Bab Delapan Puluh Dua: Kembang Api Raksasa yang Sebenarnya!
(Karena masuk angin dan diare, saya benar-benar tidak sanggup lagi untuk menulis satu bab tambahan, besok akan saya susul! Mohon pengertiannya, para pembaca!)
Sejak kejadian waktu itu, Li Zhou sering melihat sekelompok orang dengan anjing militer berpatroli di jalanan, mengelilingi area dalam radius sepuluh li. Karena penasaran, Li Zhou meminta Wei Xi untuk merekam rute patroli itu menggunakan kamera super jernih jarak jauh dari atap gedung.
Beberapa hari berlalu, Li Zhou menyadari bahwa tim patroli itu biasanya berputar mengikuti rute berbentuk angka delapan, mengelilingi markas besar Teknologi Masa Depan dan barak militer. Bagian paling sulit ditembus tentu saja adalah daerah yang dikelilingi pegunungan.
Akhir Juli, tepat pada tanggal tiga puluh satu. Merasa tubuhnya agak lemas, Li Zhou sedang berolahraga bersama para mantan tentara di gym lantai -1 ketika suara notifikasi pesan di ponselnya tidak membuatnya berhenti berlari di treadmill.
“Huff... Huff... Wei Xi, siapa yang mengirim pesan padaku? Apa isinya?” Keringat sebesar butir jagung mengucur dari dahi Li Zhou. Jika dihitung, selain tes kebugaran saat kuliah, ia hampir tak pernah berolahraga, lebih suka berdiam di asrama. Dulu saat SMP, pulang sekolah jalan kaki pun tak terasa melelahkan, kini naik tangga saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
“Bos, ini pesan singkat. Isinya pemberitahuan bahwa barak militer di dekat sini akan melakukan uji coba peluncuran rudal dalam satu jam, tepat pukul sebelas siang. Diharapkan warga sekitar tidak panik.” Suara Wei Xi terdengar dari earphone. Berita uji coba rudal itu cukup mengejutkan Li Zhou.
Barak terdekat? Bukankah itu barak militer yang baru dibangun di seberang perusahaan? Sepengetahuan Li Zhou, hanya ada satu barak di sekitar situ, dan kebetulan itu memang milik Pasukan Roket.
Li Zhou yang sudah kelelahan di treadmill akhirnya memperlambat langkah dan berhenti. Ia mengambil handuk kering yang diberikan Zhou Song dan mengusap keringatnya. Setelah membasuh muka dengan air dingin dan bersiap mandi, ia bertanya, “Lao Zhou, kamu terima info soal uji coba rudal itu?”
“Sudah,” jawab Zhou Song tenang, tetap seperti biasanya. Seolah di dunia ini, hanya Kak Cuihua di ujung desa saja yang bisa membuatnya menunjukkan emosi.
Li Zhou menggelengkan kepala, lalu berkelakar, “Lao Zhou, dengan sifatmu seperti ini, kamu sulit dapat istri, tahu! Umurmu juga sudah hampir tiga puluh, kalau tidak cepat-cepat cari istri, bisa-bisa ayah-ibumu bawa rotan ke sini, siap menghukummu!”
“Keluarga sudah carikan pasangan, sekarang sudah mulai dekat. Bos, kamu sendiri yang harusnya lebih memikirkan hal itu.” Wajah Li Zhou langsung kaku. Cari istri sekarang? Tidak mungkin! Ia masih ingin menikmati kebebasan beberapa tahun lagi. Lagi pula, urusan perasaan tidak bisa dipaksakan, semua tergantung takdir. Pembicaraan pun terasa canggung, jika diteruskan, Li Zhou yakin akan dibuat kesal oleh Zhou Song.
Usai mandi, Li Zhou bersama Zhou Song dan beberapa orang lainnya membawa teropong naik ke puncak bukit dekat kantor. Di sana, ia melihat jam. Untung saja, masih ada sepuluh menit sebelum pukul sebelas!
Sepuluh menit kemudian...
