Bab 53 Tidak Punya Tanah Bisa Berbisnis Sampingan untuk Menghasilkan Uang
Ketua kelompok kecil Jiang Guoping juga datang untuk membujuk Ibu Jiang agar berhenti membuat keributan.
Karena pertengkaran soal pembagian keluarga, beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu untuk menonton. Terutama Bibi Gui, yang langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat-lihat ke sekeliling.
Melihat dirinya berada di pihak yang kalah dan menjadi bahan tertawaan para tetangga, Ibu Jiang masuk ke kamar tidurnya dengan marah. Ia membanting pintu hingga tertutup dengan suara keras.
Dengan tidak adanya Ibu Jiang, proses pemindahan barang menjadi sangat lancar. Jiang Daguo tidak ingin terus-menerus bertengkar dengan ibunya, sehingga untuk barang-barang besar, ia hanya memindahkan tempat tidur kecil Jiang Xiaoxiao.
Barang-barang lainnya hanyalah pakaian ketiga anggota keluarga mereka, kelambu dan selimut, termos, baskom, bak mandi, serta porselin kecil milik Jiang Xiaoxiao. Tentu saja, uang yang disembunyikan Liu Xihua di balik lemari di celah-celah batu bata juga diambil semuanya oleh Jiang Daguo.
Melihat cara menyimpan uang seperti itu, yang membuktikan bahwa uang itu pasti tidak akan aman meskipun dikunci di dalam laci, ekspresi Liu Changping menjadi sangat suram. Untung saja keluarga sudah dibagi, jika tidak, adiknya pasti akan terus menanggung kekesalan.
Berbagai macam barang tersebut kemudian diangkut ke atas traktor milik Liu Changping.
Liu Changping menyalakan traktornya, lalu bersama ketua kelompok Jiang Guoping, Jiang Daguo, dan Liu Changfa, mereka pergi ke rumah kelompok dari Kelompok Lima tempat Jiang Daguo akan tinggal.
Jiang Guoping membuka kunci pintu dan menyalakan lampu listrik. Semua orang mulai mengamati kondisi rumah tersebut.
Rumah kelompok itu memiliki dua ruangan, masing-masing seluas ruang kelas biasa. Ruangan bagian dalam dipenuhi dengan beberapa mesin perontok padi dan mesin penampi, sementara ruangan bagian luar dipenuhi dengan Kayu bakar yang ditebang entah oleh siapa.
"Duh, tempat ini berantakan sekali, bagaimana bisa ditinggali?" Liu Changping tidak bisa menahan kerutan di dahinya saat melihat rumah kelompok yang penuh dengan debu dan serpihan barang.
Jiang Daguo berjalan mengelilingi kedua ruangan tersebut, lalu mengangguk puas dan berkata, "Besok aku akan datang membersihkannya, dan menggunakan batang sorgum untuk memyekatnya menjadi dua ruangan kecil."
Hari sudah mulai larut, Liu Changping mendesah dan berkata, "Baiklah, kita bicarakan lagi besok."
Kedua saudara keluarga Liu dan Jiang Daguo menurunkan barang-barang dari traktor dan menumpuknya di sudut ruangan.
Jiang Guoping menyerahkan kunci kepada Jiang Daguo sambil menepuk bahunya. "Kau tinggal di sini, kuncinya kau yang simpan. Barang-barang di dalam sini juga harus kau jaga baik-baik, semuanya adalah milik umum kelompok, jangan sampai hilang."
Jiang Daguo menggenggam kunci itu erat-erat. "Tenang saja, Ketua, aku akan menjaganya dengan baik."
"Sudahlah, mari pulang." Liu Changping melambaikan tangannya dan berjalan keluar.
Setelah meninggalkan rumah kelompok, Jiang Daguo mengunci pintu dan menumpang traktor Liu Changping kembali ke kediaman keluarga Liu.
Liu Xihua segera bertanya kepada Jiang Daguo apakah pembagian keluarga berjalan dengan lancar.
