Menyinggung
Terima kasih atas dukungan semuanya! Terima kasih kepada Qian Xue Yi atas hadiahnya!
***
Hari sudah menjelang senja, rona merah senja mewarnai sudut langit bagai pulasan gincu. Suara gagak sore hari mendesak orang-orang yang masih sibuk di luar untuk segera pulang ke rumah.
Dengan perasaan enggan berpisah, Daiyu mengikuti Baoyu sambil menuntun sebuah kereta penuh barang. Diiringi janji Baoyu bahwa ia akan membawanya jalan-jalan lagi lain kali, mereka kembali ke Kediaman Rongguo.
"Anak baik, kalian sungguh merepotkan diri berjalan-jalan jauh, tetapi masih ingat membelikan hadiah untuk nenek." Suara tawa Nyonya Jia yang riang menggema di dalam ruangan.
Nyonya Wang menunduk memandang sebuah tusuk konde berbentuk kuil yang diukir dari kayu cendana di tangannya, lalu beralih menatap tasbih kayu cendana di tangan Nyonya Jia di mana setiap butirannya diukir dengan rupa Arhat. Ia kemudian mengamati orang-orang seisi ruangan yang mengerubungi Nyonya Jia sambil tertawa dan berseloroh, entah tulus atau pura-pura menyetujui perkataan Nyonya Jia, memuji Daiyu sebagai anak yang berbakti, pengertian, dan penuh perhatian. Tentu saja, Wang Xifeng tidak ketinggalan menebar kata-kata jenaka sekeranjang demi sekeranjang... Nyonya Wang mencebikkan bibirnya, merasa tidak terkesan, dan dalam hati berpikir dengan nada dengki, "Barang semacam ini, di kediaman Jia kita berapa pun banyaknya ada."
Sebenarnya, pikiran Nyonya Wang terlalu berat sebelah. Jika benar-benar diperdebatkan, barang-barang yang terbuat dari kayu cendana memang bisa ditemukan bertumpuk-tumpuk di Kediaman Jia, tetapi masalahnya adalah kedua benda ini memiliki makna khusus.
Pada masa dinasti ini, pernah ada seorang biksu tingkat tinggi yang sangat termahsyur. Biksu tersebut konon dulunya adalah seorang pangeran, yang kemudian dihargai oleh gurunya dan diterima sebagai murid. Setelah berkultivasi selama empat puluh tahun, ia mencapai tingkat kebuddhaan. Setelah wafat, ia meninggalkan beberapabutir relik yang disemayamkan di pagoda kuil kerajaan terbesar di ibu kota. Setiap benda yang pernah disentuhnya semasa hidup dianggap sebagai benda suci yang bernyawa Buddha, dan orang-orang pun berebut mendapatkannya. Bantal kayu cendana yang pernah dipakai oleh biksu agung itu bahkan dibagi menjadi beberapa bagian untuk dibuat menjadi berbagai macam benda. Benda-benda besar sejak lama telah dikoleksi oleh keluarga kekaisaran ke dalam istana, sementara benda-benda kecil yang dibuat dari sisa potongan barulah beredar ke luar, termasuk tusuk konde di tangan Nyonya Wang serta tasbih di tangan Nyonya Jia.
Oleh karena itu, kedua benda ini berharga bukan karena bahannya, melainkan dari mana bahan itu berasal. Benda yang diukir dari kayu cendana yang pernah bersentuhan dengan aura Buddha dari seorang biksu agung hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memiliki jalinan berkah yang sangat mendalam. Tentu saja, ini hanyalah sejenis legenda, dan kebenarannya tentu memiliki penilaian tersendiri.
Nyonya Wang sangat mengetahui asal-usul benda ini, namun ia tidak tahan melihat pemandangan Daiyu yang dipuji-puji oleh banyak orang, bagaimana mungkin ia tidak merasa iri.
Hanya berbelanja di jalanan bisa mendapatkan barang semacam ini, sudah jelas menunjukkan bahwa Daiyu memang mengerahkan ketulusan hatinya.
"Barang sepele begitu apa artinya, Nenek jangan terlalu memanjakannya hingga ia menjadi manja. Harus kau ketahui, hari ini ia bahkan menghabiskan seharian penuh di luar baru kembali. Apakah ini yang seharusnya dilakukan oleh seorang menantu? Seorang menantu wanita seharusnya membujuk suaminya agar maju, tetapi dia malah sebaliknya, mendorong Baoyu menemaninya bermain-main tanpa arah dan tidak pulang seharian penuh. Apa kau tidak tahu kalau kami semua di rumah merasa khawatir?" Nah, Nyonya Wang yang merasa risih akhirnya angkat bicara dengan nada perlahan.
