Bab 88: Pertarungan Melawan Huang Kai
“Aku akan memperlihatkan padamu, apa artinya keluarga Lin!”
Lin Muxuan melangkah ke depan bersama rombongannya, mendekati Huang Kai dan Lin Muzun. Ia melirik Lin Muzun dengan tatapan meremehkan, lalu berkata dengan nada menghina, “Benar-benar sampah dari keluarga Lin.”
“Apa yang kau katakan!” Lin Muzun pun murka, langsung melayangkan tinju ke arah Lin Muxuan. Namun, Lin Muxuan tak bergerak sedikit pun, dan tinju Lin Muzun terhenti di udara.
Karena ia merasakan lehernya sudah terancam oleh ujung pedang. Jika ia bergerak sedikit saja, mungkin kepalanya akan terpisah dari tubuh.
“Kusaranikan kau jangan bertindak gegabah,” dengus Lin Muxuan dingin, lalu memberi isyarat pada Wang Ruo untuk menurunkan pedangnya. “Tadi aku membiarkanmu bertindak semaumu hanya karena tak ingin membuat Ayah dan Ibu khawatir. Sekarang, tak ada orang tua di sini. Kalau aku mau membunuhmu, semudah membalik telapak tangan. Jangan kira kau bisa jadi raja di kota kecil ini, apalagi menguasainya.”
Dalam ejekan Lin Muxuan, Lin Muzun hanya bisa menggertakkan gigi, namun jurus Wang Ruo barusan sudah cukup membuatnya sadar bahwa ia pasti kalah melawan Wang Ruo, apalagi terhadap Ye Tianxuan yang selama ini paling ia takuti.
Lin Muxuan mengerling Lin Muzun untuk terakhir kalinya, sama sekali tak menyembunyikan rasa muaknya, lalu berbalik menatap Huang Kai. “Memang kamilah yang melukai adikmu. Kalau kau mau menuntut balas, katakan saja.”
Huang Kai mengernyit. Ia tidak menyangka Lin Muxuan, yang setahun lalu masih dianggap sampah, kini berani menantangnya secara terang-terangan.
Namun ia juga tak bisa memungkiri, Lin Muxuan sudah sangat berbeda dari setahun yang lalu. Tak hanya para sahabatnya yang hebat, bahkan kekuatan Lin Muxuan sendiri pun sulit ia tebak.
Ketidaktahuan melahirkan keberanian. Meskipun Huang Kai mengakui perubahan itu, ia tetap tak menganggap Lin Muxuan sebagai lawan sepadan.
“Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.” Huang Kai menyilangkan tangan, menatap Lin Muxuan dari atas dengan sombong, “Utang darah dibayar darah!”
Mata Lin Muxuan menyipit, jelas menahan amarah yang membara. “Kau harus tahu, waktu itu adikmu yang mengganggu adikku.”
“Itu tak urusanku!” jawab Huang Kai. “Yang terluka adikku. Kalau adikmu yang jadi korban, kau juga boleh menuntutku, kalau berani.”
“Sialan, orang ini benar-benar sombong. Tuan Muda Xuan, beri dia pelajaran!” Seorang anggota keluarga Lin yang tadi mengecam Huang Kai kembali bersuara.
Mungkin karena ucapannya membakar emosi dalam hati semua orang, hampir seluruh anggota muda keluarga Lin pun serempak berseru, “Tuan Muda Xuan, beri dia pelajaran! Tuan Muda Xuan, beri dia pelajaran!”
Sementara Lin Muzun di samping mereka, wajahnya silih berganti memerah dan memucat. Hampir seluruh anggota muda keluarga Lin mengabaikannya. Ia menatap tajam ke arah Lin Muxuan, matanya seolah hendak menyemburkan api. Kepulangan Lin Muxuan seakan mengingatkannya pada masa kejayaan Lin Chen di ibu kota, juga bakat Lin Muxuan yang dulu membuat iri semua orang ketika baru tiba di Kota Yang. Sedangkan dirinya, sebaik apa pun ia berusaha, tetap saja tak dipandang.
Akhirnya, kesempatan pun datang. Setelah Lin Chen menghilang dan Lin Muxuan terpuruk, perhatian para tetua lebih banyak tertuju padanya, menjadikannya pemimpin generasi muda keluarga Lin. Namun kini, Lin Muxuan kembali, membawa lagi kebanggaan, bakat, dan keberaniannya yang dulu!
Tidak! Tidak mungkin! Ia tidak mungkin jadi hebat! Ia memang terlahir sebagai pecundang dan akan selamanya begitu!
