Bab Lima Puluh Empat: Makanan Kiriman Adik-Adik Perempuan
[Ibu pandai membuat tapai ketan dan onde-onde, bisa membuat tapai serta onde-onde lalu membawanya ke persimpangan jalan di dekat sawah untuk dijual sebagai sarapan, juga bisa pergi ke pasar untuk berjualan jajanan ringan saat akhir pekan.]
[Sekarang didukung untuk membuka usaha sampingan, jadi kita bisa berdagang kecil-kecilan secara terang-terangan.]
Jiang Xiaoxiao teringat akan keahlian Liu Xihua.
Liu Xihua tidak ingin orang tuanya terus-menerus menceramahi Jiang Daguo. Lagi pula, kehidupan mereka memang sedang berkembang pesat. Ia buru-buru berkata, "Ayah, Ibu, sekarang ada anjuran untuk membuka usaha sampingan. Tidak apa-apa jika kita tidak memiliki lahan pertanian. Selain Daguo mengantar sayur, aku juga bisa membuat sarapan untuk dijual."
"Kamu sedang mengandung, bagaimana bisa bekerja dengan begitu melelahkan?" Ibu Liu menggelengkan kepala.
"Aku... aku akan membuatnya agar nanti bisa dibawa oleh Daguo untuk dijual," kata Liu Xihua.
Jiang Daguo melirik Liu Xihua, lalu mengangguk, "Benar, Xihua tidak perlu keluar rumah, biarkan aku saja yang pergi bekerja di luar."
Melihat keputusan mereka yang sudah bulat serta kemesraan di antara suami istri itu, keluarga Liu merasa tidak enak untuk berkata apa-apa lagi.
Pasangan suami istri itu sudah berusia kepala tiga dan biasanya bertindak cukup bijaksana, semoga mereka bisa melewati masa-masa sulit ini.
Namun, barang-barang yang dibawa Jiang Daguo pindah ke rumah regu hanya sebatas pakaian dan selimut, tanpa ada kompor, periuk, mangkuk, maupun sumpit.
Ibu Liu merasa kasihan pada Liu Xihua, jadi ia memberikan satu set peralatan dapur kepada mereka, lalu meminta Liu Changping mengantar mereka ke rumah regu dengan traktor.
Begitu pintu dibuka, Liu Xihua melihat tempat tinggal yang meskipun tampak sederhana namun bersih dan tertata rapi. Ia mengangguk puas, "Lumayan."
Jiang Xiaoxiao yang melihat tempat tinggal baru itu juga bertepuk tangan sambil mengeluarkan suara riang gembira untuk menyatakan pendapatnya.
Liu Changping mengamati sekeliling dengan heran, "Daguo, lumayan juga ya, tidak disangka kamu ternyata cukup pandai berbenah."
Sebuah gudang lapang yang tadinya sudah usang kini disekat menjadi tiga ruangan kecil oleh Jiang Daguo menggunakan bilah-bilah sorgum yang dianyam menjadi dinding.
Di dalam ruangan terdapat meja dan tempat tidur, meskipun sederhana namun terasa hangat.
"Kakak, setelah Xihua dan putrinya tertata hidupnya, aku akan langsung mulai mencari uang dan berusaha agar kami bisa segera pindah," janji Jiang Daguo kepada Liu Changping.
"Percuma bilang begitu padaku, tinggal di mana pun kamu tidak ada hubungannya denganku. Kamu harus memberikan jaminan kepada Xihua dan anak-anaknya. Apa kamu tega melihat mereka menderita mengikutimu sepanjang tahun?" ucap Liu Changping dengan nada suara berat.
Jiang Daguo menatap Liu Xihua, lalu memandang Jiang Xiaoxiao yang sedang berpegangan pada kursi kecil untuk belajar berdiri, kemudian mengangguk sungguh-sungguh, "Tentu saja tidak, aku tidak tega membiarkan mereka menderita mengikutiku."
Liu Xihua mendorong Liu Changping pelan, "Sudahlah, Kak, jangan banyak omong. Memangnya tidak ada pekerjaan di ladang?"
Mengingat apa yang harus dikatakan sudah disampaikan, Liu Changping pun berhenti membahasnya, "Baiklah, jalani hidup kalian baik-baik."
Ia mengelus kepala Jiang Xiaoxiao lalu pergi.
Setelah Jiang Daguo menggendong Jiang Xiaoxiao dan mengajak Liu Xihua berkeliling melihat rumah baru mereka, ia pun memaparkan rencana selanjutnya.
"Kita masih punya beberapa ratus yuan di tangan, cukup untuk mengatur kelangsungan hidup kita ke depan. Meskipun tidak punya ladang dan tidak bisa memetik sayur lagi, aku bisa pergi membeli pasokan dari regu tetangga. Selisih harganya berlipat ganda. Selain dikirim ke kantor urusan sosial, aku juga bisa mengantarnya ke pasar sayur," ujar Jiang Daguo.
Selama hari-hari mengantar sayur, ia sempat menyempatkan diri mampir ke pasar sayur di Kota A dan mendapati ada banyak orang desa yang membawa sayuran segar untuk dijual.
Warga kota sangat menyukai sayuran segar. Bayam, polong-polongan, dan batang bawang putih yang baru dipetik bisa dijual dengan harga lima hingga enam kali lipat lebih tinggi dari biasanya.
Liu Xihua berkata, "Kamu belilah lebih banyak beras saat pulang nanti, aku akan membuat tapai ketan agar bisa kamu bawa sekalian untuk dijual ke Kota A."
