Jilid Pertama Bab 34 Menjaga Kandungan
"Kudengar Putri Mahkota mengamuk hebat. Seharusnya hari ini dia kembali ke rumah orang tuanya, namun sang Putri Mahkota malah membawa dayang-dayangnya meninggalkan istana menuju Kediaman Murong," bisik Lu Yun saat menyampaikan kabar burung kepada Zhao Hu'er.
"Apa... bagaimana bisa Putri Mahkota sebodoh itu? Bukankah ini sama saja dengan menentang Putra Mahkota dan keluarga kerajaan? Belum lagi memikirkan tanggapan Putra Mahkota, Kaisar pasti akan menganggap Putri Mahkota tidak lagi memedulikan kehormatan keluarga kerajaan," Zhao Hu'er tampak tidak percaya setelah mendengar kabar itu.
Namun, jika dirinya berada di posisi Putri Mahkota, diperlakukan seperti itu oleh sang Putra Mahkota, ia rasa dirinya pun tidak akan sanggup bertahan di Istana Timur. Entah apa yang sebenarnya dilakukan sang Putri Mahkota hingga membuat Putra Mahkota begitu tidak menyukainya.
"Putri Mahkota tidak disukai, itu hanya membawa keuntungan bagi Anda dan para wanita lain di Istana Timur, tidak ada ruginya," sahut Lu Yun sambil memotong kain.
"Memang benar begitu, tapi aku selalu merasa ada yang tidak beres," Zhao Hu'er menggelengkan kepalanya.
"Mengapa memikirkan hal itu? Tugas Anda sekarang hanyalah melahirkan anak dengan selamat. Biarkan saja Putra Mahkota pening memikirkan Putri Mahkota atau selir lainnya," Lu Yun terkikik geli.
"Meskipun kasar, kata-katanya benar. Kali ini Lu Yun ada benarnya. Tuan Putri, tabib sudah berpesan agar Anda tidak terlalu banyak berpikir, itu tidak baik untuk kandungan Anda," tutur Ibu Li yang baru saja memasuki ruangan dan mendengar percakapan mereka.
"Sungguh jarang, Ibu Li akhirnya setuju dengan ucapanku," Lu Yun tertawa terbahak-bahak.
"Itu karena kau tidak berbicara pada intinya. Jika ucapanmu masuk akal, mana mungkin aku tidak setuju? Tuan Putri, istirahatlah sejenak, lanjutkan menjahit besok. Anda tidak boleh memaksakan diri sekarang," Ibu Li membereskan kain di atas meja.
Zhao Hu'er hanya bisa pasrah. "Jika tidak bergerak, aku bosan hanya berbaring." Padahal, ia tidak benar-benar mengalami gangguan kehamilan; itu hanyalah alasan yang dibuat-buat untuk orang luar.
"Ibu Li benar, tubuhmu sedang berat, sebaiknya banyak beristirahat," ujar Zong Zheng yang tiba-tiba masuk.
"Yang Mulia," Zhao Hu'er tidak menyangka Putra Mahkota akan datang di saat seperti ini.
"Jangan bergerak, duduk saja jika tubuhmu kurang nyaman." Zong Zheng duduk dengan santai, lalu matanya tertuju pada jahitan yang belum selesai. Ia mengambilnya dengan rasa penasaran, "Ini... ini pakaian bayi." Ia membolak-balik pakaian mungil itu di tangannya. Apakah benda sekecil ini benar-benar bisa dipakai?
"Iya, hamba tidak memiliki banyak harta dan tidak punya keahlian khusus, jadi hamba berpikir untuk membuatkan beberapa potong pakaian. Hamba ingin anak ini mengenakan pakaian yang dibuat sendiri oleh ibunya."
Zong Zheng memperhatikan raut wajah Zhao Hu'er yang tampak hidup dan berbinar saat membicarakan anaknya, tidak seperti biasanya yang terlihat linglung. Melihat ketulusan cintanya pada sang anak, bukan sekadar untuk mencari perhatian, Zong Zheng merasa senang. Meski begitu, ia tetap mengucapkan kata-kata yang bertolak belakang dengan isi hatinya.
"Hal-hal sepele seperti ini serahkan saja pada para dayang, atau masih ada penjahit. Tidak perlu kau yang memikirkannya. Tubuhmu lemah, kau harus banyak beristirahat."
"Hamba menurut titah Yang Mulia," jawab Zhao Hu'er tanpa membantah. Padahal kondisi fisiknya sangat prima, entah mengapa Putra Mahkota bisa memiliki kesan bahwa ia lemah. Setelah itu, keduanya terdiam. Lu Yun dan Ibu Li segera mundur begitu melihat Putra Mahkota datang.
Zhao Hu'er merasa tidak ada siapa pun yang bisa mencairkan suasana. Tak lama kemudian, Zong Zheng kembali membuka suara, "Bagaimana dengan dayangmu itu? Dia orang baik, harus diberi penghargaan."
"Hamba mewakili Qing Shuang berterima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Zhao Hu'er teringat luka Qing Shuang dan merasa khawatir. "Tabib Wei sudah memeriksanya. Untungnya ular yang menggigit Qing Shuang bukan ular berbisa, jika tidak, akibatnya tak terbayangkan. Racunnya sudah dibersihkan, sebulan lagi dia akan pulih sepenuhnya."
"Baguslah, biarkan dia memulihkan diri dengan tenang. Dia tidak hanya melindungimu, tapi juga melindungi putraku." Kesan Zong Zheng terhadap Qing Shuang menjadi sangat baik.
"Putra?" tanya Zhao Hu'er. Zong Zheng menatap perutnya. Zhao Hu'er terdiam. Belum tentu itu laki-laki.