Ruangan yang tadinya begitu ramai itu seketika diliputi keheningan sesaat. Wajah Nyonya Jia pun meredup; menantu ini bagaimana semakin lama semakin tidak bisa membaca situasi. Daiyu pura-pura tidak mengerti, duduk di sisi Nyonya Jia, dan terus memijat kaki Nyonya Jia. Baoyu sejak awal tetap tinggal karena khawatir Daiyu akan disalahkan. Kini, setelah mendengar rentetan kalimat Nyonya Wang ini, ia pun tidak kuasa mengerutkan keningnya.
Orang-orang lain memiliki pikiran dan ekspresi yang berbeda-beda; ada yang terkejut, ada yang diam-diam merasa senang, ada yang bersorak atas kemalangan orang lain, ada yang bersimpati dan merasa kasihan. Berbagai macam tatapan mata menghujam tubuh Daiyu bagaikan lampu sorot. Daiyu sedikit menundukkan kepalanya. Dari sudut pandang orang lain, menantu muda ini tampak tidak berani membantah perkataan ibu mertuanya dan sedang merasa dirugikan serta bersedih! Padahal, Daiyu sebenarnya sedang melamun, memikirkan ke mana ia harus meminta Baoyu membawanya bermain-main lain kali.
Merasakan tatapan dari semua orang, Daiyu yang tadinya bersikap bodo amat pun merasa agak tertekan. Bahwa Nyonya Wang tidak menyukainya, ia sudah mengetahuinya sejak kehidupan sebelumnya, tetapi tidak perlulah sampai pada tingkat melihatnya tidak berkenan di hati dalam segala hal! Hanya saja, hari ini memang ia yang tidak bersikap baik dan meninggalkan celah sehingga Nyonya Wang bisa memegang kelemahannya, kalau tidak, ia juga tidak akan mengerahkan begitu banyak pikiran pada hadiah tersebut. Saat ini ia hanya bisa menerimanya terlebih dahulu dan memperhitungkannya kelak.
"Seorang menantu berbakti, mengapa kau sebagai ibu mertua tidak tahu bagaimana bersikap lebih lembut dan penuh kasih? Melontarkan teguran setajam itu, orang lain justru akan mengira menantu keluarga kita menderita. Baru empat hari dinikahkan, ibu mertua sudah mencari-cari kesalahan ini dan itu, bagaimana pandangan orang luar terhadap kita?" Nyonya Jia merasa iba melihat ekspresi sedih cucu perempuannya dan membuka suara.
Begitu Nyonya Jia mengucapkan kata-kata ini, ia menampar wajah Nyonya Wang secara telak, terlebuh di hadapan begitu banyak orang. Nyonya Wang seketika merona merah, meneteskan air mata karena merasa teraniaya, "Apa yang dikatakan Nenek tua ini, aku adalah ibu mertuanya sekaligus bibinya. Usianya kini masih muda dan belum mengerti apa-apa, sudah sepantasnya aku mendidiknya dengan baik, lantas kalimat mana yang kukatakan salah?"
"Kau adalah ibu mertuanya, dan aku adalah ibu mertuamu. Jika kau ingin memiliki kualifikasi untuk mendidiknya, kau harus membiarkan aku, ibu mertuamu ini, mendidikmu terlebih dahulu. Setelah kau dianggap layak, barulah bicara lagi." Nyonya Jia berujar tanpa sungkan-sungkan.
Orang-orang lain di dalam ruangan menahan napas dan meredam suara mereka saat mendengarnya. Perselisihan antara dua pihak besar akan membuat ikan di kolam ikut binasa; lebih baik mereka berdiri dengan jujur di samping bagaikan tiang penyangga. Di sisi lain, Nyonya Wang sama sekali tidak menyangka Nyonya Jia akan bereaksi sebesar itu dan mempermalukannya di depan begitu banyak orang. Ia seketika tersedak dan tidak bisa turun panggung, wajahnya memerah padam hingga nyaris pingsan.