Dalam hati, Lin Muzun berteriak, “Huang Kai, bukankah kau sangat hebat? Beri dia pelajaran! Hajar dia habis-habisan! Biar mereka tahu, dia cuma sampah!”
Lin Muxuan sendiri tidak mengetahui isi hati Lin Muzun, dan ia juga tidak peduli. Sebab ia tahu, sekarang adalah saat terbaik untuk mengumumkan kembalinya dirinya. Mengalahkan Huang Kai, dengan jurus itu!
Setelah menarik napas panjang, Lin Muxuan pun tersenyum, “Kalau begitu, tak perlu banyak bicara. Mari kita bertarung, dan semuanya akan jelas.”
“Memang itu yang kumau!” Huang Kai menyeringai. “Biar kulihat, seperti apa bocah lemah waktu itu sekarang.”
Lin Muxuan mengabaikan ejekannya, menutup mata, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.
Huang Kai mulai waspada, tak tahu apa yang sedang direncanakan Lin Muxuan.
Sementara itu, Ye Tianxuan memahami maksud Lin Muxuan. Ia mengayunkan tangan, memberi isyarat pada semua orang untuk mundur.
Tiba-tiba, terdengar suara "puff" dan sekumpulan api hitam muncul di telapak tangan Lin Muxuan.
Lin Muxuan membuka mata, menatap Huang Kai. “Aku akan mulai. Hati-hati.”
“Huh, silakan saja.” Meski Huang Kai berkata demikian, ia tetap bersiap-siap. Nyala api hitam itu memberinya firasat tidak enak.
“Kalau begitu, aku tak akan sungkan lagi.” Selesai berkata, Lin Muxuan melemparkan api itu ke atas. Saat api itu turun, ia membentuk segitiga dengan kedua tangan, mulutnya melafalkan, “Wahai utusan Alam Kematian, izinkan aku menukar jiwa ini untuk memperoleh kekuatanmu. Bantu aku mencabik-cabik orang di hadapanku! Ini perjanjianku.”
Api itu mengambang di udara, dan setelah Lin Muxuan selesai berbicara, api itu pun membara makin kuat, laksana peri yang menari.
Huang Kai pun bersiap, menempelkan telapak tangan ke tanah. Ia adalah penyihir elemen tanah, dan tanah adalah senjatanya yang terbaik.
Keduanya terdiam. Ye Tianxuan dan yang lain juga menatap serius ke arah api itu. Ini adalah pertama kalinya Lin Muxuan menggunakan jurus tersebut, hadiah karena mengalahkan Wang Ruo dan menjadi yang terkuat di tingkat satu.
Hampir satu menit berlalu. Ketika Huang Kai mulai tak sabar dan mengira Lin Muxuan hanya berpura-pura, tiba-tiba terdengar suara berat dari dalam api, membuat semua orang merinding.
“Wahai sang Penukar Jiwa, aku, utusan Alam Kematian, menerima jiwa ini. Transaksi selesai!”
Begitu suara itu lenyap, api hitam bergetar hebat lalu membesar berkali lipat. Kemudian, sosok hitam keluar dari dalam api.
Sosok itu seluruh tubuhnya terbungkus zirah hitam, kedua tangan menggenggam dua pedang panjang, dan di punggungnya terbentang rangka sayap raksasa.
Huang Kai tertegun. Ia belum pernah melihat penyihir seperti ini. Saat makhluk itu menatapnya dengan mata kosong tanpa bola mata, punggungnya terasa dingin.
"Apa ini ilmu hitam? Mati kau!" Huang Kai segera tersadar, berteriak untuk menguatkan diri, lalu menyatukan kedua telapak tangan. “Raksasa Bumi!”
Begitu Huang Kai menuangkan kekuatan ke tanah, bumi mulai bergetar. Sebuah raksasa batu muncul di hadapan semua orang.
“Ilmu rendahan seperti itu, mana bisa melawan pengawal Alam Kematian?” Lin Muxuan mengejek, lalu mengayunkan tangan kanannya. Pengawal Alam Kematian itu pun terbang menggunakan sayap tulang di punggungnya, menyerbu raksasa batu.
Kemudian, di depan mata semua orang—bahkan Lin Muxuan sendiri—dengan dua tebasan, raksasa batu itu langsung tercerai-berai! Lalu, dari mulutnya, pengawal itu menyemburkan api neraka hitam. Hanya dalam tiga detik, raksasa batu itu sudah hangus tanpa sisa, bahkan abunya pun tak bersisa!