"Pasti seorang putra," ujar Zong Zheng dengan nada mutlak.
"Bagaimana Yang Mulia bisa begitu yakin? Bagaimana jika ternyata putri?" Tentu saja ia senang jika itu laki-laki, namun jika perempuan pun ia akan tetap menyayanginya sepenuh hati. Mengingat situasi Istana Timur yang tidak menentu, melahirkan seorang putri justru mungkin tidak akan membuatnya menjadi sasaran empuk. Namun, jika yang lahir adalah putra, statusnya di Istana Timur tentu akan melonjak. Melahirkan putra atau putri sama-sama memiliki sisi positif dan negatif, ia hanya berharap anaknya sehat.
"Aku memimpikannya, pasti seorang putra," kata Zong Zheng dengan begitu yakin hingga Zhao Hu'er hanya bisa mengikuti kemauannya.
Sore harinya, Kaisar memanggil Zong Zheng. Ayah dan anak itu berbincang lama di ruang kerja kekaisaran. Setelah itu, Zong Zheng langsung pergi ke kediaman keluarga Murong untuk menjemput sang Putri Mahkota agar kembali ke Istana Timur.
"Aku tidak mau kembali!" Murong Yan merasa semakin sedih, matanya memerah.
"Tidak bisa! Kau harus kembali. Putra Mahkota datang menjemputmu sendiri, itu artinya dia masih memedulikanmu. Janganlah bersikap kekanak-kanakan," tegur ayah Murong Yan dengan tegas.
"Huuu..." Murong Yan menangis putus asa.
"Yan'er, dengarkan ayah dan ibu. Kembalilah bersama Putra Mahkota, kami tidak mungkin mencelakaimu," ucap Nyonya Jiang, ibu Murong Yan, meski hatinya terasa perih. Apa lagi yang bisa dilakukan? Menikah dengan keluarga kerajaan berarti tidak mungkin untuk bercerai.
"Ah," Tuan Murong menghela napas. "Segera siapkan barang-barang putri kalian, jangan biarkan Putra Mahkota menunggu terlalu lama." Pada akhirnya, Murong Yan tidak bisa melawan orang tuanya dan terpaksa kembali ke Istana Timur.
Malam harinya, "Malam ini Putra Mahkota menginap di Paviliun Qing Song," bisik Lu Yun kepada Zhao Hu'er.
"Bagaimana bisa? Apa sebenarnya yang diinginkan Putra Mahkota? Apakah dia ingin Murong Yan dan Zhang Ying saling menghancurkan?" Zhao Hu'er merasa cemas. "Mulai sekarang kalian harus lebih waspada, jangan keluar dari Taman Zhao jika tidak ada urusan penting."
"Baik," jawab Lu Yun mengangguk.
Istana Timur sepertinya akan segera kacau. Hari-hari berikutnya, Putra Mahkota berturut-turut memanggil An Miaoyi, Xie Huanxi, dan Liu Yuwan untuk melayaninya, namun tidak sekali pun ia menginjakkan kaki di kediaman Putri Mahkota. Zhao Hu'er merasa bersyukur karena tidak perlu memberikan salam, agar ia tidak ikut terseret dalam kobaran api yang sedang membakar istana.
Beberapa bulan berlalu, Zhao Hu'er hanya fokus merawat kehamilannya di Taman Zhao, mengabaikan kekacauan yang terjadi di luar. Taman Zhao menutup diri rapat-rapat, bahkan seekor nyamuk pun tidak akan bisa masuk. Zong Zheng sering datang menjenguk calon anaknya. Zhao Hu'er yang awalnya merasa canggung kini mulai tenang. Sesekali mereka bermain catur atau berbincang tentang cita-cita. Baginya, hari-hari seperti ini terasa sangat nyaman.
Waktu menunjukkan akhir bulan Juli. Kandungan Zhao Hu'er sudah memasuki delapan bulan. Perutnya kini begitu besar hingga ia tidak bisa melihat kakinya sendiri. Malam hari ia terus terbangun untuk buang air kecil, sementara siang hari cuaca terasa sangat panas. Hanya duduk diam saja sudah membuatnya berkeringat, bahkan ia harus mengganti pakaian setidaknya tiga kali sehari. Untungnya, Qing Shuang sudah pulih sepenuhnya, jika tidak, Lu Yun dan Ibu Li pasti akan kewalahan.
Semakin dekat dengan hari kelahiran, semakin tinggi kewaspadaan mereka. Untuk mencegah seseorang mencelakai sang calon bayi, Ibu Li, Qing Shuang, dan Lu Yun tidak pernah lengah sedikit pun. Bahkan di malam hari, mereka bergantian berpatroli di sekeliling Taman Zhao. Suasana di seluruh taman menjadi sangat tegang.
Malam itu, setelah berbulan-bulan udara terasa menyesakkan, hujan akhirnya turun. Di Paviliun Qinghe, Meng Yun membuka jendela dan menatap kosong ke arah kegelapan di luar. Seorang kasim kecil membawa payung muncul di tengah tirai hujan. Wajah kasim itu tampak tidak nyata di balik hujan.
"Perintah dari Tuan, kalian bisa bergerak sekarang."
Meng Yun mengangguk tanpa ekspresi. Kasim kecil itu menghilang dengan cepat. Meng Yun teringat saat pertama kali ia masuk ke istana. Dulu ia adalah gadis baik hati yang bahkan tidak berani membunuh seekor semut. Namun kini, ia tidak bisa kembali ke masa itu.
"Maafkan aku, seharusnya kau tidak perlu terlibat dalam semua ini."