Wang Xifeng mengamati kedua belah pihak. Tidak satupun dari mereka yang boleh ia singgung, maka ia buru-buru menengahi, "Seorang ibu mertua mendidik menantu wanita pada dasarnya adalah hal yang sudah sewajarnya. Nenek dan Bibi adalah orang yang sudah berpengalaman, tentu pengetahuannya sangat kaya. Jika kami bisa mendapatkan sedikit saja petunjuk, itu benar-benar akan mendatangkan manfaat seumur hidup. Hanya saja, Nona Lin masih muda, jika ada masalah perlahan-lahan dididik saja sudah cukup."
"Kupikir Bibi juga mengkhawatirkan Nona Lin maka ia bersikap demikian. Adapun Nenek, beliau juga menyayangi Nona Lin dan tidak tega melihat Nona Lin menderita ketidakadilan sekecil apa pun. Yang satu merasa khawatir dan yang satu merasa sayang, mana mungkin ada yang bukan demi kebaikan Nona Lin! Terlihat jelas bahwa Nona Lin adalah orang yang penuh berkah dan disayangi, Nenek dan Bibi di keluarga kita menyayanginya hingga ke lubuk hati yang paling dalam. Bahkan aku pun sangat menyayanginya. Lagipula, kita tidak menyayanginya secara cuma-cuma, bukan? Pergi jalan-jalan keluar sekali saja ia masih tahu membawa hadiah untuk kita sekeluarga, menunjukkan bahwa ia benar-benar menempatkan kita semua di dalam hatinya. Nenek dan Bibi mencurahkan perhatian lebih adalah hal yang semestinya. Hanya saja, Nenek dan Bibi tadi sudah menyayangi Nona Lin, sekarang bagaimana kalau kalian juga mengajari kami orang-orang yang kasar ini? Kalian tidak boleh terlalu pilih kasih, kalau tidak, kami tidak akan terima."
Deretan kalimat tersebut memberikan jalan keluar bagi Nyonya Wang. Keduanya sama-sama menyayangi Daiyu, hanya saja caranya berbeda, maka masalah ini untuk sementara dianggap selesai.
Hanya saja, setelah melewati kejadian ini, suasana hati telanjur rusak. Setelah dengan terpaksa mengobrol sebentar lagi, Nyonya Jia menyatakan dirinya lelah dan meminta semua orang untuk membubarkan diri. Ia juga berpesan bahwa Daiyu dan Baoyu sama-sama lelah hari ini, jadi mereka tidak perlu tinggal di sini untuk melayani dan dipersilakan turun untuk beristirahat.
Barulah setelah itu semua orang membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing.
Nyonya Wang duduk di atas kang sambil meneteskan air mata, "Sejak kecil anak Baoyu itu dipeluk dan dibesarkan di sisi Nyonya tua, kini ia dibesarkan hingga semakin dekat dengannya, sebaliknya malah semakin merenggang dariku ibu kandungnya. Bagaimana mungkin aku tidak membencinya. Sekarang dia juga setiap detik selalu mencari masalah denganku. Dulu aku masih bisa menutup sebelah mata, tetapi sekarang setiap detik dan setiap menit dia tidak bisa mentolerirku lagi. Putraku pun tidak perhatian padaku, apakah hari-hari ini masih layak kujalani?" Sambil berkata demikian, tangisnya semakin menjadi-jadi.
"Bibi..." Kedua pelayan utama Jinchan dan Caixia saling berpandangan, tidak tahu harus berkata apa. Mereka benar-benar tidak tahu bagaimana menilai Nyonya mereka ini. Seluruh keluarga sedang bersenang-senang dan meriah, kau tinggal ikut memeriahkan suasana saja sudah cukup. Mengapa kau justru harus memasang wajah suram dan merusak suasana! Pantas saja Nyonya Jia tidak menyukainya; tidak peduli siapa pun orangnya, tidak akan ada yang menyukai seseorang yang selalu suka menentang arus bersama dirinya! Hanya saja, saat ini Nyonya Wang adalah majikan mereka. Sekeras apa pun mereka menggunjingkan di dalam hati, di permukaan mereka tetap harus membujuknya. Jika tidak, kalau sampai tersebar ke luar, justru kesalahan akan berbalik pada diri mereka.
