Bab Lima Puluh, Jiwa Pertarungan Stanley
"Kukira kau sudah mati, bahkan jiwamu telah musnah, tapi sepertinya aku telah meremehkanmu."
Wajah Kafnu tampak suram. Ia bisa merasakan kekuatan sihir lawan yang begitu pekat. Faktanya, wujud lawan saat ini hanyalah gumpalan murni energi sihir, bukan wujud fisik yang sesungguhnya.
Ini bukanlah sebuah berkah, melainkan sebuah kutukan. Di saat-saat terakhir kehidupannya, Stanley telah membelah sebagian jiwanya.
Mungkin hal semacam ini adalah sesuatu yang diidamkan oleh sebagian penyihir, tetapi rasa sakit akibat membelah jiwa bukanlah sesuatu yang sanggup ditanggung oleh setiap orang. Kebanyakan dari mereka hanya membayangkannya saja, dan sangat sedikit yang berani melakukannya.
Namun, Stanley benar-benar melakukannya. Meskipun jiwanya tidak lagi utuh dan gumpalan energi sihir ini hampir tidak memiliki kesadaran sendiri, gelombang sihir yang mengamuk itu tetap membuat Kafnu merasakan secercah rasa ngeri di lubuk hatinya.
Dendam. Yang tersisa dalam diri "Stanley" saat ini hanyalah kebencian mendalam terhadap Saiburus. Ia membenci kekejaman pria itu, membenci tipu muslihatnya, bahkan membenci kekuatannya.
Oleh karena itu, gumpalan energi sihir ini diliputi amarah. Ia tidak lagi memiliki perasaan ataupun emosi, yang tersisa hanyalah kemurkaan yang dikendalikan oleh kebencian.
Kafnu adalah kaki tangan Saiburus, begitu pula dengan monster-monster itu, semuanya pernah merobek dan memakan daging serta darahnya.
Maka, di hadapan musuh bebuyutannya, Stanley melancarkan serangan tanpa ragu sedikit pun. Energi sihirnya mulai membengkak, dan di tangannya muncul sebuah pedang yang memancarkan pendaran cahaya magis.
Pembalasan dendamnya pun dimulai.
"Hentikan dia!"
Kafnu berteriak geram sambil mengacungkan jarinya ke depan. Seketika itu pula, kabut hitam di atas tanah mulai bergejolak, merambat seperti akar pohon yang melilit pergelangan kaki Kafnu.
Namun, semua itu sia-sia. Stanley pada dasarnya adalah perwujudan energi sihir, bukan wujud fisik. Seiring dengan ledakan kekuatan sihirnya, tubuhnya memercikan kilatan listrik, dan kabut hitam itu pun terpental dengan mudahnya.
Stanley memang seorang penyihir, tetapi jiwa bertarungnya adalah seorang kesatria. Jiwa yang dipisahkan ini justru merupakan bagian yang paling liar dan paling haus pertarungan dalam kepribadiannya.
Pedang di tangannya menari dengan lincah, menebas habis seluruh kabut hitam yang menghalangi jalannya.
Begitu kabut itu buyut, Kafnu tidak memiliki tempat lagi untuk bersembunyi. Ujung pedang meluncur lurus mengarah ke dahinya dengan kecepatan yang begitu kilat hingga hampir mustahil untuk dihindari.
Bang!
Sebuah susunan sihir mendadak muncul di hadapan Kafnu. Pedang Stanley gagal menembusnya, dan hanya letupan bunga api yang tercipta di antara keduanya.
Itu adalah perisai sihir yang kokoh, salah satu sihir penyelamat nyawa milik Kafnu. Alih-alih mundur, ia justru mengangkat tongkat sihirnya dengan ekspresi muram dan mulai merapal mantra.
Sinar cahaya magis berkedip-kedip. Kafnu tampak dikelilingi oleh lautan susunan sihir, sementara monster-monster tadi perlahan-lahan mundur ke belakang, meski sebersit energi sihir di dalam tubuh mereka tersedot masuk ke dalam lingkaran-lingkaran sihir tersebut.
Argh! Argh!
Ribuan jiwa bermunculan dari dalam susunan sihir itu. Mereka adalah orang-orang biasa yang tewas di bawah penyiksaan kejam Kafnu; bahkan setelah kematian merenggut nyawa mereka, jiwa-jiwa malang itu tetap tidak mendapatkan ketenangan.
