Bab Empat Puluh Sembilan: Wang Meng yang Ditinggalkan

A Cultivação Começa com a Deusa que Desceu do Céu Não comer melancia. 2585kata 2026-08-03 00:31:59

Melihat Wang Qian yang sedang duduk di kursi utama sambil menutupi wajahnya dan menangis, orang-orang di tempat itu langsung tahu bahwa urusan tersebut sudah pasti berhasil.

Jika keluarga Wang tidak ikut serta dalam tindakan kali ini, harapan mereka untuk sukses sangatlah kecil. Bagaimanapun, faksi-faksi dari berbagai keluarga bangsawan dan sekte sudah lama mengetahui bahwa di dalam istana kerajaan terdapat seorang sesepuh pelindung yang kekuatannya telah mencapai alam Yuan Ying.

Namun, jika mendapat dukungan dari keluarga Wang, situasinya akan menjadi jauh lebih sederhana. Pasalnya, di belakang keluarga Wang berdiri Sekte Yuntian, sebuah kekuatan raksasa di dinasti tersebut. Banyak anggota keluarga Wang yang memegang posisi penting di Sekte Yuntian. Bisa dikatakan, keluarga Wang hanyalah salah satu keluarga bangsawan duniawi yang dikendalikan oleh Sekte Yuntian.

Sementara itu, Wang Qian hanyalah boneka yang ditempatkan oleh Sekte Yuntian.

Tujuan sebenarnya dari mereka semua adalah demi Sekte Yuntian itu sendiri.

Di bawah bujukan orang-orang, Wang Qian akhirnya menghentikan 'tangisannya'. Ia memberikan isyarat dengan matanya kepada pelayan, lalu Wang Meng sekali lagi diangkat dan dibawa keluar dari aula besar. Setelah itu, ia bertepuk tangan dua kali, dan seorang pemuda langsung berjalan keluar dari balik lorong pintu masuk.

Bagai pohon giok yang diterpa angin, bagai rembulan cerah di tengah angin sejuk. Wajahnya bagaikan mahkota giok, dan sepasang matanya sedalam jurang.

Ternyata ada seseorang di antara hadirin yang mengenali pemuda tersebut, lalu berseru kaget: "Ternyata dia adalah Tuan Muda Wang Churan!"

Mendengar nama Wang Churan, semua orang yang hadir merasa sangat terkejut.

Dia adalah murid langsung dari tetua agung Sekte Yuntian, yang tidak lain adalah murid dari kultivator alam Yuan Ying tersebut.

Alam Jiedan adalah proses memadatkan qi spiritual yang bergejolak di dalam tubuh setelah mencapai alam Zhuji menjadi sebuah yuan dan yang menyerupai pil obat. Kultivator dengan bakat yang berbeda akan memadatkan yuan dan dengan warna yang berbeda pula, yang secara garis besar dibagi menjadi lima jenis.

Dari yang tertinggi hingga terendah adalah: Pil Emas, Pil Ungu, Pil Jingga, Pil Merah, dan Pil Cyan.

Kultivator dengan bakat biasa biasanya hanya mampu memadatkan Pil Cyan atau Pil Merah. Mereka yang menghasilkan Pil Cyan sudah tidak memiliki harapan untuk mencapai alam Yuan Ying dalam hidup ini, sementara Pil Merah masih menyisakan sedikit peluang hidup. Inilah kenyataan yang dialami oleh sebagian besar kultivator alam Jiedan. Di sisi lain, tetua agung Sekte Yuntian yang berada di alam Yuan Ying memiliki Pil Jingga, itulah sebabnya peluangnya untuk menerobos ke alam Yuan Ying jauh lebih besar.

Adapun Pil Emas, itu adalah eksistensi yang hanya ada dalam legenda, jadi untuk sementara tidak perlu dibahas.

Bisa dikatakan, mereka yang berhasil memadatkan Pil Ungu sudah dapat dianggap sebagai eksistensi yang tak terkalahkan di alam Jiedan.

Melihat Wang Churan, Wang Qian langsung memasang ekspripsi menjilat, bagaikan seorang budak yang sedang mencari muka.

Melihat pemandangan ini, orang-orang menunjukkan ekspresi yang beragam, namun tidak ada satupun yang mengatakan apa pun.

