Bab Lima Puluh Empat: Memulai Perapian Baru
Lin Peng dan Zhang Musen duduk di dekat meja batu, lalu Lin Peng menyampaikan maksud kedatangannya.
"Mendengar penjelasanmu, sepertinya kamu ingin barang itu selesai lusa?" tanya Zhang Musen untuk memastikan setelah mendengar permintaan Lin Peng.
"Ya, aku ingin pergi ke sekolah agar lebih praktis, kalau tidak aku harus ikut kereta keledai, dan sepulang sekolah harus berjalan kaki kembali."
"Membuat rangka keretanya bisa selesai dalam sehari, tapi membuat bagian kabinnya butuh waktu beberapa hari."
"Yang terpenting, aku punya rancangan khusus untuk bagian poros rodanya." Sambil berkata demikian, Lin Peng mengeluarkan selembar gambar rancangan peredam kejut yang ingin dibuatnya, lalu menunjuk gambar itu seraya menjelaskan, "Bagian ini menggunakan desain gantung, dan bahannya harus memiliki kelenturan serta elastisitas..."
Penjelasan Lin Peng hanya dipahami setengah-setengah oleh Zhang Musen, tetapi jika hanya merakit berdasarkan gambar, sama sekali tidak ada masalah, tinggal masalah pemilihan bahan saja.
"Baiklah, serahkan urusan ini kepadaku, nanti aku akan pergi ke kota kabupaten untuk membeli sepasang roda," kata Zhang Musen sambil menepuk dadanya dengan percaya diri.
"Roda? Berdasarkan pengetahuanku, Keluarga Cao di desa sebelah terkenal dengan pembuatan gerobak, mereka pasti punya roda. Lagipula, hari ini aku menyuruh Erhu mengantar sebuah gambar rancangan ke sana. Bagaimana kalau besok kau pergi ke sana dan meminta mereka memasang lingkaran besi di bagian luar roda tersebut?"
Lin Peng merasa menyesal karena tidak menunjukkan gambar bantalan peluru kepada Zhang Musen sejak awal, jadi dia tidak perlu membuang banyak tenaga untuk menjelaskannya.
Ia lantas menggambar garis besar bantalan peluru di atas tanah, lalu menjelaskan di mana lingkaran dalam dan lingkaran luar harus dipasang. Lin Peng menjelaskannya dengan sangat teliti, dan Zhang Musen mendengarkannya dengan amat serius.
"Aku sudah agak paham bagaimana cara mengerjakannya, tapi apakah cara yang kau sebutkan ini benar-benar bisa mengurangi tenaga hewan saat menarik gerobak?"
Meskipun sudah mengerti, Zhang Musen masih merasa penasaran apakah setelah dibuat seperti itu, beban hewan penarik gerobak benar-benar bisa berkurang seperti yang dikatakan Lin Peng.
"Aku sulit menjelaskannya, tapi kau cukup mengerjakannya sesuai instruksiku."
Lin Peng memang kesulitan menjelaskannya karena ini adalah prinsip mekanika fisika yang harus dibuktikan secara langsung melalui eksperimen.
Setelah urusan pembuatan gerobak selesai, Lin Peng membawa Pei Ling kembali ke halaman rumah.
Hari ini Liu Dalai membawa empat orang pekerja tambahan, terutama untuk membangun dapur baru, yang artinya memperluas dapur lama ke arah belakang hingga menjadi dua ruangan tambahan.
Fondasi bangunan sudah diselesaikan kemarin, dan dindingnya didirikan dengan memanfaatkan tembok tanah yang sudah ada, asalkan tersedia tanah yang cukup.
Dua orang bertugas menggali tanah, sementara dua orang lainnya memadatkan tanah. Papan kayu dipasang sebagai cetakan di posisi dinding tanah, dan dalam waktu setengah hari, dinding yang lain pun berdiri.
"Wah, cepat sekali," ucap Lin Peng tanpa sadar sambil melihat orang-orang yang sedang sibuk bekerja.
