Bab Seratus Lima Puluh Tiga: Pria Bertopeng
Aku segera menoleh ke luar, dan wanita tua yang tadi tersungkur di halaman sudah tidak terlihat lagi bayangannya.
Aku bergegas menuju pintu, mengingat kembali posisi tempatnya terjatuh tadi, dan mengamatinya dengan seksama—masih ada jejak kaki tertinggal di atas tanah.
Pikirku, pasti saat aku sedang menyelamatkan orang tadi, wanita tua berwajah kucing itu bangkit sendiri dan melarikan diri!
Namun, aku jelas-jelas melihat ada arwah kucing yang melompat keluar dari tubuhnya. Berdasarkan hal itu, dapat disimpulkan bahwa arwah kucinglah yang mengendalikan jasad wanita tua tersebut.
Lalu, setelah arwah kucing itu meninggalkan tubuhnya, bagaimana mungkin wanita tua itu bisa berjalan dan kabur sendiri?
Aku memanggil nama Fang Zhanjiao, tetapi ia tidak menyahutiku.
Setelah berpikir sejenak, aku berkata, "Setelah kalian pingsan, aku merobek kain hitam di wajahnya, dan yang tersingkap adalah wajah seekor kucing! Wanita tua tadi adalah wanita tua berwajah kucing."
Fang Qing kembali berseru kaget, "Kau jangan menakut-nakuti orang lagi!"
Merasa sedikit tak berdaya, aku mengalihkan pandangannya kepada Pendeta Bai. "Taois, Anda seharusnya percaya pada perkataanku! Wanita tua yang kita temui tadi benar-benar berwajah kucing. Aku curiga siluman kucing atau arwah kucing semacam makhluk gaib itulah yang mengendalikan jasad wanita tua tersebut! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, seekor arwah kucing kabur dari tubuhnya."
Pendeta Bai tidak langsung membantah, juga tidak membenarkanku. Sebaliknya, ia bertanya, "Menurut apa yang kau katakan, wanita tua itu jatuh ke tanah dan arwah kucingnya kabur. Seharusnya wanita tua itu tetap berada di tempat, tetapi kemana dia pergi? Jika dia hanya sesosok mayat berjalan yang kehilangan kendali dari arwah kucing, dia pasti akan jatuh tergeletak di tengah halaman!"
Dengan perasaan bingung, aku menggelengkan kepala. Berpikir dengan cermat selama beberapa saat, aku berkata, "Ada kemungkinan lain, yaitu seseorang memanfaatkan saat aku sedang menolong tadi untuk membawa pergi tubuh wanita tua itu. Bukankah di Xiangxi sini ada banyak pengantar mayat? Dulu, orang yang mengantar jenazah Ye Dong kembali ke Kota Jiangcheng juga seorang pengantar mayat!"
Aku terus berbicara panjang lebar tanpa henti.
Ekspresi wajah Pendeta Bai sama sekali tidak berubah. Ia berkata, "Tentang desas-desus wanita tua berwajah kucing, aku pernah mendengarnya di bagian utara. Ada seorang wanita tua yang memiliki empat anak laki-laki, tetapi malang sekali keempat anaknya itu tidak satupun yang berbakti. Di musim dingin yang membeku, wanita tua itu mati kelaparan dengan rasa penasaran dan dendam yang belum tuntas! Seekor kucing hitam melompat ke atas tubuhnya, lalu mayat wanita tua itu bangkit kembali dengan wajah yang berubah menjadi seperti wajah kucing!"
Fang Qing mengangkat tas ranselnya ke punggung dan berkata, "Sebaiknya kita segera pergi dari sini! Kalau saja tahu akan jadi begini, kita tidak seharusnya masuk ke tempat ini. Membahas hal ini di sini tidak ada artinya sama sekali!"
Pendeta Bai turut mengenakan tas ranselnya di punggung.
Ia nampaknya tidak begitu mempercayai apa yang ku Ggambarkan, dan kemungkinan besar mengira aku mengalami halusinasi akibat rasa takut yang luar biasa, sehingga keliru melihat wanita tua itu sebagai monster berwajah kucing.
