Bab 50: Aku tidak perlu mengganti rugi, kan?
Halaman (1/3)
“Direkayasa...?” Lu Chen membelalakkan mata dan berseru kaget.
Lin Zhiyao mencubitnya. “Pelankan suaramu, jangan sampai Tetua Li mendengarnya!”
Begitu kata-kata itu terucap, Tetua Li sudah berjalan mendekat. Ia melirik orang-orang yang tergeletak di tanah, lalu mengalihkan pandangan kepada Lu Chen.
“Lu Chen, para pengurus sekte luar dan orang-orang lain yang tergeletak di tanah itu juga ada kaitannya denganmu, bukan? Kemari, ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi.”
Mendengar itu, Lu Chen berbalik dan tersenyum canggung. “Tetua Li, begini ceritanya...”
“Hari ini aku bersaksi untuk Dua Bidadari Yingyun. Kurasa Pemimpin Puncak Wang menyimpan dendam kepadaku karenanya, lalu menyuruh para pengurus sekte luar itu mempersulitku dan menukar tempat tinggal murid sekte dalam yang telah ditetapkan untukku. Saat aku hendak berdebat dengan mereka, Yin Yi datang mencari gara-gara, jadi aku terpaksa memberi mereka sedikit pelajaran...”
Tetua Li mengernyit. “Enam pengurus sekte luar itu kau kalahkan seorang diri?”
Lu Chen mengangguk.
Tetua Li melirik Lin Zhiyao di sampingnya. Ia pun mengangguk, menandakan bahwa ucapan Lu Chen bukanlah dusta.
“Apakah kau mengenakan jubah pelindung?”
Lu Chen menggeleng.
“Pernahkah kau mempelajari teknik khusus?”
Lu Chen kembali menggeleng.
“Kalau begitu, pasti ada senjata pusaka kelas tinggi di tanganmu.”
Lu Chen tetap menggeleng.
Mata Tetua Li menyipit tipis.
Menarik!
Enam murid yang baru masuk bersama Yin Yi bisa dikesampingkan. Namun, seorang diri mengalahkan enam pengurus sekte luar? Sungguh menarik.
“Lu Chen, ikut aku ke Balai Penegakan Hukum. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Lu Chen mengangguk dan diam-diam mengikuti Tetua Li. Mereka berjalan keluar dari Balai Urusan, satu di depan dan satu di belakang.
Setelah melewati beberapa koridor berliku, mereka tiba di luar sebuah aula megah.
Lu Chen mendongak. Di atas aula itu tergantung sebuah papan nama bertuliskan “Balai Penegakan Hukum” dengan huruf-huruf yang gagah dan kuat.
Mereka masuk ke dalam aula. Pencahayaan di sana agak redup, sedangkan perabotannya sederhana dan tertata rapi. Segalanya tampak teratur.
Bagian pertama yang mereka masuki adalah aula utama yang luas. Di depan terdapat sebuah panggung tinggi, di atasnya diletakkan meja panjang yang besar. Pada kedua dinding samping tergantung peraturan sekte, ditulis dengan jelas agar para murid dapat membacanya kapan saja.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Suasana hati Tetua Li tampaknya cukup baik. Sambil berjalan, ia memperkenalkan tempat itu.
“Ini adalah aula utama Balai Penegakan Hukum, tempat perkara didengar, diperiksa, dan diadili.”
Setelah itu, Tetua Li membawa Lu Chen melewati sebuah pintu samping. Di balik pintu terbentang lorong gelap. Beberapa lampu minyak redup tertanam di kedua sisi dinding batu, sekadar menerangi jalan di depan. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besi tebal yang dipenuhi bercak-bercak karat.
Tetua Li mendorong pintu itu hingga terbuka. Hembusan angin dingin bercampur aroma lembap langsung menerpa wajah mereka.
Setelah pintu terbuka, dua murid penjaga berjalan mendekat. Mereka memberi hormat kepada Tetua Li, lalu berdiri diam di samping.
Lu Chen melihat ke dalam. Di sana terdapat deretan sel kecil yang terpisah satu sama lain, masing-masing dibangun dari dinding batu kokoh dan jeruji besi tebal.
Cahaya di dalam sel-sel itu redup. Hanya beberapa lampu minyak lemah di sudut yang mengayunkan sinarnya. Seluruh tempat itu terasa menekan dan tertutup.
Setiap sel dilengkapi sebuah ranjang kayu sederhana, dengan tikar jerami tipis di atasnya. Selimutnya sudah usang dan kotor. Di beberapa sel terdapat murid sekte yang ditahan. Wajah mereka kuyu dan raut mereka lesu, jelas telah menghabiskan banyak waktu di tempat itu.
“Ini adalah ruang tahanan,” kata Tetua Li sambil menunjuk deretan sel di sekitar mereka. “Murid yang melanggar peraturan sekte akan ditahan di sini sambil menunggu pemeriksaan dan hukuman lebih lanjut.”
Lu Chen mengangguk dalam hati. Luo Yuanjie dan Wang Yue seharusnya juga ditahan di sini...
Setelah melewati ruang tahanan, Tetua Li kembali membawa Lu Chen melintasi aula utama yang luas dan tiba di sebuah aula samping.
