Jilid Pertama Bab 31: Keadaan Terkini Pohon Cishu
Setelah mendapat penjelasan dari kakaknya, butuh waktu cukup lama bagi He Chunrou untuk memercayai identitas Xu Qing sebagai murid Sekte Penempa Senjata.
Butuh waktu cukup lama pula bagi gadis itu, di bawah koreksi Ci Jing, untuk akhirnya memanggil Xu Qing dengan sebutan Kakak Sulung.
Setelah menyelesaikan tahap pembangunan fondasi, Xu Qing mulai berencana untuk menyelidiki kasus perampokan bijih mineral nadi api. Ia menoleh ke arah kakak beradik itu dan bertanya, "Apakah kalian tahu mengapa murid-murid Sekte Awan Langit itu merampas bijih mineral nadi api tersebut?"
Keduanya kompak menggelengkan kepala, menandakan ketidaktahuan mereka.
"Kalau begitu, apakah kalian ingat apakah ada sesuatu yang tidak biasa dari orang-orang itu?"
Kali ini, kakak beradik itu mulai mencoba mengingat kembali peristiwa hari itu. Setelah terdiam cukup lama, He Jianwu menggeleng, mengaku tidak terlalu memperhatikan, namun He Chunrou tiba-tiba menyadari sesuatu yang ganjil.
"Kakak Xu, hari itu sekelompok orang tiba-tiba muncul. Awalnya kami mengira mereka hanyalah perampok gunung biasa. Orang tua saya tidak terlalu memikirkannya dan berniat memberikan sebagian harta sebagai tebusan demi keselamatan, tetapi orang-orang itu tanpa basa-basi langsung menyerang..."
"Lalu?"
Ketiga orang yang berada di sana menatap He Chunrou. Tiba-tiba, ia merasa seolah sedang diinterogasi. Ia melanjutkan, "Kami sama sekali tidak mengenal siapa mereka. Kami hanya melihat sulaman tulisan 'Sekte Awan Langit' pada pakaian mereka. Namun, dalam sekilas pandang yang tidak disengaja, saya melihat wajah yang terasa akrab namun juga asing..."
Menurut penuturan He Chunrou, setengah bulan sebelum kejadian, ia harus membantu orang tuanya mengumpulkan bijih mineral nadi api. Selama beberapa hari itu, ia selalu bangun pagi-pagi sekali. Suatu hari, saat ia baru saja melangkah keluar dari rumah, ia tiba-tiba merasa seolah sedang diperhatikan oleh sesuatu. Saat itu, ia hanya melirik sekilas ke kedai teh di seberang jalan, lalu bergegas pergi.
Beberapa hari berikutnya, setiap kali ia melangkah keluar rumah, perasaan diawasi itu muncul kembali. Kali ini, ia memutuskan untuk menuruti perasaannya dan pergi ke kedai teh tersebut. Begitu masuk, ia menemukan keanehan; pemilik dan pelayan kedai tersebut adalah orang-orang baru. Saat ia bertanya, pemilik kedai mengaku bahwa pemilik sebelumnya sedang kekurangan uang sehingga menjual kedai itu dengan harga murah.
He Chunrou mengenal pemilik lama kedai itu, jadi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dan akhirnya memesan beberapa cangkir teh. Saat itulah, pelayan yang mengantarkan teh kepadanya bersikap angkuh dan penuh penghinaan, yang memicu konflik kecil di antara mereka.
Beberapa hari kemudian, saat ia kembali ke kedai itu, pelayan yang sempat berselisih dengannya sudah tidak ada. Pemilik kedai hanya berkata singkat bahwa pelayan tersebut telah berhenti. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan pelayan itu tepat pada hari kafilah keluarganya diserang.
Setelah mendengar cerita He Chunrou, Xu Qing segera menemukan sebuah petunjuk. Ia membuat asumsi berani bahwa pelayan yang menghilang itu adalah murid Sekte Awan Langit, dan keluarga He mungkin sudah lama diincar oleh pihak lain. Sebenarnya ada satu kecurigaan lagi: bagaimana murid-murid Sekte Awan Langit bisa mengetahui rute perjalanan kafilah keluarga He dan melakukan pengintaian sebelumnya? Mungkinkah...
Setelah mendapatkan petunjuk, arah penyelidikan pun menjadi jelas. Selama lima hari berikutnya, mereka berempat berjalan perlahan. Jika bukan karena harus mempertimbangkan kondisi orang cacat dan gadis yang belum bisa terbang, dengan kekuatan tingkat pembangunan fondasi yang dimiliki Xu Qing dan Ci Jing, mereka seharusnya sudah sampai di Kota Cangfeng.
Sebelum mencapai tingkat pembangunan fondasi, seseorang tidak bisa mengendalikan energi atau terbang menggunakan alat spiritual. Berbicara soal itu, justru karena kehadiran He Jianwu dan He Chunrou, setiap kali Xu Qing ingin melakukan "itu", ia selalu ditolak oleh Ci Jing. Namun, Xu Qing yang sedang membara tentu tidak memedulikan hal tersebut.
