran.
Zhang Jun sudah tiba cukup lama dan sempat melihat Cheng Long. Namun ia juga melihat Cheng Long jatuh parah saat syuting—langsung terjun dari lantai dua restoran tanpa alas pelindung. Melihatnya saja sudah terasa sakit…
Setelah syuting selesai dan Cheng Long beristirahat di samping, Zhang Jun mendekatinya, menepuk bahunya, lalu berpura-pura bertanya, “Saudara, aku lihat kamu main film benar-benar total, ya. Siapa namamu?”
“Kak, halo. Namaku Cheng Yuanlou,” jawab Cheng Long, yang melihat Zhang Jun berpenampilan luar biasa dan langsung merasa orang ini pasti bukan sembarangan. Maka ia buru-buru memanggil ‘kakak’ dan memperkenalkan diri.
“Oh iya, aku hampir lupa memperkenalkan diri. Namaku Zhang Jun. Mungkin kamu belum pernah dengar namaku, tapi pasti pernah dengar nama ayahku,” kata Zhang Jun tersenyum, “Ayahku Zhang Zhenghao, sutradara terkenal dari Perusahaan Film Shao. Kulihat tampangmu bagus, aktingmu juga total. Apa kamu tertarik jadi pemeran utama?”
Zhang Jun bicara panjang lebar. Begitu Cheng Long mendengar ajakan jadi pemeran utama, ia langsung berseri-seri penuh haru.
“Sangat tertarik! Tentu saja mau!” Cheng Long mengangguk-angguk penuh semangat.
Zhang Jun tersenyum, “Jangan buru-buru. Kalau kamu memang mau jadi pemeran utama, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi.”
“Kak Jun, syarat apa pun sebut saja. Bukan cuma beberapa, belasan pun aku siap!” Cheng Long buru-buru menjamin, sadar bahwa kesempatan seperti ini sangat langka dan ia harus memanfaatkannya untuk mengubah nasib.
Sikap Cheng Long membuat Zhang Jun puas, ia mengangguk dan berkata, “Sebenarnya syaratnya sederhana, kamu harus menandatangani kontrak sepuluh tahun dan menjadi artis di bawah Perusahaan Film Keluarga Zhang. Artinya, semua film yang kamu mainkan nanti akan dikelola oleh perusahaan kami. Tentu, kami juga menjamin setiap tahun akan memproduksi satu film dengan kamu sebagai pemeran utama. Honor akan disesuaikan dengan popularitasmu, makin laris kamu, makin besar honormu.”
Mendengar itu, Cheng Long sempat tertegun. Tadinya ia kira Perusahaan Film Shao yang mengajaknya, ternyata justru perusahaan lain.
“Kak Jun, Perusahaan Film Keluarga Zhang ini perusahaan yang kalian dirikan berdua?” tanya Cheng Long.
“Benar. Kenapa, kamu meremehkan perusahaan kecil kami?” Zhang Jun berseloroh.
“Tidak kok, Kak Jun. Sekarang saja ada perusahaan yang mau mengajakku jadi pemeran utama saja aku sudah sangat bersyukur, mana berani pilih-pilih! Lagi pula, Sutradara Zhang Zhenghao juga sosok yang sangat kukagumi. Bisa bekerja sama dengan beliau jadi kehormatan besar! Asal bisa jadi pemeran utama, aku rela menandatangani kontrak dengan kalian!”
“Baiklah, kalau kamu setuju, besok datang ke kantor untuk tanda tangan kontrak. Akan aku beri tahu alamat perusahaannya.”
“Siap, Kak Jun,” jawab Cheng Long, langsung menghafalkan alamat yang disebutkan Zhang Jun.
Tiba-tiba, Cheng Long teringat sesuatu, ragu-ragu beberapa detik lalu bertanya, “Kak Jun, kalau aku sudah teken kontrak dengan perusahaan kalian, apa aku masih boleh main film di perusahaan lain?”
Sebenarnya Cheng Long agak khawatir Perusahaan Film Keluarga Zhang terlalu kecil, sehingga ia akhirnya malah tak ada film yang bisa dimainkan.
“Boleh, tapi syaratnya kamu harus minta izin perusahaan. Kalau tidak, kamu harus membayar denda pelanggaran. Selain itu, kontrakmu dengan kami adalah kontrak artis. Jadi, penghasilanmu tetap akan dibagi dengan perusahaan. Toh, sebelum seorang bintang menjadi terkenal, perusahaan harus mengeluarkan banyak biaya untuk membesarkan namanya. Contohnya, kenapa kami mau ambil risiko mengangkat pendatang baru jadi pemeran utama, bukannya memilih bintang yang sudah terkenal?”
“Ya,” Cheng Long mengangguk, tertawa kaku. Namun mendengar ia masih boleh menerima tawaran lain, ia merasa tenang. Meski harus berbagi pendapatan, itu masih wajar. Kalau tidak, kenapa perusahaan mau mengorbitkannya jadi bintang?
Setelah memastikan Cheng Long tak keberatan, Zhang Jun pun bersiap pergi. Masih banyak urusan yang harus ia selesaikan.
“Oh, iya,” saat hendak pergi, Zhang Jun tiba-tiba berbalik dan berkata pada Cheng Long, “Nama Cheng Yuanlou kurang enak didengar, lebih baik kamu ganti nama. Aku sarankan pakai nama panggung ‘Cheng Long’. Li Xiaolong baru saja wafat, dan ‘Cheng Long’ artinya kamu bisa jadi penerus Li Xiaolong!”
“Itulah harapanku padamu!”
Zhang Jun melambaikan tangan pada Cheng Long, lalu pergi meninggalkan tempat itu.