Jilid Kedua Bab Dua Puluh Empat Perebutan Permata (Bagian Satu)
Begitu matanya terbuka dan ia terhenti sejenak, hutan yang tadinya tenang tiba-tiba diterpa angin kencang, menusuk wajah hingga terasa perih. Suara lembut yang semula berbisik di telinga seketika berubah menjadi raungan hantu yang tajam, sosok-sosok hitam bergerak dengan kecepatan tinggi, dan dedaunan tajam melesat seperti gunting, menyerang seluruh tubuh Su Xiaoluo.
Sial, batin Su Xiaoluo menegang, ia segera melirik sekeliling, melompat ke balik sebatang pohon besar, mengeluarkan daun keberuntungan dan menyelipkannya di rambut untuk menyembunyikan dirinya. Di saat yang sama, ia segera mengerahkan kekuatan spiritual, membungkus seluruh tubuhnya.
Betapa mengerikannya, kekuatan spiritual yang melindungi tubuhnya lenyap dalam sekejap, seolah-olah ada sesuatu yang menyedotnya. Baru saat itu ia sadar, dalam Formasi Iblis dan Siluman ini, kekuatan spiritual tak boleh digunakan. Sebelumnya ia masih bisa menggunakan Mata Penyelidik karena kekuatan itu masih berada dalam tubuh dan belum dikeluarkan.
“Hanya tingkat kelima Penapasan Qi, serangga sekecil itu pun berani berkhayal untuk mendapatkan Mutiara Roh Hantu milikku. Sungguh lucu!” Di tengah badai, suara itu menyelinap di telinga.
Jantung Su Xiaoluo berdegup kencang, tekanan dari suara itu mengguncang batinnya. Ia pernah dengar, tiap formasi pasti ada pengendali. Suara itu pastilah makhluk gaib penguasa formasi yang kekuatannya luar biasa. Hanya dengan satu pikiran, dirinya sudah terlihat jelas oleh lawan. Jarak kekuatan antara mereka, seberapa lebar jurangnya?
“Telan dia!” Suara itu terdengar lagi, mengucapkan tiga kata tanpa belas kasihan, lalu menambahkan kalimat yang membuat nyali Su Xiaoluo runtuh, “Sudut timur laut empat puluh dua derajat, di balik pohon ligustrum ketiga.”
Sekejap, jeritan para iblis dan siluman menggema di hutan, datang dari segala penjuru menuju Su Xiaoluo. Tak sempat ragu, Su Xiaoluo lari ke arah di mana makhluk gaib paling sedikit jumlahnya.
Melarikan diri… hanya itu yang ada di pikirannya.
“Arah tenggara lima belas derajat, kecepatannya tidak tinggi,” suara itu kembali menuntun.
Segera para makhluk gaib mengikuti, meraba-raba seperti orang buta. Beberapa di arah tenggara malah berdiri berjaga dengan antusias, bersiap menangkap.
“Sudah sampai.” Suara itu terus mengabarkan posisi Su Xiaoluo.
Beberapa makhluk yang berjaga segera menerkam, namun mereka tak dapat melihat sosok yang mereka kejar. Su Xiaoluo merunduk dan berguling di tanah, lolos dari kepungan tanpa henti, lalu bangkit dan terus berlari ke depan.
Suara itu terus mengabarkan posisi Su Xiaoluo, seolah tengah memainkan sebuah permainan yang menyenangkan. Su Xiaoluo hanya bisa terus berlari, namun sekeras apa pun ia berputar di hutan ini, ia tak kunjung keluar. Hancurkan formasi! Pikiran itu berdentang keras di benaknya, jika ingin keluar, jika ingin memperoleh Mutiara Roh Hantu, ia harus menghancurkan formasi ini.
Saran yang diberikan Budi Gila tentang cara keluar hanyalah untuk lolos, bukan menghancurkan formasi. Namun sekarang, ia tak punya pilihan lain.
Ia memang tak paham banyak soal formasi, tapi ia tahu satu hal: inti formasi adalah kunci untuk menghancurkannya. Mutiara Roh Hantu adalah inti dari Formasi Iblis dan Siluman ini. Temukan dulu benda itu, lalu cari cara untuk menghancurkan formasi.
Dengan tekad bulat, ia segera bertindak. Su Xiaoluo menajamkan pandangan, warna ungu muda menyelimuti matanya, seketika seluruh pergerakan aura di hutan terlihat jelas.
Sambil menghindar, ia mengamati. Aura di dalam formasi ini semuanya berunsur dingin dan kelam. Sepintas tampak kacau dan tak teratur, karena begitu banyak makhluk gaib, masing-masing membawa aura sendiri. Namun jika diperhatikan, di balik kekacauan itu, ada satu jenis aura hitam pekat yang membentuk pola seperti jaring laba-laba, tersebar ke seluruh formasi, rapat dan sulit dihindari.
