Bab 86: Harta Karun di Luar Alur Cerita
Apa yang akan terjadi setelah Jack menusuk jantung Davy Jones, entah itu baik atau buruk, sudah bukan menjadi urusan yang dipedulikan oleh Chu Ming. Sekarang Jack sudah kehilangan kompas penunjuk arah, juga tidak punya peta menuju ujung dunia, jadi nilai Jack di mata Chu Ming pun nyaris tidak ada. Hidup atau matinya Jack, Chu Ming tidak terlalu peduli. Saat ini, Chu Ming hanya membawa kompas itu dan mengikuti petunjuk di peta ujung dunia untuk mencari harta karun yang tidak pernah muncul dalam film Bajak Laut Karibia. Dalam film, sekalipun Jack telah mendapatkan peta, harta yang didapatnya hanya Air Kehidupan, sedangkan harta lainnya sama sekali tidak pernah dia datangi. Pada akhirnya, peta itu pun dibakar oleh Gibbs. Walaupun Gibbs mengaku mengingat semua detail peta, melihat dari karakter Gibbs sendiri jelas itu mustahil. Begitulah, sebuah peta yang memuat hampir seluruh harta karun di lautan itu akhirnya hancur begitu saja.
Chu Ming berdiri di haluan Kapal Induk, memegang kompas dan peta, terus memastikan arah perjalanan. Kali ini, Chu Ming ingin mencari harta karun bernama "Takhta Tengkorak". Pada peta hanya tertera lokasi geografis Takhta Tengkorak, namun tidak ada penjelasan apa manfaat takhta itu, fungsinya, maupun bahayanya. Semua harus Chu Ming telusuri sendiri.
Barbossa duduk di atas kapal Silent Mary, hendak mencari masalah dengan Chu Ming. Ia ingin memaksa Chu Ming menyerahkan koin Aztec terakhir. Namun, ketika hampir tiba di Pulau Ratu, tiba-tiba ia mencium bau amis laut yang khas. Padahal Barbossa sudah kehilangan indra penciuman selama belasan tahun. Seketika matanya membelalak, ia mencabut pedangnya dan menebas seorang bajak laut di sebelahnya. Seharusnya bajak laut itu masih berupa kerangka, tidak merasa sakit dan tidak berdarah, namun ketika ditebas, darah mengucur deras, dan bajak laut itu pun menjerit kesakitan. Benar-benar terasa sakit.
“Ha ha ha, kawan-kawan, kutukan kita telah terangkat!” Reaksi pertama Barbossa adalah kegembiraan. Para bajak laut lainnya pun bersorak-sorai, hampir menari kegirangan. Namun setelah tenang, tatapan Barbossa menjadi kelam. “Orang Timur itu mustahil tahu di mana Pulau Kematian, juga tidak akan menemukan keturunan Tali Sepatu Tua untuk mengangkat kutukan kita. Dia tidak sebaik itu. Jadi, hanya ada satu orang yang patut dicurigai, yaitu sahabat lama kita, Jack Sparrow.” Selesai bicara, seketika semua bajak laut terdiam. Mereka kan telah mengkhianati Jack Sparrow, hubungan mereka bagaikan musuh abadi. Lalu, kenapa Jack mau melepaskan kutukan mereka? Jawabannya jelas: hanya bila kutukan mereka terangkat, barulah Jack bisa membunuh mereka.
“Tujuan kita, Pulau Kematian! Tampaknya sahabat lama kita, Jack Sparrow, sudah menunggu di sana. Kalau begitu, biar Jack merasakan kedahsyatan Silent Mary! Ha ha ha, kutukan Silent Mary belum terangkat, tetap saja kapal kematian yang tak bisa tenggelam. Silent Mary adalah mimpi buruk semua bajak laut!” teriak Barbossa. Bajak laut lain pun berteriak riuh. Mereka tidak akan menunggu pasrah kepala dipenggal Jack, lebih baik menyerang lebih dulu. Begitulah gaya seorang bajak laut sejati.
