Bab 76: Lengan Kirin Mulai Bereaksi
Xiao Yu tanpa ragu menolak undangan para serdadu itu. Di bawah tatapan mereka yang seakan berkata, “Kau benar-benar bodoh,” ia setengah memicingkan mata dan pergi menangkap ikan.
Sejujurnya, sejak kecil ia belum pernah makan kelelawar ataupun laba-laba, bahkan tak tahu seperti apa rasanya. Ia sangat yakin, dirinya pun tak ingin tahu di masa depan.
Malam pun dengan cepat menyelimuti hutan. Xiao Yu, yang susah payah mengisi perutnya, mengira akhirnya bisa beristirahat, namun ternyata ia masih belum benar-benar memahami semangat membara orang-orang ini.
Para prajurit itu justru mulai menari mengelilingi api unggun di tengah lapangan!
Gerakan mereka sangat unik, seolah-olah tanah di bawah kaki sangat licin sehingga mereka harus melangkah maju dengan hati-hati, memberi kesan seakan tubuh mereka melayang-layang. Tarian ini berasal dari kebiasaan suku-suku Afrika kuno yang merayakan kemenangan berburu, dikenal dengan nama Tarian Pemburu, dan di kemudian hari berkembang menjadi seni bela diri Brasil yang terkenal, capoeira, yang tersohor karena keanehan dan keunikan geraknya.
Namun, tarian itu juga memadukan teknik tap dance, sehingga penampilannya tampak kasar sekaligus halus, memancarkan keindahan aneh yang sulit dilukiskan.
Angin malam berhembus lembut, ombak dedaunan bergelombang, bayang-bayang bulan menari di antara pepohonan.
Malam, bulan, dan tarian, membentuk lukisan luar biasa yang sulit dilupakan.
Entah karena suara riuh para serdadu, udara seketika dipenuhi hawa panas yang menggelisahkan, seakan ada sesuatu di hutan yang terbangun dari tidurnya. Diiringi jerit melengking, dari diam mendadak menjadi ramai, sayap-sayap beterbangan mengisi udara dengan dengungan ribuan ekor.
“Apa-apaan ini?!”
Xiao Yu terkejut dan mundur. Lalu, ia melihat bayangan besar sebesar baskom melesat, melengking lewat di atas kepalanya.
DOR!
Asap mesiu mengepul, satu peluru ditembakkan. Segumpal darah meledak di udara, bayangan hitam itu menjerit kesakitan dan jatuh ke tanah.
Seorang prajurit berlari mendekat, gagang senapan menghantam, lalu ia terkekeh, “Bagus, kali ini kita dapat tambahan makanan.”
Barulah Xiao Yu sadar, ternyata itu seekor kelelawar berbulu lebat.
Meskipun sudah tertembak, makhluk itu masih belum mati, terus meronta di tangan si prajurit. Terlihat jelas taring-taring tajam di mulutnya, bahkan di sayapnya pun masih menempel cakar yang belum sepenuhnya menyusut.
(Sedikit pengetahuan: Kelelawar adalah mamalia melahirkan, bukan burung. Mereka tersebar di seluruh dunia dan bahkan dianggap makanan khas di Asia Timur.)
Melihat mahluk itu, Xiao Yu langsung sadar apa sumber dengungan menggelegar tadi di langit, membuat bulu kuduknya meremang. Hewan-hewan yang biasanya hanya keluar saat senja atau malam itu, penglihatannya buruk dan perilakunya aneh. Karena jarang terlihat, orang pun cenderung memiliki ketakutan tak masuk akal terhadap mereka. Xiao Yu pun tak bisa menghindari perasaan itu.
Melihat wajah Xiao Yu yang pucat, prajurit itu tertawa, “Di sekitar sini ada hutan buah liar, banyak kelelawar buah yang tinggal di sana. Kami sering tangkap untuk camilan... Tenang, kelelawar biasanya tidak menyerang manusia. Percaya deh, daging sayapnya, kalau dipanggang, rasanya lebih kenyal dari steak! Kalau lewatkan, kamu pasti menyesal.”
“...Hehe.” Xiao Yu menarik sudut bibirnya dengan malas.
Cukup sudah, bisa tidak sih bicara yang normal? Kenapa kelelawarnya malah kamu sembunyikan di belakang? Apa kamu kira aku bakal makan mentah-mentah kelelawar itu? Aku tidak seberani itu, tahu!
Di saat inilah, putra tiri Dokter Jones tiba-tiba mengambil alih senapan penjaga di dekatnya, melepaskan tembakan sembarangan, lalu melarikan diri saat semua orang merunduk.
Perwira wanita Uni Soviet bernama Irina itu tak banyak berekspresi, tapi bibirnya yang terkatup dan tinjunya yang mengepal menunjukkan betapa marahnya ia dalam hati.
Perempuan ini, baik bicara, bertindak, bahkan berjalan, selalu seperti jam dinding klasik: presisi dan disiplin.
Faktanya, wanita ini memiliki tulang pipi tinggi dan hidung agak bengkok. Wajah seperti itu hanya bisa digambarkan dengan satu frasa: tatapan elang, waspada seperti serigala!
Biasanya, frasa seperti ini tak digunakan untuk wanita. Namun, pada wanita ini, Xiao Yu merasa itu sangat tepat. Melihat rambutnya saja sudah tahu betapa rapi dan disiplin dia; kalau tidak, mana mungkin bisa jadi pemimpin Dinas Rahasia Soviet?
“Kejar!”
Sebenarnya, sebelum ia sempat memberi perintah, Xiao Yu sudah diam-diam mengejar lebih dulu.