"Bibi, Er-ye tetap berbakti kepadamu. Coba lihat, apa pun yang kau inginkan, Er-ye pasti akan langsung mencarikannya untukmu. Bahkan saat Er-ye pergi keluar hari ini, dia tidak lupa membelikan beberapa barang bagus untukmu. Coba lihat tusuk konde mutiara ini sangat cocok dengan gaya rambutmu, coba lihat warna kain sutra ini sangat serasi dengan warna kulitmu..." Jinchan dan Caixia bersahut-sahutan memberikan bujukan. Mengingat Nyonya Wang paling mempedulikan Baoyu, membicarakan Baoyu terbukti jauh lebih efektif.
"Benarkah?" Benar saja, begitu mendengarnya, Nyonya Wang seketika menghentikan air matanya dan menatap hadiah-hadiah di atas meja. Dipikir-pikir memang benar, meskipun putranya terkadang tidak menurut, ia tetap berbakti padanya. Meskipun hari ini ia kehilangan muka di hadapan banyak orang, untunglah putranya masih mengingatnya dan membawakannya hadiah.
Daiyu kembali ke kamar, meletakkan barang-barang, lalu berbaring di atas tempat tidur sambil memendam kejengkelan. Baoyu sedang memberikan instruksi di luar. Sekembalinya ia ke dalam dan mendapati istrinya tidak ada di tempat, ia pun mencarinya ke kamar dalam dan menemukan Daiyu tengah berbaring di ranjang.
Pikirannya langsung berputar, dan ia pun mengerti apa yang terjadi pada Daiyu hari ini. Sambil menghela napas pasrah, ia duduk di tepi ranjang dan berkata, "Pinpin, ada apa denganmu?"
Daiyu tidak membuka matanya maupun menoleh kepadanya, ia menjawab dingin, "Kau tahu sendiri di dalam hati."
Bagaimana mungkin Baoyu tidak tahu. Semula ia berniat pura-pura bodoh, namun tampaknya hal itu tidak bisa dilakukan sekarang. Mau tidak mau ia harus pasrah melepas sepatunya lalu ikut berbaring di atas ranjang, mendekap Daiyu ke dalam pelukannya. "Aku juga tidak menyangka Ibu akan mempermalukanmu di hadapan umum, hanya saja Nenek juga tidak memberi muka kepada Ibu di hadapan umum. Jika aku membuat keributan lagi, aku takut Ibu tidak akan bisa turun panggung. Bagaimanapun, dia adalah ibuku secara status, jika aku bertindak terlalu jauh, bukan saja Ibu yang akan bersedih, reputasiku kelak juga tidak akan terdengar baik. Kau tenang saja, aku sudah berjanji akan melindungimu, maka aku pasti akan melindungimu. Nanti aku akan pergi menemui Ibu dan berbicara dengannya agar beliau tidak berbuat seperti itu lagi."
Barulah saat itu Daiyu membuka matanya dan menatap Baoyu. Di zaman kuno, kata "berbakti" dapat menekan seseorang hingga mati. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa modern, ia sudah lama mengetahuinya. Baoyu sudah berbuat begitu banyak untuknya, ia seharusnya merasa puas. Terlebih lagi, ini bukanlah masalah Baoyu, dan Baoyu bahkan bersedia merundingkan masalah ini dengan Nyonya Wang demi dirinya. Memiliki ketulusan hati seperti ini, untuk apa ia harus bersikap sok jual mahal.
Daiyu membalikkan badannya, membenamkan diri ke dalam pelukan Baoyu. "Membuatmu serba salah ya."
"Apa yang membuatku serba salah, hanya saja membuatmu menderita ketidakadilan. Melihat Ibu menyusahkanmu, hatiku juga merasa tidak enak." Baoyu melengkungkan bibirnya.
Daiyu mengulurkan tangan untuk meratakan kening Baoyu yang sedikit berkerut. "Sudahlah! Masalah sepele seperti ini, aku masih sanggup menanggungnya. Kau juga tidak perlu bersitegang dengan Ibu demi aku, bagaimanapun dia adalah ibumu. Mendengar beberapa patah kata yang tidak menyenangkan tidak akan membuat daging berkurang atau mati, paling-paling perasaan menjadi tidak enak saja, aku masih bisa menahannya." Sambil berkata demikian, ia mencium sudut bibir Baoyu. "Jangan merasa kesal lagi, kesampingkan dulu masalah ini, mari kita pergi makan malam! Aku sudah mulai lapar."