Aku pun tidak berniat untuk membela diri lagi.
Adegan tadi memang terlampau menegangkan dan teramat gaib. Sialnya, tepat saat aku merobek kain hitam dari wajah wanita tua berwajah kucing itu, Fang Qing dan Pendeta Bai sama-sama pingsan tidak sadarkan diri sehingga tidak menyaksikan kejadian tersebut.
Jika mereka enggan percaya, aku tentu tidak bisa memaksa mereka untuk percaya.
Aku juga berkeinginan untuk segera meninggalkan desa itu, maka aku berbalik dan mengenakan kembali ranselku yang terjatuh ke tanah.
Ketiga orang itu keluar dari rumah bobrok tersebut dan meninggalkan desa menyusuri jalan saat kami masuk tadi.
"Kita kembali saja ke Kuil Wudu untuk bermalam! Besok pagi-pagi sekali baru kita tentukan rencana selanjutnya. Perjalanan ini tidak bisa dibilang sia-sia, setidaknya kita telah memastikan satu fakta: Xiao Ma benar-benar datang ke sini! Seharusnya dia memasuki Negara Guwu mendahului kita," ucap Pendeta Bai.
Analisis ini sudah sangat jelas.
Wanita tua berwajah kucing itu muncul di Desa Heihua khusus untuk menghalangi jalan kita demi melindungi Xiao Ma.
Namun, aku sangat yakin bahwa di balik wanita tua berwajah kucing itu, pasti ada seseorang yang membantunya.
Tap, tap, tap!
Suara langkah lari tiba-tiba bergema di telingaku.
Aku segera mengarahkannya dengan senter.
Beberapa boneka kertas berwarna-warni merah dan hijau tampak berlari dengan cepat.
Kemudian, di ujung jalan, berdiri seorang pria berpakaian hitam mengenăng sebuah topeng.
Meskipun terhalang jarak yang sangat jauh, aku tetap mengenalinya.
Itu adalah Topeng Tujuh Raja Hantu Wajah Hitam.
Topeng itu seharusnya sama persis dengan topeng raja hantu yang kami bertiga dapatkan. Topeng raja hantu semacam ini berjumlah satu set yang terdiri dari tujuh buah, yang biasanya digunakan dalam pertunjukan opera Nuo.
Di bawah sorotan lampu senter, pria bertopeng itu meninggalkan bayangan yang panjang.
Dia sedang menatap ke arah kami, sementara beberapa boneka kertas merah hijau berhenti di sekelilingnya.
Kami bertiga langsung menghentikan langkah.
"Tinggalkan Mata Jahat yang ada pada kalian, maka aku tidak akan mempersulit kalian," ucap pria bertopeng itu dengan nada kaku.
Kali ini aku berbicara lebih dulu, "Mata Jahat memang ada padaku. Namun, aku tidak tahu mengapa aku harus menyerahkannya kepada kalian. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pria bertopeng itu tertawa dingin. "Sebaiknya kau sadari betul situasi yang sedang kau hadapi! Tempat ini adalah tanah kematian, tanah terkutuk. Orang-orang dari Desa Heihua terjebak di sini dan tidak memiliki cara untuk pergi! Kalian bertiga manusia hidup yang masuk ke sini tidak akan bisa keluar dengan begitu mudahnya."
Dengan bingung aku bertanya, "Selain wanita tua berwajah kucing tadi, lalu ada dirimu. Bagaimana bisa kalian bilang bahwa seluruh penduduk Desa Heihua terjebak di sini?"
Pria bertopeng itu bertepuk tangan. Dari kedua sisi dinding halaman yang sudah runtuh, bermunculan lagi banyak kepala boneka kertas. Semuanya berupa potongan kertas warna-warni, bahkan ada beberapa kepala yang terkulai miring ke samping sehingga tampak agak konyol.
Kelihatannya jumlah mereka tidak sedikit.
"Mereka semua adalah orang-orang dari Desa Heihua!" ucap pria bertopeng itu.