Bab 4: Panen
Dentuman dahsyat granat tangan meledak, menghantamkan bongkahan tanah di dalam terowongan. Lumpur yang bercampur pecahan logam berhamburan ke arah dua orang di sana. Telinga He Chi dipenuhi suara berdenging bercampur dengan desingan tajam, membentuk semacam simfoni yang memekakkan.
Sebuah rasa nyeri tiba-tiba menusuk pahanya, seperti gigitan serangga, lalu sensasi panas membakar menjalar dari bawah tubuhnya ke atas. Gelombang kejut mendorong tubuhnya ke dinding terowongan, kekuatan besar itu membuat kepalanya membentur dinding batu dengan keras.
Dalam pandangan yang masih kabur, ia melihat dua serdadu berseragam biru tentara Prancis mendekat. He Chi baru teringat bahwa ia mengenakan helm tentara Jerman saat memasuki wilayah pertahanan Prancis.
“Sialan!” Itulah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut He Chi sebelum kesadarannya menghilang.
Suara-suara di sekitarnya makin jelas. He Chi berusaha membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Di sekelilingnya terdapat lambang palang merah, dan di kejauhan tampak perban-perban yang dijemur di atas tali.
Sepertinya ia berada di rumah sakit lapangan.
He Chi mencoba duduk, tapi pusing hebat membuatnya jatuh kembali ke kasur.
“Kau sudah sadar, anak beruntung.” Suara serak datang dari belakang.
He Chi menoleh, melihat seorang pria paruh baya berbadan tambun mengenakan mantel wol biru berdiri di belakangnya. Perutnya besar hingga kancing bajunya tampak hampir lepas.
Meski tak tahu pangkat orang itu, dari sikap para staf di sekitarnya jelas ia pejabat tinggi di tempat ini.
“Perkenalkan, namaku Pierre Dupont. Kau bisa panggil aku Pierre, aku komandan tertinggi di sini. Kudengar kau bisa sedikit berbahasa Prancis, benar?” Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
“Benar, Tuan, saya bisa sedikit.” He Chi mengangguk, menjawab dengan bahasa Prancis.
“Bagus. Henri sudah menceritakan tentang keberanianmu di medan perang. Aku percaya kau orang cerdas.” Pierre mengeluarkan pipa tembakau dari saku, menjejalkan tembakau, lalu menyalakannya dengan korek api.
Setelah itu, Pierre mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di depan He Chi. “Ini punyamu?”
He Chi melihat benda itu—itu adalah kartu kerja miliknya. Ia mengangguk. “Benar, Tuan, itu milik saya.”
“Bagus.” Pierre mengambil kartu kerja itu, mendekatkannya ke pipa tembakau yang berapi. Dalam sekejap, kartu itu terbakar. Api kecil itu semakin membesar, dan dalam waktu kurang dari semenit, kartu itu berubah jadi abu.
He Chi mengernyit melihat benda yang menjadi abu. “Tuan, maksud Anda?”
“Mulai sekarang, kau bukan lagi buruh dari negeri jauh. Kau adalah prajurit terhormat Legiun Asing Prancis.” Pierre menyingkirkan abu di lantai dengan ujung sepatu, lalu menyerahkan selembar formulir bertulisan “Permohonan Sukarela Bergabung Legiun Asing”.
“Tuan, saya kurang mengerti…”
“Baik, akan langsung ke intinya. Dalam pertempuran kemarin, kami kalah telak dari Jerman. Satu resimen di posisimu habis tak bersisa, hanya kau dan Henri yang selamat dan berhasil kembali.” Komandan bertubuh gempal itu mengatupkan tangan, pipa tembakau masih di mulutnya.
He Chi mengangguk, wajahnya tampak merenung.
Pierre melihat ekspresi He Chi dan tersenyum puas. “Bagus, seperti dugaanku, kau memang cerdas. Baiklah, akan kujelaskan lebih gamblang.”