“Di sini hanya ada kita berdua. Kau boleh berkata jujur sekarang.” Suara Tetua Li menggema di aula samping yang lengang itu, membawa wibawa yang tak terbantahkan. “Bagaimana caramu mengalahkan enam pengurus sekte luar itu?”
Lu Chen menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung. “Tetua Li, sungguh, aku hanya asal mengayunkan tinju dan kebetulan berhasil menjatuhkan mereka.”
Tetua Li mengernyit dalam-dalam. Tatapannya setajam pisau. “Jangan mengada-ada! Di antara keenam pengurus sekte luar itu, yang terkuat memiliki tingkat Pemurnian Energi menengah. Bagaimana mungkin mereka tumbang hanya karena kau mengayunkan tinju sembarangan?”
“Aku melihat watakmu cukup baik. Pertama, kau berani bersaksi untuk Dua Bidadari Yingyun. Kemudian, kau juga berani berhadapan dengan Luo Yuanjie. Jika kau mau berkata jujur, rahasiamu tidak akan kupermasalahkan.”
Lu Chen menyeringai. Ia memang ingin mengatakannya, tetapi jurus Perang Langit Runtuh dan Bumi Terbelah yang diajarkan Su Li dipenuhi serangan-serangan licik. Siapa yang tega mengakuinya?
Dengan pasrah, Lu Chen menggaruk kepalanya. “Tetua Li, aku benar-benar hanya asal memukul. Para pengurus sekte luar itu juga tidak tahan dipukuli. Tiga atau lima pukulan saja mereka sudah terkapar.”
Tetua Li merenung sejenak. Lalu ia menggerakkan jarinya, dan entah dari mana tiba-tiba muncul sebuah batu hitam raksasa.
Batu itu setinggi orang dewasa. Permukaannya halus seperti cermin dan samar-samar memancarkan cahaya redup.
“Coba pukul batu ini.”
Lu Chen menatap batu hitam di hadapannya dengan bingung. “Benda apa ini?”
“Ini adalah Batu Pengukur Kekuatan. Batu ini dapat mengukur seberapa besar tenaga pukulanmu,” jelas Tetua Li. “Kau hanya perlu menyerangnya dengan seluruh kekuatanmu, dan batu ini akan mengukur tenagamu.”
“Baiklah, bersiaplah dan mulailah.”
Lu Chen memandangi Batu Pengukur Kekuatan itu dengan dahi berkerut.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Tetua Li kini sedang mencurigainya. Mau tak mau, ia harus melayangkan satu pukulan.
Namun, di balik penyamaran Seribu Wajah, tingkat kultivasinya hanya tampak seperti tahap awal Pemurnian Energi.
Kenyataannya, tingkat kultivasinya telah lama menembus tahap Pendirian Fondasi. Jika ia menyerang dengan seluruh kekuatan, tenaganya akan terlalu besar dan mungkin menimbulkan masalah yang tidak perlu.
Sebaliknya, jika pukulannya terlalu lemah dan hasil pengukurannya terlalu kecil, ia juga tak akan mampu menjelaskan bagaimana dirinya dapat mengalahkan enam pengurus sekte luar itu.
Merepotkan sekali.
Kalau begitu, ia akan menggunakan sekitar empat bagian kekuatan... Tidak, tiga bagian saja.
Setelah mengambil keputusan, Lu Chen berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam. Ia perlahan mengangkat tinjunya, berusaha mengendalikan tenaga sebaik mungkin, lalu melayangkan pukulan perlahan ke arah Batu Pengukur Kekuatan.
“Buk!”
Saat tinju Lu Chen menyentuh batu itu, terdengar dentuman keras. Bahkan lempeng-lempeng batu di seluruh aula samping ikut bergetar, seolah-olah gempa bumi sedang terjadi!
Detik berikutnya, retakan-retakan halus mulai muncul di permukaan Batu Pengukur Kekuatan.
Kemudian, retakan itu dengan cepat menyebar seperti jaring laba-laba. Bersamaan dengan suara pecah yang nyaring, permukaan batu tersebut seketika runtuh dan serpihannya berhamburan ke segala arah!
Lu Chen berseru dalam hati, Celaka! Benda macam apa ini? Rapuh sekali! Hanya dengan tiga bagian kekuatan saja sudah hancur?
Tetua Li juga menatap kejadian di hadapannya dengan tercengang, tidak percaya melihat Batu Pengukur Kekuatan yang telah hancur sepenuhnya.
Batu Pengukur Kekuatan ini memang khusus digunakan untuk mengukur tenaga murid tahap Pemurnian Energi. Batu ini mampu menahan kekuatan hingga dua ribu lima ratus kilogram.
Bahkan serangan penuh dari murid yang berada di puncak tahap Pemurnian Energi pun tidak akan meninggalkan sedikit pun bekas di permukaannya.
Namun hari ini, batu itu justru dihancurkan oleh satu pukulan murid tahap awal Pemurnian Energi?
Dengan kata lain, kekuatan satu pukulan Lu Chen—seorang murid tahap awal Pemurnian Energi—telah melampaui dua ribu lima ratus kilogram?
Pada saat itu, Lu Chen mengusap kepalanya dengan canggung.
“Tetua Li, aku tidak perlu mengganti rugi Batu Pengukur Kekuatan ini, kan?”
...