Bab Empat Puluh Lima: Bertemu Kakak, Jia Min Menegur Jia She
Nyonya Tua Jia berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah, bagaimanapun juga menantu memang harus menjalankan tugasnya, aku tidak akan melarang itu. Hanya saja, Fu jangan ikut pergi. Untuk sementara dia tinggal satu atap dengan Baoyu, kalian bisa belajar bersama, itu juga baik. Kau dan anakmu sementara tidurlah di ruang hangat di sebelah kamarku, agak berdesakan dulu, tak apa.”
Jiamin tersenyum, “Mana mungkin aku merasa terpaksa, bisa berbakti pada ibu justru adalah sesuatu yang sangat kuharapkan.”
Saat mereka berbincang, Linfu dan Jia Baoyu kembali. Tetapi berbeda dengan saat pergi tadi, Linfu kali ini tampak seperti ayam jantan kalah bertarung, lesu dan tak bertenaga.
Nyonya Tua Jia pun bertanya, “Fu, ada apa denganmu?”
Jia Baoyu buru-buru menimpali, “Sepupu ingin bertanya soal pelajaran, mungkin memang agak sulit untuknya sekarang. Sudah lama kujelaskan, tapi dia masih belum terlalu paham. Kami sudah sepakat, lain waktu akan lanjut belajar lagi!” Sambil berkata, ia juga menyenggol Linfu, “Bukan begitu, Sepupu Lin?”
“Iya,” jawab Linfu lirih sambil menunduk. Namun di telinga Daiyu, suara itu menyiratkan rasa jengkel yang ditahan.
Nyonya Tua Jia tertawa, “Baguslah, kebetulan juga memang ingin Fu tinggal bersama Baoyu!”
“Tidak mau,” Linfu dan Jia Baoyu secara bersamaan membantah. Keduanya terkejut, saling melirik, lalu buru-buru mengalihkan pandangan masing-masing.
Nyonya Tua Jia heran, “Bukankah tinggal bersama itu bisa saling membantu belajar? Apa yang tidak baik?”
Jia Baoyu segera menjawab, “Kalau nenek sudah bilang begitu, tentu aku senang, hanya saja takut Sepupu Lin belum terbiasa.”
Linfu melotot tajam padanya, menggertakkan gigi, “Aku tidak merasa tak terbiasa, ikuti saja perkataan nenek.”
“Baguslah, kalau kalian rukun, aku pun tenang,” ujar Nyonya Tua Jia sambil tersenyum.
Dalam hati Linfu mengeluh, “Nenek, mata mana yang melihat kami rukun?”
Namun Nyonya Tua Jia bukan tidak tahu, ia hanya menganggap anak-anak kecil bertengkar, nanti tinggal bersama pasti bisa menyesuaikan diri dan jadi akrab.
Setelah semua diatur, Jiamin mengusulkan untuk menemui kedua kakaknya, sekaligus memperkenalkan anak-anak kepada kedua paman mereka.
Saat itu, istri Jia She, Nyonyah Xing, berdiri dan tersenyum, “Biar aku saja yang mengantar adik ke sana, toh lebih leluasa.” Nyonya Tua Jia pun berkata, “Benar juga! Kau sekalian saja, tak perlu kembali ke sini.”
Nyonya Xing mengiyakan, lalu berpamitan pada Jiamin dan Nyonya Wang. Mereka mengantar sampai ke ruang tengah. Di depan gerbang, pelayan-pelayan muda telah menyiapkan beberapa kereta beratap hijau. Mereka pun menuju ke kediaman utama tempat Jia She dan istrinya tinggal.
Dalam perjalanan, Daiyu bertanya pelan pada Linfu, apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Baoyu.
Kali ini Linfu tidak menceritakan semuanya pada Daiyu seperti biasanya, hanya menjawab singkat, “Sama seperti yang diceritakan oleh Sepupu Baoyu, aku memang agak belum paham, nanti akan belajar lagi.”
Daiyu meliriknya sekilas, tahu bahwa Linfu enggan bicara jujur, ia pun tak memaksa. Anak laki-laki memang selalu punya rahasianya sendiri.
Sementara Linfu di dalam hati merasa kesal. Ia semula ingin bertanding adu kepandaian dengan Jia Baoyu, tapi belum sempat mengeluarkan kemampuannya, malah kalah oleh satu pertanyaan sederhana. Ia punya segudang ilmu, tapi tak bisa diutarakan, mana mungkin ia mau mengaku kalah seperti itu? Suatu hari nanti ia pasti akan membalas kekalahan ini, demikian tekadnya.
Begitu tiba di ruang utama, para selir dan pelayan yang berpakaian indah sudah menyambut kedatangan mereka.
Nyonya Xing mempersilakan Jiamin dan kedua anaknya duduk, menyuguhkan teh, lalu memerintahkan pelayan untuk memanggil Jia She yang sedang di ruang kerja.
Jiamin pun bertanya dengan dahi berkerut, “Kakak sulung masih seperti ini?” Pandangannya diarahkan ke para wanita dan pelayan yang berdiri di samping.
Nyonya Xing hanya tersenyum pahit, “Kenapa harus ditanya, adikku? Dulu sebelum kau pergi, kakakmu seperti apa, sekarang pun masih sama saja.”
