Bab Dua Puluh Tiga: Kegagalan (Mohon Dukungan)
Hanya dibutuhkan belasan jenis ramuan spiritual untuk membuat Pil Jernih Suci ini. Jika dibandingkan dengan pil yang membutuhkan ratusan jenis ramuan, prosesnya memang terbilang sederhana.
Fang Qingyan melangkah ke tengah ruangan, di mana sebuah tungku besar telah dipersiapkan. Ia meletakkan telapak tangan di atasnya dan menyalurkan kekuatan spiritual. Seketika, kobaran api bumi menyala di bawah tungku.
Dalam dunia para penggarap, ada tiga jenis api yang digunakan untuk meramu pil: api bumi, api pil, dan api roh.
Api bumi adalah jenis api yang paling umum, biasanya ditemukan di kedalaman tanah. Suhunya relatif rendah, sehingga hanya cocok untuk meramu pil tingkat rendah.
Api pil merupakan api yang lebih tinggi tingkatannya daripada api bumi. Api ini hanya bisa didapat setelah seorang penggarap menembus tahap dasar penguatan tubuh, lalu mengumpulkannya dari dalam dantian. Suhunya lebih tinggi dan mampu digunakan untuk membuat pil tingkat menengah.
Namun, tidak semua orang mampu membangkitkan api pil. Pertama, harus memiliki tingkat penguatan tubuh di atas dasar. Kedua, sangat bergantung pada bakat seseorang. Biasanya, kemampuan membangkitkan api pil dan kualitas apinya menjadi tolok ukur bakat seorang peramu pil. Yang tak mampu membangkitkan api pil berarti bakatnya terbatas dan pencapaiannya tidak akan berkembang lebih jauh.
Yang ketiga adalah api roh, api tingkat tinggi yang lahir secara alami dari dunia. Kekuatan destruktifnya luar biasa, tak seorang pun mampu menaklukkannya. Konon, setiap percikan api roh memiliki kekuatan untuk menghancurkan langit dan bumi. Karena itu, api roh hanya ada dalam legenda; tak ada yang pernah menemukannya, apalagi menjinakkannya.
Maka, api bumi adalah api yang paling sering digunakan dalam meramu pil. Fang Qingyan pun hanya bisa memanfaatkan api bumi.
Ia kembali menyalurkan kekuatan spiritual ke dalam tungku. Dalam sekejap, tungku itu memerah membara. Setelah mencapai suhu yang tepat, Fang Qingyan mengambil ramuan dari kantong penyimpanannya dan memasukkannya satu per satu sesuai urutan.
Ia harus mengendalikan suhu di dalam tungku, agar ramuan melebur menjadi cairan spiritual tanpa merusak khasiatnya. Meski tampak sederhana, tahap ini menuntut kesabaran dan ketelitian. Pada langkah ini, seluruh kotoran dari ramuan harus disingkirkan, menyisakan cairan spiritual yang murni.
Setelah itu, Fang Qingyan memasukkan ramuan kedua, meleburkannya menjadi cairan, lalu menggabungkannya dengan cairan dari ramuan sebelumnya. Proses ini diulang-ulang sampai enam atau tujuh ramuan berhasil dilebur. Kening Fang Qingyan telah dipenuhi peluh, dan kekuatan spiritualnya sudah terkuras lebih dari separuh.
Masih ada lima ramuan tersisa.
Fang Qingyan menarik napas dalam-dalam, mengambil Inti Teratai Putih dan memasukkannya ke dalam tungku, lalu mulai proses peleburan. Inti Teratai Putih segera meleleh menjadi cairan spiritual, sedangkan kotorannya menguap menjadi asap biru dan lenyap.
Namun, sebelum Fang Qingyan sempat merasa lega, cairan itu mulai menguap. Cairan yang awalnya sebesar ibu jari, langsung menyusut menjadi sebesar tetesan air. Fang Qingyan panik, buru-buru menurunkan suhu api untuk menyelamatkan cairan Inti Teratai Putih.
Di sisi lain, Luo Yao yang menyaksikan ikut menghela napas lega. Namun, ia sadar dirinya tak bisa membantu, hanya bisa berdoa agar Kakak Yan berhasil. Jika gagal, ia hanya bisa menunggu esok hari untuk mencoba menggunakan kemampuan khususnya, meski itu hanya bisa dipakai pada satu ramuan saja.
Asalkan kali ini berhasil, meski pil yang dihasilkan cacat, Tetua Xu pasti akan membiarkan Kakak Yan tetap membantu di sini. Dengan begitu, ia dapat terhindar dari balas dendam Zhao Yang. Jadi, keberhasilan sangat penting.
Ramuan kedelapan berhasil dilebur, meski jumlah Inti Teratai Putih yang tersisa sangat sedikit, entah cukup untuk keberhasilan atau tidak.
