Bab Tiga Puluh Empat: Jimat Penghilang Jejak
“Masih belum bisa lepas juga?” Wajah Luo Yao tampak sangat suram; kultivator tingkat delapan Qi itu benar-benar seperti plester yang menempel erat, sulit sekali dihindari.
Jika terus begini, cepat atau lambat mereka pasti akan tertangkap.
Keduanya pernah bertarung melawan orang itu, bahkan bekerja sama pun tetap bukan lawannya.
Bagaimanapun, setelah tingkat delapan Qi adalah tahap akhir Qi, sebuah titik peralihan yang penting.
Luo Yao benar-benar merasakan betapa mengerikannya kekuatan tahap akhir Qi, sementara cara bertarungnya sendiri masih sangat terbatas.
Jurus Pedang Ruoshui hanya bisa dijadikan senjata pamungkas.
Mantra lain memang menjadi serangan yang baik untuk kultivator tingkat rendah, tetapi untuk tahap akhir Qi, nyaris tak berpengaruh.
Memang, dalam “Kitab Sembilan Alam Bawah Air” ada banyak mantra kuat, tetapi karena kekuatannya masih terlalu lemah, ia belum mampu berlatih atau menggunakan mantra tingkat tinggi.
Jadi, pada dasarnya, sedikitnya cara menyerang disebabkan oleh lemahya kekuatan, dan karena lemahnya kekuatan pula, sulit menambah cara menyerang.
Membuang semua pikiran itu, wajah Luo Yao menjadi serius. Masalah terpenting saat ini adalah bagaimana lolos dari kejaran di belakang.
“Masuk ke hutan.”
Keduanya segera masuk ke dalam hutan, lalu mengambil jimat dari kantong penyimpanan dan menembakkannya ke arah binatang buas di dalam hutan.
“Ayo pergi!”
“Graaarr!”
Baru saja mereka pergi, suara ledakan dan raungan binatang buas sudah menggema di belakang.
Beberapa detik kemudian, kultivator tingkat delapan Qi itu sudah melayang di atas hutan.
Binatang-binatang buas yang marah akibat serangan jimat itu, tak menemukan siapa pelakunya. Begitu melihat pria itu, mereka seolah menemukan pelampiasan dan langsung menyerangnya dengan ganas.
Tak terhitung bola api, bilah es, dan berbagai serangan menerjang pria tingkat delapan Qi itu.
“Sialan!”
Pria itu tak dapat menahan diri untuk mengumpat. Melihat serangan yang memenuhi langit, kulit kepalanya langsung merinding. Ia pun melupakan pengejaran terhadap Luo Yao, dan dengan cepat mengerahkan kekuatan spiritualnya demi menghindari serangan.
Ledakan demi ledakan mengguncang hutan.
Luo Yao mendengar suara gemuruh di belakang. Meski tak tahu apakah pria itu akan mati, ia mengerti setidaknya bisa menahannya cukup lama.
Untung saja, mereka telah sampai di pusat perdagangan.
Mereka pun mengubah penampilan dan pakaian, lalu masuk ke dalam pasar dengan menggunakan lencana untuk bebas biaya.
Luo Yao berencana membeli beberapa jimat lagi. Tentu saja, bukan jimat biasa, karena jimat biasa tak mampu melawan kultivator tahap akhir Qi ke atas.
“Kedua tamu, butuh jimat apa? Kami punya Jimat Vajra, Jimat Terbang, Jimat Menembus Tanah...”
Kali ini Luo Yao tidak membeli di lapak kaki lima, melainkan masuk ke toko khusus jimat. Begitu masuk, matanya langsung dimanjakan oleh beragam jimat yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Itulah yang ia cari—beli satu, lalu gunakan kemampuan emasnya. Dalam sekejap, ia bisa mengembalikan modal, bahkan memperoleh keuntungan besar.
“Jimat Pembeku, mampu membekukan musuh di bawah tahap menengah Qi selama sepuluh detik. Untuk tahap menengah Qi ke atas, tiga detik.”
Dalam pertarungan antar kultivator, satu detik saja bisa mengubah keadaan, apalagi tiga atau sepuluh detik.
“Berapa harganya?” tanya Luo Yao dengan harap-harap cemas.
“Lima ratus batu roh!”
Langsung ia urungkan niat, terlalu mahal!
Satu jimat saja menguras hampir seluruh simpanannya. Luo Yao kembali merasa dirinya terlalu miskin.
Namun, ia tidak langsung pergi. Ia ingin melihat apakah ada jimat lain yang bisa dibeli.
Mungkin saja akan terjadi pertempuran besar di masa depan. Saat itu, mereka yang di bawah tahap akhir Qi hanyalah umpan. Jadi, ia perlu menambah cara untuk menyelamatkan diri.
“Jimat Bayangan Roh: Setelah digunakan, mampu menahan napas dan menghilang selama satu batang dupa, tidak akan terdeteksi oleh siapapun di bawah tahap Pendirian Fondasi.”