Tapai ketan buatan Liu Xihua dibuat dengan cara mencampurkan ragi ke dalam nasi yang telah dikukus matang. Jika dibiarkan selama satu atau dua hari di musim panas, atau dua hingga tiga hari di musim dingin, nasi tersebut akan berubah menjadi tapai ketan manis.
Jika diencerkan dengan air mendidih lalu ditambahkan onde-onde kecil atau telur, jadilah sup bola-bola tapai berkuah telur.
Harganya hanya beberapa sen semangkuk.
Tentu saja, tapai ketan asli tanpa dimasak yang tidak dicairkan pun tetap ada yang membelinya.
Harganya empat puluh sen per kati.
Jiang Daguo memegang pundak Liu Xihua, "Hanya saja, dengan begitu aku akan sibuk di luar seharian, dan di rumah hanya ada kamu seorang diri yang menjaga Xiaoxiao."
"Ini bukan masalah besar, Xiaoxiao anak yang penurut kok," senyum Liu Xihua.
[Benar kan, aku anak penurut] Jiang Xiaoxiao mengangguk serius.
"Kakak, Kakak Ipar?" Suara Jiang Meilan terdengar dari luar rumah.
"Kami di sini, Meilan!" Liu Xihua melangkah keluar.
Jiang Daguo yang sedang menggendong Jiang Xiaoxiao turut mengikuti dari belakang.
Di ambang pintu, Jiang Meilan menjulurkan lehernya ke dalam ruangan, sementara di belakangnya tampak Jiang Meihua.
Di tangan kedua gadis itu, yang satu membawa keranjang berisi sayur, sedangkan yang seorang lagi memanggul karung kain di punggungnya.
Karung tersebut tampak berisi biji-bijian, beratnya diperkirakan mencapai setidaknya dua puluh kati.
"Kalian ini..." Liu Xihua mengerjap bingung.
"Sayuran ini kami petik untuk kalian, kalau beras di punggung Kakak Kedua ini..." Jiang Meilan berkata sambil terkekeh, "Sayur ini baru saja dipetik dari ladang loh, sengaja tidak ketahuan Ayah dan Ibu."
"Beras ini juga diam-diam kuambil dari gentong beras," kata Jiang Meihua sambil tersenyum tipis.
Jiang Daguo menurunkan Jiang Xiaoxiao dan hendak menyambut barang-barang tersebut.
Jiang Meilan melambaikan tangan, "Tidak usah, tidak usah! Kakak gendong Xiaoxiao saja, biar kami yang menaruhnya... barang-barangnya ditaruh di mana?"
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar sambil menengok ke kanan dan ke kiri, "Bersih juga ya, lumayan luas malahan, jauh lebih luas daripada kamarku. Kakak, Kakak Ipar, aku mau ikut pindah ke sini juga boleh ya."
Jiang Daguo memasang wajah kaku, "Tempat ini tidak cukup untuk menampung kalian."
"Aku bisa tidur bersama Xiaoxiao. Selama ada tempat tidur untuk Xiaoxiao, berarti ada tempat untukku juga."
"Xiaoxiao tidur di ranjang bayi, Meilan, ranjang itu terlalu kecil untuk ukuran badanmu," Liu Xihua tertawa.
"Ah? Kalau begitu ya sudah." Jiang Meilan menjulurkan lidahnya sambil tersenyum.
Jiang Daguo tetap mendudukkan Jiang Xiaoxiao di kursi kecil khususnya, lalu maju untuk menerima karung beras yang dipanggul oleh Jiang Meihua. "Membawa keluar beras sebanyak ini, Ibu pasti akan tahu."
Jiang Daguo mengerutkan kening, "Lain kali jangan diambil lagi."
Namun Jiang Meihua tersenyum dan berkata, "Kakak, Ibu tidak akan tahu. Ayah baru saja selesai menggiling seratus kati lebih beras dan menyuruhku menuangkannya ke dalam gentong beras. Aku langsung menuangkan sebagian ke dalam karung ini terlebih dahulu, sisanya baru dimasukkan ke gentong. Ibu tidak akan menyadarinya."
Jiang Daguo baru mengerti, rupanya begitu caranya.
Jiang Xiaoxiao memuji dalam hati, sungguh hebat, Jiang Meihua yang biasanya polos kini juga sudah mulai pintar.
Setelah meletakkan bahan makanan tersebut, Jiang Meilan mulai menggoda Jiang Xiaoxiao untuk bermain, sementara Jiang Meihua yang lebih tua menanyakan rencana kedepannya kepada Jiang Daguo.
"Kalau Ibu tidak mau memberikan lahan kepada kalian, bagaimana kalian akan bertahan hidup ke depannya?"
Jiang Daguo menceritakan apa yang baru saja didiskusikannya dengan Liu Xihua kepada adik-adiknya, "Kami punya cara untuk bertahan hidup."
Jiang Meihua mengerjap-ngerjapkan matanya, "Kak, bagaimana kalau aku saja yang membantumu berjualan sarapan? Aku kan biasanya cukup senggang."
Jiang Meilan menoleh dan menimpali, "Aku juga mau ikut membantu."
Mendengar saran dari saudari-saudarinya, Jiang Daguo berkata dengan cemas, "Kalau sampai Ibu tahu, kalian nanti dimarahi."
"Biar saja dia marah, aku tidak peduli," tukas Jiang Meilan sambil memutar bola matanya.