Bab 34 Wajah Jiang Meizhi Berubah
Halaman (1/3)
“Eh, Daguo, kau sudah pulang? Berapa uang yang kau dapat dari menjual sayur? Pinjami sedikit adikmu. Dia mau membeli sepatu.” Nyonya Jiang melambaikan tangan kepada Jiang Daguo.
“Kau bahkan tidak punya uang untuk membeli sepatu?” Jiang Daguo memasukkan karung anyaman yang sudah kosong ke rak di sudut rumah, lalu melirik Jiang Meizhi dengan dingin.
“Bagaimana mungkin adikmu tidak punya uang? Kondisi keluarganya saja setara dengan sepuluh orang sepertimu. Dia hanya sedang kekurangan uang untuk sementara. Lagi pula, dia hanya meminjam, bukan tidak akan mengembalikannya.” Nyonya Jiang melotot kepada Jiang Daguo.
“Awalnya aku tidak ingin membeli sepatu. Kemarin, saat bersepeda, pedalnya menggores lapisan kulit hak sepatu putihku. Kalau dipakai di kantor brigade desa masih tidak apa-apa, tetapi kalau dipakai bekerja di kota, bukankah aku akan ditertawakan?” Jiang Meizhi mengerutkan kening.
“Bukankah Mingcai memberimu uang untuk membeli sepatu?” Jiang Daguo berjalan ke meja, menuangkan secangkir teh dingin untuk dirinya sendiri, lalu bertanya dengan wajah muram.
“Daguo, apa kau memakan mesiu di luar sana? Baru masuk rumah sudah memarahi adikmu? Apa begini caranya seorang kakak memperlakukan adiknya? Dia hanya meminjam sedikit uang untuk membeli sepatu, tetapi kau menegur Meizhi seperti sedang memarahi cucumu sendiri! Dia adik kandungmu!” Nyonya Jiang menepuk pahanya dengan marah.
“Ibu, kau selalu memanjakannya. Cepat atau lambat dia akan mendapat masalah besar.” Jiang Daguo meletakkan mangkuk tehnya dan duduk dengan kesal di kursi.
“Adikmu sudah pintar sejak kecil dan tidak pernah dirugikan. Bagaimana mungkin dia mendapat masalah besar? Kalaupun mendapat masalah besar, itu pasti masalah besar yang membawa keberuntungan, bukan malapetaka!” Nyonya Jiang membela putrinya sambil merangkul Jiang Meizhi.
“Kak, kau tidak perlu mengkhawatirkan urusanku. Aku tidak akan dirugikan. Aku juga akan menjalani kehidupan yang baik. Kelak aku akan membawa kalian tinggal di Kota A.” Jiang Meizhi mengangkat alis dengan wajah penuh semangat.
“Baik, baik, kita pergi ke Kota A. Aku sudah tidak ingin tinggal sehari pun lagi di pedesaan bobrok ini.” Nyonya Jiang menggenggam tangan Jiang Meizhi dengan gembira, seolah-olah mereka bisa pindah rumah esok hari.
Jiang Daguo menggelengkan kepala. Akhirnya, dia tidak tahan lagi dan berkata terus terang, “Meizhi, ketika aku mengantar sayur ke Kota A, aku melewati Biro Urusan Sipil. Aku masuk dan bertanya. Di sana sama sekali tidak ada kepala seksi bernama Wu Deyuan. Meizhi, kau telah ditipu!”
Jiang Daguo mengira kata-katanya akan membuat Jiang Meizhi dan ibunya panik, tetapi kedua perempuan itu hanya tersenyum.
Jiang Meizhi berkata sambil tersenyum, “Kak, aku tahu kau mengkhawatirkanku dan bermaksud baik, tetapi kau tidak boleh berbohong. Wu Deyuan jelas-jelas kepala seksi di Biro Urusan Sipil. Mengapa kau bilang dia tidak bekerja di sana?”
“Aku sudah bertanya. Orang-orang di sana mengatakan tidak ada orang bernama Wu Deyuan,” kata Jiang Daguo dengan suara berat.
“Daguo, kau benar-benar masuk ke Biro Urusan Sipil untuk bertanya? Apa kau mengenal orang di sana?” Nyonya Jiang mengangkat alis dengan curiga.
“Tentu saja. Aku mengenal seorang wakil kepala bagian di Biro Urusan Sipil. Kudengar, jabatan wakil kepala bagian lebih tinggi daripada kepala seksi,” lanjut Jiang Daguo.
Alis Jiang Meizhi terangkat. Dengan wajah masam, dia mendengus, “Kak, apa kau iri kepadaku sehingga berkata begitu? Aku adikmu. Kalau hidupku sudah baik, tentu aku akan membantumu. Perlukah kau mengatakan hal-hal yang begitu menyakitkan?”
“Benar! Kau keterlaluan!” Nyonya Jiang maju dan memukul Jiang Daguo.
Jiang Daguo menatap ibu dan anak itu, lalu menghela napas. Dia mengeluarkan tanda terima pengiriman sayur dari saku bajunya dan menunjukkannya kepada mereka.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Lihat, apa ini?”
Nyonya Jiang tidak bisa membaca. Dia hanya melihat selembar kertas putih dengan cap bundar di atasnya.
“Apa ini, Daguo?”
Jiang Meizhi mengenali beberapa aksara. Dia membacanya satu per satu, “Hari ini menerima terong tiga kati tiga liang, cabai dua kati satu liang, buncis empat kati, kacang panjang tiga kati lima liang, mentimun lima kati enam liang. Kak, untuk apa kau memperlihatkan daftar kebutuhan dapur umum ini kepadaku?”