Baoyu yang tiba-tiba dicium pada sudut bibirnya oleh Daiyu seketika menggelapkan pandangan matanya. Ia langsung mendekap erat Daiyu yang hendak bangkit berdiri, lalu tersenyum penuh pesona. "Aku juga sedikit lapar, biarkan aku makan satu hidangan dulu."
Daiyu sempat tertegun sejenak, lalu melihat wajah cantik jelita Baoyu perlahan membesar di depan matanya. Ia seketika mengerti, wajahnya merona merah jambu, ia memejamkan mata, sedikit mendongakkan kepala, dan menerima ciuman Baoyu.
Bibir yang lembut dan hangat itu mencetak ciumannya di bibir Daiyu, menghadirkan sensasi geli yang merayap, menusuk hingga ke tulang...
Lama kemudian, keduanya baru terengah-engah melepaskan diri. Dengan perasaan jengkel, Daiyu mendorongnya kuat-kuat, bangkit berdiri keluar kamar, lalu berkata kepada Zijuan, "Suruh mereka menyajikan makanan, Er-ye lapar."
Begitu kata-kata itu jatuh, Baoyu juga beranjak keluar, matanya menatap lekat bibir Daiyu yang bengkak kemerahan. Di bawah tatapan membara itu, Daiyu diam-diam merasa telinganya memerah. Dengan perasaan canggung ia mengambil sebuah buku secara sembarangan dan membalik-balikkannya dengan cepat, namun tidak satu patah kata pun yang masuk ke dalam otaknya.
Baoyu lantas tersenyum, mengambil buku dari tangannya dan meletakkannya ke samping, lalu menariknya untuk duduk di dekat meja. "Mari kita makan."
Setelah keduanya selesai makan, Baoyu bermanja-manja di sisi Daiyu sejenak sebelum beranjak pergi menuju tempat Nyonya Wang.
Zijuan di samping berkata, "Nai-nai, Er-ye sungguh sangat baik padamu."
"Gadis sepertimu, apa yang kau tahu tentang kebaikan?" Daiyu meliriknya tajam dari samping. "Jangan-jangan Zijuan sedang rindu kasmaran?"
"Nai-nai, yang aku katakan itu sungguh-sungguh, Er-ye benar-benar tiada tandingannya dalam memperlakukanmu. Coba katakan, pria mana yang mau bersitegang dengan ibu kandungnya sendiri demi istrinya, tidak ada selain Er-ye kita. Lagipula, demi Nai-nai, Er-ye bahkan menolak selir yang dianugerahkan oleh Nyonya, dan setelah upacara balik ke rumah orang tua, dia masih membawa Nai-nai pergi jalan-jalan. Jika ini bukan bentuk kebaikan terhadap Nai-nai, lantas apa lagi."
"Hm. Kutahu kau merasa iri. Tenang saja, aku akan mencarikan suamiku yang baik untukmu kelak, yang juga akan memanjakanmu seperti ini." Daiyu memegang buku sambil melontarkan candaan. Melihat Zijuan memerah karena malu dan hendak ngambek, barulah ia mengalihkan topik pembicaraan. "Hanya saja, dari siapa kau mendengar perkataan bahwa Er-ye menolak selir yang dianugerahkan oleh Nyonya demi aku?" Ucapan ini memang terdengar manis di telinga, tetapi jika sampai tersebar ke luar, maka ia tidak akan memiliki reputasi yang baik. Sebagaimana pepatah mengatakan, pemberian orang yang lebih tua tidak boleh ditolak. Baoyu menolak selir yang diberikan oleh sesepuh demi dirinya; jika dipandang dari sudut pandang besar itu adalah bentuk ketidakberbaktian, namun jika dipandang dari sudut pandang manis, orang-orang akan mengatakan Baoyu adalah pria yang penuh kasih mendalam. Namun, predikat cemburuan pada dirinya tidak akan bisa lari. Bagi wanita zaman kuno, sifat cemburuan bukanlah sebuah reputasi yang baik, dan hal itu bahkan bisa menjadi salah satu alasan untuk membuat surat cerai.
Melihat Daiyu mengubah posisi duduknya yang tadinya bersandar menjadi tegak saat membahas bagian akhir, dengan ekspresi yang juga berubah serius, Zijuan tertegun sejenak, lalu berkata, "Aku mendengarnya dari pelayan kecil di halaman. Dua hari ini aku juga tidak tinggal diam, bergaul dengan para pelayan di halaman, sekaligus mencari-cari beberapa berita. Itulah sebabnya aku mendengarkan desas-desus ini, apakah ada yang tidak beres?"
