Bab Tujuh Puluh Empat: Tidak Semudah Itu
Tiba-tiba, Li Siqi datang berkunjung.
Setelah Wu Shaogang kembali ke ibu kota, ia kembali terjebak dalam rutinitas yang tampak sia-sia. Tidak ada tugas patroli ataupun urusan lain yang harus diurusnya. Ia telah menjadi komandan utama Pasukan Cui Feng, tidak lagi turun langsung untuk berpatroli. Berada di barak, ia pun tak pernah bertemu dengan pemimpin pasukan, Zhang Shijie, apalagi dengan Komandan Agung Dapertemen Istana, Ma Huaxuan.
Wu Shaogang sendiri merasa tenang dengan ketenangan ini, sehingga ia mulai menjalani latihan yang lebih keras dari sebelumnya.
Pasukannya tetap terdiri dari tiga puluh prajurit. Dalam Pertempuran Zhenzhou, satu orang gugur dan kini telah digantikan oleh Qin Han.
Metode pelatihan Wu Shaogang untuk tiga puluh orang ini benar-benar berbeda. Mereka adalah bibit unggul yang kelak akan memimpin pasukan sendiri. Untuk menjadi pemimpin yang disegani, seseorang harus memiliki tubuh sekuat baja; hanya dengan demikian para prajurit di bawah komandonya akan benar-benar menghormatinya. Pasukan yang hanya mengandalkan perintah tanpa teladan dari pemimpinnya tak akan punya daya juang yang hebat. Sebaliknya, jika perwira punya kemampuan istimewa dan selalu berada di garis depan saat bertempur, pasukan seperti itu tak akan terkalahkan.
Karena itulah, sekembalinya ke ibu kota, Wu Shaogang justru semakin sibuk. Hampir setiap hari diisi dengan latihan, bahkan ia sering membawa para prajuritnya berlatih di Puncak Utara di utara Kuil Lingyin, di luar kota. Tempat itu cukup terpencil dan jarang dilewati orang. Medan pegunungan yang curam sangat baik untuk melatih daya tahan dan kekuatan para prajurit.
Selama masa latihan, Wu Shaogang beberapa kali makan bersama Tuan Keempat, yang kini semakin menghormatinya.
Dalam periode ini, Wu Shaogang memang belum bertemu dengan Li Siqi. Ia pernah mendengar dari Tuan Keempat bahwa ada kemungkinan Li Siqi akan ditempatkan di luar kota sebagai kepala daerah, dan tempat yang akan dituju pun sangat baik.
“Komandan Wu, aku harus mengucapkan selamat kepadamu.”
“Tuan Li, tidak ada yang perlu dirayakan. Aku hanya diangkat menjadi komandan utama Pasukan Cui Feng. Itu bukan hal besar.”
“Bukan itu maksudku. Komandan Wu akan segera menjadi menantu terhormat Tuan Li Tingzhi. Masa depanmu pasti cemerlang. Maka dari itu, aku ucapkan selamat lebih awal.”
Wu Shaogang menatap Li Siqi, senyumnya membeku.
Soal pernikahannya sebenarnya belum tersebar; calon istrinya sudah meninggalkan ibu kota untuk mempersiapkan segala sesuatu. Baru setelah kedua orang tuanya dan calon istrinya datang ke ibu kota, kabar itu akan tersiar. Bagaimana bisa Li Siqi mengetahuinya?
Selain itu, nada bicara Li Siqi juga terasa kurang menyenangkan. Ia menyinggung soal masa depan cerah, seakan-akan Wu Shaogang menumpang pada nama besar Li Tingzhi dan kelak akan melupakan jasa Lyu Wende.
“Tuan Li, urusan pernikahan bukanlah keputusan pribadiku, melainkan kehendak orang tua. Lagi pula, pernikahan itu sendiri pun belum dibicarakan secara resmi, jadi aku pun belum tahu bagaimana kelanjutannya.”
“Oh, aku hanya sekadar menyampaikan saja. Komandan Wu pun sudah saatnya memikirkan soal membangun keluarga.”
“Tuan Li, hubungan kita cukup dekat, jadi mari bicara terus terang saja. Apakah Tuan Li khawatir jika aku menikahi putri Tuan Li Tingzhi, aku akan melupakan budi baik Tuan Lyu dan Anda? Jika memang demikian, tidak perlu khawatir. Aku bukan orang seperti itu. Lagi pula aku ini seorang prajurit, menaati perintah adalah tugas utamaku. Urusan politik di istana, aku tidak punya hak ikut campur dan memang tidak akan terlibat. Bahkan urusan internal Pasukan Cui Feng pun aku malas memikirkannya. Setiap hari aku hanya berlatih bersama saudara-saudara seperjuangan, dan aku sudah merasa bahagia dengan itu semua...”
Li Siqi mengangguk-angguk.
