Bab 31 Rekan
Setelah Liya keluar dari ruangan, Zhou Zhi duduk sendirian di ruang rapat, termenung tanpa suara. Dari dokumen yang baru saja ia bawa dari markas militer, ia merasakan sesuatu yang berbeda—negara benar-benar sangat memperhatikan para Evolver itu.
“Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh para atasan?” Zhou Zhi merasa kepalanya sakit. Bicara soal Evolver, di bawah pimpinannya pun ada beberapa orang seperti itu; jika hanya menilai dari fisik dan kemampuan reaksi, memang mereka jauh melampaui orang biasa, tapi tidak lebih hebat dari pasukan elit militer, paling hanya sedikit lebih unggul.
Kalau bicara soal daya tempur, dengan adanya teknologi modern, para Evolver tak jauh lebih kuat daripada para penyintas lainnya.
Di depannya tergeletak setumpuk dokumen tebal, hanya seperlima dari semuanya yang berkaitan dengan restrukturisasi pasukan, pengumpulan penyintas, dan pemulihan produksi pascabencana. Sebagian besar lainnya justru membahas secara detail perihal Serikat Pemburu—bagaimana sistem tugas diatur, bagaimana penilaian poin, dan sebagainya.
Zhou Zhi adalah orang yang cerdas. Tanpa latar belakang kuat, ia dapat mencapai posisinya saat ini pun sudah luar biasa. Salah satu kuncinya adalah, ia selalu berusaha tidak mencampuri urusan yang bukan wewenangnya. Bahkan jika ia tahu sesuatu, ia akan pura-pura tidak tahu.
Akhirnya, ia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Apa pun rencana para atasan, yang penting sekarang mengumpulkan para penyintas dulu…”
…
Yang Fei pun bisa bernapas lega. Setelah ia dan Jiang Shiyu sedikit memulihkan diri, mereka melanjutkan perjalanan menuju zona aman militer. Jiang Shiyu mengalami cedera cukup parah, namun nyawanya tidak terancam—hanya saja gerakannya menjadi lambat. Sedangkan Yang Fei, meski banyak kehilangan darah akibat luka yang serius, setelah menelan kristal itu, tubuhnya segera dipenuhi energi baru, bahkan energi itu seolah menggantikan fungsi darahnya!
“Kalian berdua benar-benar luar biasa…” seorang prajurit berkata sambil tersenyum kecut.
Baru saja, Yang Fei dan Jiang Shiyu bertemu patroli militer. Prajurit itu langsung mengarahkan senjatanya ke mereka. Untung Yang Fei sigap menyadari dan berteriak bahwa ia manusia, jika tidak, mungkin mereka sudah tewas di sana.
Yang Fei sungguh lega. Hampir saja ia mati sia-sia—sudah susah payah lolos dari cengkeraman zombie dan perayap, masa harus tewas di tangan manusia?
“Bukan keinginan kami juga… Hanya sekadar lolos dari maut, eh malah hampir mati di tanganmu,” ujar Yang Fei dengan nada getir.
Prajurit itu tampak kikuk, menggaruk kepalanya, “Tadi keadaannya memang seperti itu…”
Yang Fei melambaikan tangan, “Sudahlah, bukan salahmu juga. Dengan penampilan kami sekarang, dalam pandangan orang lain mungkin lebih mirip zombie daripada zombie itu sendiri…” Ia tertawa getir.
Awalnya Yang Fei mengira akan sulit menjelaskan soal Evolver, karena biasanya, jika orang biasa digigit atau dicakar zombie, sebentar lagi pasti berubah jadi zombie juga. Tapi begitu ia menjelaskan, pihak militer langsung percaya, hal itu cukup mengejutkan bagi Yang Fei.
“Aku tahu soal Evolver. Komandan regu kami juga salah satunya. Saat wabah virus merebak, kalau bukan karena dia jadi Evolver, mungkin tak ada lagi dari kami yang tersisa…”
“Kau tidak takut kami baru saja tergigit dan masih masa inkubasi?” tanya Yang Fei tak percaya, heran lawannya begitu mudah percaya.
Prajurit muda itu mencibir, “Jangan remehkan kemampuan pengamatan prajurit pengintai. Sekali lihat, aku sudah tahu kapan kalian terluka.”
“Dari kondisi lukamu, kalau kau orang biasa, butuh waktu beberapa hari untuk sembuh. Kalau kau orang biasa, sudah pasti jadi zombie sejak tadi.”
“Kalau lukanya baru, tapi pulih secepat itu, jelas bukan penyintas biasa. Hanya Evolver yang punya kemampuan semacam itu…”
Yang Fei menunduk menatap tubuhnya. Luka-lukanya sudah berhenti mengeluarkan darah, bahkan goresan-goresan ringan cukup dilap dengan tangan, bekasnya pun langsung terkelupas.
“Ikuti aku, di depan sana baru saja ada sekelompok penyintas yang tiba. Komandan regu sedang bersiap mengantar mereka ke zona aman. Kalau kita cepat, bisa bergabung dengan mereka,” kata prajurit itu.