"Tentu saja karena banyak orang. Coba lihat orang-orang yang menggali tanah di jurang itu, mereka tidak pernah berhenti," sela Nyonya Pei sambil mendekat.
"Nenek, apakah saudara-saudara Liu Dalai sudah selesai memasang tungku perapiannya?" tanya Lin Peng.
"Sudah selesai, tiga wajan besi besar dipasang secara berderet dalam satu tungku. Siapa yang punya ide seperti ini?" Nyonya Pei tidak mengerti mengapa harus ada tiga wajan dengan satu lubang api yang posisinya saling tersambung.
"Nenek, aku memang sengaja merancang tungku seperti ini untuk memasak daging bumbu rempah. Setiap wajan memiliki fungsi yang berbeda-beda."
Tungku yang dirancang Lin Peng ini memiliki fungsi utama untuk merebus di wajan pertama, menghangatkan di wajan kedua, dan merendam di wajan ketiga (menjaga suhu tetap panas), serta dapat menghemat kayu bakar.
Setelah tiba di tempat ini, ia menyadari satu masalah: pepohonan di perbukitan Desa Liujiawan sangat sedikit, sehingga untuk mendapatkan kayu bakar orang-orang harus membelinya dari tempat yang jauh atau menebangnya sendiri.
Keluarga yang memiliki uang mengandalkan perahu untuk mengangkut kayu bakar kembali, sementara keluarga yang tidak punya uang harus berjalan puluhan mil sambil memikulnya. Sebagian besar orang mulai mengumpulkan kayu bakar untuk musim dingin sejak musim panas tiba, agar tidak membeku tanpa kayu bakar saat musim dingin melanda.
Nyonya Pei tidak memahami hal tersebut dan tidak mempermasalahkannya lebih jauh. Ia hanya tersenyum ramah dan berkata, "Aku baru saja menggosok wajan-wajan baru itu. Apakah hari ini kita akan memasak menggunakan wajan baru?"
"Nenek, nanti setelah San Gui kembali, dia akan membawa beberapa bahan makanan dan sayuran, baru setelah itu kita bisa mulai memasak."
Sambil berbicara, Wu San Gui tiba dengan mengendarai kereta keledai.
Selain membeli jeroan babi dan kepala babi seperti biasa, dia juga menuruti pesan Lin Peng untuk membelikan beras, tepung, dan beberapa jenis sayuran.
Karena sudah disepakati bahwa hari ini dua bibi tetangga akan datang membantu membersihkan jeroan, begitu melihat Wu San Gui kembali dari kejauhan, mereka langsung mengikuti dari belakang.
"Baiklah, karena para bibi sudah datang untuk membantu, Nenek, tolong repotkan dirimu untuk memasak makan siang bagi mereka sekalian ya."
Mereka datang tepat pada waktunya, tentu tidak sopan jika nanti mereka tidak diikutsertakan makan bersama.
"Aduh, Tuan Muda, kapan kami pernah makan siang selarut ini? Kami biasanya hanya makan dua kali sehari..." kata kedua bibi itu sambil setengah berteriak mendengar ucapan tersebut.
"Jika kalian merasa sungkan, datanglah ke sini membantuku memasak. Nanti setelah makanannya matang, kalian bisa ikut mencicipinya," ucap Nyonya Pei. Sekarang ia merasa dirinya sudah seperti kepala keluarga di rumah ini, tanpa mempedulikan gosip yang beredar di desa beberapa hari lalu.
Mendengar hal itu, kedua bibi tersebut mengerti bahwa Nyonya Pei sedang memberi mereka jalan keluar. Jika mereka terus menolak seperti ucapan mereka sebelumnya, nanti saat jam makan tiba, mereka pasti akan merasa sangat canggung untuk ikut makan bersama.
Melihat orang-orang sibuk bekerja, Lin Peng yang sedang tidak ada pekerjaan mengajak Pei Ling bermain bersama kedua anak kecil di sana.