Siar menyaksikan semuanya. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Dari sihir yang digunakan oleh Kafnu, sudah jelas bahwa pria itu bukanlah orang baik. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan pula bahwa Saiburus kemungkinan besar bukanlah seorang mentor yang lurus.
Setidaknya, praktik terlarang seperti mengurung jiwa dan menggunakan penderitaan mereka sebagai sumber kekuatan adalah hal yang secara tegas dilarang di Akademi Penyihir Helmer.
Bahkan tidak hanya di Akademi Penyihir Helmer, seluruh akademi sihir, termasuk Serikat Penyihir dan Komite Akademik Penyihir, dengan tegas melarang ilmu hitam yang begitu kejam ini.
Namun jika dipikir sebaliknya, begitu pihak lawan telah mengeluarkan kartu truf semacam ini, jika Stanley sampai gagal menahannya, maka ia sendiri kemungkinan besar akan diburu oleh orang-orang ini hingga ke ujung dunia.
Bagaimanapun, ini adalah sebuah tabu. Pihak lawan mustahil akan membiarkan seorang saksi hidup yang melihat seluruh kejadian ini tetap berkeliaran di dunia ini.
"Senior Stanley, berjuanglah!"
Siar dalam hati menyemangati senior keduanya itu. Sebab jika pria itu tumbang, maka nasibnya sendiri sudah pasti tidak akan bisa selamat.
Bang!
Jelas sekali, dukungan Siar sama sekali tidak berguna. Setelah pertarungan sengit sesaat, Stanley mulai terdesak dan mengalami kekalahan.
Seiring dengan kemunculan jiwa-jiwa yang menderita dan meronta-ronta itu, kekuatan Kafnu turut melonjak drastis, mencapai titik puncaknya sebelum akhirnya dilepaskan secara dahsyat.
Stanley terpelanting mundur. Namun, serangan Kafnu baru saja dimulai; sesosok cahaya putih menyilaukan meluncur dari susunan sihirnya dan menghujani Stanley. Bagaikan semburan air bertekanan tinggi yang menghantam tanah berpasir, serangan itu menembus tubuhnya dengan mudah dan menciptakan riak-riak energi yang bergelombang.
"Wujud jiwa sangatlah rapuh. Sekalipun kekuatan sihirmu lebih kuat dariku, fisikmu terlalu lemah."
Melihat energi sihir Stanley mulai kacau baler, Kafnu memamerkan deretan giginya yang putih bersih diiringi seulas senyuman penuh kemenangan.
Ia akhirnya berhasil memegang kendali atas pertarungan ini, terlebih lagi jurus pamungkasnya memang paling efektif untuk menumpas wujud jiwa.
Kekuatan sihir Stanley memang melampauinya, tetapi hal itu tidak lagi ada gunanya.
Melihat sosok Stanley yang semakin menipis dan transparan, Kafnu sudah bersiap untuk mendeklarasikan kemenangannya. Namun tiba-tiba, gelombang sihir tak kasat mata meledak dengan Stanley sebagai pusatnya, menyapu ke segala arah.
"Tidak, seharusnya tidak begini!"
Wajah Kafnu seketika dipenuhi oleh teror yang mencekam. Ia melihat jiwa petarung Stanley mendadak memadat dengan luar biasa, bahkan garis-garis wajahnya menjadi sangat jelas.
Seolah-olah, murid berkerah ungu itu telah bangkit kembali dari kematian.
Stanley yang sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia menerjang maju dengan ekspresi yang mengerikan. Susunan sihir pertahanan Kafnu sama sekali tidak berguna; hanya dengan satu pukulan saja, pertahanan itu hancur berkeping-keping.
"Bukan! Bukan aku yang membunuhmu, itu adalah Saiburus! Seharusnya kau pergi membalas dendam padanya!"
Kafnu berteriak ketakutan. Namun, Stanley langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya ke udara. Meskipun Kafnu memohon-mohon ampun dengan putus asa, tampaknya pria itu sama sekali tidak berniat melepaskannya.
Kresss.
Suara patahnya tulang terdengar jelas. Kekuatan luar biasa dari Stanley langsung mematahkan leher murid berkerah merah itu. Kendati berstatus sebagai seorang penyihir, "serangan fisik" semacam ini tampaknya belum cukup untuk menunjukkan keperkasaannya.