Tujuan utama petualangan besarnya kali ini adalah mendapatkan tengkorak kristal legendaris. Dengan sifatnya yang suka tersesat, tanpa pemandu yang andal di hutan Amazon ini, ia benar-benar akan berjalan dalam gelap dan bahkan tak tahu arah utara... Satu-satunya cara adalah menempel ketat pada Dokter Jones.
Namun dengan cepat, ia sadar ternyata ia tak perlu mengejar terlalu jauh.
Karena Dokter Jones dan kekasih lamanya, Marian, malah jatuh ke dalam lubang pasir kering...
“Eh? Kenapa kalian bisa begitu? Ini pasir hisap ya?” tanya Matt dengan mata membelalak.
“Kau harus tahu, lubang pasir kering dan pasir hisap itu berbeda,” jelas Dokter Jones, walau kedua kakinya sudah tenggelam, tetap berusaha tenang. “Pasir hisap adalah campuran pasir, lumpur, dan air, kadang-kadang tidak semenakutkan itu, masih ada kemungkinan lolos sendiri. Tapi dasar lubang pasir kering itu sebenarnya adalah gelembung udara, jadi untuk keluar dengan kekuatan sendiri, sama sulitnya seperti mengangkat mobil dengan tangan kosong...”
Marian menjerit, “Hei, Jones, kami bukan muridmu, bisa tidak jangan mengajar dulu?!”
“Baiklah.” Indiana Jones menghela napas, “Tenang saja, tidak perlu khawatir, kecuali...”
Belum selesai bicara, tiba-tiba lubang pasir kering itu seperti balon pecah, menyemburkan aliran udara bercampur pasir.
Indiana Jones pun spontan berkata, “...Kecuali jika terjadi runtuhan vakum.”
“...”
Semua orang terdiam.
Dari kejauhan, Xiao Yu yang melihat ini juga melongo.
Sialan, ternyata kau punya mulut sial juga! Sudah kubilang, jangan pernah dengan mudah mengucapkan hal buruk pada diri sendiri!
Begitu aliran udara di dasar lubang pasir menghilang, tubuh dua orang itu semakin cepat tenggelam.
“Ba-bagaimana ini?” Matt mulai panik.
“Bagaimana apanya!” Dokter Jones akhirnya kehilangan ketenangannya, berteriak, “Cepat cari sesuatu untuk menarik kami, atau panggil orang minta tolong!”
Tak sampai semenit, Matt si pemuda berjaket kulit sudah kembali, membawa “tali” di tangannya.
Dilihat lebih dekat, Xiao Yu nyaris pingsan!
Itu bukan tali, melainkan seekor ular besar sepanjang lima sampai enam meter dan sebesar lengan manusia!
Marian sama sekali tak takut, ia langsung memanjat keluar dari lubang dengan memegang ular.
Begitu giliran Dokter Jones, barulah Xiao Yu sadar pria itu ternyata juga takut ular, wajahnya sampai pucat pasi.
Topinya sampai bergetar, kepalanya menengadah setinggi mungkin, “Cari tali lain, cepat! Jangan pakai yang ini!”
Matt menggaruk kepala, uring-uringan, “Di sini mana ada toko serba ada, dari mana aku dapat tali? Jangan banyak cakap, cepat pegang!”
“Itu ular tikus, tidak berbisa.”
Dokter Jones menggertakkan gigi, “Ular tikus tidak sebesar ini!”
“Mungkin di sini makanan melimpah, jadi ular ini jadi luar biasa besar dan gemuk. Kita jangan debat soal itu, cepat pegang ularnya!”
Namun Dokter Jones tetap tak bisa mengalahkan rasa takutnya, sama sekali tak berani menyentuh.
Saat itu, Marian di sampingnya menggerutu, “Dasar bodoh, bisakah kau jangan selalu penakut begini!”
“Siapa juga yang penakut, aku cuma tak mau menyentuh makhluk menjijikkan seperti itu...” Dokter Jones membela diri dengan wajah pucat.
Marian mendesah, “Lihat saja lagakmu, aku sampai geregetan, otot tanganku sampai gatal ingin memukul...”
“Eh? Ibu, sejak kapan kau belajar jurus otot sakti? Aku kok tak tahu?”
“Plak!”
“Plak!!”
“Plak!!!”
“Sekarang kau tahu kan?!” seru Marian.
Dokter Jones melongo, memegangi pipinya, “Kau, berani-beraninya menamparku?”
“Memangnya kenapa kalau kutampar!” Marian menggertakkan gigi, “Kau memang pantas ditampar, sehari tak kutampar kau rasanya tak tenang!”
Dokter Jones pun murka, langsung meraih ular besar itu dan melompat keluar dari lubang, sambil meraung, “Coba kau tampar sekali lagi!”
Melihat adegan itu, para penonton di ruang siaran pun tertawa terpingkal-pingkal—
“Cuma perlu sekian: 666, saat menampar yang sangat dinantikan.”
“Bunga adalah salahku: Ternyata gadis memang makhluk paling menakutkan di dunia, lain kali tak mau main lagi~~”
“Kucing Imut: Hahaha, aku sampai ngakak! Tapi aku suka, memang ada orang yang harus ditampar!”
“Penggemar Kakak Kucing Nomor Satu: Ratu, jangan sungkan, hajar saja!”
“Aku Cinta Kakak Kucing: Di atas minggir, Kakak Kucing milikku!”
“Embun Awan: Eh, rasanya tak pantas memukul di depan umum, harusnya lebih anggun...”
“Sang Abadi Licik: Sebenarnya bisa saja ular itu dililitkan ke leher, lalu ditarik keluar seperti mencabut lobak~~”
Astaga, benar-benar licik, caranya terlalu kasar, salah-salah lehernya bisa copot!