Secara lahiriah, Wang Qian ini adalah ayah kandung Wang Churan, tetapi identitas aslinya menyimpan cerita lain.

Bagi mereka yang tahu, Wang Churan ini adalah sosok reinkarnasi. Pada usia sepuluh tahun, ia telah membangkitkan ingatan kehidupan sebelumnya dan menunjukkan kekuatan yang luar biasa. Dikabarkan bahwa orang ini dikaruniai bakat alami yang istimewa; dalam kurun waktu sepuluh tahun singkat, ia telah berkultivasi hingga alam Jiedan, bahkan berhasil memadatkan Pil Ungu dari kelima jenis pil tersebut.

Bahkan sang tetua agung yang biasanya tidak pernah ikut campur urusan duniawi secara khusus menerima Wang Churan sebagai murid langsungnya, membuat keluarga Wang pun turut mendapatkan perlindungan dari Sekte Yuntian.

Wang Churan mengabaikan rasa terkejut dari orang-orang terhadap dirinya, bahkan terhadap ayah kandungnya di kehidupan ini pun ia menunjukkan sikap acuh tak acuh. Ia berjalan lurus menuju kursi utama, lalu duduk dengan tenang.

Sikap tersebut tampak sangat tenang. Para perwakilan menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda, namun tidak seorang pun yang berani mempertanyakan kedudukannya.

Wang Churan tidak hanya dikaruniai bakat alami, tetapi ia juga merupakan murid langsung dari tetua agung Sekte Yuntian. Yang lebih mengerikan lagi adalah kekuatan di belakangnya, yang dikabarkan berkaitan dengan Tanah Suci Huangzhou yang jauh di sana.

Wang Churan yang duduk di kursi utama tidak berbicara apa-apa, membuat semua orang menahan napas dan menunggu titahnya dengan tenang.

"Dalam peperangan kali ini, aku akan meninggalkan seorang pengawal untuk mendampingi dan membantu kalian."

Begitu suara itu jatuh, secercah cahaya keemasan seketika menerobos masuk ke dalam aula besar. Cahaya keemasan itu bahkan hanya memancarkan secuil auranya saja, namun sudah cukup membuat orang-orang yang hadir berseru kaget karena ngeri.

Aura ini, jika dikatakan sebagai alam Yuan Ying, tampaknya justru terasa jauh lebih menakutkan.

Desis~!

Orang-orang yang hadir sontak menghirup udara dingin.

Tidak lama kemudian, mereka pun mendongak dan menatap ke arah kursi utama, di mana seorang pria berbalut jubah hitam berdiri di belakang Wang Churan.

Pria itu berdiri tegak bagaikan pohon pinus, menyerupai sebuah patung. Auranya terkendali di dalam, namun orang tetap bisa merasakan gelombang niat membunuh yang belum pernah ada sebelumnya terpancar dari tubuhnya.

Seketika itu pula, yang terdengar di dalam aula hanyalah suara degup jantung orang-orang yang berdebar cemas.

Setelah sekian lama, Wang Churan perlahan-lahan membuka suara: "Karena orangnya sudah datang, aku tidak akan tinggal di sini lagi."

Setelah berkata demikian, ia bangkit hendak pergi. Tepat setelah melangkah satu langkah, Wang Churan perlahan menoleh ke belakang, menatap pria berjubah hitam itu dan berkata: "Setelah urusan di sini selesai, pergilah bertugas di kediaman bagian dalam."

Mendengar hal itu, pria berjubah hitam tersebut langsung diliputi kegembiraan luar biasa. Ia langsung berlutut dengan kedua lututnya di hadapan Wang Churan, suaranya terdengar penuh emosi.

"Terima kasih atas anugerah Agung, hamba pasti akan mengabdi dengan segenap jiwa raga."

Para perwakilan keluarga bangsawan yang melihat pemandangan ini tertegun di tempat, menatap pemandangan tersebut dengan rasa tidak percaya.

Kekuatan yang begitu hebat ternyata hanyalah seorang pelayan bagi Wang Churan. Identitas asli pemuda itu benar-benar tidak dapat ditebak oleh siapapun. Beberapa orang yang pikirannya cerdas sudah mulai bergerak diam-diam mendekati posisi Wang Qian, berniat untuk menjalin hubungan baik dengannya.