Ramuan kesembilan adalah tanduk Binatang Zirah Tanah, yang sangat keras dan membutuhkan api besar. Fang Qingyan terpaksa meningkatkan aliran kekuatan spiritual. Namun, kekuatan yang tersisa sudah menipis, dan meski sudah mengalirkan kekuatan bak air bah, tanduk itu tetap tak meleleh juga.
Fang Qingyan mulai panik. Jika terus seperti ini, semua usahanya akan sia-sia.
Luo Yao yang menyadari situasi ini buru-buru mengambil pil pemulih kekuatan spiritual dari kantongnya dan memberikannya pada Fang Qingyan. Namun, saat Fang Qingyan kehilangan konsentrasi sejenak, lapisan kekuatan yang melindungi cairan spiritual mengendur. Suhu tinggi yang menyambar pun melahap cairan itu, menguapkannya hingga habis tak bersisa.
“Habis sudah!”
Fang Qingyan jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi tanpa darah.
“Kakak Yan, maaf…”
Andai saja ia tak menyodorkan pil itu, mungkin semuanya tak akan berakhir seperti ini…
“Tak apa!” Fang Qingyan menggeleng, “Ini bukan salahmu, tapi kesalahanku sendiri!”
“Kita masih punya satu set ramuan lagi, masih ada kesempatan,” hibur Luo Yao.
Namun, Fang Qingyan sudah kehilangan kepercayaan diri.
“Kakak Yan, istirahatlah dulu. Setelah pulih, kita pikirkan lagi langkah selanjutnya.”
Fang Qingyan mengangguk, duduk bersila untuk memulihkan kekuatan spiritual dan pikirannya.
Lama kemudian, Fang Qingyan terbangun. Ia segera berdiskusi dengan Luo Yao.
“Inti Teratai Putih itu terlalu mudah menguap, dan suhu api juga sulit dikendalikan…”
“Lebih sulit lagi tanduk Binatang Zirah Tanah yang hampir mustahil dilebur, rasanya kekuatan yang dibutuhkan sangat besar.”
“Begitu ya…” Luo Yao mengernyitkan dahi. Memang cukup rumit. Saat melebur ramuan, diperlukan juga sejumput kekuatan dan fokus untuk melindungi cairan ramuan sebelumnya agar tak menguap saat ramuan baru dilebur. Tiap ramuan butuh suhu berbeda. Sedikit saja keliru, hasilnya akan gagal.
Luo Yao berpikir cukup lama, lalu matanya berbinar.
“Kakak Yan, kupikir prinsip meramu pil ini mirip dengan memasak. Kenapa tidak kita tiru cara memasak, yaitu melebur ramuan satu per satu?”
“Maksudmu… dipisah?” Fang Qingyan segera menangkap maksud Luo Yao, seperti memasak: sayuran dipotong dan dipersiapkan lebih dulu, baru kemudian dimasak bersama.
Hal yang sama berlaku pada ramuan. Ramuan dilebur dulu satu per satu menjadi cairan, disimpan dalam botol giok, lalu baru dicampur ke dalam tungku sesuai urutan untuk dijadikan pil.
“Bisa dicoba,” kata Fang Qingyan. Setidaknya, tak ada cara lain yang lebih baik. Untuk ramuan yang sederhana, tak perlu dipisah.
Fang Qingyan menarik napas dalam-dalam. Ini kesempatan terakhir. Jika gagal, tak akan ada lagi peluang.
Beberapa ramuan awal tidak sulit, dan Fang Qingyan sudah punya pengalaman, sehingga kali ini tidak terjadi kesalahan. Cairan yang dihasilkan disimpan dalam botol giok, lalu ia mulai fokus melebur Inti Teratai Putih.
Mengambil pelajaran dari sebelumnya, ia mulai dengan api kecil, perlahan-lahan meningkatkan suhu hingga cukup untuk melelehkan Inti Teratai Putih. Setelah cair, ia segera menurunkan suhu, mengangkat cairan dengan kekuatan spiritual, dan akhirnya merasa lega.
Satu masalah besar telah teratasi.
Selanjutnya adalah tahap penggabungan. Fang Qingyan menuangkan cairan sebelumnya ke dalam tungku, menggabungkannya dengan cairan Inti Teratai Putih, lalu melindunginya kembali dengan kekuatan spiritual dan menyimpannya dalam botol giok.
“Sekarang, tinggal menghadapi tulang keras ini!” Fang Qingyan menatap tanduk Binatang Zirah Tanah, hatinya agak cemas, tak yakin kali ini bisa berhasil meleburkannya.
“Kakak Yan, biar aku bantu!” Luo Yao tiba-tiba punya ide lain.