“Tiga hari lalu, sekutu Inggris mengirim wartawan untuk meliput. Saat kalian kembali, malam sudah gelap dan tak ada yang melihat jelas wajahmu. Dalam laporan, disebutkan dua prajurit Prancis gagah berani menewaskan satu peleton Jerman lalu kembali dengan selamat. Berita itu sudah muncul di koran. Kau paham maksudku?”
Pierre menyerahkan satu eksemplar The Times. Di halaman tiga, tertulis judul: “Tentara Jerman Gagal Menembus Somme, Dua Prajurit Prancis Tewaskan Puluhan Lawan”.
“Jika orang tahu bahwa ‘prajurit Prancis gagah’ yang diberitakan ternyata hanya buruh lapangan, kehormatan Kementerian Angkatan Darat akan hancur, nilainya tak lebih dari pelacur gipsi di gang-gang tepi Sungai Seine.”
Pierre mendorong formulir lebih dekat.
“Namun, bila orang itu adalah pejuang dari negeri jauh yang mencintai budaya Prancis dan sukarela membela kebebasan, keberanian lintas ras seperti ini adalah kisah romantis. Di Paris, akan banyak gadis tergila-gila padamu.”
Jelas sudah, Komandan Pierre sedang menawarkan janji manis, nadanya persis seperti para manajer di tanah air yang selalu menjanjikan kenaikan gaji di akhir tahun. Namun, itu tak mempengaruhi penilaian He Chi terhadap situasi.
He Chi mengangguk. “Saya mengerti, Tuan. Tapi, boleh saya bertanya, apakah saya punya pilihan lain?”
“Tentu saja, tentu!” Pierre menepuk pundaknya sambil tersenyum.
“Prancis negeri bebas. Kau berhak memilih tanpa paksaan. Tapi bila kau tetap menolak, aku tentu akan sangat menyesal.” Sambil berkata demikian, si gendut menepuk pistol di pinggangnya.
Ancaman terang-terangan. He Chi berpikir sejenak, merasa tak ada ruginya, lalu mengambil formulir itu, membaca sekilas, dan menandatangani namanya.
Wajah sang komandan tampak puas. “Bagus, selamat bergabung di Legiun Asing untuk membela Prancis. Sebentar lagi petugas perlengkapan akan memberimu peralatan baru.”
Pierre berdiri dengan riang, lalu seperti teringat sesuatu, ia berbalik. “Oh ya, kau baru saja kembali dari medan perang, harus istirahat. Jangan berkeliaran. Batas gerakmu hanya di rumah sakit ini.”
“Tenang saja, aku sudah bicara dengan kepala rumah sakit. Tak akan ada masalah. Ini juga, bonus dari pertempuran kemarin, kau pasti suka jumlahnya.”
Pierre meletakkan sebuah amplop, tertawa terbahak-bahak, lalu pergi.
He Chi membuka amplop itu. Di dalamnya ada dua benda: satu lambang Legiun Asing berpangkat sersan, dan yang kedua adalah uang tunai lima ribu franc—jumlah luar biasa (pada masa itu, gaji buruh Prancis hanya 100-200 franc per bulan).
Pejabat Prancis ini demi menutup-nutupi kekalahan di garis depan, menggunakan bujukan dan ancaman secara bersamaan. Pangkat sersan entah nyata atau tidak, tapi uang sebanyak itu benar-benar berharga di masa seperti ini.
Tapi, untuk apa ia butuh uang? Uang ini tak bisa ia bawa keluar dari dunia tiruan ini.
Saat itulah, amplop di tangannya berubah. Lima ribu franc itu perlahan menjelma menjadi lima keping perak berkilauan di telapak tangannya.
Serentak, suara dingin sistem terdengar di telinganya, “Pemain berhasil bertahan hidup 72 jam di dunia tiruan, memenuhi syarat lolos, mendapat imbalan lima koin perak, melebihi jumlah minimum. Tahap pertama dunia tiruan selesai. Waktu masuk berikutnya satu minggu lagi. Proses penilaian dan pemindahan dimulai!”
Pemandangan di sekitarnya perlahan berubah.