Yang Fei mengangguk berterima kasih, lalu ia dan Jiang Shiyu saling bertukar pandang. Mereka tahu, kelompok penyintas yang dimaksud pastilah Jiang Zhi dan kawan-kawannya.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di pos penjagaan wilayah itu. Menurut penjelasan sang prajurit, di luar zona aman telah didirikan lebih dari dua puluh pos penjagaan, bertugas mengawasi pergerakan zombie di sekitar sekaligus mengumpulkan penyintas yang datang.
Setelah memastikan keduanya adalah Evolver yang kebal terhadap virus zombie, petugas pos berkata, “Ada cukup banyak orang di sini, kendaraan tak cukup, jadi sebagian sudah diberangkatkan lebih dulu. Kalian tunggu giliran berikutnya saja.” Ia pun meninggalkan seorang petugas medis untuk membalut luka mereka.
Petugas medis itu juga terkejut melihat kondisi mereka yang parah tapi tetap tenang tanpa mengeluh kesakitan.
“Lukamu parah sekali. Aku hanya bisa melakukan penanganan dasar, untuk jahitan dan perawatan lanjutan, kalian harus menunggu di zona aman,” ujar petugas medis itu lugas. Setelah selesai menolong mereka, ia pun berlalu.
Yang Fei tersenyum berterima kasih, sementara Jiang Shiyu tampak mengantuk.
“Kenapa? Mengantuk?” tanya Yang Fei, sebab sepanjang jalan Jiang Shiyu memang terlihat diam saja.
“Tidak,” jawab Jiang Shiyu lesu, seolah tak bersemangat.
“Ayo cari Jiang Zhi, dia pasti masih di sini,” kata Yang Fei. Jiang Shiyu sempat berpikir sejenak, lalu mengangguk.
Pos penjagaan itu kecil, dengan total pasukan tak sampai lima puluh orang. Yang Fei segera menemukan sekelompok orang yang berjongkok di sudut ruangan.
“Kakak!”
“Kak Fei!”
Jiang Zhi, Wu Gang, dan yang lain girang bukan main. Semula mereka sangat cemas, sebab Jiang Shiyu dan Yang Fei memilih bertahan di belakang, resikonya terlampau besar. Karena terlalu khawatir, mereka semua memilih tinggal di pos itu, menunggu kabar dan tidak ikut rombongan pertama menuju zona aman.
“Jangan terlalu bersemangat. Kami baik-baik saja,” ujar Yang Fei terharu melihat sambutan hangat itu. Dari tatapan mereka, mudah terlihat kegembiraan dan rasa terima kasih yang mendalam.
Setelah pertemuan kembali yang mengharukan itu, suasana pun menjadi hangat dan ramai. Yang Fei, berkat kristal Evolusi yang ia telan, kondisinya cukup baik dan ikut berbincang dengan yang lain. Jiang Shiyu hanya duduk diam, sesekali tersenyum dan mengangguk jika disapa.
Jiang Zhi menatap kakaknya, merasa ada yang aneh. Ia bertanya pelan, “Kak, kamu kenapa? Wajahmu aneh sekali…”
Jiang Shiyu meliriknya sekilas, “Tak apa-apa.”
Semakin aneh saja, Jiang Zhi merasa ada yang tak beres, lalu melirik Yang Fei yang sedang bercanda.
Jangan-jangan…
“Plak!”
Jiang Shiyu menjitak kepala adiknya. Hubungan mereka sudah hampir dua puluh tahun, jadi tak perlu bertanya, sudah tahu apa yang dipikirkan masing-masing.
“Mau mikir apa lagi kau!” Jiang Shiyu membentak pelan.
“Aku? Aku nggak mikir apa-apa kok, sumpah…” Jiang Zhi benar-benar merasa tak adil. Aku belum nanya apa-apa, kok sudah dipukul? Sebenarnya apa sih? Cuma gara-gara aku melirik calon kakak ipar… eh, Yang Fei doang, masa harus dipukul?
Jiang Shiyu melotot, “Apa yang kau pikirkan, kau kira aku nggak tahu?”
“Jadi benar karena dia, ya?” bisik Jiang Zhi.
“Bukan,” jawab Jiang Shiyu tegas.
“Terus karena siapa?” Jiang Zhi malah tampak polos.
Jiang Shiyu hampir saja kesal setengah mati, menatap adiknya dengan penuh kekesalan lalu mencubit telinganya, “Kamu ini kepo banget, kadang aku curiga orang tua kita salah waktu nentuin jenis kelaminmu.”
Suara mereka menarik perhatian, yang lain menoleh. Jiang Zhi menjerit kesakitan, Jiang Shiyu mendengus, lalu melepas cubitannya.
Yang Fei dan yang lain tersenyum canggung, sadar bahwa itu hanya candaan kakak beradik. Mereka pun buru-buru kembali berpura-pura asyik berbincang.
Jiang Shiyu memutar bola matanya, tapi ia juga diam-diam merasa lega. Setelah bertarung bersama Yang Fei, ia teringat para rekan setim lamanya… namun ia segera menata kembali perasaannya, toh semua itu sudah berlalu…
Orang-orang di depannya ini, mungkin kelak juga akan jadi kawan-kawan yang luar biasa…