Bab Empat Puluh Sembilan: Aku Sungguh Ingin Memberikannya Padamu
Pemuda bernama Kong Ye sempat tertegun, namun dengan cepat ia menyadari bahwa ini hanyalah siasat licik para korban di depannya untuk mengusir musuh. Mereka memang terlalu naif, mengira dengan cara seperti ini bisa membuat Kong Ye kabur?
“Dia itu Bulan Siluman? Kau bercanda, kan?”
“Percaya atau tidak, terserah padamu,” jawab Su Xiaobei dengan tenang, bahkan mulai merasa kasihan pada pemuda bertangan satu itu, bertanya-tanya apakah ia masih bisa mengurus dirinya sendiri setelah ini.
Gadis kecil itu menatap pemuda itu lama sekali, lalu seakan teringat sesuatu, ia berkata datar, “Kau itu Kong Ye Kecil.”
Kong... Ye Kecil?
Panggilan seperti ini biasanya hanya berani diucapkan oleh para petinggi di Daftar Pembantai Malam. Bahkan Yu Ruxue, yang berada di peringkat ke-23, tak pernah menambahkan kata “kecil” di depan namanya.
Entah kenapa, mendengar suara gadis kecil itu membuat tubuh Kong Ye bergetar, bahkan perahu kecil di bawahnya ikut bergoyang karena ketakutannya.
“Kau... siapa sebenarnya?” Kong Ye akhirnya mulai serius, mencoba mencerna kata-kata Su Xiaobei.
Namun bagaimana pun ia menilai, ia tak bisa merasakan sedikit pun gelombang kekuatan dari tubuh gadis kecil itu. Apalagi, dengan kekuatan tempur di Bintang Laut, mana mungkin Bulan Siluman masih bisa hidup?
Belum sempat gadis kecil itu menjawab, Kong Ye sudah seperti meyakinkan dirinya sendiri, tertawa, “Gadis kecil ini memang pandai berpura-pura, kau punya masa depan cerah!”
Su Xiaobei dan Lin Xiaoman saling berpandangan, melihat ejekan dan sindiran di mata satu sama lain, menggelengkan kepala dengan getir lalu kembali menyantap makanan.
Semakin santai sikap mereka, semakin curiga Kong Ye.
Ia adalah orang yang sangat berhati-hati, tak pernah mengambil risiko jika belum benar-benar yakin.
Namun dendam atas lengannya yang putus tak mungkin tak dibalas.
“Jangan bermain-main di hadapanku. Bulan Siluman sudah mati di tangan Bintang Laut. Aku hanya ingin menuntut balas atas lenganku! Jadi, hari ini, bagaimanapun juga, kalian harus mati!”
Selesai berkata, Kong Ye mengangkat lengannya, angin tak kasat mata berputar di sekitarnya, membuat kerikil dan daun di tepi sungai berputar kencang bak pisau tajam yang mengiris udara, tekanan mengerikan membuat bulu kuduk berdiri.
Su Xiaobei waspada melangkah mundur, belati di tangannya bergetar halus.
Dalam hati, ia pun tak yakin apakah gadis kecil itu memang Bulan Siluman, atau setidaknya, apakah ia mewarisi kekuatan mengerikannya.
Kecuali Bulan Siluman sendiri, menghadapi siapa pun di antara para Pembantai Malam, Su Xiaobei tak punya peluang menang—kecuali ia punya kartu as di tangan.
Mengingat itu, tiba-tiba matanya berbinar dan ia buru-buru meraih tangan Lin Xiaoman, “Cepat bilang kau mencintaiku!”
“Apa?”
“Cepat, katakan!” Su Xiaobei sampai menginjak-injak tanah karena gugup, sementara Lin Xiaoman menatap wajahnya dengan mata berbinar, mengendus pelan lalu berkata,
“Xiaobei, kita tidak akan mati. Aku tahu kau ingin mendengar tiga kata itu dariku sebelum ajal menjemput, itu keinginan terakhirmu, bukan? Aku mengerti, sungguh. Seperti aku juga selalu berharap kau mau mengatakannya padaku. Tapi Xiaobei, aku ingin kau tahu, kadang cinta itu tak perlu diucapkan. Satu tatapan, satu gerakan, atau satu kecupan kecil, semuanya cara untuk mengungkapkan cinta...”
Sambil berkata, Lin Xiaoman menutup mata dengan sungguh-sungguh, berjinjit lalu mengangkat dagunya.
“Aduh, kau hanya perlu bilang tiga kata itu, harus banget masuk ke dalam peran segala?”
Saat itulah Kong Ye memutar jarinya, angin liar dan murka menyebar tak kasat mata, seperti gelombang kekuatan yang mengembang, siap membantai apa saja.
Su Xiaobei refleks mengangkat belatinya, mengayunkannya membelah angin liar yang datang.
Lin Xiaoman bersembunyi di balik punggung Su Xiaobei dengan cemas, sementara gadis kecil itu sama sekali tidak bergerak, membiarkan angin tajam mengiris tubuhnya. Gaun putihnya tercabik-cabik, kulit lembutnya penuh luka sayatan dalam berbagai ukuran.
Melihat gadis kecil itu tidak melawan, Kong Ye semakin yakin akan keunggulan mutlaknya.