“Siapa yang menyuruhmu melihat tulisan itu? Lihat capnya!” Jiang Daguo kembali menyodorkan kertas itu ke hadapan Jiang Meizhi.
“Biro Urusan Sipil Kota A... Daguo, kau benar-benar pernah masuk ke Biro Urusan Sipil?” Jiang Meizhi membelalakkan mata karena terkejut.
Jiang Daguo menarik kembali kertas itu dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku.
“Memangnya kakakmu akan membohongimu?” kata Jiang Daguo dengan wajah muram. “Wakil Kepala Bagian Hu dari Biro Urusan Sipil sudah membantuku bertanya ke berbagai tempat. Sama sekali tidak ada orang bernama Wu Deyuan yang bekerja di sana. Bahkan di kantor cabang bawahannya pun tidak ada orang dengan nama itu! Selain itu, Biro Urusan Sipil tidak mengurus pemindahan kartu keluarga. Untuk memindahkan kartu keluarga, kau harus pergi ke kantor polisi setempat!”
Wajah Jiang Meizhi perlahan berubah.
Nyonya Jiang juga mulai panik. “Daguo, mungkinkah dia bekerja di lembaga lain, bukan di Biro Urusan Sipil? Apa kau sudah meminta seseorang memeriksa lembaga-lembaga lain?”
“Ibu, aku tidak mengenal orang di lembaga lain. Bagaimana aku bisa memeriksanya?”
“Bukankah kau bisa meminta bantuan wakil kepala bagian itu untuk memeriksanya?” Nyonya Jiang menghentakkan kaki dengan cemas.
“Dia hanya bisa memeriksa lembaganya sendiri. Bagaimana mungkin dia memeriksa urusan lembaga lain? Itu seperti Ibu bisa menanyakan berapa banyak beras yang ada di rumah Meizhi, tetapi tidak bisa mengetahui berapa banyak beras di rumah anak Bibi Gui. Urusan keluarga lain tidak bisa ditanyakan. Mereka juga tidak akan membiarkan orang menyelidiki, karena urusan keluarga lain merupakan rahasia.” Jiang Daguo menggelengkan kepala dan menjelaskan.
“Aduh, jangan-jangan dia benar-benar penipu? Meizhi, bagaimana ini?” Impian Nyonya Jiang untuk hidup di kota pun hancur. Dia mondar-mandir sambil menghentakkan kaki.
“Untung kita mengetahui lebih awal bahwa orang itu penipu. Kalau tidak, Meizhi sudah memberinya enam ribu yuan. Kau mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melunasinya.” Jiang Daguo menggelengkan kepala.
Tubuh Jiang Meizhi bergetar. Dia tiba-tiba berdiri, tidak berkata sepatah kata pun, lalu berjalan keluar rumah. Dia menaiki sepeda dan langsung pergi.
Nyonya Jiang memanggilnya, “Meizhi, kau langsung pulang? Kau pergi tanpa makan?”
Hati Jiang Meizhi sedang kacau dan gelisah. Mana mungkin dia sanggup makan?
Sepedanya pun dikayuh dengan oleng.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Di jalan, dia berpapasan dengan Liu Xihua yang sedang pulang dari ladang. Jiang Meizhi bahkan tidak menyapanya dan langsung melaju.
Liu Xihua memanggilnya, tetapi Jiang Meizhi sama sekali tidak menoleh.
“Aneh, ada apa dengan Meizhi? Apa dia dipukuli seseorang?” Liu Xihua menggelengkan kepala, lalu memanggul cangkul dan pulang.
Melihat Jiang Daguo juga sudah kembali, Liu Xihua berkata, “Mengapa Meizhi tadi pergi dengan marah sambil mengayuh sepeda? Apa yang terjadi?”
Nyonya Jiang melirik tajam kepada Jiang Daguo, memberi isyarat agar dia tidak berkata apa-apa.
Jiang Daguo pun diam. Dia hanya berkata, “Katanya dia teringat ada urusan di rumah, jadi pulang. Mungkin memang ada urusan.”
Jiang Meizhi selalu angkuh dan jarang menghiraukan Liu Xihua. Liu Xihua juga hanya bertanya sekadarnya. Melihat wajah Jiang Daguo tenang, dia tidak bertanya lagi.
Dia hanya berkata, “Daguo, apakah semua sayur yang kau bawa ke kota sudah terjual?”
Begitu membicarakan bisnis sayur, wajah Jiang Daguo langsung tampak gembira. “Oh, sudah terjual. Bukan hanya terjual, besok aku juga harus mengantarkan sejumlah sayur lagi ke sana.”
Jiang Daguo menyerahkan daftar jumlah sayur yang diperlukan kepada Liu Xihua.
Setelah mengetahui bahwa sayur-sayur itu dijual kepada Biro Urusan Sipil, Liu Xihua sangat gembira.
Itu pelanggan besar. Mereka membeli semuanya sekaligus.
Namun, ketika melihat daftar pesanan untuk esok hari, dia mulai kebingungan.
“Hah? Mereka masih membutuhkan buncis? Di rumah kita hanya ada tiga petak buncis, dan kemarin semuanya sudah dipetik. Kalau menunggu tumbuh lagi, mungkin masih perlu beberapa hari. Mentimun juga sudah tidak ada. Cabai masih tersisa sedikit, tetapi sepertinya tidak akan cukup. Kacang panjang juga sudah habis. Terong... semua terong baru saja kupetik, dan hanya tersisa tiga buah.”
Mendengar mereka membicarakan pengiriman sayur, Nyonya Jiang teringat bahwa uangnya belum diterima. Dia pun bertanya, “Daguo, bagaimana dengan uang hasil penjualan sayur?”
Halaman (3/3)