Bab Tiga Puluh: Malam Tahun Baru, Kebersamaan yang Penuh Kehangatan dan Keharmonisan
(Terima kasih kepada pembaca setia 20210223061431984 atas tiket bulannya)
“Kamu sendiri tidak tahu menelepon kakakmu? Waktu itu kakakmu bilang ke Ibu, suaminya lagi sibuk banget di pabrik, mungkin baru bisa pulang beberapa hari sebelum Tahun Baru,”
Ucapan kakaknya yang suka mengelak itu, Li Zhou sudah tak percaya lagi.
Selama empat tahun kuliah, tiap kali kakaknya selalu bilang akan pulang sekitar tanggal dua puluh empat atau dua puluh lima, tapi kenyataannya, setiap kali ujian akhir Li Zhou belum selesai, mereka berdua sudah naik mobil dan balik lebih awal.
“Bu, masa Ibu percaya omongan kakak? Lihat saja, dia selalu bilang begitu! Katanya baru pulang beberapa hari sebelum Tahun Baru, padahal dua hari belum lewat sudah pulang.”
Ibu Li yang sedang menonton televisi langsung melotot tajam ke arah Li Zhou. “Kakak iparmu itu jauh lebih sibuk daripada kamu. Walaupun sudah punya pabrik, semua urusan harus turun tangan sendiri. Rasanya seperti apa, kamu juga sudah pernah merasakan kan?”
Li Zhou pun terdiam, tak bisa membantah.
Waktu liburan musim panas di tahun pertama kuliahnya, Li Zhou pernah membantu di pabrik kakak iparnya, ikut mengantarkan barang bersama kakak iparnya.
Musim panas yang terik, cat dalam ember-ember puluhan kilo, sekali antar penuh satu mobil. Di pabrik masih ada beberapa teman yang membantu menaikkan barang ke mobil, tapi sampai di tempat pelanggan, tinggal dia dan kakak iparnya yang menurunkan barang.
Dalam seminggu, setidaknya empat hari harus mengantar barang, setiap kali selesai, seluruh badan basah kuyup.
Sebulan lebih waktu itu, Li Zhou masih mengingatnya dengan jelas.
“Bu, pabrik cat kakak ipar itu, setahun banting tulang untung bersihnya paling cuma seratus jutaan, dipotong lagi segala macam uang untuk relasi, setahun benar-benar tidak dapat banyak. Tahun depan kantor pusat perusahaan sudah jadi, bagaimana kalau tahun depan kakak dan kakak ipar yang kelola kantin perusahaan saja? Toh uang itu kalau bukan keluarga yang dapat, ya orang lain yang dapat. Kenapa tidak kasih ke keluarga sendiri?”
Ibu Li sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
Melihat anak lelakinya sekarang sudah mapan, mana mungkin ia tidak ingin anak laki-lakinya membantu anak perempuannya? Dalam mimpi saja ia berharap begitu! Tapi urusan begini tidak bisa diputuskan olehnya sebagai ibu.
Uang yang ia dan suaminya cari sendiri, mau dikasih ke siapa terserah. Tapi uang hasil jerih payah anak, tidak bisa diperlakukan sama.
Ibu Li mengusap matanya, suaranya bergetar.
“Kalian adik-kakak bicarakan sendiri ya. Sejak kakakmu kuliah, dia takut kamu dendam karena waktu kecil sering dipukul dan dimarahi, makanya sering kerja paruh waktu, sering belikan kamu baju dan sepatu, semuanya barang bermerek yang dia sendiri pun sayang untuk pakai.”
“Dulu waktu kamu lahir, kakakmu selalu merasa aku dan ayahmu berat sebelah. Waktu itu kamu juga suka banget mengganggu kakakmu. Sudah hatinya tidak enak, kamu malah suka iseng, dia jadi sering kejar-kejaran memukulmu. Padahal, anak itu tetap anak, sebagai ibu mana mungkin aku pilih kasih. Bahkan ayahmu sangat sayang sama kakakmu. Dari belasan saudara, hanya punya satu anak perempuan, siapa yang tidak sayang?”
“Setelah kuliah, baru kakakmu sadar. Tiba-tiba saja dia mengerti. Dulu waktu SMP, tiap bulan aku kasih dia uang jajan sepuluh ribu, tapi waktu kamu SMP, kamu cuma dapat lima ribu. Makin dipikir, makin paham, kakakmu jadi takut kamu dendam sama dia. Nak, bagaimanapun juga, kalian itu saudara kandung, tidak ada yang tidak bisa dibicarakan baik-baik. Nanti Tahun Baru, saat kakakmu dan kakak iparmu pulang, kamu banyak-banyaklah bicara dengan mereka. Kalau mereka berdua setuju, ya sudah, bagus.”
