Bab 11: Bertemu Kembali
“Sebuah suara samar terdengar di telinga: ‘Gelar baru diperoleh: Murid. Efek: Sebagai murid, pemain akan mewarisi keterampilan utama dari pihak terkait, keterampilan tersebut otomatis turun satu tingkat. Ketika kemampuan murid melampaui pihak terkait, efek gelar ini akan dibatalkan.’”
Suara itu membuat He Chi merasa gelisah dan ia membalikkan badan dengan kesal.
“Apa-apaan ini, aku masih pasien, butuh istirahat tenang,” gumamnya pelan, lalu kembali membalikkan badan dalam kantuk.
“Hei, jangan tidur lagi, bangunlah.” Seseorang mendorong tubuh He Chi dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
“Siapa itu? Nanti saja setelah aku bangun,” ujar He Chi sambil menepis tangan orang itu dan berusaha melanjutkan tidurnya.
“Ayo, bangun dulu,” suara itu terus membujuk.
“Abaikan saja aku, biarkan aku tidur.”
“Bangun! Cepat bangun!” Kini suara itu semakin keras hingga membuat telinga He Chi terasa sakit.
Kali ini He Chi benar-benar terbangun. Begitu membuka mata, ia mendapati pandangannya berputar-putar, awan di langit tampak berputar kencang. Ternyata orang di sampingnya, setelah gagal membangunkannya, memilih menggunakan kekerasan—menarik kerah bajunya dan mengguncangnya dengan kuat.
“Baik! Baik! Tolong, jangan goyangkan lagi, aku sudah bangun!” serunya.
Langit pun tampak normal kembali. Ia akhirnya bisa melihat jelas siapa yang ada di hadapannya—sebuah sosok besar seperti gunung kecil.
Seorang wanita Inggris bertubuh kekar mengenakan seragam perawat medan perang berdiri di depan He Chi dengan tangan berkacak pinggang.
“Kau... Margaret? Tunggu, aku... ini di mana?” tanya He Chi.
Dalam ingatannya, wanita Inggris yang beratnya pasti lebih dari 190 pon ini adalah perawat yang merawatnya dalam dunia tiruan. Jika wanita itu ada di sini, maka itu berarti...
He Chi langsung bangkit dan melihat sekeliling. Ia menyaksikan barisan perban putih yang telah dicuci melayang tertiup angin, dan di kejauhan belasan perawat berlalu-lalang di antara kerumunan, merawat para prajurit luka asal Inggris dan Perancis.
Ia merogoh saku dengan satu tangan, dan benar saja, ia menemukan dua keping uang perak yang dingin.
Ia telah kembali ke dunia tiruan Perang Somme.
“Hei, dari tadi malam sampai sekarang kau sudah tidur empat belas jam. Kalau saja nafas dan detak jantungmu tidak normal, aku pasti mengira kau sudah mati,” ujar Margaret yang kekar sambil memeriksa tubuh He Chi memastikan tidak ada yang salah.
Tak ada padanan kata ‘mulut tajam hati lembut’ di negeri ini, tapi Margaret jelas adalah tipikal orang seperti itu.
Berkat perjuangan Florence Nightingale dan para perempuan lain belasan tahun lalu, selama Perang Dunia I profesi perawat medan perang dan perawatan pasien luka berkembang pesat. Perubahan terbesar adalah perawat profesional menggantikan biarawati gereja sebagai tulang punggung tim medis di medan perang.
Namun, perubahan pola pikir tradisional tentu tidak bisa terjadi sekejap. Pada masa ini, perempuan yang bisa bergabung dalam tim perawat kebanyakan berasal dari kelas pekerja paling bawah, dan penampilan mereka jauh dari gambaran malaikat berpakaian putih yang dikenal di masa depan.
Contohnya Margaret yang tegap di hadapannya ini. Sebelum jadi perawat medan perang, ia adalah buruh cuci di Birmingham. Pengetahuan keperawatannya hanya hasil pelatihan singkat tiga bulan, bahkan ia pun tidak terlalu lancar membaca.
Tetapi itu tidak menghalangi mereka menyelamatkan ribuan nyawa.
Itulah sebabnya He Chi selalu menaruh hormat pada Margaret.
“Nyonya, ada urusan pentingkah?” tanya He Chi, kini mulai memulihkan kesadarannya.