"Bukan sekadar tidak beres, ini sangat tidak beres." Daiyu melemparkan buku ke samping dan memijat pelipisnya. "Bagaimana bisa baru beberapa hari menikah sudah muncul masalah-masalah semacam ini. Masalah Nyonya mengirimkan selir kepada Er-ye sudah berlalu sejak lama, tetapi sekarang malah ada orang yang mengangkatnya kembali untuk diperbincangkan. Terdengar seperti masalah biasa, dan Er-ye memang pernah melakukannya. Tetapi jika kau pikirkan baik-baik, makna di balik hal ini sangat banyak! Menuduhku cemburuan adalah masalah kecil, tetapi jika dioperasikan lebih jauh hingga tersebar ke luar bahwa Er-ye adalah orang yang tidak berbakti, itu sangat mungkin terjadi. Jika Er-ye dianggap tidak berbakti, masa depannya akan hancur lebur, tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan orang yang tidak berbakti." Daiyu berkata dengan dingin.
"Begitu seriusnya?" Zijuan mengerutkan kening. "Nai-nai baru saja menikah, orang mana yang telah disinggung? Hingga harus menyasar Nai-nai sedemikian rupa? Bukankah orang yang disinggung Nai-nai sebelum menikah? Atau justru ulah Nyonya?"
"Sebelum menikah, aku tidak pernah bermusuhan dengan siapapun. Orang-orang itu bahkan sudah terlambat untuk menjilatku, bagaimana mungkin mereka menyinggungku. Lagi pula, jika orang lain menyambutku dengan senyuman, aku bukanlah tipe orang yang menampar wajah orang lain tanpa alasan, bagaimana mungkin aku menyinggung orang. Mengenai Nyonya, jika beliau ingin menjatuhkanku memang benar adanya, tetapi mustahil melibatkan Er-ye ke dalam masalah ini. Bahwa Nyonya tidak puas padaku memang ada, tetapi terhadap Baoyu beliau tetap memiliki kasih sayang seorang ibu, beliau tidak akan berbuat sejauh itu padanya. Jika Nyonya benar-benar ingin melaporkan Baoyu atas tindak ketidakberbaktian, beliau sudah melakukannya sejak Baoyu menolak pelayan yang dikirimkannya itu."
Lantas siapa orangnya! Bukan hanya ingin mencelakakannya, tetapi juga ingin mencelakakan Baoyu. Setelah mencelakai mereka berdua, siapa yang paling banyak mendapati keuntungan, dan siapa saja pihak yang bisa meraup laba; memikirkan hal ini, ruang lingkupnya langsung menyempit. Hanya saja, saat ini situasinya belum jelas dan belum saatnya membeberkannya dengan jelas kepada Zijuan.
Daiyu kembali bertanya, "Apakah kau tahu siapa pelayan wanita yang dianugerahkan Nyonya untuk dijadikan selir Er-ye?" Ia hanya tahu ada masalah seperti itu, tetapi lupa menanyakan siapa orangnya.
"Sepertinya... Kakak Pearl..." Zijuan melirik Daiyu dengan hati-hati. Pearl ini sebelum Daiyu menikah sebenarnya sangat menjilat Nai-nai. Dulu ketika Nyonya tua menganugerahkannya kepada Er-ye, mungkin juga ada niat untuk menjadikannya selir Er-ye, sehingga belakangan semua orang bisa melihat bahwa perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Er-ye dan tidak merasa heran. Hanya saja, Er-ye tidak begitu mempedulikannya, hingga belakangan tidak ada seorang pun yang berpikir macam-macam lagi. Tak disangka Nyonya justru membiarkannya menjadi selir Er-ye. Perlu diketahui bahwa dia adalah orang Nyonya tua, tetapi Nyonya justru memilihnya, hal ini mau tidak mau membuat orang berpikir lebih jauh.
"Oh, itu dia ya!" Tatapan mata Daiyu sedikit menerawang, dan seulas senyum dingin tergantung di sudut bibirnya. Di kehidupan sebelumnya, wanita itulah yang mendapat keuntungan dan membujuk Baoyu. Untunglah di kehidupan kali ini ia tidak perlu lagi menghadapi hal-hal tersebut, dan wanita itu juga disingkirkan untuk dinikahkan dengan orang lain karena masalah ini. Harus diakui, takdir sungguh luar biasa ajaib; membelokkan sudut sedikit saja, jalurnya sudah menuju arah yang berbeda.
