Bab Tujuh: Tahap Kedua
Baru berjalan beberapa menit, Xu Mo sudah merasakan adanya ancaman besar dari depan yang menghampirinya. Di telinganya juga terdengar suara berisik dari semak-semak yang tergesah-gesah disibakkan. Ia segera menelungkup di tempat, menahan napas, tak berani bergerak.
Ia melihat seekor velociraptor bermata ganas berlari melewati depannya, membuat Xu Mo sedikit terkejut. Ternyata yang berlari itu bukanlah yang jantan bertubuh lebih besar, melainkan satu lagi yang bertubuh lebih kecil. Xu Mo menggelengkan kepala, tak ingin terlalu memikirkannya. Bagaimanapun, ini adalah dunia seratus empat puluh juta tahun yang lalu; wajar saja jika perilaku binatang di sini berbeda dengan hewan di dunia modern.
Xu Mo tidak memperdulikan velociraptor yang lewat itu. Setelah yakin hewan itu sudah cukup jauh, ia kembali berhati-hati melanjutkan perjalanan ke arah sarang velociraptor. Tak lama, Xu Mo sudah berada di dekat sarang. Ia melihat seekor velociraptor bertubuh jauh lebih besar dibandingkan yang lain, tubuhnya memiliki corak hijau kebiruan, dan di samping tubuhnya yang membungkuk terdapat beberapa telur dinosaurus.
Sepertinya sudah hampir waktunya, Xu Mo menghitung-hitung dalam hati, pupil matanya mulai memfokus. Benar saja, dari arah jebakan terdengar suara velociraptor meraung marah, suaranya agak mirip keledai masa kini. Mendengar suara itu, velociraptor besar berwarna hijau kebiruan yang tadinya bermalas-malasan di tanah langsung berdiri, berjalan beberapa langkah ke depan lalu jongkok di sana, namun kepalanya yang berbentuk segitiga sedikit menoleh ke belakang, tampak sedang mendengarkan dengan seksama.
Tak lama, terdengar lagi suara keledai dari arah jebakan, kali ini berubah menjadi jeritan, namun justru terdengar lebih pelan. Mendengar suara ini, velociraptor besar itu tidak ragu lagi, ia segera berdiri dan berlari kencang ke arah jebakan, sambil mengeluarkan teriakan pendek dan tajam dari mulutnya yang dipenuhi gigi bergerigi.
Xu Mo tahu, velociraptor yang satu ini adalah pemimpin kawanan, yang sedang memanggil velociraptor lain yang sedang berburu untuk kembali membantu. Setelah berdiam beberapa menit lagi memastikan si pemimpin tidak tiba-tiba kembali, Xu Mo pun berdiri dan berjalan menuju sarang yang kini kosong.
Ia menatap sembilan butir telur velociraptor di kakinya, kulitnya putih dengan corak hijau kebiruan. Xu Mo melepas jaketnya dan mulai membungkus telur-telur itu.
Saat ia memungut telur velociraptor, tubuh Xu Mo tiba-tiba bergetar, sebab di dalam benaknya, sesuatu yang keemasan mulai...