“Apa yang dikatakan Komandan Wu memang benar. Soal Pasukan Cui Feng, aku juga tahu sedikit. Aku pun heran, bagaimana bisa Wakil Komandan Zhang tidak memanfaatkan bakatmu? Aku sudah berniat membicarakan ini dengan Tuan Besar. Komandan Wu, kalau kau hanya membuang waktu di Pasukan Cui Feng, itu tidak baik.”
“Aku menghargai niat baik Tuan Li, tapi jangan katakan hal itu. Aku belum setahun berada di Pasukan Cui Feng, namun sudah dipromosikan menjadi komandan utama. Itu sudah sangat baik. Andai aku masih mengeluh, bagaimana pandangan prajurit lain terhadapku? Bukankah aku jadi orang yang serakah? Lagi pula, Pasukan Cui Feng adalah pasukan terbaik milik istana, sehari-hari bertugas menjaga keamanan di sekitar ibu kota, dan hanya pada saat genting diturunkan ke medan perang. Ini ibarat baja ditempa untuk pisau. Tadi aku bilang aku tak ingin ikut campur urusan internal, itu sungguh dari hati. Bisa berlatih bersama saudara-saudara seperjuangan setiap hari, aku sudah sangat puas.”
“Anda benar juga, aku hampir saja lupa akan hal itu. Aku lihat Pasukan Cui Feng memang tidak banyak urusan sehari-hari. Kalau begitu, aku tak akan membahasnya lagi.”
“Selama di ibu kota, aku sebenarnya ingin beberapa kali menemui Tuan Lyu, sudah beberapa kali ke rumah jabatan dan kediamannya, tetapi waktunya selalu tidak tepat. Banyak sekali orang yang ingin berkunjung, aku pun tak kebagian giliran. Mohon Tuan Li sampaikan kepada Tuan Lyu, aku tak ingin terlalu sering mengganggu beliau yang sangat sibuk, apalagi baru saja dipromosikan menjadi komandan utama Pasukan Cui Feng. Kalau aku terlalu menonjol, pasti akan ada omongan miring.”
“Aku mengerti. Memang Tuan Besar sangat sibuk akhir-akhir ini. Ada beberapa pejabat istana yang harus diganti, beliau harus mengurus semuanya. Perdana Menteri Jia juga menekan dengan sangat ketat, jadi beliau benar-benar tidak punya waktu luang. Bahkan aku sendiri, sekarang pun jarang bisa bertemu dengan beliau.”
“Oh, aku juga mendengar kabar bahwa Tuan Li mungkin akan meninggalkan ibu kota dan mendapat jabatan di daerah. Aku ingin mengucapkan selamat.”
“Memang ada rumor itu. Tuan Besar sudah pernah membahasnya denganku, tapi aku sebenarnya tidak ingin ditempatkan di luar kota. Tinggal di ibu kota jauh lebih nyaman, tidak perlu pusing memikirkan apa-apa, cukup membantu dan sesekali memberi saran. Nanti jika Tuan Besar benar-benar menugaskanku, aku pasti akan menolak.”
“Jangan berpikir seperti itu, Tuan Li. Menemani Tuan Lyu dan membantunya itu sudah sangat baik, tetapi sekarang situasinya berbeda. Dulu Tuan Lyu menjabat di daerah dan aku mendukung gagasanmu. Namun kini beliau sudah di ibu kota, keadaannya jelas berbeda. Sekarang kesempatan Tuan Li untuk membantu dan memberi saran tidak akan sebanyak dulu. Lagi pula, jika Tuan Li bertugas di daerah dan meraih prestasi, bukankah itu juga membuat nama Tuan Lyu semakin harum?”
“Anda benar juga, Komandan Wu. Tapi aku ini sudah terbiasa hidup santai, tak suka terlalu pusing. Kalau harus ke daerah, urusannya pasti banyak dan rumit, aku pasti pusing sendiri. Lebih baik tidak pergi.”
Ketika Li Siqi berbicara, Wu Shaogang terus memperhatikannya. Ia tidak tahu apakah itu benar isi hati Li Siqi, namun dari ekspresinya, sepertinya memang begitu adanya.
“Tuan Li, aku tidak bisa sepakat dengan pendapatmu. Walaupun aku baru sebentar di ibu kota, tapi aku tahu, di sini penuh dengan pergunjingan. Tuan Lyu memegang jabatan penting, dan Tuan Li selalu mendampinginya. Cepat atau lambat, pasti akan timbul rumor. Jika rumor itu merugikan Tuan Besar dan Tuan Li, pada akhirnya justru Tuan Li yang akan lebih pusing. Kurasa Tuan Lyu juga paham akan hal itu, makanya ia menyarankan Tuan Li untuk bertugas di luar kota. Kalau perkiraanku benar, jika Tuan Li terus berada di sisi Tuan Lyu, kesempatan bertemu beliau nanti akan semakin sedikit.”