Barbossa mencabut pedangnya dari kaki bajak laut yang kesakitan, lalu mengarahkan pedangnya ke depan. Angin kencang pun bertiup, kecepatan Silent Mary, Black Pearl, dan Queen Anne's Revenge langsung melonjak. Sementara bajak laut yang terluka itu diangkut dengan penuh suka cita oleh rekannya, lalu berebut membalut lukanya. Sudah entah berapa tahun mereka tak pernah membalut luka teman sendiri. Mereka sungguh merindukan jeritan kesakitan itu. Bajak laut kurang ajar bahkan ada yang bilang garam bisa membersihkan luka dan mempercepat penyembuhan, lalu sengaja mengoleskan garam tebal di luka rekannya, menikmati penderitaan teman mereka. Inilah salah satu hiburan langka para bajak laut.
Tak peduli dengan urusan Jack dan Barbossa, maupun siapa yang akan menguasai posisi kapten Flying Dutchman, Chu Ming memimpin Kapal Induk berlayar selama seminggu hingga tiba di sebuah tempat bernama Pulau Tengkorak, di mana Takhta Tengkorak berada. Karena tidak yakin seberapa besar bahaya di pulau itu, Chu Ming tidak membiarkan para putri duyung turun, melainkan hanya membawa belasan pengawal terbaik menuju lokasi Takhta Tengkorak.
Baru saja menjejakkan kaki di pulau, Chu Ming melihat seekor ular kecil merayap di depannya. Anehnya, ular itu hanyalah kerangka tanpa sedikit pun daging, mungkin akibat kekuatan Takhta Tengkorak. “Menghidupkan kembali tengkorak? Atau mengendalikannya? Menarik juga,” gumam Chu Ming, lalu melanjutkan perjalanan bersama para pengawal. Sepuluh menit kemudian, mereka ditemukan oleh seekor monyet kerangka. Monyet itu berteriak riuh, hutan di kejauhan pun berguncang hebat. Chu Ming menendang monyet itu hingga terbang, lalu melompat ke pohon tertinggi. Dari sana, ia melihat lautan pasukan tengkorak datang menyerbu: kerangka bison, buaya, gajah, bahkan singa dan hewan besar lainnya. Jumlahnya setidaknya puluhan ribu.
“Kalian kembali saja. Apa yang ada di sini di luar kemampuan kalian,” kata Chu Ming pada prajurit yang sudah gemetar ketakutan. Mereka pun lega dan buru-buru mundur. Sebagai prajurit, mereka tahu apa arti getaran dahsyat seperti itu. Jika bertahan, pasti mati tercabik-cabik.
“Hm, biar kalian tahu apa itu ilmu meringankan tubuh!” seru Chu Ming pada pasukan tengkorak itu. Ia pun melompat dari satu puncak pohon ke pohon lain, melaju cepat. Beberapa menit kemudian, Chu Ming sudah berhadapan dengan pasukan tengkorak, namun ia tidak melawan, hanya terus menghindar dan melaju dengan ringan. Dalam sekali sentuhan, ia bisa melesat puluhan meter jauhnya. Pasukan tengkorak yang kaku itu tak mampu berbuat apa-apa. Setelah belasan menit, Chu Ming sampai di sebuah istana rusak. Pasukan tengkorak masih mengejar gila-gilaan. Istana itu sudah sangat rapuh, nyaris kosong, hanya ada sebuah takhta dari tulang belulang. Di atasnya duduk kerangka manusia putih, di dadanya tertancap pedang berkarat. Di samping takhta, ada beberapa kerangka lain. Tampaknya mereka saling berkhianat setelah menemukan Takhta Tengkorak. Meski akhirnya yang duduk di takhta itu, tetap tidak bisa lari dari maut.
Chu Ming mendekat dan melihat beberapa kalimat terukir di takhta: “Pemilik Takhta Tengkorak diberi kemampuan menghidupkan tengkorak dan mengendalikannya.” “Takhta Tengkorak adalah artefak sakti, jika pemiliknya cukup kuat, bahkan bisa mengendalikan jasad dewa.” “Takhta Tengkorak punya kecerdasan sendiri. Jika pemiliknya terlalu tergila-gila kekuatan takhta, ia pun akan berubah menjadi tengkorak.” Tidak tahu apakah kalimat itu ditulis pembuat takhta atau kerangka yang kini duduk di atasnya, namun semuanya jelas menggambarkan kekuatan takhta itu. Chu Ming mengangguk, menarik kerangka di atas takhta, lalu duduk di sana.