Di bawah langit malam yang sunyi, keduanya beradu kasih di atas hamparan rumput. Karena mempertimbangkan kehadiran orang lain, Ci Jing tidak berani mengeluarkan suara nyaring. Namun, meski berusaha ditekan, alunan musik yang merdu dan syahdu tetap saja merambat ke telinga kakak beradik itu.
Di tengah malam yang sunyi, He Chunrou yang tiba-tiba mendengar suara tersebut langsung merasa wajahnya memerah dan jantungnya berdebar kencang. Ia ingin menutup telinga agar tidak mendengar suara yang memalukan itu, tetapi entah mengapa, ia merasa setiap desah tertahan dari Kakak Ci Jing seperti jemari lentik yang memetik dawai hatinya.
Di sisi lain, saat He Jianwu mendengar suara yang tertahan namun merdu itu, perutnya justru terasa panas, dan bahkan bagian bawah tubuhnya yang lumpuh seolah merasakan sedikit gerakan... Sungguh sebuah keajaiban medis.
...
Di Sekte Seratus Penempaan yang letaknya cukup jauh dari posisi Xu Qing, di sebuah ruang latihan yang luas, seorang wanita perlahan membuka matanya. Tatapan matanya sangat dingin; matanya dalam dan terang, seolah menyimpan ribuan rahasia di dalamnya.
Orang ini adalah Ci Shu yang telah tiba di Sekte Seratus Penempaan. Saat ini, seluruh tubuh Ci Shu sedingin es, bahkan parasnya pun tampak sangat berbeda. Aura yang terpancar dari alisnya terasa sunyi, angkuh, dan dingin. Ia sama sekali tidak lagi terlihat lincah seperti dulu, kini setiap gerak-geriknya memancarkan kewibawaan seseorang yang terbiasa berada di posisi tinggi. Bahkan ketua Sekte Seratus Penempaan pun akan merasa gentar saat melihatnya.
Ci Shu menatap ke arah lokasi Sekte Penempa Senjata dari kejauhan dan bergumam, "Suamiku, Xu Qing, mungkinkah karena dirimu aku memperoleh tubuh tiada tara yang melawan takdir ini, sehingga aku bisa membangkitkan ingatan kehidupan masa laluku lebih awal?"
Sejak Ci Shu terbangun, ia semakin merasakan keanehan pada diri Xu Qing. Mulai dari akar spiritual Xu Qing yang tiba-tiba menembus belenggu, hingga akar spiritualnya yang kini mencapai tingkat atas. Terakhir, ia teringat suatu hari ketika Xu Qing secara khusus menyiapkan banyak tanaman obat dan anggur spiritual untuk membuka meridiannya—yang tentu saja didapatkan Xu Qing dari Jin Fufu.
Pada hari itu, ia tiba-tiba merasakan tubuhnya sangat dingin. Saat itu ia belum membangkitkan ingatan masa lalunya dan tidak tahu apa yang terjadi. Penjelasan Xu Qing saat itu sangat konyol: "Kamu hanya terlalu banyak minum anggur, rakus, jadi kamu merasa tubuhmu kedinginan. Istirahatlah yang cukup, maka akan baik-baik saja."
Saat itu, Ci Shu tidak tahu bahwa tubuhnya telah diubah setelah hari itu. Inilah kunci mengapa ia bisa membangkitkan ingatan masa lalunya lebih awal. Tubuh Es Murni (Zhen Bing Ling Ti), tubuh yang melawan takdir seperti ini, bahkan di kehidupan masa lalunya adalah jenis tubuh yang sangat ia idamkan.
Di kehidupan masa lalunya, ia adalah Bing Qingxue, sang Perawan Suci dari Wilayah Suci Es dan Salju, salah satu dari lima tanah suci di Benua Huang. Bertahun-tahun yang lalu, ia berpartisipasi dalam proyek benih reinkarnasi yang dipimpin oleh Kekaisaran Kaisar Dewa. Proyek ini bertujuan untuk menempa tujuh tingkatan kultivasi—dari tingkat pemurnian Qi hingga transformasi dewa—ke titik ekstrem setelah reinkarnasi dan membangkitkan ingatan masa lalu, demi tujuan untuk naik ke Alam Spiritual.
Tujuh tingkatan dunia kultivasi: Pemurnian Qi, Pembangunan Fondasi, Pembentukan Inti, Bayi Yuan, Roh Yuan, Penempaan Dewa, dan Transformasi Dewa.
Setelah mencapai tingkat Transformasi Dewa, seseorang akan memadatkan inkarnasi jiwa untuk berlatih bersama, dengan tujuan menyatu dengan tubuh utama untuk menembus ke tingkat Integrasi. Tingkat Transformasi Dewa hanya memungkinkan jiwa untuk naik ke Alam Spiritual, namun kelemahannya adalah jika tubuh fisik hancur, jiwa akan terhapus. Hanya dengan menembus ke tingkat Integrasi, penyatuan fisik dan jiwa, seseorang dapat membawa tubuh fisik dan jiwa untuk naik bersama ke Alam Spiritual.