Bab Dua Puluh: Di Rumah Hanya Ada Sayuran Liar
Saat tiba di rumah tua keluarga Pei bersama Kakek Liu, Ny. Pei sudah hampir selesai memasak. Anak kedua dan ketiga keluarga Pei pun baru saja pulang.
"Perkenalkan, namanya Lin Peng. Mulai sekarang, dia akan menjadi bagian dari Desa Liu dan juga menjadi tuan bagi keempat anak dari keluarga mendiang kakakmu," ujar Kakek Liu. Ia sengaja menyampaikannya demikian karena khawatir mereka akan sulit menerima jika langsung disebut sebagai pelayan.
Kuncinya terletak pada bagaimana Lin Peng memperlakukan anak-anak itu di masa depan agar keluarga ini bisa merasa tenang. Lagipula, Lin Peng berjanji akan menghapus status perbudakan mereka kelak dan menjadikan mereka keluarga yang sesungguhnya.
Pei Xianxing dan Pei Xianzhi sudah sempat bertemu Lin Peng sebelumnya dan saling menyapa singkat. Setelah itu, Lin Peng pergi ke dapur untuk membantu dan sekalian memasak beberapa hidangan.
Di musim seperti ini, rumah itu hanya memiliki sayuran liar. Untungnya, di dalam tempayan masih ada rebung yang diasinkan sejak musim semi. Sejujurnya, rebung itu lebih tepat disebut direndam di air hingga mulai muncul sedikit mikroorganisme, namun tak ada pilihan lain karena memang tidak banyak yang bisa dimakan di gunung.
Lin Peng mengolah rebung asin tersebut dengan ginjal babi, menumis sayuran liar dengan hati babi, dan membuat tumis daging babi saus kedelai. Sungguh hidangan yang lezat!
"Tidak disangka, kau pandai memasak," puji Kakek Liu saat melihat Lin Peng menghidangkan masakan-masakan itu.
"Sudah terbiasa hidup di perantauan, jadi mau tidak mau harus belajar," jawab Lin Peng jujur. Di masa lalunya, ia memang sering memasak sendiri agar lebih sehat sekaligus mengurangi risiko ketahuan saat berada di luar.
Setelah semua anggota keluarga, termasuk dua orang dewasa dari keluarga Pei, duduk di meja, Lin Peng mengeluarkan arak yang dibelinya di kota. Aroma arak beras yang harum menyeruak saat dituangkan ke dalam mangkuk, membuat Lin Peng ingin meminumnya sekaligus. Namun, karena satu tempayan berisi lima kati, satu mangkuk saja sudah berisi setengah kati lebih, tentu keempat pria di meja itu tidak akan sanggup menghabiskannya.
"Xiao Yong, kau juga minumlah sedikit," ujar Lin Peng saat melihat Pei Yong duduk diam tanpa memegang arak.
"Aku... aku tidak bisa minum," jawab Pei Yong. Seumur hidupnya, ia belum pernah mencicipi arak, jadi ia tidak tahu rasanya.
"Minumlah sedikit saja. Kau sudah besar, tidak apa-apa," bujuk Lin Peng.
Kakek Liu yang melihat Pei Yong tampak canggung pun ikut menimpali, "Benar, kau sudah bisa disebut laki-laki, minumlah sedikit."
Kedua paman Pei Yong, yang mungkin sadar bahwa makanan di meja itu dibeli oleh Lin Peng, tidak berkomentar dan hanya menyaksikan mereka membujuk Pei Yong. Melihat semua orang memintanya, Pei Yong pun tak lagi sungkan. Ia menyodorkan mangkuknya kepada Lin Peng untuk diisi.
"Yong-er, jangan tidak sopan," tegur Pei Xianxing sambil memberi isyarat agar Pei Yong menuang araknya sendiri.
Lin Peng melihat kejadian itu namun ia tidak mempedulikan aturan kuno zaman itu. Ia pun tidak menganggap Pei Yong sebagai bawahan atau sekadar anak kecil. Sambil tersenyum, ia berkata, "Aku mengerti maksud Paman. Hari ini kita semua keluarga, tidak apa-apa minum bersama." Lin Peng sengaja tidak memperjelas maksud Pei Xianxing untuk menjaga perasaan mereka.
"Eh, di mana Ling-er dan yang lainnya?" tanya Lin Peng saat menyadari Ny. Pei dan Pei Ling tidak ada di meja.
"Mereka sedang makan di dapur, membiarkan kami makan lebih dulu," jawab Pei Yong teringat pesan neneknya. Jika bukan karena Lin Peng yang menariknya, mungkin ia pun kini masih di dapur. Sebab, status Pei Yong saat ini dianggap sebagai bawahan Lin Peng.