Setiap langkah yang diambilnya hampir selalu menyentuh aura hitam itu. Suara yang bisa mengetahui keberadaannya berasal dari pusat jaring tersebut, seolah induk laba-laba yang mengendalikan jaring dan seluruh makhluk gaib. Pantas saja dirinya bisa terdeteksi, bukan dengan dilihat, tapi dirasakan.
Menyadari hal itu, Su Xiaoluo menghentikan pelariannya. Sekelompok makhluk gaib transparan dengan air liur menetes menerjang. Ia hanya melirik sekilas, lalu menghimpun energi sejati, menjejakkan kaki kuat-kuat, meloncat lebih dari lima belas meter ke atas, mendarat dengan mantap di atas pohon tinggi.
Dari pengamatan tadi, ia menemukan bahwa semakin ke atas, aura hitam itu semakin berkurang, celah pada jaring aura semakin lebar. Di atas sembilan meter ada ruang untuk berjongkok, di atas dua belas meter bisa berdiri, dan kini di ketinggian lima belas meter, ia bisa bergerak sedikit.
“Eh?” Suara dari pusat formasi terdengar terkejut, lalu aura hitam itu bergetar, menyebar lebih lebar, berusaha mendeteksi mangsanya dengan segenap tenaga.
Su Xiaoluo tetap tenang. Setelah mengetahui cara lawan mendeteksinya, kini ia harus mencari tahu cara serangannya. Formasi Iblis dan Siluman ini, tanpa ada yang memberitahu pun, Su Xiaoluo sudah mengerti letak bahayanya: daya serap kekuatan spiritualnya sangat kuat, tak ada yang berani menyerang dengan kekuatan spiritual. Bagi seorang kultivator, jika tak menggunakan kekuatan spiritual, bagaimana bisa menyerang? Baik itu senjata, ilmu sihir, bahkan pendekar pedang, semua membutuhkan kekuatan spiritual.
Jika menyerang tanpa kekuatan spiritual, makhluk-makhluk gaib itu pun tak akan bisa dilukai. Karena itu, siapa pun yang memasuki Lembah Aneh ini akan menghindari Formasi Iblis dan Siluman kecuali membawa alat sihir ampuh yang dapat menaklukkan makhluk gaib.
Sembari berpikir, ia mengamati sekitar. Di luar sembilan meter, ada lagi sebatang dahan besar, tepat berada di celah jaring aura. Dalam hati, Su Xiaoluo menghimpun seutas aura di ujung jarinya. Ia menekuk lutut, lalu melompat ke dahan pohon itu. Di saat yang sama, aura di jarinya perlahan dilepaskan ke udara.
Begitu ia menjejak dahan, aura hitam dalam sekejap mengepung dan melahap sisa-sisa aura ungu yang ia tinggalkan. Serentak, suara itu mengabarkan posisi pohon tersebut, segerombolan makhluk gaib kembali menyerbu dan mencari-cari.
Tepat seperti dugaannya, Su Xiaoluo memperhatikan situasi dengan dingin dari pohon lain. Setelah beberapa saat, ia menatap pusat jaring aura, memberanikan diri untuk bergerak mendekat, mencari celah di antara jaring dan berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Beberapa kali ia tersentuh oleh aura hitam, seketika dikerubungi banyak makhluk gaib, namun ia berhasil lolos dengan susah payah.
Satu jam berlalu, akhirnya Su Xiaoluo dapat melihat pusat formasi—gumpalan kabut hitam pekat, dari sanalah seluruh jaring aura hitam memancar. Dengan Mata Penyelidik, ia bisa melihat di puncak kabut itu terdapat Mutiara Roh Hantu yang penuh aura.
Dengan hati-hati ia melompat mendekat dua batang pohon lagi, tengah berpikir cara merebut Mutiara Roh Hantu dan menghancurkan formasi, tiba-tiba situasi berubah.
“Hmph, benar-benar berani!” Suara dengung itu keluar dari kabut hitam, disertai tawa dingin. “Mau lari ke mana?”
Dalam sekejap, di hadapan Su Xiaoluo muncul sebuah tangan raksasa dari kabut hitam, langsung mencengkeram dirinya, menekan dengan kekuatan dahsyat hingga ia tak mampu bergerak.
Hanya dalam sekejap, Su Xiaoluo sudah dicengkeram di pinggang oleh tangan raksasa itu, tulangnya seperti hendak remuk, kedua tangannya masih bisa bergerak namun tak berdaya melawan kekuatan itu.
“Meski hanya di tingkat kelima Penapasan Qi, talenta rohmu lumayan juga,” suara berdengung itu berbicara penuh kepuasan. “Akan kutelan kau, biar kau menjadi bagian dari aura es dinginku. Haha.”