"Hmm, barang-barangnya sudah dipindahkan ke rumah kelompok. Besok pagi aku akan pergi membersihkannya, dan besok sore keluarga kita sudah bisa pindah ke sana," kata Jiang Daguo.
Liu Xihua merasa sangat senang. "Baguslah, kita akhirnya punya tempat tinggal sendiri."
Mendengar percakapan mereka, Jiang Xiaoxiao turut merasa bahagia untuk mereka.
Namun, Ayah Liu justru mengerutkan kening, menggelengkan kepala, dan berkata, "Daguo, berapa lama kau berencana tinggal di rumah kelompok itu?"
Liu Xihua menjadi cemas. Ia melirik Jiang Daguo sekilas, lalu berkata kepada ayahnya, "Ayah, Daguo akan mencari cara agar kami bisa segera pindah. Sebenarnya, kami sudah merencanakan untuk membangun rumah sejak tahun lalu."
Dengan wajah muram, Ayah Liu berkata, "Lebih cepat lebih baik. Kalian tinggal di rumah kelompok, seluruh anggota kelompok melihatnya! Apa kalian tidak takut menjadi bahan tertawaan?"
Rumah kelompok adalah milik publik. Orang-orang yang pernah tinggal di sana sebelumnya hanyalah para pengemis dari luar daerah yang dikasihani dan diizinkan tinggal selama beberapa hari.
Kini, jika pasangan Jiang Daguo dan Liu Xihua pindah dan tinggal di sana dalam jangka panjang, hal itu pasti akan memicu gosip dan bisikan orang.
Keesokan paginya, Jiang Daguo membawa sapu, sekop, dan parang, lalu pergi mengendarai sepeda ke rumah kelompok untuk membersihkannya.
Orang-orang di kelompok kecil itu telah mendengar berita bahwa Jiang Daguo akan tinggal di rumah kelompok. Ketika melihat Jiang Daguo sibuk menyapu kesana-kemari, mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melontarkan komentar sinis dan ejekan.
"Daguo, rumah keluargamu itu cukup luas, kenapa malah tinggal di rumah kelompok? Kenapa? Karena tidak punya anak laki-laki jadi diusir orang tuamu? Wah, kau ini benar-benar ya, kalau tidak bisa melahirkan, bukankah mengadopsi anak laki-laki itu sama saja? Kenapa kau begitu keras kepala?"
"Daguo, ayah dan ibumu hanya menyayangkan ketiga adik perempuanmu, padahal kau ini anak laki-laki, kenapa malah diperlakukan lebih buruk daripada adik-adikmu?"
"Kalian tahu apa? Daguo itu orangnya dermawan. Melihat adiknya bercerai dan tidak punya tempat tinggal, ia sengaja mengalah dan memberikan tempat itu."
Jiang Daguo adalah orang yang jujur dan tulus, serta selalu malas untuk berdebat dengan orang lain. Menghadapi ejekan dari orang-orang di kelompok itu, ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Ia hanya melirik mereka sekilas dengan tenang, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Seorang kerabat yang sudah tua merasa tidak tahan lagi dan mengusir para pemuda yang mengejek Jiang Daguo itu dengan amarah.
Orang tua itu berjalan mendekati Jiang Daguo dan menghela napas. "Daguo, aku dengar kau bahkan tidak meminta bagian tanah pertanian. Bagaimana kau akan bertahan hidup di masa depan?"
Jiang Daguo bertumpu pada sapunya. "Masalah pasti ada jalan keluarnya. Sekarang pemerintah sudah mengizinkan orang-orang berdagang kecil-kecilan, jadi aku akan berjualan kecil saja."
"Berapa banyak uang yang bisa dihasilkan dari situ?" Orang tua itu menggelengkan kepala. "Sebaiknya kau temui ketua kelompok dan tanyakan apakah ada keluarga yang memiliki kelebihan tanah untuk dibagikan sedikit kepadamu."
