Bab Dua: Sepatu Pemakamanku
Mendengar ucapan itu, seketika amarahku memuncak, aku langsung memaki, “Kamu gila ya! Kenapa bukan kamu saja yang mati!”
Pria paruh baya itu berwajah tirus, lingkaran hitam di matanya sangat jelas, tampak lelah dan lesu. Ia melanjutkan, “Tadi malam kau tidak mati, malam ini pun kau akan mati. Percayalah padaku, uang yang bukan rezekimu, jangan diambil! Kalau tidak, sekalipun dapat uang, nyawa tak akan lama.”
Ucapan itu membuatku terdiam.
Bagaimana pria berbaju tradisional itu tahu kalau aku ke sini untuk cari uang?
Belum sempat aku bereaksi, pria itu berbalik dan berlari, sambil menggelengkan kepala dan menghela napas.
Dalam hati aku hanya tersenyum pahit. Seandainya pun benar ada makhluk tak kasatmata mengikutiku, aku tak takut. Demi menyelamatkan nyawa nenek, apa pun akan kulakukan.
Nyawaku ini sudah diselamatkan oleh Nenek Chen, jadi yang utama adalah mendapatkan uang untuk mengobatinya.
Aku membeli beberapa barang, lalu kembali ke rumah sakit.
Di lorong, aku bertemu kakek Mi dari tempat tidur sebelah. Ia berjalan tegak, sepertinya sedang berolahraga. Kemarin waktu baru masuk rumah sakit, Nenek Chen sempat mengobrol dengannya.
Aku menyapanya dengan ramah, tapi wajahnya pucat, diselimuti aura hitam, sama sekali tak menoleh padaku.
Mungkin mood kakek itu sedang tidak baik. Aku tak ambil pusing, masuk ke kamar perawatan, dan mendengar suara tangisan sekelompok orang.
Kakek Mi terbujur kaku di tempat tidurnya, wajahnya kering kerontang, sudah tak bernyawa.
Punggungku langsung basah oleh keringat dingin, aku buru-buru mundur ke pintu, melongok ke lorong, tapi tak menemukan sosok kakek Mi.
Aku membatin, mungkin semalam aku kurang tidur, makanya berhalusinasi. Atau bisa jadi karena semua pasien mengenakan baju rumah sakit, mataku saja yang salah lihat.
Setelah menenangkan diri, aku menemani Nenek Chen menjalani beberapa pemeriksaan. Hasilnya tak seburuk yang kubayangkan. Begitu semua hasil keluar, jadwal operasi bisa segera diatur.
Sore harinya, setelah makan kenyang dan memperkirakan waktu, aku kembali menuju rumah besar itu.
Pria berbaju tradisional itu muncul lagi, tapi kali ini ia tak bicara padaku, hanya menyelipkan secarik kertas ke tanganku, lalu bergegas pergi.
Menjelang malam.
Aku pun membuka pintu dan masuk ke rumah besar itu.
“Aku beruntung, usia tiga tahun pergi ke Kuil Panjang Musim Semi, seorang pendeta bilang aku punya nasib keras, roh jahat pun tak berani mendekat!”
“Umur lima tahun, dua penculik pernah memperdayaku ke mobil, tapi sebelum keluar kota, mobil mereka ditabrak truk pengangkut tanah. Penculiknya tewas, sedangkan aku tidak terluka sedikit pun.”
Aku berteriak menceritakan masa laluku untuk menguatkan hati.
Aku pernah dengar, makhluk halus takut pada orang yang berani dan kejam. Kalau aku tampak tegas, mungkin malam ini aku bisa lebih aman.
Suara teriakanku menggema di seluruh rumah besar itu, tetap tak ada balasan.
Sampai di kamar tempat aku beristirahat.
Di sanalah aku menemukan sepotong kain merah di sisi ranjang. Saat kubuka, di bawahnya ada sepasang sepatu bordir yang sangat indah.
