Bab Sembilan Puluh Tiga: Pedagang Obat Berhati Hitam
Pendeta Putih bertanya, “Jadi, pada awalnya, pendeta Maoshan itu hanya berhasil menekan sementara kutukan yang dibawa pulang oleh Ye Dong dari Negeri Penyihir Kuno?”
Fang Qing mengangguk dan berkata, “Asalkan tidak ada yang mengusik makam Ye Dong, dan sumur penahan itu tetap ada, mungkin setelah puluhan tahun, dendam yang dibawa Ye Dong bersama peti matinya akan lenyap dengan sendirinya, sehingga takkan lagi membahayakan dunia manusia.”
Dari raut wajah Fang Qing, tampak jelas bahwa segala sesuatunya tak berjalan sesuai dengan rencana pendeta Maoshan itu dulu.
Aku mengeluarkan setumpuk foto lama dan bertanya, “Apakah karena keluarga Fang berinvestasi membangun kompleks pemakaman di Bukit Harimau Hitam sehingga semuanya rusak? Ini kan foto yang diambil setelah peti mati merah itu digali?”
Di foto tampak peti mati merah. Di dalamnya, wajah yang mirip sekali dengan Ma Liu menandakan bahwa jasad Ye Dong akhirnya benar-benar digali.
Fang Qing menghela napas, “Benar. Setahun setelah Ye Dong dimakamkan, keluarga Fang menaksir Bukit Harimau Hitam, lalu mengundang ahli fengshui. Katanya, tempat itu adalah tanah bertuah dan harus dikembangkan jadi pemakaman. Keluarga Chen berusaha menghalangi, tapi gagal.”
“Setelah peti mati merah itu digali, semua orang yang bersentuhan dengannya meninggal. Tak lama kemudian, Xie Lingyu yang hendak membantu Fang Zhanjiao ikut menjadi korban.”
Baru sampai di situ, Fang Qing berjalan ke jendela, menarik tirai lebar-lebar.
Saat itu tepat pukul empat sore. Sinar matahari menembus jendela dan menyinari tubuhnya.
Ia melakukan itu agar dirinya tak terlalu diliputi rasa takut.
“Pembangunan pemakaman keluarga Fang di Bukit Harimau Hitam menyebabkan empat orang tewas. Beritanya cepat tersebar. Demi meredam kecaman masyarakat, keluarga Fang akhirnya menguburkan Xie Lingyu di sana atas nama putri tertua keluarga Fang.” Fang Qing tampak sedikit menyesal, lalu membuka jendela sehingga angin luar masuk ke dalam.
Aku bertanya, “Lalu setelah itu bagaimana?”
Fang Qing menjawab, “Setelah itu, Ye Dong dan peti mati merah itu dikuburkan lagi. Namun, suatu hari, Ye Dong dan peti mati itu menghilang bersamaan. Jasad Xie Lingyu pun tak diketahui lagi keberadaannya. Seolah-olah mereka lenyap di waktu yang sama. Tak lama setelah kejadian itu, buyutku, Fang Zhanjiao, memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di malam gelap penuh angin.”
“Mengapa buyutku memilih gantung diri, sampai sekarang tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan! Aku pun belum menemukan jawabannya.” Fang Qing melirik rokok di atas meja, mengambil sebatang, menyalakannya, dan setelah menghisap satu kali langsung terbatuk hebat.
Mendengar penuturan itu, hatiku terasa sesak dan seluruh tubuhku dipenuhi kesedihan.
Baik Xie Lingyu maupun Fang Zhanjiao, keduanya masih sangat muda, namun akhirnya meninggal sia-sia.
Ibarat bunga paling indah yang belum sempat mekar, sudah dihancurkan oleh badai.
Pendeta Putih tidak sepeka diriku. Ia mengernyit dan bertanya, “Aku selalu penasaran! Jika Ye Dong hanya karena keluarga Chen menolak menikahkan putrinya lalu membalas dendam dengan membunuh, motif itu sama sekali tidak cukup. Ayah kaya menolak pemuda miskin demi masa depan putrinya, hal semacam itu sudah terjadi sejak dulu, sekarang pun masih terjadi, dan di masa depan pasti terus berulang.”
Aku terkejut mendengarnya. Benar sekali apa yang dikatakan Pendeta Putih.
Jika hanya karena itu, seharusnya Ye Dong menyalahkan nasibnya sendiri.
Aku berkata, “Betul! Keinginan Ye Dong untuk meraup kekayaan terlalu besar, akhirnya ia tewas di Negeri Penyihir Kuno. Dalam pandanganku, ia seharusnya menyalahkan dirinya sendiri, atau membalas dendam pada arwah jahat Negeri Penyihir Kuno, bukan pada keluarga Chen! Ia salah sasaran.”
Hanya karena aku menolak menikahkan putriku, lalu kau membantai seluruh keluargaku, motif balas dendam semacam itu tak masuk akal dalam hukum manusia.
Lebih-lebih, tak sesuai dengan hukum dunia arwah!
Fang Qing ragu sejenak lalu berkata, “Benar! Lama sekali aku pun dibuat bingung. Tapi akhirnya, secara tak sengaja aku tahu satu hal penting. Pengusaha kaya yang membayar mahal agar Ye Dong membuat peti mati dari kayu nanmu itu sebenarnya adalah orang suruhan keluarga Chen yang menyamar. Tujuannya, supaya Ye Dong pergi meninggalkan Dongjiang!”
Aku dan Pendeta Putih berseru kaget bersamaan.
“Ini… Astaga! Kalau aku tahu soal ini, pasti hatiku dipenuhi dendam! Mati pun takkan tenang.” maki Pendeta Putih.
“Kalau begitu, alasan Ye Dong membalas dendam jadi masuk akal.” Aku menahan diri agar tidak mengumpat.
Keluarga Chen memberi Ye Dong peluang bisnis besar, seolah memberinya secercah harapan palsu.
Bisa dibilang, Ye Dong berangkat ke tanah berbahaya di Miao dengan penuh harapan, tanpa memperhitungkan risiko.
Di zaman itu, masa perang dan kekacauan, pergi ke negeri asing yang terpencil dan berbahaya, membawa modal untuk berdagang, lalu harus membawa pulang kayu nanmu berkualitas, benar-benar nyawa di ujung tanduk!
Itu sama saja menjerumuskan Ye Dong ke jalan maut.
Tolak saja langsung, putuskan harapannya pun sudah cukup.
Mengapa harus dengan cara seperti itu!
“Di masa itu, perampok dan bandit merajalela, bahkan wabah penyakit juga ada! Pergi ke pegunungan, penuh racun dan wabah! Cara keluarga Chen membunuh orang benar-benar keterlaluan! Aku pernah dengar dari Xie Lingyu, toko kertas Fang, toko peti mati keluarga Ye, balai fengshui keluarga Xie, toko obat keluarga Chen! Keluarga Chen itu berbisnis obat, pekerjaannya menyelamatkan orang! Bagaimana bisa mereka memikirkan cara sejahat itu! Betapa keji hati mereka!” Aku berkata dengan penuh amarah.
Pendeta Putih memandangku, menggeleng dan berkata, “Chen La, kenyataan di masyarakat jauh lebih kejam dari dugaanmu. Pemilik toko obat belum tentu berhati baik. Pemilik toko peti mati malah berharap makin banyak orang mati! Demi keuntungan sendiri, pembunuhan dan perampokan terjadi setiap hari!”
Ia terdiam sejenak lalu berkata, “Kalau Ye Dong punya alasan sedalam ini, aku mendukung dia membalas dendam!”