Li Zhou memandang ke langit melalui teropong, melihat sebuah wahana terbang sederhana. “Lao Zhou, itu target drone, kan? Kok sederhana sekali? Jangan-jangan cuma mesin diesel dipasangi sayap!” Belum sempat Zhou Song menjawab, tiba-tiba terdengar suara mendesing, dan sebuah rudal kecil berpijar meluncur dari balik pegunungan.
“Boom!” Suara ledakan menggelegar! Drone target di udara pun hancur berkeping-keping. Yang membuat Li Zhou terkejut, rudal itu bukan diluncurkan dari barak di seberang, melainkan dari dalam hutan.
Belum sempat Li Zhou mencari sumber peluncuran dengan teropong, suara gemuruh kembali terdengar dan sebuah benda besar perlahan naik dari arah barak. Li Zhou cepat-cepat mengatur fokus teropongnya, wajahnya penuh keterkejutan.
“Astaga!” Li Zhou benar-benar kehabisan kata-kata, hanya bisa mengumpat. Awalnya, benda besar itu tampak naik perlahan, namun dalam sekejap bayangannya mengecil, hanya menyisakan jejak asap di langit.
Li Zhou menurunkan teropong dan menoleh pada Zhou Song dan yang lain, bertanya penuh takjub, “Di militer, kalian memang sering begini? Satu rudal itu pasti bernilai puluhan juta, kan?”
Zhou Song menjawab dengan nada agak kesal, “Bos, memang kami mantan pasukan khusus, tapi bukan berarti kami bisa segalanya. Untuk jadi operator rudal Pasukan Roket saja minimal harus lulusan universitas. Kalau tebakan saya benar, rudal tadi itu stok lama yang sengaja dikeluarkan untuk uji coba.”
Li Zhou mencibir. Stok lama? Entah berapa banyak stok yang disimpan, sampai-sampai kembang api seharga puluhan juta bisa diledakkan begitu saja untuk didengar suaranya.
“Wei Xi, bisa tahu ke mana arah rudal itu terbang?” “Tunggu sebentar, Bos, sedang menghitung...” Dua detik kemudian, Wei Xi memberitahu jawabannya pada Li Zhou.
“Ayo kita turun. Hari makin panas saja.” Semua sudah disaksikan, memang luar biasa, hanya saja terlalu cepat dan singkat.
“Bos, minggu depan akan ada hujan deras berturut-turut, kemungkinan akan berlangsung hampir sebulan penuh, suhu tinggi akan sedikit berkurang.” Peringatan dari Wei Xi membuat langkah Li Zhou terhenti.
Hujan deras berturut-turut! Bagi yang tinggal di pegunungan, itu bukan kabar baik. Hujan berkepanjangan sering diiringi longsor, banjir, dan tanah amblas.
Setibanya di kantor, Li Zhou dengan wajah serius memerintahkan Xia Shiyi, “Mulai minggu depan akan ada hujan deras terus-menerus, suruh orang untuk cek semua sistem drainase di dalam perusahaan, pastikan tidak ada masalah. Saluran air di sekitar kantor juga harus diperiksa satu per satu.
Selain itu, hujan deras pasti diiringi petir, buat pengumuman agar semua karyawan lebih waspada, jangan melintasi genangan air saat hujan, jangan berlama-lama di tepi sungai. Cuaca buruk, semua departemen harus siap siaga menghadapi badai, banjir, dan sambaran petir! Utamakan pencegahan, galakkan edukasi dan patroli, laksanakan tindakan nyata, hilangkan potensi bahaya!”
Xia Shiyi mencatat semua perintah dari direktur di buku kecilnya.
“Bos, apakah hujan deras itu akan parah?” tanya Xia Shiyi.
Li Zhou meliriknya dan menjawab, “Saya sama sekali tidak khawatir pada penduduk lokal, karena pengalaman hidup bertahun-tahun membuat mereka tahu bahaya apa saja yang mengintai. Yang saya khawatirkan justru kalian, para pendatang. Maaf, bukannya meremehkan, biasanya justru kalian yang nekat ke tempat berbahaya.
Apalagi di tepi sungai, jika banjir datang, begitu terlihat, sudah terlambat untuk lari. Sekali terbawa arus, tidak ada jalan selamat, hanya kematian. Setelah air surut, belum tentu jenazahnya bisa ditemukan.”