Jiamin mendengus kesal, “Mana sama? Justru makin menjadi-jadi!”
Saat itu, Jia She masuk ke dalam, melihat Jiamin, ia tertawa, “Adik Min pulang juga akhirnya, sudah bertahun-tahun tidak jumpa, tetap saja muda dan menawan!”
Jiamin langsung tersipu, mana ada kakak menggoda adiknya sendiri? Ia pun mencibir, “Kakak ini benar-benar tak tahu malu. Dulu waktu muda masih lumayan, sekarang sudah tua malah makin tak karuan! Sampai adik sendiri pun digoda!” Ia pun berdiri hendak pergi.
Nyonya Xing buru-buru menahan, tersenyum, “Adik, kakakmu pasti belum sadar dari mabuknya, makanya bicara ngawur!” Sekaligus ia menyuruh para pelayan di dalam ruangan untuk keluar.
Jiamin pun duduk kembali, tersenyum dingin, “Aku tahu dia bicara ngawur, tapi kenapa Kakak Ipar tidak pernah menegurnya? Setidaknya dia mewarisi gelar jenderal, kenapa kelakuannya makin tak pantas saja? Lihat rumah ini, penuh orang, jangan-jangan lama-lama rumahnya pun jebol karena terlalu banyak orang!”
Nyonya Xing hanya bisa mengeluh dalam hati, mana mungkin ia mampu mengatur Jia She? Ia pun hanya bisa menahan Jiamin sambil meminta maaf. Sementara itu, Jia She tadi baru saja menggaet seorang pelayan di ruang kerja, belum puas, sudah dipanggil ke sini. Kalau bukan karena lama tak bertemu, ia pun enggan datang. Melihat sikap Jiamin yang tak mau mengalah, ia pun jadi kesal, “Benar-benar merusak suasana. Hanya bilang kau cantik saja, kenapa harus marah? Dulu waktu kecil sering juga dibilang cantik, kau senang-senang saja. Sekarang sudah jadi istri orang malah makin jauh. Lagi pula, urusan di rumah kakak bukan urusanmu. Bukan cuma karena kau sudah menikah, waktu masih tinggal di sini pun kau tak bisa mengaturku. Jangan sedikit-sedikit mengadu ke Ibu, aku benar-benar tak paham dirimu.”
Jiamin mendengar itu, wajahnya makin merah, matanya nyaris berlinang air mata. Ia menahan suara, “Aku menjauh darimu? Aku mengaturmu? Lihat dirimu, tiap hari hanya sibuk dengan para pelayan dan wanita-wanita di sini, kau pikir aku mau mengurusimu? Apa kau tidak malu pada Ayah dan Ibu? Tidak malu pada Kakak Ipar? Ayah mewariskan gelar padamu, seharusnya kau juga bisa mewariskannya pada anak cucu, tapi lihat keadaanmu sekarang. Bukan aku tak mau bicara, tetapi dengan kelakuanmu, mana bisa? Sudah tua, masih saja membuat Ibu khawatir, istri susah hati, anak-anak tidak tenang. Kau gagal sebagai anak, sebagai suami, dan sebagai ayah.” Nyonya Xing di samping hanya bisa gelisah sendiri.
Daiyu dan Linfu hanya saling pandang. Dalam hati, Daiyu terkejut, ternyata ibunya bisa segarang itu.
Mendengar ucapan adiknya, wajah Jia She semakin kelam, ia menoleh menatap Jiamin tajam, hingga Jiamin merasa merinding, barulah ia mengalihkan pandangan sambil mengejek, “Itu urusanku, kenapa anak perempuan yang sudah menikah malah ikut campur urusan keluarga? Sepertinya Lin Ru Hai benar-benar memanjakanmu, jadi makin liar saja, sudah seperti perempuan galak. Aku ke sini pun hanya karena masih menganggapmu adik, tak kusangka malah dimarahi begini, sungguh merusak suasana.” Selesai bicara, ia berdecak kesal, lalu meninggalkan ruangan menuju ruang kerja untuk bermalas-malasan.
Tinggallah Jiamin yang terengah-engah menahan emosi, Daiyu menuntunnya duduk, memijat dada ibunya, menenangkan, “Ibu, tenangkan hati, mungkin Paman tidak sengaja.”
Jiamin mendengus, “Tentu saja bukan tidak sengaja, dia memang sengaja. Dulu juga tak kurang…” Sampai di sini, Jiamin sadar di sampingnya ada anak-anaknya, ia merasa malu, sekarang ia bukan lagi gadis, melainkan wanita yang pulang menengok keluarga. Tapi setiap bertemu kakaknya yang tak tahu diri, ia sulit menahan diri untuk tidak menegur.
Jiamin akhirnya tersenyum paksa, meminta maaf pada Nyonya Xing, lalu mengajak Daiyu dan Linfu pergi ke kediaman Nyonya Wang.
Terima kasih untuk “0 suka 0 baca 0 novel 0” atas tiket PK-nya! Terima kasih untuk “Malam, Totoro” atas ulasan panjangnya! Juga terima kasih atas dukungan semua! Tetap mohon koleksi dan rekomendasinya! Ini adalah bab kedua hari ini.