Jiang Daguo tahu bahwa orang tua dari kaumnya itu bermaksud baik, tetapi siapa yang mau melepaskan tanah mereka? Setiap orang pasti ingin memiliki lebih banyak lahan pertanian demi hasil panen yang melimpah.
Ia tersenyum tipis. "Aku mengerti, Paman Wugui."
Orang tua itu menggelengkan kepala, menghela napas, lalu pergi.
Setelah membersihkan ruangan tersebut, Jiang Daguo pergi ke rumah penduduk kelompok yang menanam sorgum dan membeli beberapa ikatan batang sorgum.
Batang sorgum yang telah dijemur kering itu tidak bernilai mahal. Jiang Daguo menghabiskan lima puluh sen untuk membeli tiga puluh ikatan besar.
Ia merangkai batang-batang sorgum tersebut dengan tali rami, lalu memasukkannya ke dalam parit kecil yang telah digali di lantai rumah kelompok sebelumnya. Setelah ditimbun dengan tanah, terbentuklah sebuah dinding dari batang sorgum.
Dengan menggunakan batang-batang sorgum itu, ia membagi ruangan bagian dalam rumah kelompok yang luas menjadi tiga bagian.
Satu ruangan dijadikan kamar tidur untuk putrinya, Jiang Xiaoxiao, satu ruangan lagi sebagai kamar tidur untuk dirinya dan Liu Xihua, dan satu ruangan terakhir dijadikan dapur.
Dapur tersebut diletakkan dekat dengan jendela agar asapnya mudah keluar.
Setelah membagi ruangan, ia mencari beberapa bata merah untuk menyusun sebuah tungku sederhana.
Mengenai tempat tidur, ia juga menyusunnya dari bata merah, lalu menutupinya dengan papan kayu bekas yang ada di rumah kelompok, dan melapisinya dengan kasur kapas. Itulah tempat tidur mereka.
Setelah semuanya selesai dibereskan, Jiang Daguo kembali ke kediaman keluarga Liu.
"Aku sudah membereskan rumah kelompok itu, Xihua, kita bisa langsung pindah ke sana sekarang," ujarnya dengan penuh semangat.
Tepat saat Liu Xihua hendak berbicara, Ayah Liu di sampingnya berkata dengan ekspresi dingin, "Daguo, kau benar-benar tidak meminta tanah pertanian?"
Jiang Daguo mengerjap. "Ayah, Anda sudah tahu?"
Ayah Liu mendengus dingin. "Kau masih berniat menyembunyikannya dari kami?"
Jiang Daguo buru-buru menjelaskan, "Bukannya aku bermaksud begitu, aku..."
"Tanpa tanah, apa yang akan kauandalkan untuk hidup di masa depan? Dari mana kalian akan mendapatkan makanan?" Ibu Liu menghela napas panjang. "Aku dengar dari Changping dan Changfa bahwa orang tuamu bahkan tidak memberikan sepetak tanah pun pad keterlaluan sekali!"
"Ayah, Ibu, kalau tidak ada tanah ya sudah, mencari penghidupan dari pekerjaan sampingan juga bisa menghasilkan uang." Liu Changping baru saja membeli traktor dan menghasilkan banyak uang dari mengangkut barang serta hasil panen untuk orang lain, sehingga ia tidak terlalu ambil pusing soal ada atau tidaknya tanah pertanian.
Namun, Ayah dan Ibu Liu adalah petani tradisional yang percaya bahwa seorang petani akan mati kelaparan jika kehilangan tanahnya.
"Berapa banyak yang bisa dihasilkan dari situ? Daguo tidak punya traktor sepertimu yang bisa menghasilkan uang dari bahan bakar, dia hanya punya sepeda!" kata Ayah Liu dengan nada khawatir sambil menggelengkan kepala.
"Tanpa tanah, bahkan untuk membeli sebutir beras pun kalian harus mengeluarkan uang," timpal Ibu Liu.
Jiang Daguo teringat pada bisnis pengiriman sayurnya. "Ayah, Ibu, aku masih bisa mengantar sayur ke kota."