“Ada kenalanmu yang datang, bersama Tuan Pierre,” kata Margaret sambil menunjuk beberapa mobil sedan yang tampak sangat tidak sesuai dengan suasana medan perang di kejauhan.
“Kenalan? Siapa ya?” He Chi berusaha mengingat siapa yang ia kenal di sini.
Beberapa menit kemudian, jawabannya pun muncul. Seorang pemuda berpakaian seragam tentara Perancis dengan pita penghargaan di dada berdiri di depannya.
“Letnan Henry! Kau masih hidup?!” Seru He Chi, ternyata orang itu adalah letnan Perancis yang pertama kali ditemuinya dalam dunia tiruan. Ia kira pemuda itu pasti sudah tewas atau setidaknya terbaring di ranjang selama berbulan-bulan, mengingat saat mereka berdua dibawa dengan tandu, ada serpihan granat yang menancap di leher Henry.
“Aku cukup beruntung. Dokter bilang serpihan itu tidak mengenai pembuluh darah utama atau saluran nafas. Setelah setengah bulan istirahat, aku sudah bisa beraktivitas,” ujar Henry sambil menolehkan kepala, menunjukkan bekas perban di lehernya.
“Oh iya, sekarang aku bukan letnan lagi,” katanya agak malu.
Baru He Chi menyadari pangkat di bahu Henry kini sudah berubah menjadi kapten, dan di dadanya tergantung beberapa medali bersinar, salah satunya adalah Salib Kesatria yang sangat mencolok.
“Wah, selamat ya! Hebat sekali!” He Chi menepuk bahu Henry sambil tersenyum, namun ucapannya justru membuat Henry salah paham.
“Jangan begitu, He. Aku tahu kita bisa selamat itu semua berkat idemu. Aku sendiri sebenarnya agak canggung...” Henry melirik lambang sersan di baju He Chi dengan raut bersalah.
“Biar aku yang jelaskan,” potong Pierre yang bertubuh tambun.
Dia kembali mengabaikan para pasien lain dan sibuk menyalakan pipa rokoknya. “Para petinggi memutuskan bahwa tentara dan perwira rendah kita perlu figur teladan untuk meningkatkan semangat tempur. Dan Henry, sebagai pemuda Perancis yang luar biasa, sangat cocok untuk tugas itu. Kau mengerti maksudku, kan, He?”
Jadi, maksudnya, pahlawan perang harus orang kulit putih. Aku, buruh Asia yang kebetulan selamat, jangan cari masalah? He Chi membatin, namun wajahnya tetap tenang.
Toh, ia sama sekali tidak peduli dengan promosi pangkat. Maka ia menjawab seadanya, “Benar, Pak. Saya juga rasa Kapten Henry sangat cocok untuk tugas itu.”
“Tuh kan! Sudah kuduga, pemuda Timur ini memang pintar,” Pierre tertawa sambil menepuk-nepuk bahu He Chi dengan tangan gemuknya, hingga abu rokok dari pipanya berjatuhan ke baju He Chi.
“Tenang, kami sudah atur semuanya. Dalam sesi propaganda berikutnya, kau akan jadi prajurit dan asisten pahlawan perang Henry. Sebentar lagi, jurnalis dari Paris juga akan mengatur wawancara khusus. Bayangkan saja, orang Timur yang dicap bodoh, bisa menjawab pertanyaan dengan dua bahasa—Inggris dan Perancis—dan juga seorang prajurit pemberani. He, kau akan terkenal!”
Bukan pertama kali Pierre menjanjikan hal besar pada He Chi. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan, asalkan tidak menghalangi misinya menuntaskan dunia tiruan ini. Namun, kata ‘Orang Timur bodoh’ membuat alis He Chi terangkat. “Tuan, orang Timur punya kebijaksanaan sendiri, tidak bodoh.”
“Itu hanya kiasan, kau berbeda dari mereka, tak usah dipikirkan,” Pierre menepis santai, bahkan tidak merasa perlu meminta maaf.
“Baiklah, ini naskah wawancara yang harus kalian hafalkan. Nanti kalian juga akan diajak menjenguk para pasien luka. Rahasia kecil, ada jurnalis cantik di antara mereka.” Pierre melemparkan selembar kertas lalu berlalu sambil tertawa lebar.