Oleh karena itu, energi sihir di tubuh Stanley bergejolak hebat. Sambaran petir meluncur dari telapak tangannya, membuat tubuh Kafnu langsung kejang-kejang sebelum mengepulkan asap hitam. Kobaran api membungkusnya, melahap tubuhnya dengan kecepatan yang bisa disaksikan oleh mata telanjang.
Di saat yang sama, jiwa-jiwa yang tadinya terkurung akhirnya berhasil mendapatkan kebebasan. Mereka melayang keluar dari tubuh Kafnu, membubung tinggi ke udara, menembus atap bangunan, dan menghilang entah ke mana.
Meski demikian, menghabisi Kafnu saja rupanya belum cukup bagi Stanley. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke arah gerombolan monster tersebut.
Karena sebagian besar energi mereka telah diserap sebelumnya, monster-monster itu kini tampak cukup lemas. Dalam situasi di mana kekuatan kedua belah pihak jomplang, hasil akhir pertarungan ini sudah tidak perlu diragukan lagi.
Aum!
Monster-monster itu mengeluarkan geraman tertahan sambil memamerkan taring mereka sebagai bentuk ancaman.
Namun, mereka tetaplah makhluk yang mengenal rasa takut. Langkah kaki mereka tanpa sadar terus mundur ke belakang, membuat ancaman tersebut sama sekali tidak terlihat meyakinkan.
Stanley melangkah maju. Di bawah tekanan aura kekuatannya yang begitu menekan, monster-monster itu akhirnya berbalik dan berniat kabur.
Kendati demikian, gerakan Stanley jauh lebih cepat. Bagai berteleportasi, ia tiba-tiba muncul tepat di belakang salah satu monster dan mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan, lalu memutarnya hingga patah seketika.
Satu, dua, tiga...
Dalam sekejap mata, Stanley memenggal kepala kelima monster tersebut. Berdiri di tengah jalanan yang lengang, ia tampak seperti dewa pembunuh yang turun ke bumi.
"Apakah dia ini benar-benar seorang penyihir?"
Siar menelan ludahnya dengan susah payah. Kemampuan bertarung Stanley sungguh mengerikan, bukan melalui ragam sihir yang rumit, melainkan pertarungan jarak dekat yang brutal.
Ia tidak tahu apakah ini adalah wujud asli Stanley. Jika benar demikian, maka Stanley ini sungguh layak disebut sebagai penyihir yang menguasai sihir sekaligus pertarungan fisik secara sempurna.
Stanley telah menyelesaikan balas dendamnya, tetapi tampaknya ia juga telah menghabiskan sisa kekuatan terakhirnya. Energi sihirnya mulai tercerai-berai, sosoknya perlahan-lahan memudar. Tidak ada pertunjukan megah yang tersisa, wujudnya semakin transparan dari detik ke detik hingga akhirnya lenyap sepenuhnya tanpa sisa.
Entah itu hanya khayalannya saja atau bukan, Siar merasa sebelum pria itu menghilang, ia sempat melirik ke arahnya.
Tatapan itu menyiratkan emosi yang rumit, membawa secercah keengganan untuk berpisah, sekaligus menyertakan secercah harapan.
Whoosh!
Kabut hitam di atas tanah mendadak bergejolak hebat. Siar merasakan sesak di dadanya, namun sensasi menyakitkan itu dengan cepat sirna begitu saja.
Dari arah meja bar, kobaran api tiba-tiba muncul.
Api itu dengan cepat menjalar, bercampur aduk dengan kepulan kabut hitam. Pertarungan itu terus berlanjut sesaat, hingga akhirnya seluruh bangunan kedai itu dilalap oleh lautan api.
Siar berdiri di luar, menatap Kedai Cemara Laut yang sedang terbakar hebat, untuk sesaat tertegun dan tidak tahu harus berkata apa.
Senior kedua yang melindunginya telah tewas begitu saja, meskipun ia tidak tahu pasti apakah tindakan itu memang disengaja atau sekadar kebetulan semata.
"Jika ada kesempatan, aku pasti akan membalaskan dendam untukmu."
Menatap kobaran api yang membumbung tinggi ke langit, Siar bergumam dalam hati. Namun sekecap kemudian, sebuah suara terdengar dari belakang punggungnya.
"Mau membalaskan dendam untuknya?
Baguslah, aku sangat menyambutnya.
Bagaimana kalau kita mulai sekarang juga?"