Keluarga Wang mampu memiliki tokoh seperti ini membuat mereka merasa sangat iri. Saat ini adalah waktu terbaik untuk menjilat; harus diketahui bahwa jika seseorang berhasil mendekati kekuatan keluarga tingkat tinggi, bahkan meskipun hanya sisa-sisa remah dari celah kuku orang lain, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ayam dan anjing ikut naik ke surga bersama mereka.

Wang Churan sedikit menganggukkan kepalanya, lalu berjalan dengan anggun keluar aula menuju ke tempat yang luas.

Kedua kakinya dengan ringan menyentuh tanah, dan seketika itu juga tubuhnya berubah menjadi secercah cahaya keemasan yang terbang meninggalkan aula keluarga Wang.

Setelah Wang Churan pergi, pria berjubah hitam itu turut bersuara dengan tenang: "Saat perang penentuan tiba, beri tahu aku lagi."

Setelah berucap demikian, sosoknya pun langsung lenyap dari dalam aula. Hingga beberapa saat kemudian, barulah semua orang bisa bernapas lega.

"Senior barusan bukanlah kultivator Yuan Ying biasa."

"Betul, bahkan saat menghadapi tetua agung Sekte Yuntian pun, aku tidak pernah merasakan tekanan sebesar ini."

Sementara itu, di luar kota tempat keluarga Wang berada, dua orang pelayan keluarga Wang sedang memapah Wang Meng yang telah menjadi manusia tak berguna sambil berjalan dan mengeluh: "Kata ketua kluh kita harus menangani bajingan ini semaunya, lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Ya tentu saja dihabisi. Tapi mengingat keparat ini sudah menjadi orang cacat, biarkan saja dia hidup beberapa hari lagi mengikuti takdirnya... Cukup bawa dia ke paviliun di depan sana dan tinggalkan di sana."

Beberapa saat kemudian, kedua pelayan itu membawa Wang Meng ke paviliun tersebut. Salah satu dari mereka menatap Wang Meng sambil menghela napas sedih: "Duh, menurutmu sebenarnya ada apa dengan dunia ini? Wang Meng ini sudah cacat dan sama sekali tidak ada urusannya dengan sang putri sulung di ibu kota, kenapa mereka harus berkata seperti itu?"

Pelayan yang lain menjawab: "Hal seperti ini saja kau tidak mengerti. Ini namanya memanfaatkan barang bekas. Peduli amat apakah itu perbuatan sang putri sulung atau bukan, asalkan ada alasan yang sah, itu sudah cukup. Lagipula, inilah alasan mengapa ketua klan membiarkan Wang Meng hidup lebih lama."

"Duh, kasihan sekali mantan tuan muda agung ini, sekarang justru diperlakukan bagaikan sampah yang dibuang begitu saja."

"Sudahlah, kau mengasihani dia, tapi siapa yang mau mengasihani dirimu?"

"Sudahlah, ayo pergi. Biarkan dia membusuk di sini mengikuti takdirnya."

Pada saat ini, hati Wang Meng telah mati rasa. Ia tadinya menyangka bahwa setelah ditemukan dan dikembalikan ke kediaman, keluarga atau sektenya akan membalaskan dendam dan mengembalikan harga dirinya. Tanpa diduga, ia justru bertepatan dengan gejolak dinasti, dan dirinya malah dijadikan alat bagi kebangkitan keluarga Wang.

Terlebih lagi, ayah kandungnya sendiri telah mengatakan satu kalimat kepadanya sebelum ini: bahwa ia bukanlah anak kandung Wang Qian. Ibunya mengandung dirinya karena berselingkuh di luar, itulah sebabnya Wang Qian selalu memendam kebencian mendalam terhadapnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa keluarga Wang jelas-jelas memiliki pengaruh yang tidak kecil di Sekte Yuntian, namun dirinya tidak pernah sekalipun dipandang dengan sebelah mata oleh orang-orang tersebut.

Pada detik ini, kedua mata Wang Meng memerah, dan pikirannya belum pernah sedemikian jernih.

Selain keluarga Wang, orang yang telah mengubahnya menjadi wujud setengah manusia setengah hantu ini adalah orang yang sedang menjalani kesengsaraan petir hari itu!

Ia tidak tahu nama orang itu, namun wajah Xu Qing terpatri begitu dalam di dalam ingatan jiwanya bagaikan ukiran pisau pada pahatan batu.