Ketika Wu Shaogang berkata sampai di situ, tubuh Li Siqi tampak sedikit bergetar.
Wu Shaogang tahu, tebakannya tepat.
Li Siqi adalah penasihat yang paling dipercaya oleh Lyu Wende. Dulu mereka hampir setiap hari bersama, sangat mudah untuk bertemu. Namun setelah Lyu Wende diangkat menjadi Wakil Menteri Kiri Departemen Upacara, ia menguasai lebih banyak wewenang. Banyak hal yang harus diputuskan sendiri, urusan pengangkatan pejabat pun tidak selalu perlu banyak strategi, bahkan banyak hal yang harus dirahasiakan. Dalam keadaan seperti itu, peran Li Siqi jadi nyaris tidak terpakai, waktu bertemu Tuan Lyu pun semakin berkurang.
Bisa jadi Li Siqi memang tidak ingin bertugas di luar kota, tapi lebih besar kemungkinannya karena ia kecewa dengan perubahan sikap Lyu Wende.
Melihat Li Siqi tak segera menjawab, Wu Shaogang melanjutkan,
“Saranku, Tuan Li sebaiknya menemui Tuan Lyu secara langsung dan mengajukan diri untuk bertugas di luar kota. Segala sesuatu di dunia ini selalu berubah, dan saat lingkungan berubah, kita pun harus menyesuaikan diri. Bila kita tetap bertahan dengan pikiran lama, seringkali kita akan menemui jalan buntu. Jika sampai terjadi, semua orang akan merasa tidak nyaman.”
Li Siqi mendongak, menatap Wu Shaogang, lalu menghela napas panjang.
“Percuma saja aku hidup selama ini dan merasa diri penuh strategi, tapi ternyata tak bisa melihat inti persoalan. Terima kasih atas peringatanmu, Saudara Wu. Kalau bukan karena kau, aku mungkin akan terus terjebak dalam kebingungan. Besok aku akan menemui Tuan Besar dan meminta bertugas di luar kota.”
Wu Shaogang tersenyum dan mengangguk tanpa berkata lagi. Hubungannya dengan Li Siqi memang sangat akrab, ada semacam rasa saling mengagumi satu sama lain. Lagi pula, Li Siqi bisa jadi sandaran baginya di masa depan.
Li Siqi pun berdiri dan memberi hormat dengan mengepalkan tangan.
“Hari ini aku sengaja datang untuk berkunjung, sebenarnya ingin lebih lama, setidaknya minum bersama sampai puas. Tapi ada urusan yang harus kuselesaikan, jadi aku pamit. Lain kali aku pasti akan datang lagi. Soal pernikahanmu yang tadi aku sebut, kuharap kau benar-benar memikirkannya. Tidak semua hal sesederhana kelihatannya, ibu kota ini memang sangat rumit. Menurutku, perjodohan ini memang baik, tapi belum tentu semua orang sependapat. Barangkali ada saja yang ingin menghalangi, maka berhati-hatilah.”
“Tuan harus mengurus banyak hal, jadi aku tidak akan menahanmu. Soal pernikahan, aku akan berhati-hati. Aku juga ingin lebih dahulu mengucapkan selamat. Jika nanti Tuan benar-benar bertugas ke luar kota, sebelum berangkat kita pasti akan bertemu.”
“Pasti, pasti. Kita sudah sepakat.”
Setelah Li Siqi pergi, senyum di wajah Wu Shaogang segera lenyap.
Urusan pernikahan yang bahkan belum resmi saja sudah ada yang memperhatikan, sungguh menarik.
Siapa sebenarnya yang begitu menaruh perhatian pada urusan ini? Lyu Wende dan Li Siqi memang peduli, tapi alasan mereka berbeda. Wu Shaogang sendiri sudah menunjukkan sikapnya. Setelah Lyu Wende mengetahui sikapnya, pasti akan mendukung. Li Siqi pun demikian. Sedangkan para pejabat lain di ibu kota, Wu Shaogang belum pernah berinteraksi, apalagi sampai menyinggung mereka.
Dalam sekejap, Wu Shaogang teringat pada Wakil Komandan Dapertemen Istana sekaligus pemimpin Pasukan Cui Feng, Zhang Shijie.
Zhang Shijie memang menyimpan terlalu banyak misteri. Penugasan Wu Shaogang ke Prefektur Jiankang adalah rekomendasi dari Zhang Shijie. Ternyata itu sebuah perangkap besar, sedikit saja lengah bisa terjerumus. Beruntung ada Li Tingzhi yang turun tangan, sehingga Wu Shaogang bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik.
Ketika Wu Shaogang baru tiba di ibu kota, Zhang Shijie sama sekali tidak ramah padanya, padahal saat itu mereka belum saling mengenal.
Jangan-jangan, orang yang berusaha menghalangi urusan ini adalah Zhang Shijie?