“Huh! Bawahan rendahan!”
“Orang-orang rendahan tak layak menikmati cahaya bulan!”
Selesai berkata, Kong Ye menerjang dalam sekejap seiring angin, langsung mencengkeram leher Su Xiaobei.
Ia masih ingat, dulu di tepi sungai, Su Xiaobei lah yang menancapkan belati ke dada Lie Xia yang berambut cepak. Kini, hanya dengan sedikit tekanan pada jarinya, ia bisa membalaskan dendam itu dengan mudah.
Saat Kong Ye berpikir demikian dan merasa menang telak, Su Xiaobei yang tengah berjuang tanpa sadar mengayunkan belatinya membabi buta, dan salah satunya mengarah ke lengan Kong Ye...
Kong Ye terlalu sombong, ia tahu senjata orang rendahan tak mungkin melukainya, bahkan malas menghindar, membiarkan saja bilah belati itu jatuh ke lengannya.
Krak!
Belati itu seolah menembus tahu lunak, tanpa hambatan sedikit pun, langsung memotong lengan Kong Ye.
Di saat yang sama, pusaran angin liar langsung menghilang, kerikil dan daun berjatuhan, sebagian ke sungai, sebagian ke daratan.
Turut jatuh ke tanah adalah lengan kuat Kong Ye—satu-satunya lengan yang masih ia miliki!
Bukan hanya Kong Ye yang terpana, Su Xiaobei sendiri pun tertegun, menatap belati di tangannya dengan mata membelalak, “Astaga! Benar-benar Belati Pembantai Dewa, setajam itu!”
Su Xiaobei hanya melihat ketajaman belati itu, sementara di mata Kong Ye, itu bukan sekadar belati, melainkan pusaka kuno mengerikan. Karena terlalu terkejut, ia bahkan lupa bahwa lengannya masih memancar darah.
Dengan mulut ternganga, ia bertanya, “Pisau apa ini?”
“Sepertinya namanya Belati Pembantai Dewa.” Su Xiaobei membusungkan dada, mengangkat lengan bajunya dan mengusap darah di bilahnya, mata belati berkilauan dingin di depan api unggun.
“Memang, hasil karya Sembilan Kotak tak pernah mengecewakan!”
Su Xiaobei begitu gembira, tiba-tiba teringat Cincin Berlian Zhu Guang, “Mungkin itu juga pusaka ajaib?”
Kong Ye tampak benar-benar terpukul. Ia belum pernah mendengar tentang Belati Pembantai Dewa, namanya saja sudah mengerikan—pusaka yang bisa membunuh dewa?
“Benar-benar pusaka yang luar biasa tajam!”
“Mau punya?” Su Xiaobei tiba-tiba mengangkat alis, bicara penuh makna. “Aku bisa memberikannya padamu!”
Kong Ye menatap tak percaya, “Serius?”
“Aku ini selalu jujur,” jawab Su Xiaobei sambil tersenyum ramah, menyodorkan belati ke depannya, “Nih, ambil.”
Kong Ye begitu girang, bahkan tampak terharu.
Namun ketika ia mengulurkan tangan untuk mengambilnya...
Barulah ia sadar, ia sudah tak punya tangan lagi. Lengan terakhirnya pun sudah ditebas Su Xiaobei!
Saat itulah Kong Ye sadar dirinya dipermainkan, lehernya menegang, matanya berapi-api, “Sialan!”
“Akan kubunuh kau dengan tanganku sendiri, kucincang tubuhmu, kubakar jadi abu...!”
Dengan amarah membara, Kong Ye memutar tubuhnya, melangkah menapaki kabut sungai, lalu menghilang.
Melihat punggung Kong Ye yang menjauh, Su Xiaobei mengerutkan dahi, merasa sangat dirugikan, “Perlu segitunya? Aku benar-benar ingin memberikannya, tapi kau tak punya tangan mengambilnya, lalu aku harus bagaimana?”
Lin Xiaoman menatap ke langit tempat Kong Ye menghilang, lalu melirik lengan putus yang tergeletak di tanah, “Bagaimana dia hidup nanti? Tak usah bicara yang lain-lain, urusan cebok saja gimana?”
Su Xiaobei mendelik, “Kalau segitu perhatiannya, kenapa tak jadi perawatnya saja?”
Sambil bicara, mereka melirik gadis kecil di tepi sungai. Pakaian di tubuhnya sobek tercabik angin, kulitnya penuh luka darah, tampak seperti anak yang jadi korban kekerasan, membuat hati siapa pun miris.
Su Xiaobei buru-buru mendekat, “Kau tak apa-apa?”
Gadis kecil itu tetap diam, wajahnya tanpa ekspresi.
Perahu kecil itu tertambat di tepi sungai, Kong Ye sang Pembantai Malam seolah memang datang hanya untuk mengantarkan perahu pada mereka, usai tugas ia pun pergi, meninggalkan satu lengan sebagai hadiah.
Su Xiaobei menendang lengan itu hingga terlempar. Lengan itu berguling dua kali, tiba-tiba tumbuh sulur hijau, daun-daunnya rimbun dan segera melahap sisa lengan itu.
Gadis kecil itu berjalan lurus masuk ke gudang perahu, membiarkan darah menetes dari luka-lukanya, mengalir sepanjang mata kaki.