Bab 38: Dia Adalah Pengganti untuk Mengusir Rasa Bosannya (Revisi)
Halaman (1/3)
Di sela-sela perjamuan ulang tahun, Jiao Mengyi menyempatkan diri untuk keluar menghirup udara segar. Di bawah naungan malam, salju musim dingin menyelimuti seluruh istana hingga tampak memutih. Ia mengenakan jubah bulu rubah, berdiri di tengah embusan angin dengan kening yang berkerut dalam.
Urusan pernikahan titah kaisar dan permasalahan keluarga Xie, semuanya membebani pikirannya. Terlebih lagi, kini muncul Lu Chengyuan.
Ia masih memegang separuh kue kacang hijau di tangannya. Ia menggigitnya perlahan sembari menghela napas panjang karena gelisah.
"Nona Muda Ketiga."
Seseorang memanggilnya dari belakang.
Ia menoleh dan mendapati Ning Tao berdiri tegak menatapnya sambil menyodorkan secarik kertas. "Tuan saya memberikan ini untuk Anda."
Perasaannya semakin jengkel.
Ia membuka kertas itu dan melihat tulisan tangan Lu Chengyuan yang tegas dan bertenaga. "Besok, saya akan menanti Nona Ketiga di Kementerian Ritus."
Sungguh... ia ingin merobek kertas itu.
Ia mengembalikan kertas tersebut kepada Ning Tao dan terdiam sejenak sebelum berkata, "Katakan padanya, tidak perlu bersusah payah mengingatkanku seperti ini."
Ning Tao menjawab, "Tuan saya hanya berhati-hati. Bagaimanapun, ini adalah titah langsung dari Kaisar, dan beliau percaya Anda tidak akan ingkar janji."
Benar.
Ia tidak akan ingkar janji.
Dan ia pun tidak bisa menghindar.
Halaman (2/3)
Niat hati Lu Chengyuan sudah tampak jelas, dan ia sudah sangat yakin akan hal itu. Pria itu memiliki wanita yang dicintainya, sementara dirinya hanyalah sosok pengganti untuk sekadar penghibur lara.
...
Perjamuan istana hampir berakhir. Ayahnya datang mencarinya dan memintanya untuk pulang bersama. Jiao Mengyi mengiyakan dan beranjak kembali.
Di balik Paviliun Siyao, terdengar suara keributan.
Ia berhenti dan mendongak. Tidak jauh di depannya, Lu Chengyuan dan Xie Yun berdiri berhadapan. Xie Yun tampak emosional, ia mencengkeram kerah baju Lu Chengyuan dan bertanya dengan sengit, "Mengapa lukisan sutra seratus umur buatan Mengyi ada padamu? Kau bahkan memberikannya sebagai persembahan kepada Kaisar, sungguh tidak tahu malu!"
Lu Chengyuan berdiri tegak dengan satu tangan terselip di belakang punggung. Aura kebangsawanan yang terpancar dari dirinya tampak sangat kontras jika dibandingkan dengan Xie Yun.
Ia menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis, lalu menunduk. "Keponakanku, jangan terlalu emosional."
Lu Chengyuan berucap dingin, "Itu adalah barang yang tidak kau inginkan hari itu, apakah tidak boleh jika Paman mengambilnya kembali?"
"Kau!"
"Lepaskan tanganmu."
Lu Chengyuan mempertegas suaranya. Ia melirik Jiao Mengyi yang berdiri cukup jauh, lalu berkata dengan nada datar, "Selamat untukmu, Keponakan."
"Mendapatkan istri yang begitu baik, aku pun turut merasa senang untukmu."
Jiao Mengyi merasa kata-kata itu penuh dengan sindiran.
Pria ini sengaja melakukannya. Ia sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk membuat hatinya yang semula tidak tenang menjadi semakin sesak.
Xie Yun menggeretakkan gigi dan meludah ke tanah.
"Yun'er, jangan tidak sopan." Ayah Xie datang dari arah belakang dan menegurnya dengan tegas. Lu Chengyuan meliriknya, lalu kembali memanggil dengan nada sinis, "Kakak."
Halaman (3/3)
Ayah Xie memperlakukannya seolah-olah mereka adalah orang asing.
Lu Chengyuan tidak terkejut dengan reaksinya. "Hari-hari ke depan mungkin akan merepotkan Kakak. Istrimu itu perlu aku bimbing untuk sementara waktu. Kakak tidak perlu khawatir, sebelum pernikahan berlangsung, aku akan bersikap lunak."
"Kita sama-sama pejabat di istana, kurasa kau punya batasan," ucap Ayah Xie dengan tatapan dingin dan tegas. Ia menoleh dan melihat Jiao Mengyi yang berdiri tidak jauh dari sana, lalu melambai ramah, "Mengyi, kemarilah, temui Paman."
Jiao Mengyi perlahan menghampiri mereka.
Setelah memberi hormat kepada Ayah Xie, ia hanya menundukkan kepala. Ia mendengar Ayah Xie berkata, "Paman sudah mendengar dari Bibi mengenai masalahmu dengan Yun'er. Pertengkaran antara kalian anak muda adalah hal yang lumrah, janganlah sampai merusak hubungan baik. Namun untungnya, malam ini Kaisar telah memberikan titah pernikahan. Paman akan segera kembali untuk mempersiapkan segalanya dengan baik, dan pastinya akan membuat keluarga Jiao puas."
"Paman Xie, sebenarnya saya—"
"Ah, tidak perlu bicara apa pun lagi. Tenang saja, ada Paman yang akan menjaminmu, Yun'er tidak akan bertindak sembarangan." Ayah Xie sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bicara lebih jauh. Ia menatap Xie Yun dengan tajam, "Kejadian malam ini berkat Mengyi, jika tidak, kau pasti sudah membuat kesalahan besar bagi keluarga!"
Xie Yun menundukkan kepalanya.
Tubuh Lu Chengyuan sedikit mencondong ke arah Jiao Mengyi.
Pria itu sungguh lancang. Tangannya yang berada di belakang punggung menyentuh pinggang Jiao Mengyi tanpa suara. Tubuh Jiao Mengyi yang tadinya rileks seketika menegang.
Ia menatap pria itu dengan terkejut, namun Lu Chengyuan tetap menatap ke depan dengan tubuh bagian atas yang tak bergerak.
Akan tetapi, sudut bibirnya bergerak. Entah menggunakan tenaga dalam atau cara apa, Jiao Mengyi merasakan telinganya terasa sangat panas saat suara pria itu perlahan merambat masuk.
"Besok jam lima pagi, pastikan kau datang."