Tidak ada lagi dirinya yang mengompori di tengah-tengah, dan Baoyu bukanlah Jia Baoyu yang linglung seperti dulu. Ia juga bukan lagi Jia Baoyu penuh cinta kasih yang mengklaim menempatkan dirinya di dalam hati dan mencintainya, namun tidak mampu mengendalikan bagian bawah tubuhnya serta membagi hatinya menjadi sekian banyak bagian, melainkan benar-benar seorang pria yang mencintai dirinya, menyayangi dirinya, dan menempatkan dirinya di dalam hati.
Omong-omong, dulu ketika ia menemui ajal dengan penyesalan, ia sempat membenci; ketika ia terlahir kembali di era modern dan mengetahui apa itu cinta, ia sempat merasa jengkel. Namun, setelah mengenal suaminya yang sekarang dan keduanya saling mencintai, ia baru membuang kebencian dan kejengkelan itu ke belakang kepala. Kendati sekarang ingatannya sempat terusik hingga bangkit kembali gara-gara nama Pearl, memori itu perlahan-lahan mengendap menjadi sosok suaminya saat ini. Meskipun wajahnya sama, jiwa yang mendiami raga telah berganti, justru begitu memikat untuk dicintai dan membuat orang tidak ingin melepaskannya seumur hidup.
Ketika Baoyu tiba di kediaman Nyonya Wang, Nyonya Wang baru saja meredakan tangisnya, membasuh wajah dengan air, dan kembali membedakinya. Melihat Baoyu datang, Nyonya Wang seketika diliputi kegirangan yang luar biasa. Ia menarik Baoyu untuk duduk di atas kang dan kembali menitikkan air mata, "Anak baik, syukurlah kau masih mengingatku, aku sempat mengira kau sudah lupa pada ibumu setelah menikahi seorang istri." Sambil berkata demikian, ia tidak kuasa menyeka air matanya dengan sapu tangan. Ia lalu menanyakan apakah Baoyu sudah makan, apa yang dimakannya, dan apakah tubuhnya baik-baik saja. Mendengar jawaban Baoyu yang lancar, ia kembali berkata, "Botol air mawar yang kuberikan padamu waktu itu, apakah sudah kau konsumsi? Apakah sudah habis? Kemarin aku mendapatkan beberapa botol lagi, bawalah dua botol ke sana untuk dikonsumsi."
Setelah berkata demikian, ia memanggil Jinchan, "Pergi ambil dua botol air mawar untuk dibawa pulang oleh Er-ye."
Sejak tiba di sini, setumpuk kalimat di perut Baoyu bahkan belum sempat keluar, namun sudah tersangkut di tenggorokan akibat rentetan tindakan perhatian Nyonya Wang ini. Hendak diutarakan tidak enak, tidak diutarakan pun tidak enak.
Melihatnya yang hendak berbicara namun ragu-ragu, Nyonya Wang tersenyum dan berkata, "Baoyu, apa ada yang ingin kau katakan pada Ibu? Ungkapkan saja, hubungan kita sebagai ibu dan anak tidak mungkin sekaku itu. Beberapa hari yang lalu juga Ibu yang salah karena tidak memilihkan orang yang berkenan di hatimu. Jika kau tidak menyukainya, itu memang benar, lain kali biarkan kau sendiri yang melihat dan memilih sebelum menerimanya."
Perkataan Nyonya Wang ini jika tidak diucapkan mungkin lebih baik; begitu diucapkan, Baoyu mendadak tersadar dari gelombang perhatian manis Nyonya Wang. Ia tidak boleh berkompromi hanya karena peluru gula Nyonya Wang, maka ia buru-buru berkata, "Aku justru hendak membicarakan hal ini dengan Ibu!"
Nyonya Wang secara samar merasa ada yang tidak beres, namun ia tetap memasang senyuman di wajahnya dan berkata, "Katakanlah."
****
Aduh, akhirnya selesai ditulis juga. Hari ini benar-benar tragis! Semula sudah menulis 5000 kata dan menyimpannya di flashdisk. Sesampainya di rumah, saat dicolokkan ke komputer, flashdisk itu justru tidak merespon. Menjengkelkan sekali, aku harus merangkai ulang 5000 kata dari awal, air mataku Berlinang...