Lin Peng teringat sesuatu, lalu tersenyum, "Tadi di kota, aku sudah bilang di depan Kakek Liu bahwa kita akan makan bersama untuk meresmikan hubungan kekeluargaan. Kalau tidak makan bersama, bagaimana bisa disebut begitu?"
"Meresmikan keluarga?" Pei Xianxing dan Xianzhi saling pandang, bingung.
"Kenapa masih melamun? Cepat panggil nenekmu serta adik-adikmu ke sini untuk makan bersama," perintah Lin Peng. Ia tidak percaya alasan Pei Yong; ia yakin itu pasti perintah orang dewasa.
Pei Yong berlari ke dapur dan memanggil neneknya serta Pei Ling. Ia kembali sambil menggendong salah satu adiknya, sementara adiknya yang lain digendong oleh sang nenek.
"Ayo, ayo, nenek duduklah di sini. Di keluarga kita, orang tua harus duduk di tempat terhormat. Hari ini Nenek dan Kakek Liu duduk di sisi sini, Paman Kedua dan Ketiga di sisi sana, Pei Yong dan Pei Ling di sana, dan aku bersama dua si kecil di sini," atur Lin Peng. Saat mereka hendak menolak, Lin Peng langsung memotong, "Kalau kalian menolak terus, kita tidak akan makan malam ini."
Rumah tua keluarga Pei menjadi sangat ramai. Aroma masakan Lin Peng tercium hingga ke tetangga sebelah. Meski mereka sudah makan, aroma lezat itu membuat anak-anak tetangga berkumpul di luar halaman untuk mengintip.
"Wah, sepertinya ada daging di dalam."
"Benar, itu daging! Sudah lama sekali aku tidak melihat daging."
"Er Ya, kau kan perempuan, kenapa ikut-ikutan mengintip di rumah orang? Kalau rakus begitu, nanti besar tidak akan ada yang mau menikahimu."
Suara-suara keributan anak-anak dan omelan orang dewasa yang mengusir mereka terdengar dari luar pintu.
Tiga jenis tumisan dan satu hidangan rebusan Ny. Pei sebenarnya sudah sangat mewah bagi keluarga seperti mereka. Karena masakan Lin Peng yang luar biasa lezat, anak-anak itu pun makan dengan sangat lahap hingga terlihat sedikit berantakan. Ny. Pei tampak seperti penjaga gawang yang berusaha menghalangi anak-anak mengambil makanan terlalu banyak.
Lin Peng yang melihat itu tidak berkomentar, ia justru mengambilkan hati babi dan daging tumis untuk Pei Ling, serta ginjal babi dan daging untuk Pei Yong.
"Makanlah, masakan ini memang untuk dimakan. Ayo, Kakek Liu, silakan dicicipi," ujar Lin Peng sambil melayani tamu-tamunya.
"Lin, masakanmu enak sekali. Kau bahkan bisa membuka restoran di kota," puji Kakek Liu dengan tulus, karena ia tahu rasa masakan Lin Peng jauh lebih enak daripada restoran yang pernah ia kunjungi di kota.
"Kakek terlalu memuji. Kemampuanku tidak seberapa. Ayo, sekali lagi aku bersulang untuk Kakek," ucap Lin Peng sambil mengangkat mangkuknya. Meski luka di lengannya sudah membaik, ia masih dalam masa pemulihan sehingga tidak bisa minum terlalu banyak.
"Paman berdua, mohon temani Kakek Liu minum, karena lenganku masih terluka, aku tidak bisa minum banyak."
"Xiao Yong, berdirilah dan bersulanglah untuk Kakek Liu," perintah Lin Peng. Karena ia sedang menggendong anak kecil, ia menyerahkan tugas itu kepada Pei Yong.
Pei Yong yang sudah berusia lima belas tahun tidak keberatan. Ia mengangkat mangkuk araknya dan berkata, "Kakek Liu, aku bersulang untukmu," lalu meminumnya dengan sekali teguk.
Arak itu terasa manis dengan sedikit asam dan aroma alkohol yang ringan. Meski baru pertama kali minum, Pei Yong mampu menahan efek arak tersebut.
"Anak baik. Mulai sekarang, dengarkanlah Kakak Lin Peng, dan jaga adik-adikmu dengan baik di rumah," ujar Kakek Liu yang merasa sangat senang hari ini, karena ia merasa telah melakukan perbuatan yang mulia.
Mendengar itu, Pei Yong mengangguk mantap. Mungkin karena minum terlalu cepat, kepalanya terasa sedikit berputar.