Mata Luo Yao langsung berbinar membaca deskripsi itu. Jimat ini bagus sekali. Jika dalam bahaya, sama saja dengan menambah satu nyawa.
“Jimat ini, berapa batu roh?”
Luo Yao sudah siap, berapapun harganya, ia akan beli.
“Empat ratus batu roh!”
“Apa?”
Luo Yao terkejut, mengira ia salah dengar. Hanya empat ratus batu roh? Padahal jimat pembeku tadi lima ratus, dan jimat ini jelas lebih tinggi tingkatnya, juga lebih berguna.
“Itu karena jimat ini punya kekurangan,” jelas sang penjual perempuan tanpa menutup-nutupi. “Setelah digunakan memang bisa menghilang, tapi tidak boleh menggunakan kekuatan spiritual, kalau tidak, akan langsung ketahuan.”
Luo Yao terdiam, lalu segera paham betapa besar kekurangan itu. Dalam situasi maut, tiba-tiba menghilang, musuh pasti tahu ia sedang bersembunyi. Walaupun musuh tidak tahu di mana, tentu akan menyerang secara membabi buta ke segala penjuru.
Dan kalau tidak boleh menggunakan kekuatan spiritual, menghadapi serangan membabi buta tanpa pertahanan, jelas saja itu berarti mati konyol.
Begitu kekuatan spiritual digunakan, fungsi jimatnya langsung hilang.
Jadi, dalam beberapa hal, jimat ini memang seperti tulang tanpa daging.
Namun, Luo Yao punya kemampuan emas, siapa tahu bisa menutupi kekurangan ini.
Hal terpenting adalah, harganya hanya empat ratus batu roh, lebih murah dari perkiraannya.
Karena itu, Luo Yao tetap memutuskan untuk membelinya.
Menyimpan batu roh di tangan pun tak ada gunanya. Lebih baik digunakan untuk meningkatkan kemampuan diri. Lagi pula, selama masih punya satu batu roh, kemampuan emasnya bisa digandakan.
Transaksi pun selesai—uang dan barang berpindah tangan.
Setelah menyimpan Jimat Bayangan Roh, Luo Yao berencana mencobanya segera menggunakan kemampuan emas, lalu melanjutkan mencari jimat lain yang bisa dibeli.
“Cepat, lelangnya akan segera dimulai.”
“Kali ini aku sudah siapkan banyak batu roh, pasti akan kudapatkan barang bagus!”
Suara dari luar membuat Luo Yao penasaran. Lelang? Ia memang pernah membaca tentang lelang di novel di kehidupan sebelumnya, tapi belum pernah ikut di dunia kultivasi.
Karena itu, ia menoleh pada penjual jimat dan bertanya soal lelang.
Karena Luo Yao sudah membeli jimat di situ, penjual perempuan itu pun menjelaskan dengan ramah.
Lelang ini diselenggarakan oleh Gedung Harta Karun.
Asal usul Gedung Harta Karun sangat misterius, konon didukung oleh sekte besar di Prefektur Ping, meski kebenarannya tak ada yang tahu. Namun, yang jelas, Gedung Harta Karun dijaga oleh seorang kultivator tahap Pendirian Fondasi.
Bisa membuat kultivator Pendirian Fondasi menjaga pasar kecil di pelosok, jelas Gedung Harta Karun sangat kaya dan berkuasa.
Awalnya, lelang hanya diselenggarakan oleh Gedung Harta Karun, lalu Sekte Xuan Yuan dan Sekte Cahaya Ungu juga ikut berinvestasi.
Dengan dukungan sekte lokal, lelang ini semakin megah.
Di lelang, baik Pil Pendirian Fondasi, binatang spiritual, maupun harta sihir, semua bisa ditemukan, dan setiap barang nilainya luar biasa.
Namun, ada syarat masuk lelang: mereka yang hartanya kurang dari seribu batu roh tidak boleh masuk.
Syarat itu langsung menyaring sebagian besar orang yang hanya ingin menonton.
Tentu saja Luo Yao tak akan melewatkan kesempatan bagus. Siapa tahu ia bisa mendapatkan Pasir Bintang atau Batu Es Abadi.
Setelah bertarung melawan kultivator tingkat delapan Qi, ia makin ingin segera membuat harta sihir pribadinya.
Usai mengetahui cara masuk lelang dari penjual perempuan itu, Luo Yao pun pamit.
Ia memang membawa lebih dari seribu batu roh, tapi Xiao Kui tidak. Dua orang setidaknya butuh dua ribu batu roh, dan itu pun baru ambang masuk. Setelah masuk, harga barang lelang kemungkinan besar tak akan bisa didapat dengan kurang dari seribu batu roh, apalagi dengan persaingan dari orang lain, harga pasti akan berlipat ganda.