Bab Delapan Puluh Tujuh: Keraguan Natasha
Untuk saat ini, Lin Qi memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang belum ia dapatkan. Ia menatap rambut merah milik Xue Xu dengan rasa ingin tahu, lalu bertanya, “Kau juga menyukai rambut merah?”
Natasha sering mewarnai rambutnya menjadi merah, dan memang warna itu menambah pesona Natasha. Xue Xu tertegun sejenak, lalu mengambil kemeja kotak-kotak berwarna putih dari atas tatami, berdiri, membantu memasukkan lengan Lin Qi ke dalam kemeja itu, baru kemudian menjawab, “Rambutku memang dari lahir sudah begini.”
Setelah itu ia tersenyum menertawakan diri sendiri, “Kurasa setiap mutan pasti punya sesuatu yang istimewa. Bagian istimewaku adalah rambut merah ini.”
Lin Qi terkejut, “Jadi kau juga seorang mutan.”
Xue Xu mengangguk, “Tapi kemampuanku tidak terlalu berguna, aku hanya bisa melihat pertanda kematian. Namun, bela diriku cukup baik. Jika Tuan membutuhkanku, aku siap membantu.”
Setelah mengenakan pakaian, Lin Qi berjalan keluar kamar. Ia masih harus menenangkan perasaan Natasha yang sejak kemarin malam terus-menerus memarahinya.
Saat Lin Qi membuka pintu geser, terdengar suara Mariko dari belakang, “Lin Qi, nanti kita pergi bertemu Kakek bersama, ya.”
Lin Qi menatapnya dengan heran, Mariko mengeluarkan ponsel berwarna merah muda, pipinya memerah ketika berkata, “Kakek sudah tahu tentang kejadian semalam. Kakek bilang, mulai sekarang aku dan kau...”
Sisa kalimatnya tak sanggup ia lanjutkan, namun rona malu di wajahnya sudah sangat jelas.
Ekspresi Lin Qi sedikit berubah, ia berkata pada Mariko, “Baiklah.”
Keluar dari kamar, Lin Qi tidak langsung mencari Natasha. Wajahnya tampak muram saat berjalan melewati sebuah tikungan, di depannya ada pintu baja anti-maling. Tanpa ragu, Lin Qi menghantamnya dengan satu pukulan hingga pintu itu hancur berkeping-keping.
Orang-orang berbaju putih di dalam kamar langsung panik. Kemarin Lin Qi membunuh lebih dari delapan puluh orang, mereka semua sudah mendengar kabarnya dan sangat ketakutan, khawatir Lin Qi datang untuk menghabisi mereka juga.
Viper pun mengenakan jas putih dan masker, ia tak paham apa lagi yang membuat Yashida menyinggung orang ini. Meski begitu, ia tetap mundur beberapa langkah, mencari posisi yang pas untuk melarikan diri.
Yashida yang terbaring di ranjang rumah sakit hanya bisa menatap Lin Qi dengan pupil yang menyempit, jelas sekali ia sangat cemas.
Lin Qi mendekat ke sisi ranjang, berbicara dengan nada kesal, “Yashida, memang benar aku tidur dengan cucumu. Tapi, aku tidak akan bertanggung jawab. Xue Xu milikku sekarang. Aku tidak akan ikut campur urusan Wolverine. Kita anggap semua selesai. Jangan pernah bermimpi menjebakku lewat Mariko!”
Usai berkata demikian, Lin Qi berbalik hendak pergi. Mariko, sekalipun polos, mustahil akan menaruh harapan pada orang yang menyakiti keluarganya secepat itu. Sudah pasti kakek tua itu yang membujuk di belakang, membuat Mariko percaya dan ingin mendapatkan kepastian darinya. Padahal itu mustahil, toh mereka semua orang dewasa, untuk apa terlalu serius.
Yashida di atas ranjang akhirnya bisa bernapas lega, tangannya yang menggenggam remote pun mengendur. Ia berkata pada punggung Lin Qi, “Aku hanya ingin mencarikan Mariko laki-laki yang baik. Aku khawatir Mariko akan berada dalam bahaya. Kalau ia harus menjadi kekasihmu pun tak apa, kumohon.”
Langkah Lin Qi terhenti sejenak, lalu ia mendengus dingin, dan keluar dari ruang perawatan.
Orang-orang di ruangan itu menatap punggung Lin Qi lalu melihat pintu baja tebal yang konon bisa menahan ledakan setara satu ton TNT—pintu yang seharusnya sangat kuat—tapi kini hancur seperti kertas, tercerai-berai.
“Singkirkan orang yang bertanggung jawab atas pintu itu,” Yashida memerintahkan dengan datar pada bawahannya. Walau sakit parah, tak seorang pun berani menentang perintahnya.