Begitu Chu Ming duduk, seluruh pasukan tengkorak yang sedang mengamuk di hutan mendadak berhenti, diam seperti mati. Sudut bibir Chu Ming terangkat, lalu kerangka-kerangka itu perlahan berdiri, memberi salam hormat, bahkan menampilkan tarian konyol yang menggelikan.
“Bagus, bagus,” ujar Chu Ming. Duduk di takhta itu, ia bisa merasakan takhta perlahan menyerap daging dan darahnya, diam-diam mengubahnya menjadi tengkorak. Inilah kelemahan Takhta Tengkorak, atau mungkin kekuatannya memang berasal dari darah dan daging pemiliknya.
“Semua pasukan tengkorak, datang kemari!” perintah Chu Ming. Segera, pasukan tengkorak berbondong-bondong mengelilingi istana kecil itu. Setelah itu, Chu Ming memasukkan Takhta Tengkorak ke ruang dimensi milik Lao Yin. Semua pasukan tengkorak langsung tumbang dan menjadi tulang belulang sungguhan. Chu Ming menghabiskan dua jam untuk memasukkan semua kerangka binatang itu ke ruang Lao Yin. Dengan begitu, Chu Ming kini membawa serta puluhan ribu pasukan tengkorak. Selama ada Takhta Tengkorak, Chu Ming bisa mengobarkan sebuah peperangan berskala menengah kapan saja.
Chu Ming sangat puas dengan Takhta Tengkorak.
“Selanjutnya, Piala Kristal!” Setelah mendapatkan Takhta Tengkorak, Chu Ming belum juga puas. Masih banyak artefak sakti di dunia Karibia ini. Jika semua sudah terkumpul, barulah Chu Ming akan meninggalkan dunia lintas ruang ini. Nanti, kecuali kalau Air Kehidupan sudah habis dan ia perlu kembali mengambilnya, Chu Ming mungkin sulit untuk kembali ke dunia ini.
Setelah kira-kira seminggu berlayar lagi, akhirnya Chu Ming dan rombongannya tiba di sebuah daerah bersalju dan membeku. Di sana berdiri sebuah istana kecil dari kristal murni, itulah tujuan Chu Ming. Ia tidak tahu pasti di peta dunia nyata mereka ada di mana, tapi Chu Ming menduga mereka sudah masuk lingkaran Arktik. Sebab, peta ujung dunia hanya menunjukkan lokasi harta karun, tanpa memberitahu letaknya di peta dunia nyata. Sungguh menjengkelkan.
Tiba-tiba, Chu Ming melihat bayangan putih yang familiar. Ternyata seekor beruang kutub raksasa. Kini Chu Ming yakin mereka memang sudah berada di lingkaran Arktik. Untungnya, lapisan es di laut masih tipis sehingga Kapal Induk bisa menembus es dan terus berlayar. Kalau esnya lebih tebal, ia terpaksa memerintahkan kapal berhenti dan berjalan kaki bersama prajurit. Jika kapal sampai terjebak di lautan beku, urusannya bakal runyam.
Para prajurit di atas Kapal Induk menggigil kedinginan, tapi para duyung seperti Louise tampak biasa saja. Daya tahan mereka terhadap dingin jauh lebih kuat dari manusia.
“Ketemu!” Chu Ming mengikuti arah kompas dan melihat sebuah istana mungil yang berkilauan. Seluruh istana terbuat dari kristal, sangat indah, entah apakah pernah ada yang tinggal di sana.
“Kalian tunggu di sini. Putar haluan kapal, jangan sampai kapal terjebak di es, kalau tidak, kita harus berenang kembali ke Pulau Ratu,” pesan Chu Ming pada prajuritnya. Mereka mengangguk paham. Siapa tahu seberapa jauh jarak ke Pulau Ratu. Jika harus berenang, tak sampai lama semua pasti jadi santapan hiu.
(Tamat bab ini)