"Kakak, lihatlah kedua adik ini. Usia mereka sudah empat tahun, tapi masih mirip monyet kecil, kurus sekali." Pei Ling duduk di dekat Lin Peng dan berbisik pelan.
"Tidak apa-apa, pertumbuhan mereka memang lambat, nanti juga akan membaik!" Tumbuh kembang yang hanya mengandalkan penyerapan nutrisi alami tanpa asupan yang memadai memang akan sangat lambat, dan agar tubuh mereka berkembang sempurna, dibutuhkan banyak bahan makanan bergizi.
Lin Peng tiba-tiba teringat tepian sungai yang dilihatnya bersama Tuan Cao kemarin. Di seberangnya adalah wilayah Desa Liujiawan, dan dia bertanya-tanya apakah tanah di sana bisa dibeli. Kelak, sisa ampas dari pembuatan arak bisa diolahnya menjadi pakan ternak, dan mereka bisa memelihara ayam di Desa Liujiawan ini.
"Hei! Tuan Muda, apakah rumah kalian butuh kelinci?"
Lamunan Lin Pengbuyar seketika mendengar suara teriakan. Seorang pria paruh baya tampak memegang seekor kelinci liar di tangan dan berdiri di depan gerbang halaman rumahnya.
"Paman Yougui, hari ini kau berhasil mendapatkan kelinci?"
Sebelum Lin Peng sempat membuka mulut, Pei Ling sudah mendahuluinya menyapa.
"Wah, tadinya kukira ada nona bangsawan dari mana, ternyata kau ya, Ling-ling. Memakai pakaian baru benar-benar terlihat sangat cantik," puji pria itu.
Berkat makanan yang lebih baik akhir-akhir ini serta pakaian barunya, Pei Ling memang tampak seperti gadis dari keluarga terpandang, tidak heran jika ada orang yang memuji penampilannya.
"Paman, berapa harga kelinci ini?" Melihat Pei Ling tampak akrab dengan pria tersebut yang rupanya warga desa setempat, Lin Peng maju menyambutnya dengan ramah.
"Kita kan sesama warga satu desa. Di kota harganya lima belas wen per jin, kau bayar tiga belas wen saja."
"Di rumah tidak ada timbangan, Paman, perkirakan saja beratnya, aku akan membayarnya."
Lin Peng tidak berbohong, di rumah mereka memang belum memiliki timbangan. Padahal dirinya sudah mulai bernyebisnis, tetapi timbangan justru belum dipersiapkan.
Pria itu menimbangnya dengan tangan lalu berkata, "Beratnya kurang dari tiga jin, bayar saja tiga puluh wen."
Lin Peng turut menimbangnya dengan tangan dan merasa kelinci itu benar-benar berbobot tiga jin. Ia lantas mengeluarkan empat puluh wen dari balik bajunya dan berkata, "Tadi aku merasakan beratnya ada tiga jin lebih, terimalah empat puluh wen ini."
Sebenarnya pria tadi juga memperkirakan beratnya tiga jin, tetapi karena mereka sesama warga desa, dia sengaja menyebutkan takaran yang lebih rendah agar tidak menimbulkan perselisihan di kemudian hari. Namun, melihat Lin Peng justru tidak berniat merugikannya, dia tersenyum dan berkata:
"Aku adalah warga desa ini, namaku Zhao Yougui. Melihat rumah kalian sedang sibuk membangun dan merenovasi, aku jadi malas pergi ke kota untuk menjualnya, jadi aku datang ke sini untuk mencoba peruntungan. Tak disangka Tuan Muda sangat dermawan dan tidak curang dalam hal takaran, sungguh mengagumkan!"
Setelah berkata demikian, dia menerima uang tersebut, mengepalkan tangan memberi hormat, lalu berbalik pergi tanpa banyak bicara lagi.
Memperhatikan punggung pria yang berjalan pergi dengan langkah tegap dan bertenaga serta postur tubuh yang tinggi besar, Lin Peng merasa bahwa orang tersebut pasti bukan orang sembarangan, dan sepertinya ada rahasia tersembunyi di balik diri pria itu.