Setelah urusan dengan Yashida selesai, Lin Qi merasa lega dan segera pergi mencari Natasha.
Di koridor, ia langsung bertemu Natasha. Dengan nada menyindir, Natasha berkata, “Wah, bukankah ini suami sah Kepala Hill? Apa yang kau lakukan semalam?”
Mengingat Hill, Lin Qi hanya bisa menghela napas, “Sudahlah, jangan menyindirku. Aku traktir kau makan.”
Natasha mendekat, jemarinya yang halus menggambar lingkaran di telapak tangan Lin Qi, berbicara lembut, “Selain makan, aku rasa hubungan kita bisa lebih jauh lagi, seperti Mariko dan Xue Xu. Menurutmu?”
Lin Qi menatap Natasha, “Kita akan sering bekerja sama nanti. Aku tak ingin perempuanku bersama pria lain. Bisakah kau?”
Natasha saat ini belum berniat menetap bersama seorang pria. Ia tak mungkin menjadi kekasih eksklusif Lin Qi hanya demi sebuah misi, atau jadi milik pribadi Lin Qi.
Sebab jika ia menyanggupi, dengan kemampuan Lin Qi, ia benar-benar harus menepatinya.
Natasha menghela napas, “Baiklah, aku takkan memberi tahu Hill tentang apa yang kau lakukan di sini. Kita boleh main, tapi jangan lupa tugas.”
Setelah kembali ke rumah, Yashida Shingen langsung mendengar tentang kejadian semalam—lebih dari delapan puluh penjaga bersenjata tewas.
Tapi Yashida Shingen justru gembira, sebab para penjaga itu setia pada ayahnya. Sekarang mereka mati, ia tak perlu repot lagi di kemudian hari.
Ia juga sudah tahu soal kejadian putrinya semalam.
Segera ia memanggil Mariko untuk bertanya.
Mariko menjawab, “Lin Qi memang pria yang baik. Kemarin Kakek membohongiku, makanya aku bersama Lin Qi. Pagi ini Kakek mengirimi pesan padaku, katanya semua ini demi kebaikanku. Ia yakin Lin Qi pantas kupercayai seumur hidup. Aku... aku rasa Kakek benar.”
Lin Qi tampan, kuat, apalagi setelah semalam bersama, perasaan Mariko padanya pun kian dalam.
Yashida Shingen berkata, “Baiklah, undang Lin Qi ke sini untuk minum teh. Kemarin aku sibuk, belum sempat menjamunya dengan baik.”
Orang suruhannya segera memanggil Lin Qi, dan tak lama kemudian Lin Qi datang.
Melihat Mariko ada di ruangan itu, Lin Qi sempat terkejut, namun segera tenang kembali, meski dalam hati ia mulai menebak-nebak sesuatu.
Mariko menyiapkan alas duduk untuk Lin Qi.
Lin Qi duduk dengan tenang. Di seberang meja rendah itu duduk Yashida Shingen.
Mariko menuangkan teh untuk keduanya.
Dengan senyum penuh permintaan maaf, Yashida Shingen berkata, “Lin Qi, maaf sekali, kemarin aku harus ke Hokkaido karena urusan penting. Kudengar kau mendapat serangan semalam. Jika aku ada di sini, hal seperti itu takkan terjadi.”
Ada makna tersirat di balik ucapannya. Ia memang tak ada kemarin, tapi kepala keluarga Yashida ada di sini. Sindiran itu jelas ditujukan pada kepala keluarga Yashida.
Ini bentuk ketidakpuasannya pada kepala keluarga, sekaligus ingin menarik simpati Lin Qi.
“Aku juga berpikir begitu. Kalau kau yang menjadi kepala keluarga, pasti tempat ini akan lebih aman,” jawab Lin Qi.
Pengakuan Lin Qi membuat Yashida Shingen semakin tersenyum.
Lin Qi pun tersenyum, menertawakan kebodohan Yashida Shingen yang mulai terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan pada ayahnya, seolah siap mengambil alih keluarga Yashida kapan saja. Namun, ia tak tahu kalau ayahnya sudah menemukan cara memperpanjang hidup.
Segala rencana Yashida Shingen pada akhirnya hanya akan jadi angan-angan.
Setelahnya, Lin Qi menemani Yashida Shingen berbincang seadanya.
“Lin Qi, kudengar kau bermalam di kamar Mariko semalam. Walau Mariko sudah bertunangan, aku lebih mendukungmu. Kau bisa menjadi menantu keluarga Yashida!” kata Yashida Shingen.
Lin Qi pernah mendengar percakapan telepon Yashida Shingen sebelumnya, tunangan Mariko sama sekali tak mengakui pertunangan itu, menganggapnya hanya formalitas belaka.