Li Zhou terdiam lama, lalu mengusap hidungnya.
“Baik, Bu.”
——————
Tahun ini Li Zhou salah menebak, kakaknya benar-benar baru pulang tanggal dua puluh enam, dua hari sebelum Tahun Baru.
Dua hari sebelumnya, Li Zhou sudah memulangkan setengah petugas keamanan. Bahkan dari empat orang, termasuk Zhou Song, dia hanya menahan dua, sisanya dipersilakan pulang berlebaran.
Nanti tanggal dua Imlek baru gantian masuk lagi bersama Zhou Song dan yang lain.
Hari terakhir sebelum Tahun Baru, malam tahun baru!
Akhirnya Li Zhou bisa bertemu lagi dengan keluarga kakaknya yang setahun tak jumpa.
Baru saja ibunya selesai memasak makan siang, sebuah SUV putih berhenti di depan supermarket.
Li Zhou tersenyum lebar, langsung mengangkat keponakannya yang berlari menghampiri—Yaya.
“Om, Yaya kangen banget sama Om!”
“Oh ya? Seberapa kangen sama Om?”
Yaya manyun, matanya yang bening berputar-putar, sejenak tak tahu harus pakai kata apa.
“Hmph!”
“Pokoknya kangen banget deh!”
“Oh begitu. Kalau begitu, ayo cepat cium Om satu kali.”
“Baiklah~”
Melihat menantunya sibuk mengangkut barang dari bagasi, ayah Li Zhou dengan gembira ikut membantu.
“Aduh, sudah datang masih saja membawa banyak barang begini.”
Melihat ayahnya bersuara keras, kelihatan jelas sedang pamer ke tetangga. Dalam hati pasti sudah senang sekali! Menantu bawa banyak barang, itu bukan sekadar hadiah, itu juga gengsi!
Saat itu, ibu Li Zhou yang mendengar suara pun keluar.
“Nenek~”
Melihat Yaya, wajah ibu Li Zhou langsung sumringah, buru-buru mengusap tangannya ke belakang.
“Aduh, cucu nenek yang lucu, ayo peluk nenek dulu.”
Li Zhou lalu mengoper Yaya yang sudah minta dipeluk ke ibunya.
“Nak, cepat panggil Xuanxuan, sebentar lagi makan.”
Li Zhou pun mengambil dua buah jeruk manis dari tumpukan hadiah, lalu berjalan menuju Xiong Kexuan.
Setelah Li Zhou pergi, kakaknya, Li Na, mulai kepo.
Li Na sambil tersenyum menggoda, “Bu, siapa itu Xuanxuan?”
Ibu yang sedang menemani Yaya bermain, menjawab sambil tersenyum tanpa menoleh, “Xuanxuan itu, dia direktur perusahaan adikmu, yang mengelola seluruh perusahaan.”
Selesai bicara, ibu mendesah pelan.
“Xuanxuan juga anak yang kasihan. Dari kecil sudah yatim piatu. Susah payah bertahan hidup, eh, baru saja menikah, suaminya meninggal karena menyelamatkan orang dari kebakaran. Waktu gabung ke perusahaan adikmu, dia bahkan membawa anak perempuannya yang masih kecil. Untung sekarang semua sudah mulai membaik.”
Tak sampai sepuluh menit, Li Zhou sudah kembali sambil menggendong bocah kecil, diikuti Xiong Kexuan di belakang.
“Yaya, Om bawa teman baru untukmu nih.”
Benar saja, anak-anak memang paling suka main dengan sesama anak-anak.
Yaya yang melihat bayi kecil di pangkuan Om-nya, langsung melepaskan pelukan nenek, berlari kecil ke sisi Om, menengadah menatap si kecil.
Xiong Kexuan agak malu-malu menatap keluarga Li Zhou.
“Tante, Om!”
Ibu Li Zhou mengajak Xiong Kexuan masuk, “Ayo, ayo, ini kakak Li Zhou, namanya Li Na, dan ini suaminya Sun Li.”
“Halo!”
“Halo!”
Setelah saling berkenalan, obrolan pun mengalir lancar.
“Nenek, Yaya lapar.”
“Ayo makan, ayo, kita makan dulu.”
Ayah Li Zhou melambaikan tangan, mengajak semuanya makan.
Di meja makan, melihat dua bocah kecil yang lucu, Li Zhou mengeluarkan dua angpao yang tebal.
“Ayo, semoga kalian berdua tetap lucu dan selalu bahagia.”
Selesai berkata, Li Zhou pun menyelipkan dua angpao besar ke tangan dua bocah itu.