Sepatu bordir itu cantik sekali, di atasnya terlukis sepasang burung bangau.
Aku bergumam dalam hati, aku pernah membaca di sebuah buku, sepatu dengan gambar burung bangau artinya menuju ke alam baka, manusia hidup tidak akan memakainya.
Sepasang sepatu bordir itu adalah sepatu kematian, dipersiapkan untuk orang yang sudah tiada.
Aku jadi sedikit gugup, buru-buru mencari koran lama yang kubawa, dan setelah membaca tentang kasus pembunuhan itu, bulu kudukku langsung meremang.
Itu adalah koran lama berusia delapan puluh tahun, alamat kasus pembunuhan persis di Nomor 13 Teluk Alam Baka.
Tempat yang kini kujadikan tempat menginap.
Aku langsung teringat kertas yang diberikan pria berbaju tradisional itu, buru-buru kubuka dan di sana tertulis dengan tulisan miring: Kasus pembunuhan di Teluk Alam Baka, seorang gadis tak bersalah kehilangan jantungnya. Sebelum kamu, ada dua orang yang pernah tinggal di sini, keduanya mati.
Sekujur tubuhku langsung dipenuhi keringat dingin.
Bermacam pikiran menyerbu benakku, mungkinkah pria itu orang gila yang suka mempermainkan orang? Atau mungkin ia punya dendam dengan pemilik rumah besar ini!
Atau, mungkin saja dia benar! Memang sudah banyak orang mati di sini.
Tiba-tiba aku ingin mundur.
Namun jika sekarang aku pergi, bisa jadi di beberapa sudut ada kamera tersembunyi, biaya pengobatan nenekku pun lenyap.
Aku memutuskan bertahan dua malam lagi, toh begitu pagi menjelang aku bisa pergi.
Susah payah aku menahan waktu hingga fajar, tak terjadi apa-apa kecuali udara yang memang lebih dingin.
Aku menghela napas legah, merasa hanya dipermainkan pria berbaju tradisional itu. Kalaupun memang pernah ada pembunuhan, pernah ada gadis yang dibunuh di sini, toh sudah lama berlalu, mungkin arwahnya pun sudah bereinkarnasi.
Setelah keluar, aku merasa sangat lelah dan segera pulang untuk beristirahat setengah hari.
Aku dan Nenek Chen tinggal di sebuah gubuk di dekat gedung terbengkalai, di sampingnya ada sebidang tanah kosong penuh dengan barang rongsokan dan setengah lahan sayur.
Nenek Chen memelihara dua ekor ayam jantan, sudah dipelihara tujuh atau delapan tahun. Bukan untuk diambil telurnya, melainkan menemani nenek di kala aku sekolah.
Aku baru saja sampai di depan pintu.
Dua ayam jantan itu mendadak berkokok nyaring, mengepakkan sayap dan menyerangku, mematuk tubuhku tanpa henti.
Aku berusaha mengusir mereka sambil memaki mereka buta.
Biasanya, hewan peliharaan akan mengenali tuannya jika sudah lama dipelihara. Tapi kali ini, dua ayam jantan itu seperti kesurupan menyerangku.
Salah satunya bahkan melompat dan mematuk keningku, lalu menyerang kedua pelipisku, sampai-sampai aku meringis kesakitan.
Untungnya, setelah mematukku, mereka hanya berkokok aneh sebentar lalu kembali mencari makan di sekitar.
Anehnya, setelah dipatuk dua ayam jantan itu, tubuhku justru terasa lebih ringan, aku pun langsung tertidur dan bermimpi aneh, seorang perempuan memanggil namaku tapi aku tidak menjawab.
Saat terbangun, aku mencoba mengingat mimpiku, tapi semuanya sudah samar, wajah perempuan itu pun hampir tak teringat.
Namun aku masih ingat, perempuan itu memakai sepasang sepatu merah bordir bergambar burung bangau.